Language:
Hotline

Search

Turbulensi Sejarah Peradaban Islam Dan Keseriusan Para Cendikiawan Muslim di Era Ke-emasan Islam

  • Share this:
post-title

Oleh : Adung Abdul Haris

 

I. Pendahuluan

 

Setiap fase perjalanan sejarah, dan termasuk sejarah peradaban Islam, memang mengalami pasang surut atau turbulensi. Yakni, baik dari sisi kemajuan, kemunduran dan bahkan mengalami kehancuran. Inilah, yang kemudian dalam tulisan kali ini dikatakan sebagai "Turbulensi" Perjalanan Sejarah Peradaban Islam". Sementara turbulensi (pasang surut atau jatuh bangun) bagi setiap umat dan termasuk bagi kia umat Islam, pernah juga suatu ketika atau suatu masa umat Islam mengalami masa kejayaan atau kemajuan, dan bahkan saat itu disebut "zaman keemasan Islam". Sementara "zaman ke-emasan" Islam itu sendiri terjadi pada abad ke 7 M, atau di abad pertengahan Islam. Saat itu umat Islam betul-betul sedang berada di puncak masa kejayaannya dan sekaligus menjadi superioritas di dunia. 

 

Lalu, apa makna serta hikmah dibalik terjadinya turbulensi itu? Hal itu tidak lain adalah agar kita umat Islam untuk pandai mengambil "iraoh" atau pelajaran yang berharga, karena pada faktanya, setelah jatuhnya Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Bagdad (Irak) dan sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam saat itu, akhirnya peradaban Islam pun terus meredup dan kemudian dihancurkan oleh bangsa Mongol, yakni di sekitar akhir abad 16 dan di awal abad ke 17 M. Dan hingga saat ini umat Islam nyaris belum pernah bangkit lagi, malah terus mengalami keterpurukan hingga di era milenial ini. 

 

Bisakah umat Islam pasca abad milenial ini untuk bisa bangkit kembali seperti apa yang telah terjadi di abad ke 7 M, atau di abad pertengahan Islam dulu itu? Bahkan pertanyaan berikutnya, bisakah Islam dan umat Islam punya kedigjayaan kembali serta mengalami masa-masa superioritas kolektif kembali untuk kemudian menguasai ilmu pengetahuan dan peradaban di era kekinian?

 

Karena faktanya saat ini, bahwa umat lain (di luar Islam) beserta masyarakat Eropa dan Amerika (AS), saat ini mereka terus bangkit serta menata diri, yakni pasca zaman Renaiccse, zaman modern dan hingga saat ini yang disebut era milenial. Mereka (Eropa dan Amerika) terus melakukan berbagai inovasi dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan terus menghegemoni bangsa bangsa lain atau umat lain, dengan terus menunjukan penguasaan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi canggihnya, yang kerapkali teknologi mutakhir itu terus menyihir umat Islam.

 

Namun upaya hegemoni dan kedigjayaan diri masyarakat Barat (Eropa dan Amerika) terkesan sudah masuk pada fase kemajuan yang paling up to date memang  tapi terkesan sudah jauh dari nilai-nilai moral (tidak memanusiakan manusia). Bahkan, reorientasinya pada hal-hal yang bersifat sekuleristik-materialistik dan bahkant terkesan sudah sangat hedonistik serta menjauhan manusia dari alam Ke-tuhanan dan spiritualistil.

 

Gelimang panorama hidup yang tumbuh berkembang di alam derasnya pembangunan saat ini, serta kecanggihan teknologi yang demikian aktraktifnya saat ini, dan proses globalisasi yang terkesan tendensius saat ini. Hal itu seringkali menyisihkan manusia dari dirinya sendiri. Pada faktanya, bahwa kemajuan peradaban saat ini juga memang diciptakan oleh  manusia, yang konon katanya otaknya canggih-canggih. Dan manusia-manusia yang otaknya canggih-canggih itu, memang mereka berhimpun, berpikir dan bekerjasama untuk membangun peradaban baru dengan segala ciri-ciri kebudayaannya yang terkesan sangat materialis-hedonistik. Dan dunia kini seolah-olah menjadi ruang dimana materi adalah episentrum dari segala bentuk aktivitas dunia.

 

Namun, sekalipun manusia genius, yakni sang pencipta teknologi canggih saat ini adalah sebagai subyek peradaban dunia, namun di saat yang bersamaan, malah ia juga kini telah "terobyektivikasi" oleh sebuah kecanggihan teknologi yang ia buatnya sendiri. Kini manusia makin kreatif, tapi ia juga makin tergilaskan oleh kreativitasnya sendiri. Mungkin karena ia amat sangat gemar "menciptakan" dunia dan memandangnya bahwa dunia ini adalah dunia yang riil dan segala-gala baginya.

 

Maka saat ini, para manusia manusia yang otaknya canggih itu terus berkarya serta telah menghasilkan dan sekaligus menikmati fitur-fitur materialistik dunia ini, dan ternya kecanggihan teknologi yang ia buatnya sendiri, malah "membelingerkan" dirinya dari nilai-nilai Ke-Tuhanannya. 

 

Bahkan, saat ini terus terjadi keterasingan manusia dari dirinya sendiri terutama oleh nafsunya sendiri, yakni untuk berlomba demi menghasilkan karya (inovasi baru) serta terwujudnya teknis-teknologis yang fleksibel dan adaptif. Dan itu semata-mata ditujukan untuk melayani kebutuhan tubuh dan seragam keinginan-keinginan jasadiah diri manusia itu sendiri.

