Language:
Hotline

Search

Upaya Mengembalikan Harta Karun (Kekayaan Intelektual) Masyarakat Banten Dari Belanda

  • Share this:
post-title

Oleh : Adung Abdul Haris

 

I. Pendahuluan

 

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan upaya Belanda yang telah mengembalikan "harta karun" yakni berupa benda permata (beberapa kilo gram emas, permata intan berlian), arca, keris, serta berbagai artefak sejarah lainya milik bangsa Indonesia.  Dan penyerahan "harta karun itu" secara simbolis diserahkan oleh pihak Belanda ke pihak Indonesia, yang berlangsung di Leiden-Belanda, yakni pada hari Senin, 10 Juli 2023. Dari pihak indonesia diwakili oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, sementara dari Pemerintah Belanda diwakili oleh Menteri Muda Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gunay Uslu. Dan umumnya penyerahan harta karun itu, utamanya yang berupa emas permata (berlian) milik Kerajaan Lombok. 

 

Namun lain halnya dengan harta karun yang dirampas oleh pihak kolonial Belanda dari Kesultanan Banten, yaitu berupa harta karun (kekayaan intelektual) masyarakat Banten, yakni berupa berbagai dokumen, surat-surat penting Kesultanan Banten, berbagsi manuskrip, artefak sejarah, karya kitab kuning, serta benda-benda berharga maupun karya  bersejarah lainnya, yang tentunya tidak ternilai harganya. Namun, hingga saat ini berbagai benda dan karya bersejarah dan tidak ternilai harganya itu, memang masih berada di negeri Belanda. Bahkan, menurut salah seorang peneliti dan sekaligus sebagai Guru Besar sejarah dan pemikiran Ke-Islaman, yakni menurut Prof. Dr. Mufti Ali, bahwa berbagai dokumen, surat surat penting Kesultanan Banten, berbagai manuskrif serta berbagai artefak sejarah Banten zaman dulu, kurang lebih sekitar tiga konteiner, yang hingga saat ini masih berada di negeri Belanda. 

 

Sementara langkan kongrit untuk mengambil harta karun (kekayaan intelektual) masyarakat Banten dari negeri Belanda itu, memang telah dimulai, yakni ketika di tahun 2020 yang lalu. Pasalnya saat itu, Gubernur Banten (Wahidin Halim) ketika itu ia telah menugaskan sejarawan Banten, yakni Prof. Dr. Mufti Ali beserta rekan-rekan timnya, untuk langsung bertolak ke Belanda, yakni sejak tanggal 7 sampai 17 Februari 2020. Bahkan, selama di Belanda, Prof. Dr. Mufti Ali bersama timnya, mereka terus merekap dokumen-dokumen penting tentang Banten yang terbesar di lima tempat, yaitu di Universitas Leiden, kantor arsip Nasional Denhag, Musium Volkenkunde di Leiden. Musium Tropen Amsterdam dan Musium Rijks Amsterdam-Belanda. Sedangkan berbagai dokumen yang telah berhasil direkap meliputi manuskrip Banten 20.000 halaman dari 208 judul, ratusan ribu lembar arsip Banten, 300 peta, 4.000 foto, sketsa, buku atau kitab kuning Syaikh Nawawi Al-Bantani. Sedangkan proses rekapitulasi dokumen sejarah Banten merupakan tahapan awal sebelum dibawa ke Banten. Dan hingga saat ini, penulis juga belum tau persis, apakah harta karun (kekayaan intelektual) masyarakat Bantun itu sudah berada di Indonesia? Atau malah masih di Belanda, mengingat dokumen maupun berbagai manuskrip dan artefak sejarah itu, konon katanya kurang lebih sekitar tiga konteiner. 

