<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tulisan Archives - ICMI BANTEN</title>
	<atom:link href="https://icmibanten.or.id/category/tulisan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://icmibanten.or.id/category/tulisan/</link>
	<description>Inspiratif &#38; Transformatif</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Jul 2026 04:09:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://s3-websites-blogs.dcds.my.id/icmibanten.or.id/2024/12/cropped-ICMI-Orwil-Banten-logo2-32x32.png</url>
	<title>Tulisan Archives - ICMI BANTEN</title>
	<link>https://icmibanten.or.id/category/tulisan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Teruslah Melangkah atau Pasrah dan Menyerah (Refleksi Diri Akhir Pekan)</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/25/teruslah-melangkah-atau-pasrah-dan-menyerah-refleksi-diri-akhir-pekan/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/25/teruslah-melangkah-atau-pasrah-dan-menyerah-refleksi-diri-akhir-pekan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2026 04:09:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1418</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="377" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg 377w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-251x300.jpeg 251w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-857x1024.jpeg 857w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-768x918.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-1285x1536.jpeg 1285w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35.jpeg 1339w" sizes="(max-width: 377px) 100vw, 377px" /></p>
<p>Oleh: Endang Yusro (Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang) “Mau mencoba mengubahnya karena hasilnya Tuhan yang...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/25/teruslah-melangkah-atau-pasrah-dan-menyerah-refleksi-diri-akhir-pekan/">Teruslah Melangkah atau Pasrah dan Menyerah (Refleksi Diri Akhir Pekan)</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="377" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg 377w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-251x300.jpeg 251w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-857x1024.jpeg 857w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-768x918.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-1285x1536.jpeg 1285w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35.jpeg 1339w" sizes="(max-width: 377px) 100vw, 377px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Oleh:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Endang Yusro</em><em></em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">(Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang)</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>“Mau mencoba mengubahnya karena hasilnya Tuhan yang menentukan, atau menyerah &#8211; pasrah untuk kalah”</em><em></em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>~EY</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hidup bagaikan bentangan dua jalan di hadapan, satu berliku namun menjanjikan pertumbuhan dan yang lain rata namun berujung pada diamnya jiwa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita kadang bahkan sering berhenti karena terlalu cemas memikirkan akhir cerita, padahal tugas kita hanyalah menulis setiap barisnya dengan usaha yang tulus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah S.W.T. mengingatkan: “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengubah diri memang tidak mudah, ada rasa takut, lelah yang menyapa, keraguan yang berbisik: “Apakah semua ini akan berarti?” Namun sesungguhnya, hasil bukanlah milik kita untuk menentukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tangan kita hanya menanam benih kemudian menyiramnya dengan keringat dan doa, pertumbuhan serta panennya adalah hak prerogatif Sang Pemilik Kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya ‘Ulumuddin (Jilid 4, hlm. 168) menjelaskan, “Puncak kesempurnaan iman adalah berusaha sekuat tenaga sesuai kemampuan, lalu melepaskan segala urusan kepada Allah, tanpa berharap dan takut selain kepada-Nya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah Saw. juga bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” (HR. Al-Baihaqi)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyerah adalah jalan termudah ia tak butuh tenaga dan tak butuh keberanian, namun di sanalah kekalahan merayap pelan, melumpuhkan harapan sebelum sempat bersemi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, berusaha lalu berserah adalah kemuliaan hati, kita menghormati kuasa Tuhan sekaligus menjaga kehormatan diri untuk tidak berhenti berjuang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (Jilid 8, hlm. 232) menegaskan bahwa pasrah bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya, lalu ridha dengan ketetapan-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan biarkan ketidakpastian esok melumpuhkan langkah hari ini, mencoba untuk mengubah, berjuanglah sekuat tenaga, lalu menyerahkan segalanya pada-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih indah berjuang lalu menerima takdir-Nya, daripada diam menyerah dan kalah sebelum melangkah. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkanya,” (QS. At-Talaq: 2–3).