 

Bahkan, kreativitas teknologi yang terjadi saat ini, bukan membawa manusia pada keluasan jiwa, empati, dan sensitivitas sosial, melainkan hanya tumbuh dalam proyek-proyek teknik memperkaya tubuh. Sehingga yang terjadi : oleh materi, dari materi dan untuk materi, serta terus berkubang di semak-semak materi yang terus menghimpit dan terus memarginalisir nilai-nilai Ke-Tuhanan yang ada di dalam diri manusia.

 

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di alam jagat raya ini sudah pasti butuh materi. Dan mustahil keberadaan kita dialam jagat raya ini untuk mengingkari soal materi itu. Tapi bukan itu tujuan utama kita yang sesungguhnya, yakni sebagai hamba Tuhan. Tapi, bagaimana tuntutan maknawi jiwa fitrah kita ini, yakni di era teknologi yang canggih ini juga agar selalu hadir di ruang-ruang batiniah disetiap individu manusia. 

 

Akankan umat Islam pasca era milenian ini dapat merebut kembali masa kejayaan dan terus menggenggam kembali superioritas ilmu pengetahuan dan peradaban, yakni yang lebih manusiawi serta dipenuhi oleh nilai-nilai ilahiyah? Yaitu suatu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Dan suatu penguasaan ilmu pengetahuan dan tekknologi, yang tentunya tidak sama dengan apa yang terjadi dan kita kita rasakan saat ini, yakni suatu kecanggihan teknologi yang kerapkali mendikte manusia dan jauh dari nilai nilai Ke-Tuhanan. Dengan kata lain, bahwa  kecanggihan teknologi saat ini malah menjauhkan manusia dari sang kholiknya dan selalu memenjarakan sesuatu yang bersifat esoteris-spritualistik.

 

Oleh karena itu, di bawah ini penulis mencoba untuk mengungkapkan kilas balik sejarah "masa ke-emasan" umat Islam, yakni yang terjadi di abad ke 7 H. Dan diharapkan, agar di abad-abad mendatang agar umat Islam bisa merebut kembali suatu abad keemasan itu, yakni seperti dulu, dimana umat Islam saat itu menjadi superioritas di mata dunia. Hal itu berkat berbagai upaya serta kegigihan umat Islam, yang terus menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan tidak hanya sebatas ilmu-ilmu agama tapi juga diberbagai disiplin ilmu umum lainnya.

 

Dan yang sangat menonjol di abad itu (abad ke 7 H), umat Islam demikian gigihnya untuk melakukan penterjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab. Bahkan ada salah satu versi cerita, bahwa bagi setiap orang yang mampu untuk menterjemahkan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab. Hari ini si a misalnya, ia telah dapat satu kilo gram kertas terjemahan buku buku filsafat itu misalnya, maka kertas-kertas buku terjemaah filsafat itu akan segera dibayar atau segera diberikan imbalannya, yaitu berupa satu kilo gram emas. Hal itu menggambarkan, bahwa Islam saat itu sangat cinta terhadap ilmu pengetahuan dan terus konsentratif terhadap dunia riset dan pengembangan ilmu pengetahuan. 

 

II. Dinasti Umayah Dan Abbasiyah Dan Avicenna(Ibnu Sina) Yang Terus Menekuni Teori-Teori Saintifik

 

Islam dan Umat Islam ketika di abad "ke-emasannya" (abad ke 7 H), saat itu akhirnya menjadi superioritas di seluruh dunia. Ketika zaman itu, ilmu pengetahuan dan peradaban Islam demikian berkembang pesat hingga mencapai puncaknya. Pada saat itu umat Islam menjadi pemimpin dunia, karena perhatiannya yang begitu besar, yakni tidak hanya dibidang ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu umum, dan ilmu-ilmu murni (natural sciences). Pada saat itu terus bermunculan ilmuwan muslim yang sangat cerdas, aktif dan handal.

 

Bahkan, proses peralihan kekuasaan Pemerintahan Islam dari Dinasti Umaiyah ke Dinasti Abbasiyah (Tahun 750 M) merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah peradaban Islam, yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh insan akademik khususnya bagi para sejarawan muslim. Akibat ketekunan dan ketelatenan dibidang ilmu pengetahuan serta getol betul untuk melakukan riset, akhirnya umat Islam tidak hanya mampu memunculkan sebuah "zaman ke-emasan", tapi merupakan sebuah titik balik dalam perputaran sejarah dunia, yaitu dengan ditaklukannya wilayah Afrika, yaitu pada tahun 710 Masehi, dan wilayah Spanyol pada tahun 711 M.

 

Sedangkan tokoh pendiri Dinasti Abasiyah, yaitu Abdullah as-Syaffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah al-Abbas (132-136 H). Setelah ia wafat, akhirnya digantikan oleh Abu Jafar al Manshur (136-158 H), kedua tokoh itu merupakan perintis dan pendiri Dinasti Abbasiyah. Sedangkan zaman keemasan dari Dinasti ini berada dalam kekuasaan tujuh khalifah sesudahnya. Sementara Dinasti Abbasiyah memiliki rentang waktu kekuasaan yang cukup lama yakni 750-1258 M, selama itu pula bentuk pemerintahan yang diterapkan memang memiliki corak yang berbeda, hal itu karena adanya berbagai perubahan kondisi politik, sosial dan budaya.