 

II. Ribuan Dokumen Sejarah Banten di Belanda akan Dibawa Pulang

 

Ribuan dokumen sejarah Banten yakni sebagaimana telah diungkapkan diatas, yakni berupa berbagai dokumen pada masa kolonial yang saat dilakukan proses inventarisasi oleh Prof. Dr. Mukti Ali (7-17 Februari 2020, memang berbagai dokumen tersebut masih berada di Belanda. Bahkan, sejak tahun 2020 lalu, pihak Pemerintah Provinsi Banten, memang sudah  konsen bentul, bahwa berbagai dokumen tersebut rencananya akan dipulangkan oleh Pemprov Banten. Dan langkah Pemprov Banten saat itu (tahun 2020), memang dimulai dengan mengirim empat orang ahli sejarah Banten ke Belanda yang bertugas untuk menginventarisir berbagai dokumen terkait sejarah Banten. Dan salah seorang sejarawan Banten yang dikirim ke Belanda itu, yaitu Prof. Dr. Mufti Ali. Dan sang Guru Besar dibidang sejarah dan pemikiran Islam itu (Mufti Ali) menyebutkan, bahwa kegiatan tersebut berlangsung selama sebelas hari lamanya (mulai dari tanggal 7-17 Februari 2020).

 

Adapun dokumen yang direkapitulasi pihaknya terdiri dari kitab-kitab karangan ulama, foto, sketsa, buku-buku dalam bahasa melayu tentang Banten. 

"Saya memang ditugaskan Gubernur Banten (Wahidin Halim) untuk merekapitulasi data dan sumber sejarah Banten yang ada di lima lembaga di Belanda, yaitu Universiteit Bibliotheek Leiden, Arsip Nasional Denhaag, Volkenkunde Museum, Tropen Museum Amsterdam dan Rijk Museum Amsterdam," kata Mufti Ali (Republika, Kamis, 27 Februari 2020). Dari hasil penelusuran, diketahui ada 208 bundel manuskrip sejarah Banten, lebih dari 3000 foto tentang Banten, sekitar seratus ribu lembar arsip, ratusan judul kitab ulama Banten, ratusan sketsa dan buku tentang Banten yang ditemukan pihaknya di Belanda. "Laporannya sudah kita serahkan ke Gubernur, yaki setelah kita melakukan penelusuran di lima lembaga tadi," ujarnya. Berbagai dokumen itu disebutnya sangat penting untuk menggali kembali wawasan terkait sejarah Banten.

 

Mufti Ali bahkan mengatakan, kalau dokumen yang berhasil ditemukan tersebut kebanyakan justru mengungkap data dan wawasan baru tentang sejarah Banten yang selama ini belum diketahui. "Yang kita temukan justru lebih banyak yang baru daripada yang sudah ada. Contohnya, ada manuskrip do'a perang sabil yang ditulis oleh Syekh Asnawi-Caringin, yang disimpan menantunya (Kiyai Tb. Ahmad Khotib), saat menjadi komandan pemberontakan pada tahun 1926. Manuskrip tersebut yang jadi dasar untuk menjatuhkan vonis Syekh Asnawi-Caringin, sehingga ia dihukum dan kemudian  diasingkan,"kata Mufti Ali (Republika, 29 Februari 2020).

 

Sementara dokumen lain yang menarik dan sangat berharga menurut Mufti Ali, yaitu berbagai manuskrip tentang Undang-Undang pada masa Kesultanan Banten. "Dari manuskrip tersebut kita akan mengetahui, bahwa Kesultanan adalah negara hukum yang melindungi semuanya bahkan kepada pendatang," tutur Mufti Ali (Republika, 29 Februari 2020). Mufti Ali juga menuturkan, bahwa upaya pemulangan dokumen sejarah ini masih dalam kajian Pemprov Banten. Ia mengaku belum mengetahui bagaimana teknis pemulangan dokumen sejarah tersebut, entah nantinya akan dibawa dokumen aslinya atau akan dipulangkan salinannya. 

"Gubernur yang akan memutuskan apakah sekian ribu data itu yang sangat banyak akan dibawa aslinya dengan permohonan resmi ke pemerintah Belanda, atau hanya salinan atau berupa PDF nya saja," jelasnya. Sementara menurut Gubernur Banten (Wahidin Halim) mengatakan, bahwa upaya pemulangan dokumen sejarah ini juga merupakan bagian dari langkah kongkrit, yakni demi menunjang proyek revitalisasi Banten Lama. Ia mengaku juga sedang merencanakan pembangunan Islamic Center di area tersebut yang di dalamnya akan dipamerkan dokumen-dokumen tersebut. "Kita akan buat seperti convention hall, yang lantai duanya museum tempat dipamerkan dokumen sejarah Banten, lantai tiga untuk kantor dan lantai satu dibuat Aula besar," katanya (Republika, 29 Februari 2020).

