Language:
Hotline

Search

MENYOAL UNGKAPAN 'UTLUBUL ILMA WALAU BISSIIN' (Telaah Semi Final Indonesia Open 2024)

  • Share this:
post-title

 oleh: Endang Yusro

 

Menyaksikan semifinal Indonesia Open 2024 hari ini (Sabtu, 8/6/2024) antara China vs Malaysia.

Jika pemain China sudah dipastikan menggunakan produk lokal, tanpa menggunakan pemain keturunan apalagi jasa pemain asing atau naturalisasi.

Namun dengan pasangan pemain yang satunya, Malaysia jika melihat namanya (Tan/Lai) dari namanya sudah dipastikan berasal dari China, yaitu Tan Kian Meng/Lai Pei Jing. Belum lagi kalau melihat wajahnya.

Ternyata Bangsa Tiongkok "menjajah" (dalam tanda kutip🤭) banyak negara bukan hanya di bidang perdagangan.

Ternyata banyak bidang mereka menguasai. Bahkan Negara Adikuasa Amerika pun buat "kebakaran jenggot". Susah untuk melawan teknologi dengan tidak menghilangkan peradaban Bangsa China selain dengan "kenyinyiran".

Lalu bagaimana dengan ungkapan (tidak menyebut hadis khawatir ada yang nyinyir) walau banyak juga yang menyatakannya sebagai hadis.

Karena penulis bukan ahli hadis, hanya berucap "Wallahu a'lam".  Adapun ungkapan/hadis yang dimaksud, "Utlubul ilma walau bissiin," (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina).

Asalkan jangan karena kepentingan politik kontradiksi seperti ini mencuat. Memang semenjak penulis kecil, saat sekolah di madrasah ibtidaiyah hingga keluar kampus mengenalnya sebagai hadis.

Baru tau itu bukanlah sebuah hadis di saat terjadi Perang Dagang antara AS vs. China, ditambah lagi dengan kehidupan perpolitikan di Indonesia.

Pemerintah RI yang dianggap pro dengan China menjadikan ungkapan (sekali lagi tidak menyebut hadis) tersebut sebagai salah satu upaya penggembosan Anti China.

Belum lagi dengan isu-isu lainnya, seperti kejadian 1998 sebagai memori kolektif Bangsa ini.

Setelah Tragedi 1998, tidak ada lagi kerusuhan anti-Cina yang boleh dikatakan besar. Akan tetapi, itu bukan jaminan pasti bahwa kekerasan rasial terhadap etnis Cina tidak akan terulang.

Di dalam memori kolektif kita, masih melekat kuat konstruksi “orang luar” itu. Filsuf dan sosiolog Perancis Maurice Halbwach, mengungkapkan bahwa ingatan kolektif masyarakat dibentuk berdasar kesepakatan sosial.

Konstruksi orang Cina sebagai “orang luar” ini melalui proses panjang sejarah telah melekat di dalam memori kolektif masyarakat.

Belum lagi saat Covid-19 China dijadikan sasaran politisasi. Saat pemerintah membuat uang pecahan Rp. 75.000,- yang dianggap sebagai pakaian adat Bangsa China.

Kembali kepada ungkapan "Utlubul ilma walau bissiin," jika memang itu betul bukan hadis, tidak jadi masalah.

Namun, jika itu merupakan ucapan Rasulullah S.a.w. akan menjadi pengingkaran. Padahal apa yang telah disabdakannya adalah petunjuk dari Allah S.W.T., kekuatannya melintasi ruang dan waktu.

Rasulullah S.a.w. melalu Wahyu Allah S.W.T. mengetahui apa yang akan terjadi jauh sebelum umat akan mengalaminya.

Demikian, sekali lagi wallahu a'lam bish-shawab.

Web Admin

Web Admin