 

Sementara Dinasti Abbasiyah pada periode 132 H/750 M sampai 232 H/847 M, merupakan zaman keemasan pemerintahan Abbasiyah.

Pada masanya, ilmuwan muslim yang terkenal saat itu, yakni Avicenna (Ibnu Sina), ia dikenal sebagai orang yang berpikiran sangat logis dan rasional, jauh melampaui manusia-manusia pada zamannya.

 

Perkembangan intelektual Avicenna (Ibnu Sina) sangat dipengaruhi oleh ajaran Aristoteles dan Plato, yakni sebagai perintis tonggak pertama konsep filsafat logika serta budaya untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu sampai ke akar-akarnya. Berdasarkan itu, Avicenna (Ibnu Sina), ia tidak hanya mengembangkan banyak ilmu pengetahuan, tapi juga banyak mengkritik perkembangan ilmu yang keliru dan masih mencampuradukkan hal-hal mistis dan supranatural.

 

Dalam konteks metodologi penelitian misalnya, Avisena (Ibnu Sina) selain menghasilkan buku "the Canon of Medicine", Avicenna (Ibnu Sina) juga membuat "kitab al shifa" atau yang lebih dikenal dengan "The Book of Healing". Dalam buku tersebut, Avicenna (Ibnu Sina), telah meletakkan dasar-dasar dan aturan dalam menjalankan metode eksperimen dalam konteks untuk mencari kebenaran di dalam ilmu pengetahuan. Sampai akhirnya metode saintifik tersebut disempurnakan oleh Galileo yang menjadi Bapak Sains Modern.

 

Kemudian dalam bidang Astronomi, Ibnu Sina atau Avicenna juga membantah klaim klaim para astrolog yang menyatakan bahwa pergerakan benda langit itu memiliki efek kepada nasib manusia, hal itu menurit Avienna (Ibnu Siana) adalah hal yang ngaco dan tidak masuk akal. Hal itu sebagaimana diuraikan secara detail di dalam kitab "Ar Risalah fi Ibtal Ahkam al Nujum". Sementara di dalam ilmu Kimia, Ibnu Sina atau Avicenna juga telah membantah klaim para alkimiawan (alchemist) yang menyatakan bahwa ada zat yang bisa mengubah timah menjadi emas yang waktu itu dikenal dengan istilah "The Philosopher's Stone

Geologi". Sementara di dalam buku "The Book of Healing", Ibnu Sina atau Avicenna juga membuat hipotesis bahwa awal terbentuknya gunung adalah proses pergerakan permukaan bumi seperti gempa bumi dan pergerakan sungai.

 

Kemudian dibidang ilmu fisika dan mekanika, Ibnu Sina atau Avicenna juga telah mengelaborasikan teori "motion" atau gerakan. Sedangkan dalam bidang fisika optik, Avisena (Ibnu Sina) sempat menyatakan bahwa cahaya memiliki kecepatan, dan sampai akhirnya dimensi ilmu itu kemudian disempurnakan oleh ilmuwan berikutnya, yakni oleh Rmer, Maxwell, dan Einstein.

 

Kemudian dibidang psikologi, Ibnu Sina (Avisena), ia juga menyatakan bahwa "jiwa" itu sebetulnya hanya merupakan bentuk persepsi fisiologis kesadaran manusia, dan bukan merupakan hal yang supernatural. Dan filosofi mengenai kejiwaan ini, akhirnya banyak mempengaruhi para filsuf Barat zaman Renaissance, terutama oleh Ren Descartes.

 

Sementara beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam yang sudah dibangun susah payah ketika di zaman Dinasti Umayah dan Abbasyiah, akhirnya demikian tragis dan mengenaskannya akibat  mengalami kehancuran atau dihancurkan oleh bangsa Mongol. Karena pada saat itu kekuasaan umat Islam pun sudah tidak lagi bersatu dalam kekuatan yang besar dengan satu pemimpin yang menjadi khalifah sebagai pusat dari pemerintahan. Namun yang terjadi saat itu adalah kekuatan politik umat Islam terus terpecah dan terbagi dalam beberapa kerajaan kecil yang satu dengan lainnya terus saling berperang.

 

III. Opensivitas Serta Keperdulian Para Cendikiawan Muslim di zaman Ke-emasan Islam

 

Sebagaimana telah uraikan di atas, bahwa Islam dan umat Islam pernah mengalami "zaman ke-emasan", dan Islam saat itu mengalami kemajuan peradabannya sepanjang sejarah, yaitu berlangsung pada abad pertengahan Islam (abad ke 7 H). Kondisionalitas umat Islam saat itu inklusifistisnya sangat tinggi, menonjolkan sikap keterbukaannya, sikap toleran dan akomodatif di kalangan umat Islam terhadap hegemoni pemikiran dan peradaban asing, mencintai ilmu pengetahuan, mentradisikan budaya akademik, serta terus getol melakukan berbagai riset. Bahkan kiprah para cendikiawan muslim saat itu demikian menonjol, terutama di internal pemerintahan serta di lembaga-lembaga penelitian dan di lembaga sosial kemasyarakatan. Di abad itu terus berkembang suatu aliran pemikiran yang mengedepankan rasio dan kebebasan berpikir. Dan di abad itu pula proses pencapaian atau peningkatan ekonomi keumatan terus meningkat (kemakmuran) di negeri-negeri muslim.