 

III. Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Banten Dan Upaya Memboyong Berbagai Manuskrip Banten di Belanda

 

Salah seorang Guru Besar sejarah dan pemikiran keislaman, dan sekaligus juga sebagai Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Banten, dari Sultan Abul Mafakhir Institut (SAMI), yakni Prof. Dr. Mufti Ali, ia menjalaskan dalam sebuah tulisannya (artikel) yang berjudul,  "Menggali Khazanah intelektual Banten Masa Lalu di Belanda Dalam Upaya Untuk Mendukung Ikhtiar Gubernur Mengembalikan Kejayaan Banten". Dan tulisan tersebut juga telah dimuat di Banteninfo.com, pada tanggal 29 Februari 2020. Pada artikel tersebut, Prof. Dr. Mufti Ali, ia  demikian gamlangnya untuk menjelaskan seputar urgensi pemulangan harta karun (kekakayaan intelektual) masyarakat Banten yang ada di Belanda.

 

Bahkan, di dalam buku yang berjudul, "Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII", seorang sejarawan besar Prancis, yakni Claude Guillot, ia  menegaskan bahwa diantara beberapa keistimewaannya, Banten adalah negeri yang kaya sekali akan sumber-sumber sejarah. Pernyataan Claude Guillot itu ternyata benar adanya, yakni sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr.

 

Mufti Ali, yakni sang sejarawan Banten yang diberikan tugas untuk menginventarisir berbagai dokumen, manuskrif, artefak sejarah dan lain sebagainya, yakni ketia Mufti Ali beserta timnya terus melakukan inventarisasi berbagai dokumen tersebut di perpustakaan Universitas Leiden, National Archief Den Haag, the British Library London, atau Archives Nationales de France Paris atau bahkan ke Arsip Nasional (ANRI) di Jakarta, yang menyimpan berbagai jenis sumber-sumber sejarah Banten, terutama arsip dan manuskrip. Sebagai salah satu universitas tertua di Eropa yang berdiri pada abad ke 15 M. Sementara Universitas Leiden merupakan salah satu universitas yang perpustakaannya memang menyimpan koleksi manuskrip nusantara terbanyak di dunia. 26 ribu manuskrip kuno dari Indonesia disimpan di perpustakaan universitas tertua di Belanda. dari 26 ribu manuskrip tersebut, 200 lebih di antaranya berasal dari Banten. Manuskrip yang tersimpan di Banten tersebut memuat kajian berbagai disiplin ilmu, yakni mulai dari sejarah, tasauf, hukum tata negara, teologi, geografi, ekonomi, pertanian, tata bahasa, tafsir, fikih, dan lain sebagainya. Manuskrip yang terdiri dari 20.000 halaman lebih itu adalah khazanah budaya dan intelektual Banten yang amat sangat berharga, karena memuat informasi dan pengetahuan menarik untuk dikaji kembali dalam konteks kekinian. Manuskrip bidang sejarah misalnya, seperti Hikayat Hasanuddin, Babad Banten, Sadjarah Banten, wawacan syeikh Mansur, wawacan dari Tanara, dengan jumlah halaman bervariasi dari 542 sampai 45 halaman adalah koleksi manuskrip Banten paling banyak. 14 manuskrip tentang babad dan sadjarah Banten berada dalam tumpukan koleksi manuskrip Banten yang ada di Leiden. Kajian terhadap manuskrip tersebut telah mengantarkan putera Banten terbaik, yaitu Prof. Dr. Hussein Djajadiningrat, yang akhirnya ia mendapatkan gelar doktor dengan yudisium cum laude di usianya yang baru menginjak 26 tahun di Universitas Leiden, yaitu pada tahun 1913.

