Language:
Hotline

Search

Literasi Tentang Alam Dan Renungan Ramadhan : "Belajar Dari Puasanya Kupu-Kupu"

  • Share this:
post-title

Oleh : Adung Abdul Haris

 

Metamorfosisis kupu-kupu, bisa dianalogikakan seperti proses manusia yang menjalani puasa. Sementara kupu-kupu adalah hewan yang sangat indah dan menarik. Yakni, sayapnya yang berwarna-warni dengan motif yang sangat rapi serta kelincahannya ketika terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya dan sekaligus mengagumi sang kupu-kupu itu. Bahkan, kupu-kupu tak hadir begitu saja ke muka bumi ini, tetapi ia hadirnya ke alam jagat raya ini memang melalui proses metaformosis dari binatang yang bernama ulat. Bahkan, ketika kita menyebut nama ulat misalnya, besarkemungkinan ada juga sebagian orang yang jijik, geli, rasa takut, penyebab kulit gatal-gatal, perusak tanaman, dan lain sebagainya. Lebih dari itu, ulat juga begitu identik dengan sifat yang tidak baik, dan hampir tak ada orang yang mau menyentuhnya.

 

Namun, ketika seekor ulat itu berubah wujud, yakni menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, maka semua orang pun berusaha untuk memiliki dan bahkan mengaguminya. Mereka tak merasa takut dengan seekor kupu-kupu yang sesungguhnya berasal dari ulat itu. Itulah kupu-kupu, yakni hewan yang indah dan menarik. Bahkan, makanan kupu-kupu-pun berasal dari bahan pilihan, dan selalu membantu proses penyerbukan tanaman. Sementara untuk menjadi kupu-kupu, ulat-pun terlebih dahulu menjadi kepompong. Itulah sebuah metamorfosis, yang dalam bahasa manusianya sedang menjalani puasa, menjauhkan diri dari makan dan minum, menutup dirinya dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Ia begitu mirip dengan cara kita beriktikaf, yaitu merenungi diri dan melakukan kontemplasi batin (proses pertobatan), sehingga keluar menjadi kupu-kupu yang indah, dan akhirnya disayang semua orang dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Itulah barangkali gambaran puasa Ramadhan yang diharapkan oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang beriman. Kita, umat manusia yang banyak berbuat salah dan dosa, hendaknya bisa belajar dari ulat dan kemudian menjadi kupu-kupu, dan kita-pun harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi manusia yang bertakwa dan disayang Allah SWT. Bukan bermorforsis seperti binatang ular, yakni yang hanya merubah kulit dan badannya saja, yakni menjadi lebih besar, tapi wujudnya masih begitu-gitu saja, yakni berwujud ular yang besar dan menyeramkan.

 

Sedangkan tipe manusia yang disayang Allah itu adalah ; Pertama, orang-orang yang berjalan di muka bumi ini dengan penuh rendah hati (tidak sombong) dan apabila orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS Al-Furqan Ayat : 63). Demikianlah gambaran orang mukmin yang berpuasa, ia senantiasa menyebarkan kelembutan dan keindahan, serta tidak suka berbuat keonaran dan kerusakan, dimanapun dia berada. Sebagaimana sifat kupu-kupu yang hinggap di sebuah dahan yang tak pernah ada yang patah sekecil apapun dahan yang dihinggapinya. Kedua, mereka yang senantiasa mendirikan shalat lima waktu dan shalat tahajjud di malam hari sebagai wujud syukur kepada Allah (Al-Furqan Ayat : 64, 73). Seperti kupu-kupu, dimanapun seorang mukmin berada, maka dia akan selalu melaksanakan perintah Allah, menebarkan kasih sayang, dan menolong orang lain. Sebab, ia menyadari sepenuhnya bahwa sesungguhnya dirinya hanyalah seorang hamba yang juga tidak memiliki kemampuan apa-apa tanpa anugerah dari Allah SWT. Ketiga, orang yang berhasil dalam pusanya, ia akan memilih makanan dari yang halal dan yang baik-baik saja, layaknya kupu-kupu yang hanya memilih sari madu bunga sebagai makanannya. Orang yang berpuasa dan mukmin sejati, maka ia akan senantiasa menjauhkan diri dari yang dilarang oleh syari'at agama (hal-hal yang haram) (QS Al-Baqarah Ayat : 168).