 

Bahkan ketika itu, semua bidang keilmuan dijadikan sebagai objek kajian oleh para tokoh pemikir Islam, baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum. Dari proses perkembangan pemikiran Islam itu, akhirnya berimflikasi pada perkembangan peradaban Islam di seluruh dunia Islam. Sementara perkembangan pemikiran dan peradaban Islam, yaitu ditandai dengan terus berkembangnya berbagai lembaga pendidikan Islam, utamanya ketika di zaman Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah serta didukung oleh dinasti-dinasti lainnya seperti Dinasti yang ada di Afrika Utara, Turki, India Islam dan Cordova Andalusia (Sepanyol), dan pada akhirnya dinasti di Andalusia itu terus mengalami kehancuran akibat pengaruh budaya hedonistik dan tidak cinta terhadap ilmu pengetahuan di internal para pemimpin di Andalusia. 

 

IV. Akar Sejarah Kemajuan Saintifik Dan Peradaban di Dunia Islam

 

Berbagai faktor pendukung perkembangan pemikiran dan peradaban Islam ketika di abad pertengahan Islam terutama dibidang ilmuan pengetahuan (saintifik) yang memang secara kosentratif terus digali dan dikembangkan oleh para ilmuwan muslim di abad pertengahan Islam. Sementara dampak perkembangan pemikiran dan peradaban Islam terhadap kehidupan umat Islam di dunia Internasional saat itu terus menonjol. Bahkan hasil riset para ilmuwan muslim di abad itu hingga saat ini masih tetap menjadi rujukan para ilmuwan kekinian.

 

Lebih dari itu, ketinggian peradaban umat Islam di zamam Dinasti Abbasiyah, merupakan dampak positif dari aktifitas “kebebasan berpikir” di kalangan umat Islam yang demikian subur ibarat jamur di musim hujan. Namun, setelah jatuhnya Dinasti Abbasiyah pada tahun 1258 M, akhirnya peradaban Islam pun mulai meredup. Hal itu terjadi akibat terus merosotnya aktifitas pemikiran di kalangan umat Islam, dan terkesan malah mendekati sikap "ke-jumud-an" atau kemandekan untuk berfikir dibidang riset dan keilmuan yang terus menjangkiti di kalangan umat Islam saat itu.

 

Sementara dinamika perkembangan pemikiran dan peradaban Islam ketika di abad 7 H, memang didukung sepenuhnya oleh para khalifah yang memang cinta terhadap ilmu pengetahuan, serta didukung oleh berbagai fasilitas (anggaran yang memadai), serta didukung oleh stabilitas politik dan sosial ekonomi yang mapan di kalangan umat Islam saat itu.

 

Hal itu seiring dengan tingginya semangat para ulama dan intelektual muslim dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan agama, humaniora dan eksakta, yaitu melalui gerakan penelitian, penerjemahan dan penulisan karya ilmiah di berbagai bidang keilmuan. 

 

Bahkan, kalau kita coba bentangkan akar sejarah kemajuan umat Islam di zaman ke-emasan itu, dan sekaligus kita coba tafsir ulang kembali sebuah perjalanan sejarah umat Islam, (tarikh tasyrih umat Islam), ternyata masa kejayaan umat Islam itu secara umum terjadi antara tahun 650-1250 M. Dan itu ditandai dengan semakin berkembangnya kebudayaan Islam dengan begitu pesat serta mempengaruhi sebagian besar masyarakat dunia. Pada masa itu, peradaban Islam telah membukakan mata masyarakat Eropa yang ketika itu, bahwa keberadaan dunia Barat (Eropa) saat itu memang sedang berada dimasa kegelapan. Sebaliknya,  umat Islam saat itu telah banyak melakukan inovasi dibidang ilmu pengetahuan dan termasuk inovasi dibidang ilmu eksakta seperti ; matematika, astronomi, kedokteran, kimia, dan fisika. Bahkan, di dalam tarikh tasyrih Islam (sejarah Islam) diceritakan; bahwa telah terjadi priodesasi tiga besar, diantaranya meliputi periode klasik, yaitu berlangsung dari tahun 650-1250 M. Kemudian periode pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250-1800 M. Dan periode modern yang berlangsung dari 1800 M hingga saat ini.

 

Sedangkan periode masa kejayaan Islam, yaitu berlangsung pada tahun 650-1250 M, dan hal itu sering disebut sebagai periode klasik dalam sejarah Islam. Pada kurun waktu tersebut, terdapat dua kerajaan besar yang dikenal sebagai Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Sedangkan masa kejayaan Islam dimasa Bani Umayyah ini, memang ditandai dengan begitu meluasnya wilayah kekuasaan Islam serta terus berdirinya bangunan-bangunan sebagai pusat dakwah Islam.