Kesuksesannya mengkaji Sadjarah Banten ini, yang akhirnya ia mendapatkan penghargaan dan menjadikannya putera Hindia Belanda pertama yang mengenyam pendidikan strata tiga di Belanda. Sementara tahun penganugerahan gelar doktornya tahun 1913 itu, akhirnya dijadikan terminus untuk peringatan seratus tahun hubungan pendidikan dan kebudayaan Indonesia dan Belanda pada tahun 2013 lalu. Sebagai penghargaan akan sosoknya, akhirnya patung Hussein Djajadiningrat didirikan di Aula Universitas Leiden, yalni pada saat peringatan 100 tahun hubungan antara Belanda dan Indonesia, utamanya bidang pendidikan. Sementara Undang-Undang Banten, ditulis dalam rentang waktu dua abad (17 dan 18) adalah manuskrip khazanah masa lalu Banten dalam bidang hukum dan tata kelola pemerintahan yang tidak ternilai harganya, yang termasuk dalam koleksi manuskrip Banten yang ada di perpustakaan Universitas Leiden.

 

Bahkan, lima (5) bundel manuskrip dengan jumlah total 2.639 halaman itu adalah khazanah intelektual masa lalu Banten yang sangat berharga. Oleh karena itu, dengan terus melakukan proses pengkajian terhadapnya, maka kita (khususnya masyarakat Banten) akan lebih mengerti bagaimana kesultanan Banten zaman dahulu itu, memang sebagai sebuah emporium besar dengan mitra dagang dan aliansi politik Internasional, dan sekaligus juga memiliki Undang-undang, yurisprudensi, peraturan, dan acuan hukum dalam tata kelola pemerintahannya. Sementara kajian terhadap undang-undang Banten secara filologis telah dilakukan oleh Ayang Utreza di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, Perancis tahun 2008-2013 (Banteninfo.com, 29 Februari 2020).

 

Manuskrip kitab insan kamil, tentang manusia sempurna, karya Abdul Karim al-Jilli, yang digandrungi oleh Sultan ke-4 Banten, yaitu Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir, dua jilid dengan jumlah 1703 halaman dengan terjemah antar baris dalam bahasa jawa kuno Banten adalah salah satu khazanah kekayaan rohani dan intelektual Banten yang sangat berharga yang masih utuh dan bisa reproduksi dan dibaca isinya.

 

Kegandrungan Sultan dan para bangsawan Banten untuk mempelajari ajaran tasawuf memberikan pelajaran bagi kita tidak hanya informasi bahwa kejayaan dan kemakmuran material berjalan seiring dengan perhatian terhadap ketahanan rohaniah dan spiritual tetapi juga bahwa para Sultan Banten zaman dulu, mereka memang memiliki visi kuat untuk terlibat dalam memahami wacana-wacana keislaman tingkat tinggi sebagaimana yang sedang aktual dibicarakan saat itu di pusat-pusat kekuasaan Islam.

Diantara koleksi manuskrip Banten di Leiden yang membanggakan adalah 12 pucuk surat para sultan Banten abad ke-18 dan awal abad ke-19 kepada Gubernur Jenderal Belanda. Kondisi surat-surat yang bermotif daun cengkeh, bertinta emas, dan berstempel indah yang dicetak di atas kertas Eropa terbaik pada masanya tersebut masih utuh dan bisa dinikmati keindahan tulisannya. Keindahan surat-surat Sultan Banten dan kerapihan dalam tata kelola administrasi pemerintahannya telah membuat kagum seorang peneliti manuskrip Asia dari Oxford University Inggris, Annabel Teh Gallop. Dan  kekaguman seorang Annabel Teh Gallop itu, akhirnya membuatnya terus meneliti tidak hanya surat-surat Sultan Banten tetapi juga stempel dan kertas suratnya. Sementara 62 surat Sultan Banten dan 150 stempel kesultanan Banten telah ia kaji. Kajian terhadap surat-surat dan stempel kesultanan Banten pada tahun 2003 itu, akhirnya telah membuatnya dipercaya oleh Pemerintah Inggris untuk menjadi kepala kurator manuskrip Asia Tenggara di British Library-Inggeris. Surat-surat Sultan Banten yang disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan berbagai lembaga di Inggris, Perancis, Denmark, Rusia, hal itu menunjukan tentang intensitas hubungan internasional kesultanan Banten dengan berbagai imporium di seluruh dunia. Kegigihan dalam menjalankan perdagangan internasional dan memperkuat aliansi politik dan pertahanan dengan emporium-emporium besar di seluruh dunia.

