Language:
Hotline

Search

Mengorek Kesalahan Agama Lain Untuk Membenarkan Agama Sendiri

  • Share this:
post-title

Ocit Abdurrosyid Siddiq

Penulis adalah Pengurus ICMI Orwil Banten

 

Ada 3 tipe kelompok penganut agama. Pertama, penganut agama yang meyakini kebenaran ajaran agamanya tanpa mempedulikan apakah ajaran agama lain diluar yang dianutnya itu benar atau salah.

Kedua, penganut agama yang meyakini kebenaran ajaran agamanya dan menganggap serta meyakini bahwa ajaran agama lain itu salah, dan menyertainya dengan perilaku mencari celah salah itu.

Ketiga, penganut agama yang meyakini kebenaran ajaran agamanya, sembari mencari titik temu persamaan ajaran agamanya dengan ajaran agama lain. Mencari persamaan tanpa bermaksud menyamakan dan menganggap sama semua agama.

Polemik dan konflik yang terjadi dan melibatkan penganut antar umat beragama itu, antara lain disebabkan karena masing-masing penganut agama tidak hanya meyakini kebenaran ajaran agama sendiri.

Tetapi juga menyertainya dengan mencari celah salah ajaran agama lain. Mengorek dan mencari-cari kesalahan yang kemudian dijadikan alasan untuk meyakinkan bahwa hanya agamanya yang benar; doktrin yang pastinya diyakini oleh penganut agama masing-masing. Yang dalam Islam dikenal dengan innaddina indallahi islam.

Sejatinya, perilaku mengorek dan mencari celah salah ajaran agama lain sebagai justifikasi atas benarnya agama sendiri, malah menjadi pembenar bahwa dia tidak yakin atas kebenaran agama sendiri. Kadoang nu teu yakin kana ajaran agama sorangan.

Bila masing-masing penganut agama bersaing untuk mencari celah salah dalam ajaran agama lain -dengan menggunakan perspektif norma ajaran agama yang dianutnya- itulah yang menjadi pemantik polemik, konflik, bahkan perang antar penganut agama.

Ulah atau perilaku mencari celah salah itu diperparah oleh cara pandang yang tidak utuh bahkan keliru dan salah, karena menakar kebenaran ajaran agama lain dengan takaran dan cara pandang ajaran agama sendiri.

Orang Islam yang menganggap bahwa denting piano yang menjadi bagian dari prosesi ibadah dalam gereja sebagai sebuah sikap tidak etis. Ibadah koq nyanyi. Sebetulnya hal itu tidak berbeda dengan anggapan penganut Katholik atas “kelompok paduan suara tanpa dirijen” saat jamaah teriak-teriak dengan nada tinggi ketika sedang marhaba di musola.

Orang Islam yang beranggapan bahwa menangis di tembok ratapan yang biasa dilakukan oleh penganut Yahudi adalah sikap konyol -tersebab heran mengapa ibadah meratap-ratap- tidak berbeda dengan anggapan orang Yahudi atas Islam yang susah payah mencium hajar aswad di sudut baitullah. Juga konyol.

Orang Islam yang menuduh bahwa perilaku penganut Konghucu membersihkan patung dewa menjelang Imlek adalah sebuah kekonyolan, sejatinya tidak berbeda dengan perilaku orang Islam yang membersihkan benda pusaka pada bulan-bulan tertentu. Dan itu bisa jadi anda menjadi bagian yang suka begitu.

Orang Islam yang mengira bahwa pohon-pohon dibungkus dengan kain hitam-putih dalam ajaran agama Hindu sebagai sebuah perilaku sia-sia, tidak berbeda dengan anggapan orang Hindu atas kebiasaan orang Islam membungkus nisan dengan kain putih. Sia-sia juga.

Keliru-paham seorang penganut agama atas ajaran, ritual, prosesi ibadah, dan kebiasaan dalam agama lain itu, karena selain masing-masing menakarnya dari sudut-pandangnya, juga karena sebatas membaca teks. Bukan konteks. Konteks itu filosofi dan makna yang terkandung dibalik ritual kasat-mata tersebut.

Penganut Islam mencari celah salah Alkitab. Penganut Katholik mencari celah salah Alquran. Mengapa lebih suka saling mencari kesalahan? Pada kasus tertentu hingga sampai pada penistaan. Aksi dan reaksi saling berbalas. Lalu saling melaporkan.