 

Sementara ketika di zaman Dinasti Abbasiyah, ditandai dengan begitu pesatnya berbagai ilmu pengetahuan. Dan kemajuan Islam di zaman Dinasti Abbasiyah, terjadi pada bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, arsitektur, sosial, dan militer. Dan tentunya, masa kejayaan umat Islam dimasa Dinasti Umayyah dan Bani Abbasiyah ini, memang tidak terjadi secara serta merta, alias "sim salabim ala kadabrak" melainkan didorong oleh berbagai faktor pendukung yang mendasarinya, yakni sebagaimana akan dijelaskan pada paragraf di bawah ini :

 

V. Faktor-Faktor Pendukung Masa Kejayaan Islam

 

1. Faktor Eksternal.

Terjadinya proses asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lainnya yang memang sudah lebih dulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan. Dan pada saat itu pengaruh Persia sangat penting khususnya dibidang ilmu pemerintahan. Tidak hanya itu, mereka banyak memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu filsafat dan sastra. Demikian juga pengaruh Yunani misalnya, yaitu masuk melalui berbagai macam terjemahan  dalam bidang ilmu, terutama ilmu filsafat.

 

2. Adanya gerakan terjemah.

 

Pada periode klasik memang begitu giat dan getolnya berbagai upaya penterjemaahan (buku-buku filsafat) oleh umat Islam. Sementara gerakan penterjemahan ini, memang begitu besar pengaruhnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama dibidang astronomi, kedokteran, kimia, filsafat, dan sejarah. Sementara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dimasa kejayaan Islam, hal itu tidak terlepas dari upaya dan peranan para pelopor kebangkitan umat Islam yang realitanya para ilmuwan muslim itu mereka telah berkontribusi secara positif untuk menyumbangkan berbagai dimensi keilmuannya. Berikut ini adalah lima tokoh pelopor kebangkitan Islam dibidang ilmu pengetahuan :

 

1. Al-Kindi.

Al-Kindi adalah seorang filsuf muslim dan ilmuwan Arab terkemuka yang hidup di abad ke 9 M. Ia terkenal karena menulis buku-buku tentang filsafat, matematika, dan ilmu kedokteran. Ia juga sangat berpengaruh besar dalam konteks pengembangan ilmu kimia serta memperkenalkan penggunaan alkohol dalam obat-obatan. Al-Kindi juga dikenal sebagai Bapak Filsafat Arab, karena ia telah mengembangkan gagasan filsafat Yunani kuno dalam konteks pemikiran Islam.

 

2. Al-Farabi.

Al-Farabi adalah seorang filsuf muslim terkemuka yang hidup pada abad ke 9 dan ke 10 M, dan ia sering disebut sebagai "The Second Teacher" setelah Aristoteles. Ia menulis banyak karya dibidang filsafat, musik, dan politik, termasuk gagasan tentang negara ideal dan menciptakan teori tentang kebahagiaan. Al-Farabi juga memainkan peran penting dalam mengembangkan sistem pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam.

 

3. Ar-Razi.

Ar-Razi adalah seorang ilmuwan muslim terkemuka dibidang kedokteran dan kimia yang hidup pada abad ke 9 M. Ia terkenal karena menulis banyak karya tentang obat-obatan dan pengobatan penyakit. Ia juga mengenalkan metode ilmiah dalam praktik kedokteran. Ar-Razi dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern karena ia menekankan tentang betapa pentingnya diagnosis atau diagnosa yang akurat dan proses pengobatan yang efektif.

 

4. Ibnu Sina.

Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan muslim terkemuka dalam bidang kedokteran, filsafat, dan matematika yang hidup pada abad ke 10 M. Ia menulis lebih dari 200 karya ilmiah, termasuk "The Canon of Medicine", yang menjadi buku ajar kedokteran selama berabad-abad. Ibn Sina juga sangat berpengaruh dalam mengembangkan ilmu matematika dan logika dalam konteks Islam.

 

5. Al-Khawarizmi.

Al-Khawarizmi adalah seorang matematikawan muslim terkemuka dan sering disebut sebagai "Bapak Matematika Arab" yang hidup di abad ke 9 M. Ia terkenal karena menyusun kitab "Al-Jabr wa al-Muqabalah", yang menjadi dasar bagi pengembangan ilmu matematika modern, seperti kalkulus dan statistik. Al-Khawarizmi juga sangat berpengaruh dalam pengembangan aljabar dan mengenalkan penggunaan angka Indo-Arab yang digunakan dalam sistem angka modern yang kita kenal saat ini.

 

Dengan kata lain, bahwa masa kejayaan Islam itu berlangsung antara tahun 650-1250 M, dan itu merupakan periode yang demikian "cemerlang" dan "gemilang" dalam sejarah ilmu pengetahuan di alam jagat raya ini. Karena saat itu sangat banyak ilmuwan muslim yang punya peran penting dalam konteks untuk mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, bahkan karya-karya mereka hingga saat ini masih mengilhami atau punya pengaruh besar bagi para ilmuwan di zaman Renaiccese, zaman modern, dan hingga di zaman milenial ini.

 

VI. Masa Keterpurukan Dan Kehancuran Umat Islam

 

Kehancuran umat Islam yang demikian tragis terjadi yaitu di Bagdad (Irak), yaitu akibat pusat ilmu pengetahuan dan peradaban umat Islan saat itu dihancurkan oleh bangsa Mongol. Demikian juga begitu tragisnya kehancuran di pusat peradaban umat Islam di dataran Eropa, yakni di Andalusia-Sepanyol, hal itu terjadi pada akhir abad ke 15 M.