 

IV. Asal Usul Manuskrip Banten di Leiden-Belanda

 

Pada tanggal 11 juli 1906, Snouck Hurgronje, yakni seorang orientalis legendaris Belanda, yang baru tiba di Leiden dari Hindia Belanda (Nusantara), ia kemudian berkirim surat kepada kolega nya, yaitu M.J. de Goeje, seorang kurator manuskrip di perpustakaan Universitas Leiden. Snouck menjelaskan bahwa manuskrip tersebut ia dapatkan dari seorang pejabat pribumi di Serang pada tahun 1890 dan Snouck Hurgronje, ia menyimpannya selama 16 tahun di kantor tempat tugasnya di Batavia. Manuskrip tersebut menurut Snouck disimpan di kantor Bupati Serang dan merupakan "harta rampasan" yang diambil oleh para pasukan Belanda, yaitu ketika menduduki Surosowan. Kondisi manuskrip saat itu memang dalam kondisi memprihatinkan. Karena sebagian lembaran-lembarannya memang robek, berdebu dan tulisannya sebagian sulit dibaca karena sebagian tintanya memang sudah memudar.

 

Saat Snouck kembali ke Belanda pada awal tahun 1906, satu (1) peti besar yang berisikan manuskrip-manuskrip Banten yang dibawanya dari Hindia Belanda (Nusantara) akhirnya diberikan ke perpustakaan Universitas Leiden, demikian sekilas riwayat asal usul manuskrip Banten di Leiden.

 

V. Membawa Kembali Manuskrip Banten.

 

Ikhtiar Gubernur Banten (Wahidin Halim) untuk membawa kembali sumber-sumber sejarah Banten termasuk manuskrip di Belanda patut diapresiasi. 200 lebih manuskrip Banten di Belanda adalah berupa harta karun juga (kekayaan intelektual dan khazanah kebudayaan yang dibutuhkan oleh masyarakat), yakni demi untuk bahan pengetahuan dan referensi nilai dan moral. 20.000 lebih halaman manuskrip tersebut bila terus dikaji dan kemudian hasil kajiannya itu terus disebarluaskan ke masyarakat Banten, maka hal itu akan memberikan dampak yang sangat besar pada pembangunan moral dan spiritual masyarakat Banten, baik kini maupun dimasa yang akan datang. Lebih-lebih di tengah arus modernisasi dan globalisas serta era disrupsi informasi yang saat ini terus terjadi secara masif.

 

Maka menggali pengetahuan dari sumber-sumber khazanah intelektual dan kultural masa lalu Banten, tentunya harus terus diinisiasi dan sekaligus  digalakan agar jati diri dan identitas Ke-Bantenan kita memiliki fondasi dan akar yang kokoh.

 

VI. Belanda Telah Menyerahkan Ratusan Benda Bersejarah  Indonesia Dan Termasuk "Harta Karun Asal Lombok" Yang Dijarah Pada Masa Penjajahan.

 

Saat prosesi penyerahan (harta karun) yang dilakukan secara simbolik di Leiden-Belanda (Senin, 10 Juli 2023), saat itu nampak benda permata berlian dari "harta karun Lombok", yakni yang ditampilkan ketika penyerahan benda-benda bersejarah milik Indonesia yang dijarah Belanda di masa penjajahan (BBC, Indonesia, Senin, 10 Juli 2023). Dan penyerahan harta karun secara simbolis itu, memang digelar di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, ia mewakili Pemerintah Indonesia, telah menerima koleksi tersebut. Sementara pihak Pemerintah Belanda, saat itu diwakili oleh Menteri Muda Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gunay Uslu.

Ratusan benda bersejarah itu dikembalikan setelah melalui penelitian dan komunikasi yang panjang antar kedua negara. Sementara benda-benda yang dikembalikan itu, yakni mulai dari koleksi benda seni dari Bali, artefak Singasari, hingga benda-benda bersejarah dari kerajaan Lombok. Menurut Hilmar, repatriasi benda bersejarah ini bukan sekadar memindahkan barang dari Belanda ke Indonesia. Namun juga untuk mengungkap pengetahuan sejarah, asal-usulnya, serta membahas makna dari benda-benda tersebut bagi kedua bangsa, baik dimasa lalu maupun di masa kini, “Proyek repatriasi benda bersejarah ini adalah momentum penting, untuk menumbuhkan saling pemahaman dan kesetaraan di antara kedua bangsa,” kata Hilmar, (BBC New, Indonesia, 10 Juli 2023). Disebutkan, ratusan benda bersejarah itu dikembalikan setelah melalui penelitian dan komunikasi yang panjang antar kedua negara.