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menutup catatan akhir pekan (25/7/2026) ini sebagai introspeksi diri, penulis mengajak untuk tidak membiarkan rasa takut akan hasil yang tak pasti mematikan langkah kita hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menanam benih kebaikan dengan segenap ikhtiar, lalu menyiramnya dengan kesabaran dan doa, kemudian menyerahkan sepenuhnya pertumbuhan serta panennya kepada Allah Yang Maha Mengatur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesungguhnya, kemuliaan bukan terletak pada apa yang kita raih, melainkan pada seberapa tulus kita berjuang dan seberapa lapang dada kita menerima takdir-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga kita termasuk golongan yang tidak berhenti berusaha, dan senantiasa ridha dengan ketetapan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/25/teruslah-melangkah-atau-pasrah-dan-menyerah-refleksi-diri-akhir-pekan/">Teruslah Melangkah atau Pasrah dan Menyerah (Refleksi Diri Akhir Pekan)</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/25/teruslah-melangkah-atau-pasrah-dan-menyerah-refleksi-diri-akhir-pekan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MEMAHAMI KARAKTER MUSTADH’AFIN</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/24/memahami-karakter-mustadhafin/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/24/memahami-karakter-mustadhafin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 06:48:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1415</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="377" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg 377w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-251x300.jpeg 251w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-857x1024.jpeg 857w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-768x918.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-1285x1536.jpeg 1285w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35.jpeg 1339w" sizes="(max-width: 377px) 100vw, 377px" /></p>
<p>KHUTBAH JUM’AT اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/24/memahami-karakter-mustadhafin/">MEMAHAMI KARAKTER MUSTADH’AFIN</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="377" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-377x450.jpeg 377w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-251x300.jpeg 251w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-857x1024.jpeg 857w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-768x918.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35-1285x1536.jpeg 1285w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-23-at-23.43.35.jpeg 1339w" sizes="auto, (max-width: 377px) 100vw, 377px" /></p>
<p class="wp-block-paragraph"><strong>KHUTBAH JUM’AT</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه</strong><strong>ُ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شريكَ لهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَرَسُولَ بَعْدَه</strong><strong>ُ.</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>اللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة</strong><strong>ِ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>أَمَّا بَعْد</strong><strong>ُ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. لِنَعْمَلْ بِمَا أَمَرَ، وَلِنَجْتَنِبْ عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب</strong><strong>ُ</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,</em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Qadha Allah S.W.T. berfirman dalam Al-Qur’anul Karim:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِم</strong><strong>ْ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”</em>&nbsp;<strong>(QS. ar-Ra’d: 11) </strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan Rasulullah Saw. bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.”</em><strong>&nbsp;(HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah,</em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah Mustadh’afin (مُسْتَضْعَفِينَ)&nbsp;berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari mustadh’af. Secara bahasa, kata ini bermakna orang-orang yang dianggap lemah, ditindas, teraniaya, atau dilemahkan secara sistematis. Mereka bukanlah lemah karena sifat aslinya, melainkan karena ada pihak yang berkuasa menindas, menekan, atau tidak memberi kesempatan berkembang. Mereka adalah kelompok yang tidak berdaya akibat diskriminasi, kemiskinan, ketidakadilan, atau dominasi kaum yang angkuh dan sewenang-wenang, yang disebut Mustakbirin. Hal yang mana sering kita jumpai pada praktik penegakan hukum di Negeri ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Allah S.W.T. menegaskan perhatian-Nya kepada mereka dalam firman-Nya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak, yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’”</em><strong>&nbsp;(QS. An-Nisa: 75) </strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,</em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim (Jilid 2, hlm. 288) menjelaskan: <em>“Ayat di atas adalah teguran bagi orang yang enggan berjuang membela kaum yang tidak berdaya, yang tertekan, dan tidak bisa berusaha melepaskan diri dari penindasan orang-orang zalim.”</em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (Jilid 5, hlm. 132) menegaskan: <em>“Membela dan menolong kaum Mustadh’afin adalah kewajiban kolektif bagi umat Islam. Jika sebagian sudah melaksanakannya, gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun jika tidak ada yang melaksanakannya, maka berdosa seluruh penduduk negeri itu.”</em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hadirin yang dirahmati Allah</em>,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapakah sebenarnya kaum Mustadh’afin itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Jilid 2, hlm. 421), mereka meliputi:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mereka yang lemah secara ekonomi, seperti fakir miskin yang tidak memiliki daya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya;</li>



<li>Mereka yang lemah secara fisik, seperti anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas;</li>



<li>Mereka yang tertindas haknya, terhalang kebebasannya, atau terhalang menegakkan agama-Nya; dan</li>