 

Bahkan, bagi setiap muslim, ketika mendengar kata Alhambra-Andalusia (Sepanyol) seperti ada perih yang begitu menyayat luka di hati. Karena Istana (Alhanra-Andalusia) yang hasil jerih payah dibangun selama kejayaan Islam, yakni ketika di abad ke 13 M itu, tapi akhirnya menjelang akhir abad 15 M, kerajaan itu runtuh dan hancur. Akibatnya, ketika itu setiap muslim di sana (Andalusia-Sepanyol) terpaksa harus memeluk agama lain (Nasrani), kemudian terus diperlakukan tidak manusiawi, terbunuh atau dibunuh, atau bahkan mereka terpaksa harus melarikan diri ke Afrika. Dan di abad 16 M,  Granada di semenanjung Andalusia itu akhirnya sepi atau disepikan dari apapun yang berbau Islam, yakni mulai dari nama orang,  pakaian, bahasa Arab dilarang. Bahkan di abad 17 M, Andalusia (Sepanyol) tanpa sepatah-pun suara Al Quran dan suasananya menjadi sunyi sepi.

 

Namun kalau kita telisi sejarah berdirinya Dinasti Islam yang ada di Andalusia Sepanyol itu, kurang lebih berdiri sekitar tahun 711 M, atas dasar penaklukan Panglima Tharik bin Ziyad beserta pasukannya, yakni untuk menaklukan kerajaan Toledo, dan raja Toledo saat itu adalan Redorick. Sementara ketika sudah ada di pangkuan umat Islam, akhirnya Andalusia pun maju pesat. Cordova saat itu sudah memiliki 70 perpustakaan dengan 500 ribu buku. Tentu saja masjid-masjidnya juga jauh lebih banyak.

 

Bandingkan dengan keadaan Eropa, yakni empat abad berikutnya, seperti di Universitas di Paris misalnya, saat itu hanya memiliki  2.000 buku.

 

Dengan kata lain, ketika berada di persimpangan kemakmuran muslim Andalusia (Sepanyol) ternyata ada yang berjalan lurus sehingga melahirkan banyak ilmuwan dan filosof, dan salah satunya adalah Ibnu Rusyd. Tetapi di persimpangan itu ada jalan menuju kemewahan dan hedonisme alias jalan yang menyimpang dan terlalu mementingkan urusan duniawi. Bahkan, para pemimpin di Andalusia saat itu memang tidak sedikit juga yang memang tergiur oleh berbagai kemewahan dunia, dan lupa akan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. Bahkan di penghujung kehancuran di Andalusia, kondisionalitas ekonomi rakyat pun terabaikan, serta tidak ada persatuan dalam semangat perjuangan. Dan bahkan terus menyulut ekonomi rakyat yang terus berantakan dan akhirnya terjadi sikap dan sifat intersinisme di kalangan masyarakat. Dan ujung-ujunya terjadi proses perebutan kekuasaan. Dan menjelang akhir abad ke 15 M, kerajaan itu (Andalusia) diruntuhkan. Sementara di abad 17 M, sebagaimana telah dikemukakan diatas, bahwa tanah Andalusia (Sepanyol) sunyi dari sepatah-pun ayat Alquran.

 

Demikian juga betapa tragianya umat Islam di Bagdad (Irak).  Karena berbagai peninggalan peradaban Islam maupun rumus-rumus ilmu pengetahuan yang ada di pusat peradaban Islam di Bagdad itu dihancurkan oleh pasukan Mongol.

 

Lebih mengenaskan lagi secara politis global, bahwa wilayah kekuasaan umat Islam saat itu, tidak lagi bersatu dalam kekuatan yang besar dengan satu pemimpin yang menjadi khalifah sebagai pusat dari pemerintahan. Namun yang terjadi saat itu adalah kekuatan politik Islam akhirnya terus terpecah dan terbagi dalam beberapa kerajaan kecil yang satu dengan lainnya terus saling berperang. 

 

VII. KESIMPULAN :

"Kunci Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Dan Peradaban Bagi Umat Islam"

 

Pada bagian ini penulis mencoba untuk menyimpulkan dari semua narasi yang telah diungkapkan diatas. Dan sekaligus juga pda badian ini penulis mencoba untuk memberikan suport, yakni bagaimana agar kita umat Islam untuk menatap masa depan yang lebih baik, dan terus mencoba untuk meraih kembali ilmu pengetahuan dan peradaban yang hilang itu. Dan mencoba untuk membangun semangat baru agar kita umat Islam bisa menggenggam kembali "zaman ke-emasan" itu, yakni seperti telah terjadi di abad ke 7 M itu. 

 

Karena, sejarah Islam itu sendiri dapat dibagi ke dalam tiga periode, yaitu yang dimulai dari periode klasik (650-1250), abad pertengahan (1250-1800), dan periode modern (1800-sekarang). Sedangkan 

periode abad pertengahan misalnya, Islam dimulai saat Bani Abbasiyah runtuh pada tahun 1258 M, hingga timbulnya kebangkitan kembali pada sekitar abad ke-19 M. Pada abad pertengahan itu, berbagai krisis yang sangat kompleks akhirnya terus menerpa dunia Islam hingga mengakibatkan kemunduran dan bahkan kehancuran di internal umat Islam. Sedangkan periode abad pertengahan ini dapat dibagi lagi ke dalam dua pembabakan, yaitu masa kemunduran (1250-1500) dan masa tiga kerajaan besar (1500-1800).