Benda-benda yang dikembalikan, yakni mulai dari koleksi benda seni dari Bali, artefak Singasari, hingga benda-benda bersejarah dari kerajaan Lombok. Dan harta karun Lombok itu dijarah oleh tentara kolonial Belanda dari Istana Tjakranegara dan desa sekitarnya usai berakhirnya Perang Lombok pada 1894.

 

Apa saja  benda-benda bersejarah yang dikembalikan?

 

Diperkirakan jumlah benda bersejarah yang dikembalikan oleh Belanda pada hari Senin, 10 Juli 2020 yang lalu itu, kurang lebih mencapai 472, termasuk di dalamnya permata dari "harta karun Lombok". Harta karun berupa batu permata, batu mulia, emas dan perak. Bahkan, kalau mencoba merujuk pada catatan sejarah, bahwa ratusan kilogram emas, perak dan permata itu dijarah oleh tentara kolonial Belanda dari Istana Tjakranegara dan desa sekitarnya, yaitu seusai berakhirnya Perang Lombok pada 1894. Namun, setelah melalui serangkaian penelitian yang komprehensif dari para ahli, empat koleksi artefak, yakni 132 koleksi benda seni Bali Pita Maha, patung Singasari, pusaka kerajaan Lombok, serta keris Puputan Klungkung telah dikembalikan ke Indonesia. Sementara dalam 

situs resmi Ditjen Kebudayaan, ada 132 koleksi benda seni Bali, antara lain, berupa lukisan, ukiran kayu, benda-benda perak dan tekstil para maestro seniman yang tergabung di dalam kelompok seni Pita Maha, yang dikembalikan.

Sedangkan, empat patung Singasari yang tersimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, adalah primadona dari abad ke-13 Masehi. Keempat patung tersebut berasal dari candi Singasari yang didirikan untuk menghormati kematian Raja Kertanegara, dinasti terakhir dari kerajaan Singasari.

 

Sementara empat arca yang akan kembali ke Indonesia adalah Durga, Mahakala, Nandishvara dan Ganesha. Ada pula sebilah keris dari Kerajaan Klungkung, Bali. Dan pada hari Senin, 10 Juli 2023, akhirnya Pemerintah Belanda telah menyerahkan secara resmi benda-benda bersejarah tersebut kepada Pemerintah Indonesia di Leiden, Belanda.

 

Sebelumnya, memang Belanda didesak agar mengembalikan barang-barang tersebut apabila negara asal artefak itu memintanya. Pada tahun 2020 misalnya, Belanda telah mengembalikan keris milik Pangeran Diponegoro dalam kunjungan Raja dan Ratu Belanda ke Indonesia.

Di tahun sebelumnya, Belanda juga memulangkan 1.500 benda budaya Indonesia dari Museum Nusantara di Delft yang ditutup akibat keterbatasan dana.

 

"Diperoleh' dengan cara-cara ilegal"

 

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, memperkirakan bahwa pemulangan ratusan benda bersejarah yang dirampas militer Belanda itu, diperkirakan akan tiba di Indonesia pada Agustus mendatang.

Saat ini, pihaknya bersama pemerintah Belanda sedang menuntaskan kesepakatan teknis pengembalian hingga pengiriman. Sehingga diharapkan proses penyerahan artefak rampasan lainnya bisa lebih cepat dilakukan. Hitungannya dari delapan jenis koleksi milik Indonesia yang ada di Belanda itu memang jumlahnya mencapai ribuan.

Benda-benda itu dipastikan "diperoleh" Belanda dengan cara-cara ilegal pada masa penjajahan. Hilmar juga menjelaskan, pemulangan 472 objek budaya ini adalah tahap pertama. "Ini pengembalian pertama dalam kerangka kerjasama pemerintah Indonesia dan Belanda," tutur Hilmar kepada BBC News, Indonesia, Jumat, 7 Juli 2023.