 

Dan metamorfosa apa yang telah dideskripsikan diatas, yang menjadi proses perjuangan kepompong dalam cangkang dalam waktu tertentu, yang akhirnya ia berhasil keluar dengan bersusah payah untuk menjadi makhluk yang telah bersayap. Jadilah kupu-kupu indah warna warni sangat menawan hati saat melihatnya terbang. Sementara ulat yang awalnya binatang melata, menjijikan, dan sekaligus menggelikan, akhirnya telah berubah menjadi makhluk yang membawa manfaat. Dari kaki kupu-kupu akan menyebarkan benih-benih tumbuhan dan persilangan tumbuhan secara alami ketika kupu-kupu itu memakan serbuk sari dari kuncup-kuncup bunga. Hal itu semua merupakan atas kuasa Allah yang maha mengatur segala sesuatunya di alam jagat raya ini. 

 

Terlebih lagi kita umat Islam, maka di Ramadhan ini, merupakan bagian dari proses metaforfosa kita untuk menjadi mukmin yang jauh lebih baik. Dan tentunya untuk menuju ke arah kebaikan itu memang harus bersusah payah dan sekaligus juga harus mengikuti proses yang tepat. Maka di akhir bulan suci Ramadhan nanti, maka kita akan menyambut kemenangan hari fitri kembali, yakni manusia kembali kepada fitrahnya (idul fitri). Dan mudah-mudahan setiap individu muslim, bisa merealisasikan alam fitrinya masing-masing. Dan endingnya, ada proses perubahan pada setiap individu muslim, yakni dari buruk menjadi baik, dari baik semakin baik lagi dan seterusnya. Kemudian tampil menjadi pribadi muslim yang membawa warna-warni dalam kehidupan dan sekaligus juga bermanfaat bagi sesama, menampilkan pribadi yang elok (bersakhsiyah islamiyyah), yakni seperti ilustrasi kepompong yang telah keluar menjadi kupu-kupu yang Indah.

 

Rasulullah SAW. bersabda,

 

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadis Riwayat ath-Thabrani). Hadis diatas telah memberi isyarat kepada kita, bahwa agar kita berusaha untuk menjadi orang yang bisa memberi manfaat pada orang lain. Hanya orang yang bertaqwa yang bisa merealisasikannya, sebab manfaat akan diperoleh saat seorang hamba ia taat dan patuh pada syariat Allah. Bermanfaat pada agama, saat menjalankan dan membela keagungannya. Giat belajar untuk merawat iman dan keyakinan, dan proses dakwah sebagai bagian jalan untuk merealisasikannya. Tanpa dakwah, rasanya proses penyebaran agama tak akan begitu saja cepat tersebar, tanpa dakwah, maka umat-pun memang sulit untuk diajak kembali, yakni kembali untuk menjalankan nilai-nilai ajaran agama (syariat). Maka kesungguhan umat Islam yang terlahir, yakni seperti dianalogikakan dari kepompong menjadi kupu-kupu, yakni sebagaiman telah digambarkan di atas, dan pada prinsipnya bahwa setiap kupu-kupu akan siap menebar benih-benih  kebaikan, demikian juga agar setiap individu muslim untuk terus konsisten dalam ketakwaan.

 

Mencari Kesejatian Diri

 

Melalui kawah candra-dimuka (penggodokan fisik dan spiritual) melalui dimensi ibadah Ramadhan serta berbagai aktivitas ibadah dan amalan lainnya di bulan yang penuh berkah dan penuh magfiroh ini. Karena, sejatinya bahwa bulan suci Ramadhan tidak lain adalah sebagai bulan untuk memproses serta mebingkai temperatur kesohehan moral spiritual bagi setiap individu muslim serta berbagai upaya untuk menemuan kembali kesejatian diri kita dan nilai-nilai ilahiyah yang ada di dalam diri kita masing-masing, yang sudah barang tentu di luar bulan suci Ramadhan, kerapkali terabaikan oleh setiap kita, yakni akibat (ekses negatif) dari dunia pragmatisme yang telah merambah ke seluruh aspek hidup dan kehidupan kita dan secara arus besar memang telah melanda di alam jagat raya yang penuh profanistik ini (alam dunia yang penuh tantangan dan bersifat sementara).