 

Sementara masa kemunduran, yaitu berlangsung pada tahun 1350-1500 M. Sedangkan awal kemunduran peradaban Islam, yaitu dimulai saat Bagdad (Irak) yang merupakan Ibu Kota Bani Abbasiyah dan sekaligus sebagai pusat peradaban Islam, akhirnya diserang dan kemudian dihancurkan oleh tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M.

 

Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan itu, mereka terus menyerang Bagdad (Irak), karena Khalifah Bani Abbasiyah saat itu (Al-Mu'tashim), ia menolak menyerah ke pasukan Hulagu Khan. Dan invasi yang dilakukan Hulagu Khan itu memang berlangsung begitu seporadis (brutal) dan akhirnya terjadi proses pembantaian dan tidak sedikit penduduk Bagdad (Irak) saat itu akhirnya terbunuh.

 

Lebih dari itu, tindakan brutal yang dilakukan pasukan Mongol itu, akhirnya betul-betul menghancurkan peradaban Islam, baik secara fisik, psikis, sosial, politi, dan kultural. Dan jatuhnya Bagdad (Irak) ke tangan bangsa Mongol itu, bukan saja mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah, tetapi juga menjadi awal kemunduran peradaban Islam karena pusat keilmuan dan peradaban Islam yang dulunya demikian megah dan kharismatiknya itu, akhirnya telah hancur lebur. Bahkan, setelah menguasai Baghdad dan Persia, tentara Mongol juga terus bergerak ke Mesir, yaitu untuk menaklukkan Dinasti Mamluk atau Mamalik yang saat itu sedang berkuasa.

 

Reflekai/Rekomendasi

 

Pada bagian atas, secara detail telah dijelaskan soal kronologis kehancuran umat Islam. Maka pada bagian ini saya mencoba untuk merefleksi kesejarahan umat Islam. Mengapa umat Islam ketika zaman dulu bisa bangkit dan lalu mengusai ilmu pengetahuan dan peradaban di dunia? Sementara kata kunci menurut hemat penulis adalah, kita (umat Islam) harus kembali menguasai ilmu pengetahuan dan peradaban diantaranya.

 

Dan kalau kita coba telusuri tentang jejak sejarah peradaban Islam, maka akan ditemukan para aktor ilmuwan yang menjadi pejabat. Dan ternyata beliau-beliau mampu membangkitkan peradaban Islam pada masanya. Sebut saja misalnya Umar ibn Khattab (634-644), dari zaman Khulafaur Rasyidin. Umar Ibn Khattab, beliau adalah sebagai seorang ilmuwan, dan beliau telah mempelopori perkembangan ilmu yang sangat luar biasa pada masanya dengan perspektif ijtihad-ijtihadnya yang berlian. Sebagai seorang pejabat, beliau telah berhasil membangkitkan peradaban Islam lewat penataan dan penertiban adminsitrasi negara yang dibaginya kepada beberapa wilayah yang sebelumnya belum ada.

 

Misalnya, mengangkat sekretaris negara, mendirikan pengadilan negara, membentuk Jawatan kepolisian untuk menjaga keamanan masyarakat, membentuk jawatan militer, untuk menjaga tapal batas wilayah negara, membentuk baitul mal untuk menyimpan keuangan negara yang ditarik dari pajak dan lain sebagainya. Beliau juga membentuk dewan baitul mal untuk mengurusi keuangan negara, menciptakan mata uang negara sebagai alat tukar resmi dari negara, mengatur sistem pembayaran pajak negara, menciptakan kelender Islam yang sampai saat ini masih kita pakai.

 

Demikian juga ketika di zaman Dinasti Umayah dan Abbasiyah misalnya. Dan yang paling menonjol adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Harun al-Rasyid (786-809) yang diangkat menjadi khalifah ke-5 di internal Daulah Abbasiyah, maka Daulah Abbasiyah memasuki era baru yang sangat gemilang dan cemerlang. Pada masanya Daulah Abbasiyah ini memang mencapai puncak kejayaannya, yakni sebagaimana telah dideskripsikan dibagian atas.

 

Demikian juga anaknya Khalifah al-Makmun (813-833), dari Kota Baghdad akhirnya memancar sinar kebudayaan dan peradaban Islam ke seluruh dunia, dan tidak terbatas hanya di dunia Islam saja, tetapi di seluruh dunia, sehingga Bagdad ketika itu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan yang tertinggi di dunia. Khalifah Hakam II (951-976) anak Abdurrahman III menjadi penyempurna peradaban Spanyol, dia seorang pencinta ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesusasteraan. Dia penabur atau yang kerapkali memberikan hadiah kepada para ilmuan dan cendikiawan, mengundang para dosen dan para Professor dari Bagdad untuk mengajar di Universitas-Universitas yang ada di Spanyol.

 

Demikian juga Khalifah Muiz Lidinillah (953-975) dari Daulah Fatimiyah di Mesir misalnya. Dia adalah aktor pejabat yang sangat gemilang di Mesir. Di tangannya peradaban Islam terus mengalami kemajuan pesat.