Mualaf jadi pendakwah. Lalu ceramahnya digandrungi, karena banyak bercerita tentang kesalahan-kesalahan dalam Alkitab, kitab suci yang sebelumnya dia yakini kebenarannya. Sebaliknya, seorang yang murtad dielu-elukan keluarga barunya. Karena dianggap banyak membongkar kesalahan dan kelemahan Alquran.

Padahal, pada masing-masing ajaran agama terdapat ajaran untuk mewujudkan kedamaian, persatuan, kerukunan, saling asah, saling asih, dan saling asuh. Mengapa masing-masing umat beragama tidak tertarik untuk mencari sisi kesamaan pada masing-masing ajaran agamanya? Bukankah dengan semakin banyak kesamaan semakin mendekatkan? Dan dengan begitu merasa menjadi saudara?

Ikhtiar mencari irisan kesamaan antara ajaran satu agama dengan ajaran agama lain, bukan dalam rangka menyamakan semua agama. Karena masing-masing agama memiliki ciri khas masing-masing. Terutama dalam hal keyakinan kepada Tuhan. Yang dalam Islam dikenal dengan tauhid.

Fakta bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam bentuk yang beragam, itu tidak bisa dibantah. Padahal dengan kuasaNya, Dia bisa menciptakan manusia dalam bentuk yang seragam. Sama bentuknya, rupanya, budayanya, bahkan agamanya. Pastinya Tuhan punya maksud. Buktinya, “Kusengaja ciptakan kalian dalam bentuk berbeda agar kalian mikir”.

Meyakini kebenaran ajaran agama sendiri, itu wajib. Menganggap salah atas ajaran agama lain, itu boleh. Tapi tak perlu mencari celah salah ajaran agama lain. Sekali lagi, meyakinkan bahwa ajaran agama lain itu salah, sebagai cara untuk meyakini bahwa agama sendiri itu benar, merupakan perilaku kurang pede atas kebenaran ajaran agama sendiri.

Sebaiknya, carilah sisi samanya. Temukan poros titik-temunya. Karena dalam istilah yang berbeda, konsep rahmatan lil alamin ada pada tiap ajaran agama. Bahwa ajakan menebar kebaikan, kedamaian, persatuan, sebagai konsep universal yang diajarkan oleh tiap-tiap agama.

Andai masing-masing penganut agama lebih mengedepankan sisi kesamaan, bukan saling mengorek kelemahan dan kesalahan, maka konsep rahmatan lil alamin kebenarannya bukan sebatas firman.

Tapi sebaliknya, bila masing-masing pemeluk agama saling mencari kesalahan ajaran agama lain, maka agama yang sejatinya diturunkan oleh Tuhan untuk membawa kedamaian bagi manusia di bumi, serta jalan bekal keselamatan di akhirat nanti, berubah menjadi sumber polemik, konflik, bahkan perang.

Islam menyalahkan Katholik. Katholik menyalahkan Kristen. Kristen menyalahkan Budha. Budha menyalahkan Hindu. Hindu menyalahkan Konghucu. Konghucu menyalahkan Yahudi. Yahudi menyalahkan Islam. Begitu seterusnya.

Dalam sekala lebih kecil, Ahlussunah wal Jamaah menyalahkan Syiah. Syiah menyalahkan Ahmadiyah. Ahmadiyah menyalahkan Murjiah. Murjiah menyalahkan Maturidiyah. Maturidiyah menyalahkan Mutazilah. Mutazilah menyalahkan Khawarij. Khawarij menyalahkan Ahlussunah wal Jamaah. Begitu juga seterusnya.

Saking menganggap salah dan sesat terhadap Syiah, bahkan dibentuk lembaga anti Syiah. Bayangkan, andai Syiah melakukan hal yang sama, membentuk lembaga anti Ahlussunah wal Jamaah. Kalau sudah saling menuduh sesat dan menyesatkan, maka agama yang semula ramah dan sarat rahmah, berubah menjadi sangar dan marah-marah.

Ini sekaligus membuktikan bahwa pada mulanya ajaran agama yang diturunkan Tuhan kepada utusanNya itu mudah dan ringan. Tapi oleh umatnya sendiri agama itu kemudian menjadi berat dan rumit. Berat dan rumit karena tafsir umatnya sendiri. Barokallahu lii walakum. Wallahualam.

*

 

Tangerang, Jumat, 14 Juni 2024

Web Admin

Web Admin