<li>Mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan ketidakadilan.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Allah S.W.T. berjanji akan memberikan kemenangan dan warisan bumi kepada mereka:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِين</strong><strong>َ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak Kami jadikan mereka pemimpin dan hendak Kami jadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”</em>&nbsp;<strong>(QS. Al-Qasas: 5)</strong>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Jamaah Jum’at yang berbahagia</em>,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasulullah Saw. mengingatkan kita betapa pentingnya kedudukan kaum yang lemah ini. Beliau bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُم</strong><strong>ْ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Sesungguhnya kalian diberi kemenangan dan rezeki hanyalah karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.”</em>&nbsp;<strong>(HR. Al-Bukhari no. 2896)</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam riwayat lain, beliau bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُم</strong><strong>ْ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Carilah keridhaanKu dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong karena mereka.”</em>&nbsp;<strong>(HR. Abu Daud no. 2594)</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hlm. 189) menjelaskan: <em>“Kekuatan dan kemakmuran suatu bangsa tidak terletak pada banyaknya harta atau senjata, melainkan pada keberkahan doa orang-orang yang lemah dan tulus hati. Maka janganlah sekali-kali kalian meremehkan atau menzalimi mereka.”</em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ma’asyiral Muslimin</em>,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyadari kedudukan kaum Mustadh’afin, maka kewajiban kita meliputi:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, menjauhi segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan. Allah berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُون</strong><strong>َ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikitpun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri.”</em>&nbsp;<strong>(QS. Yunus: 44) </strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, berjuang menegakkan keadilan dan membelanya. Rasulullah Saw. bersabda:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Tolonglah saudaramu, baik ketika dia menzalimi maupun ketika dia dizalimi.”</em>&nbsp;<strong>(HR. Al-Bukhari no. 6952)</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Membantu yang zalim berarti mencegahnya dari kezaliman, sedangkan membantu yang terzalimi berarti membelanya dan mengembalikan haknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, mengembalikan hak mereka dan berbagi rezeki. Allah berfirman:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوم</strong><strong>ِ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”</em>&nbsp;<strong>(QS. Adz-Dzariyat: 19)</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hadirin yang berbahagia</em>,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingatlah, kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat. Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan yang mampu menguasai dirinya saat marah dan berlaku adil kepada yang lemah. Marilah kita perbaiki diri, ubah sikap, dan bangun persaudaraan yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون</strong><strong>َ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya: <em>“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”</em>&nbsp;<strong>(QS. Al-Hujurat: 10)</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم</strong><strong>ُ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم</strong><strong>ُ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em><strong><em>Khutbah Kedua</em></strong></em></strong><strong><em><strong><em></em></strong></em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِهِ الَّذِيْ أَخْبَرَ وَأَنْذَرَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَدَى</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن</strong><strong>َ.</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن</strong><strong>َ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات</strong><strong>ِ.</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن</strong><strong>َ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار</strong><strong>ِ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن</strong><strong>َ</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>يَا عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر</strong><strong>ُ</strong><strong></strong></p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/24/memahami-karakter-mustadhafin/">MEMAHAMI KARAKTER MUSTADH’AFIN</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/24/memahami-karakter-mustadhafin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahmat Tuhan: Ditunggu atau Dijemput?</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/24/rahmat-tuhan-ditunggu-atau-dijemput/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/24/rahmat-tuhan-ditunggu-atau-dijemput/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 06:46:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1412</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="651" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-651x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-651x450.jpeg 651w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-300x207.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-1024x708.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-768x531.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-1536x1062.jpeg 1536w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 651px) 100vw, 651px" /></p>