 

Al-Hakim Biamrillah (966-1021) yang menggantikan Muiz Lidinillah, ia membangun Perpustakaan “Darul Hkmah” di Mesir dan secara rutin mengadakan diskusi-diskusi ilmiah di tempat itu yang dihadiri sendiri oleh Khalifah al-Hakim Biamrillah dan para ilmuan dari berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Mereka terus mengkaji buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut.

 

Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan Khalifah Harun al-Rasyid dan anaknya al-Makmun dari Daulah Abbasiyah di Bagdad, Khalifah Abdurrahman III dan anaknya Hakam II dari Cordova (Sepanyol). Demikian juga kegiatan Muiz Lidinillah dan anaknya al-Hakim Biamrillah dari Daulah Fatimiyah di Mesir. Mereka berhasil dengan cemerlang membangun negara masing-masing, hal itu tidak terlepas dari peranan mereka sebagai aktor pejabat ilmuan dan pencinta ilmu pengetahuan dari ketiga Daulah Islam sebagaimana telah disebutkan diatas. 

 

Mereka terus berlomba-lomba untuk menciptakan berbagai kemajuan peradaban Islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, kesusasteraan dan kebudayaan di daerah kekuasaan masing-masing. Dapat lebih ditegaskan lagi, bahwa dari paparaan sejarah kebudayaan Islam yang telah disebutkan diatas, yakni mulai dari Umar ibn Khattab (zaman khilafa' Ar-rasyidin) di Madinah, Al-Walid ibn Abd Malik di Suriah, Abu Ja’far al-Mansur, Harun al-Rasyid dan Al-Makmun di Baghdad, Abdurrahman III dan al-Hakam di Spanyol serta Muiz Lidinillah dan al-Hakim Biamrillah di Mesir. Maka dapat diketahui bahwa majunya suatu negara ternyata berada di tangan para pejabat negara yang memang ahli ilmu dan pencinta ilmu serta yang mempunyai perhatian khusus bagi perkembangan ilmu pengetahuan. 

 

Dalam konteks Indonesia misalnya, baik kini maupun dimasa yang akan datang. Menurut hemat penulis, agar terus dipikirkan, yakni bagaimana untuk menjadi syarat bagi para calon pejabat (pemimpin di negeri ini) adalah orang-orang yang mengeri tentang bagaimana proses pengembangan ilmu pengetahuan, karena setidaknya sang pemimpin itu ia wajibul wujub untuk memikirkan kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban di daerahnya masing-masing.

 

Konon katanya sekarang, bahwa negara yang digjayaan dibidang ilmu pengetahuannya adalah negara Jerman. Dan di Jermal para jabatnya sangat  menghargai ilmu pengetahuan dan kerapkali memberikan penghargaan bagi para ilmuwan di negaranya. Dan bahkan ketika  BJ. Habibi masih hidup, dan ketika ia ceramah ilmiah di Jerman, konon katanya untuk satu jam saja BJ. Habibie ceramah di Jerma, mereka sanggup membayarnya senilai seratus juta rupiah, tetapi jika beliau ceramah ilmiah di Indonesia dapat dipastikan jauh berada di bawah itu.

 

Justru di negeri ini terkesan belum bemberikan apresiatif sepenuhnya khusuanya kepara para ilmuwan, cendikiawan, intelektual, dan para Guru Besar (Profesor). Dmana para ilmuwan dan para guru besar itu mereka terus berjibaku untuk "mengkristalisasikan keringat keilmuan, kecendikiawan, dan keintelektualan mereka masing-masing". Hal itu demi untuk mencari dan menemukan rumus-rumus ilmiah di Laboratorium. Hal tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa negeri ini masih sangat kurang dalam memperhatikan perkembangan aktivitas intelektual anak bangsa kita.

 

Dan diharapkan, agar pejabat ke depan di negeri ini adalah para ilmuan atau pencinta ilmu pengetahuan, manakala negeri ini ingin maju dan berkembang cemerlang dalam peradaban di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan bisa mensejajarkan diri dengan negara-negara lain. Kita masih dapat berharap kepada para pejabat pencinta ilmu pengetahuan tersebut yang mempunyai perhatian khusus bagi perkembangan ilmu pengetahuan, kesusasteraan dan kebudayaan, kalau tidak kepada siapakah negeri ini akan kita serahkan.

 

Bahkan, di dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan, bahwa salah satu dari empat macam tujuan Indonesia merdeka adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar anak bangsa ini jangan ada lagi yang ketertinggalan dalam pendidikan.

 

Bahkan, para pemangku kepentingan di negeri ini kerapkali mengatakan di berbagai kesempatan, bahwa bangsa ini baru akan maju di tangan anak-anak bangsa yang cerdas, tetapi kita sering lupa memperhatikan dan mengalokasikan anggaran yang cukup memadai bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

 

Tentunya, kita masih  menggantungkan sejuta harapan kepada para pejabat negara yang mempunyai keperdulian khusus bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Semoga negeri ini semakin maju dan berkembang diasuh dan pimpin oleh pejabat pencinta ilmu pengetahuan yang mempunyai keperdulian besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Karena, kunci kebangkitan peradaban Islam adalah ilmu pengetahuan dan itu sudah  dibuktikan sebagaima dengan begitu panjang lebar dibagian atas. Yakni, dalam soal penjelasan "sejarah peradaban Islam", dan sebagaimana juga telah tertemalisir pada judul tulisan kali ini.

#Wallahu A'lam#

Web Admin

Web Admin