 

Oleh karena itu, proses pencarian kesejatian diri dan kembali kepada fitrah kemanusiaan kita di bulan suci Ramadhan ini, hal itu tentunya sangat penting bagi kita semua. Mengingat ego sentris nafsu memang tak ada batasnya, mengejar yang bersifat kebendaan itu tidak ada ujungnya, dan kompetisi di alam jagat raya ini memang tidak pernah berakhir. Sementara pada saat yang bersamaan, bahwa proses hidup dan kehidupan yang kita alami saat ini, pada faktanya telah didominasi oleh berbagai kebendaan yang bersifat hedonistik. Bahkan, agama yang semula merupakan sarana untuk memperdalam kerohanian dan spiritualitas yang sublim, namun tidak bisa dinafikan juga pada akhirnya telah terpragmatisir oleh berbagai hal yang bersifat profanisme dan kebendaan. Kenyataan itu tepat sekali, yakni sebagaimana telah diungkapkan oleh para filsuf Jawa, bahwa saat ini tunggak jati mati, tunggak jarak mrajak (kesejatian seolah-olah telah hilang dan tergantikan oleh kesementaraan). Bahkan orang Belanda, mereka juga memiliki falsafah yang sama dalam memandang maraknya soal berbagai hal yang bersifat pragmatisme, yakni diibaratkan dengan regenboom (pohon terembesi) akhirnya telah mengganti dajatiboom (pohon jati).

 

Bila pragmatisme telah menggejala dan merasuk ke dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, memang pada akhirnya tidak akan ada idealisme yang tersisa. Tidak ada persahabatan sejati, tidak ada komitmen, tidak ada integritas, dan pada akhirnya semua telah tergantikan oleh berbagai hal yang bersifat praktis pragmatis dan bersifat instan. Realitas ini menjadikan rasa saling tidak percaya akhirnya menjadi sangat subur seperti tunggak jarak mrajak (bonggol jarak yang bertunas lebat).

 

Dan kita semua harus menggedor (mengetuk) katup nurani kita masing-masing, yakni akan kesaadaran terhadap kesejatian diri kita, yakni agar haluan hidup kita lebih terarah dan ternahkodai oleh keyakinan maupun oleh hati nurani kita yang sublim. Dan setiap kita, tidak hanya kejar-dikejar oleh rasa ambisi dan kompetisi yang sengit. Lebih dari itu, kita juga harus mengenal asketisme (nilai-nilai supistik), sementara asketisme hanya dikenal oleh mereka yang memiliki kekayaan dan kedalaman rohani, yaitu orang-orang yang kaya akan spritualistik dan kearifan budaya yang bersifat basyariyah dan insaniyah. Sementara orang yang minimalis kearifan budayanya, rohaniyahnya mengalami "cetekisme" (dangkal), maka onknum individu itu akan menjadi orang yang fakir (rakus) baik ketika mereka miskin ataupun kaya secara materi. Dan seyogyanya bahwa agama, filsafat, budaya, kesenian, harus mampu menjadikan orang kaya secara rohani, kaya secara budaya dan kaya secara spiritualitas. Bahkan, manakala agama, filsafat, budaya dan seni itu dihayati secara benar, maka akan semakin banyak orang-orang yang pinter merasa, dan bukan hanya sekedar merasa pinter. Akan banyak orang orang yang punya pemikiran yang bersifat kholistik dan tidak hanya berpikir secara segmentatif. Akan semakin banyak orang yang mampu memposisikan dirinya dalam dimensi yang bersifat esoteris ketimbang hanya bersifat eksoteris semata.

Web Admin

Web Admin