Ia kemudian menjelaskan, proses pembicaraan dengan pemerintah Belanda itu, yakni untuk mengembalikan benda bersejarah itu memang sudah dimulai sekitar empat tahun lalu. Kian intensif ketika ditandai dengan pembentukan tim antara pemerintah Belanda dan Indonesia mengenai pengembalian dua tahun lalu.

Sementara pekerjaan yang paling sulit dari pemulangan ini, ujar Hilmar, adalah kajian mendalam soal objek bersejarah yang dicuri tersebut.

Pasalnya ada artefak yang 'diambil' sekitar 250 tahun yang lalu. Untuk memastikan ke pemerintah Belanda bahwa itu milik Indonesia, pihaknya harus memiliki riwayat benda itu sebagai pembuktiannya.

"Tim ini bekerja, memverifikasi koleksi-koleksi yang akan dikembalikan ke Indonesia. Karena kita yang mempelajari koleksi-koleksi yang ada di Belanda itu, termasuk kategori objek yang diperoleh Belanda dengan cara-cara ilegal di masa lalu itu" jelasnya. "Daftar benda-benda yang ingin dikembalikan itu lalu kita serahkan ke pemerintah Belanda, karena beberapa disimpan di museum-museum yang beda-beda," sambung Hilmar (BBC, Indonesia, 7 Juli 2023). Ia juga menjelaskan, nantinya ratusan artefak itu akan disimpan di Musium Nasional dan akan dipamerkan ke publik. Dan salah satu artefak yang dikembalikan dari Belanda, yaitu ketika di tahun 2019, berupa keris. Sementara Belanda juga mengembalikan harta karun kepada negara Srilangka, yakni berupa artefak berharga yang dijarah ketika di zaman kolonial. Seperti yang dilakukan museum Inggris dan Jerman yang menandatangani beberapa dari apa yang disebut Perunggu Benin. Artefak itu dicuri dari Nigeria selama ekspedisi militer Inggris berskala besar pada 1897. "Ini pertama kalinya kami mengembalikan benda-benda yang seharusnya tidak pernah ada di Belanda," kata Menteri Kebudayaan Belanda, Gunay Uslu. "Tapi kami bukan sekadar mengembalikan objek. Kami sebenarnya sedang memulai periode dimana kami lebih intensif bekerja sama dengan Indonesia dan Sri Lanka." Ujar Gunay Uslu.

Sementara Meriam perunggu yang dianggap sebagai hadiah dari bangsawan Sri Lanka, juga akan dikembalikan. Dan Sri Lanka akan mengambil kembali meriam perunggu abad ke-18 itu, yang dihiasi dengan mewah, yang saat ini dipajang di Rijksmuseum Amsterdam, yang dianggap sebagai hadiah dari bangsawan Sri Lanka kepada Raja Kandy pada 1740-an.

Meriam tersebut diyakini telah jatuh ke tangan Belanda pada 1765, ketika pasukan Belanda menyerang dan menaklukan kerajaan Kandy di Sri Lanka.

Menteri Kebudayaan Gumay Uslu mengatakan, pemerintah Belanda bertindak berdasarkan rekomendasi yang tercantum dalam laporan tahun 2020 oleh Komite Belanda yang menyelidiki barang seni yang diambil selama era kolonial.

 

Komite mendesak pemerintah Belanda untuk "bersedia mengembalikan tanpa syarat". Bahkan, setiap benda budaya yang dijarah di negara bekas jajahan Belanda itu jika diminta oleh negara asal. "Belanda harus memikil tanggung jawab atas masa lalu kolonialnya dengan menjadikan pengakuan dan ganti rugi ketidakadilan ini sebagai prinsip utama kebijakan kolonial," menurut laporan tersebut. Belanda tengah bergulat dengan warisan kolonialnya dalam beberapa tahun terakhir.

 

Bahkan, pada hari Sabtu, 1 Juli 202, Raja Willem-Alexander secara resmi meminta maaf atas peran Belanda dalam perdagangan budak, dengan mengatakan dia "secara pribadi dan bersungguh-sungguh" menyesal. Bahkan, Belanda menjadi negara kolonial yang ditakuti setelah abad ke-17 M. Negara ini menguasai wilayah di seluruh dunia dan terlibat dalam perdagangan budak yang mencapai 600.000 orang lebih.

Web Admin

Web Admin