<p>Ditulis: Robi Sugara (Kepala Sekolah Filsafat Averroes &#38; Pengajar di Pondok Pesantren Al-Mubarok) Di tengah...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/24/rahmat-tuhan-ditunggu-atau-dijemput/">Rahmat Tuhan: Ditunggu atau Dijemput?</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="651" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-651x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-651x450.jpeg 651w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-300x207.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-1024x708.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-768x531.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46-1536x1062.jpeg 1536w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-24-at-06.29.46.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 651px) 100vw, 651px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ditulis: Robi Sugara (Kepala Sekolah Filsafat Averroes &amp; Pengajar di Pondok Pesantren Al-Mubarok)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah kehidupan masyarakat, ada satu kalimat yang hampir selalu terdengar ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan: &#8220;Tunggu saja rahmat Tuhan.&#8221; Kalimat ini lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun, dalam praktiknya, pemahaman tersebut sering melahirkan dua sikap yang bertolak belakang. Sebagian orang menjadikan rahmat Tuhan sebagai alasan untuk terus berharap tanpa disertai usaha yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada pula yang terlalu mengandalkan kerja keras hingga merasa keberhasilannya sepenuhnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Kedua cara pandang ini sesungguhnya sama-sama berangkat dari pemahaman yang belum utuh mengenai hakikat rahmat. Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: apakah rahmat Tuhan memang hanya cukup ditunggu, atau justru harus dijemput?<br>Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan praktis, melainkan persoalan filosofis tentang bagaimana manusia memahami hubungan dirinya dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam, rahmat tidak pernah diposisikan sebagai hadiah yang datang tanpa makna. Rahmat merupakan salah satu sifat Allah yang menjadi dasar keberlangsungan seluruh kehidupan. Karena itu, memahami rahmat tidak cukup hanya dengan melihat hasil yang diterima manusia, tetapi juga harus memahami bagaimana Allah menghadirkan dan mengatur kehidupan itu sendiri. Ketika seseorang memahami hakikat rahmat, ia tidak lagi melihat hidup sebagai rangkaian kebetulan, melainkan sebagai rangkaian karunia yang terus mengalir, baik disadari maupun tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ulama mendefinisikan rahmat sebagai sesuatu yang jauh lebih luas daripada sekadar belas kasih. Rahmat mencakup karunia (tafaḍḍul), pemberian nikmat (in&#8217;ām), dan segala bentuk kebaikan (iḥsān). Bahkan, definisi yang paling komprehensif menjelaskan bahwa rahmat adalah pembebasan makhluk dari berbagai macam bencana dan kesulitan sekaligus mengalirkan berbagai bentuk kebaikan kepada mereka yang membutuhkannya. Definisi ini mengubah cara pandang manusia terhadap rahmat. Rahmat bukan hanya apa yang membuat seseorang bahagia, tetapi juga segala sesuatu yang menjaga keberlangsungan hidupnya. Karena itu, rahmat bukan sekadar peristiwa yang sesekali hadir, melainkan keadaan yang terus-menerus melingkupi seluruh eksistensi manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemahaman tersebut diperkuat oleh makna kebahasaan kata raḥmah. Dalam bahasa Arab, kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan raḥim (rahim), yaitu tempat seorang janin memperoleh perlindungan, makanan, dan kasih sayang sebelum lahir ke dunia. Analogi ini mengandung makna filosofis yang sangat mendalam. Janin tidak pernah mengetahui bagaimana ia memperoleh kehidupan, tetapi seluruh kebutuhannya dipenuhi. Ia tidak pernah meminta makanan, namun makanan terus mengalir kepadanya. Ia tidak pernah meminta perlindungan, namun perlindungan telah tersedia bahkan sebelum ia mampu menyadarinya. Demikian pula manusia di hadapan Tuhan. Sebelum manusia mampu memohon, bahkan sebelum ia mengenal Tuhannya, rahmat Allah telah lebih dahulu menopang kehidupannya. Dari sini tampak bahwa rahmat bukanlah respons Tuhan terhadap permintaan manusia semata, melainkan sifat kasih sayang-Nya yang telah mendahului segala sesuatu.<br>Al-Qur&#8217;an menegaskan keluasan rahmat tersebut melalui firman Allah, &#8220;Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.&#8221;Pernyataan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang berada di luar cakupan rahmat Allah. Keberadaan langit, bumi, tumbuhan, hewan, hingga manusia merupakan manifestasi dari rahmat-Nya. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa keberadaan setiap makhluk itu sendiri merupakan bentuk rezeki yang paling mendasar. Dengan kata lain, eksistensi adalah rahmat sebelum hadirnya nikmat-nikmat lainnya. Seseorang mungkin kehilangan harta, jabatan, bahkan kesehatan, tetapi selama ia masih diberi kesempatan hidup, sesungguhnya ia masih berada dalam pelukan rahmat Allah. Pandangan ini mengajarkan bahwa rahmat tidak boleh dipersempit hanya pada ukuran-ukuran material yang sering dijadikan standar keberhasilan oleh manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, ayat tersebut tidak berhenti pada pernyataan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Allah kemudian berfirman, &#8220;Maka Aku akan menetapkannya bagi orang-orang yang bertakwa.&#8221; Para ulama memahami ayat ini sebagai penjelasan tentang adanya dua tingkatan rahmat. Pertama, rahmat yang bersifat umum (raḥmāniyyah), yaitu rahmat yang meliputi seluruh makhluk tanpa membedakan keimanan maupun kekufuran. Kedua, rahmat yang bersifat khusus, yaitu rahmat yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang bertakwa sebagai bentuk kemuliaan dan kedekatan mereka kepada-Nya. Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Allah tidak pernah menutup pintu rahmat-Nya bagi siapa pun, tetapi ada bentuk rahmat yang hanya dapat diraih oleh mereka yang bersedia menempuh jalan ketakwaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan ini sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan sebagian masyarakat yang memahami rahmat hanya sebagai alasan untuk berharap tanpa bergerak. Dalam kitab-kitab akhlak dijelaskan bahwa harapan (rajā&#8217;) kepada Allah adalah sesuatu yang terpuji selama berada dalam batasnya. Namun, apabila harapan berubah menjadi perasaan aman dari ketentuan Allah, maka harapan itu justru menjadi kerugian. Perbedaan antara harapan dan angan-angan terletak pada kesungguhan. Harapan melahirkan usaha, sedangkan angan-angan hanya melahirkan penantian. Seseorang yang berharap lulus ujian akan belajar, seseorang yang berharap sembuh akan berobat, dan seseorang yang berharap memperoleh rahmat Tuhan akan memperbaiki dirinya. Karena itu, rahmat tidak pernah menjadi alasan untuk bermalas-malasan, tetapi menjadi alasan untuk terus berbenah.<br>Di sinilah doa menemukan makna terdalamnya. Banyak orang menganggap doa sebagai sarana meminta sesuatu kepada Allah. Padahal, doa lebih dahulu merupakan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah benar-benar mampu berdiri sendiri. Ketika seseorang mengucapkan &#8220;Allāhumma&#8221;, ia sedang menempatkan dirinya sebagai hamba yang menyadari keterbatasannya di hadapan Tuhan Yang Mahasempurna. Secara filosofis, doa bukanlah upaya mengubah kehendak Tuhan, melainkan proses mengubah kesadaran manusia. Doa membebaskan manusia dari ilusi bahwa dirinya adalah pusat kehidupan. Semakin dalam seseorang berdoa, semakin ia memahami bahwa setiap keberhasilan adalah karunia, bukan sekadar hasil kecerdasannya sendiri.<br>Pembahasan mengenai rezeki dalam khazanah keilmuan Islam semakin memperluas makna rahmat. Rezeki tidak hanya dipahami sebagai harta atau makanan, tetapi juga kemampuan berimajinasi (khayāl), kemampuan memahami makna-makna partikular (wahm), kemampuan berpikir universal (&#8216;aql), serta pengetahuan yang benar tentang hakikat kehidupan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, akal sehat, bahkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah merupakan bentuk-bentuk rahmat yang sering luput dari perhatian manusia. Ironisnya, manusia sering merasa tidak memperoleh rahmat hanya karena ukuran materi belum terpenuhi, padahal setiap hari ia menikmati berbagai bentuk rezeki intelektual dan spiritual yang nilainya jauh lebih tinggi daripada kekayaan yang bersifat sementara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, pertanyaan &#8220;Rahmat Tuhan: Ditunggu atau Dijemput?&#8221; menemukan jawabannya sendiri. Rahmat Tuhan memang tidak dapat dipaksa oleh usaha manusia, sebab ia sepenuhnya merupakan anugerah Allah. Namun, rahmat juga bukan sesuatu yang layak ditunggu dengan sikap pasif. Ia dijemput melalui doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, ilmu yang terus dicari, dan ketakwaan yang senantiasa dipelihara. Menunggu rahmat berarti percaya kepada kasih sayang Tuhan, sedangkan menjemput rahmat berarti membuktikan kepercayaan itu dalam tindakan. Ketika keduanya dipadukan, manusia tidak hanya menjadi pribadi yang pandai berharap, tetapi juga menjadi pribadi yang siap menerima setiap bentuk rahmat Allah, apa pun wujudnya. Di situlah letak kebijaksanaan hidup seorang mukmin: tidak pernah putus berharap kepada rahmat Tuhan, tetapi juga tidak pernah berhenti berjalan menuju rahmat itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Referensi: Buku karya Ja&#8217;far bin Muhammad Naqdī, Asrār al-&#8216;Ārifīn fī Syarḥ Kalām Amīr al-Mu&#8217;minīn: Syarḥ Du&#8217;ā&#8217; Kumayl, tahqīq Farīd Ḥusūnah</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/24/rahmat-tuhan-ditunggu-atau-dijemput/">Rahmat Tuhan: Ditunggu atau Dijemput?</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/24/rahmat-tuhan-ditunggu-atau-dijemput/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berburu Pajak di Tanah Banten</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/23/berburu-pajak-di-tanah-banten/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/23/berburu-pajak-di-tanah-banten/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 08:37:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1406</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="675" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-675x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-675x450.jpeg 675w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-300x200.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-1024x683.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-768x512.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04.jpeg 1536w" sizes="auto, (max-width: 675px) 100vw, 675px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqPengurus ICMI Orwil Banten Pagi ini, selembar surat resmi berlogo Banten dengan kalimat...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/23/berburu-pajak-di-tanah-banten/">Berburu Pajak di Tanah Banten</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="675" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-675x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-675x450.jpeg 675w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-300x200.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-1024x683.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04-768x512.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-22-at-16.49.04.jpeg 1536w" sizes="auto, (max-width: 675px) 100vw, 675px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br>Pengurus ICMI Orwil Banten</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pagi ini, selembar surat resmi berlogo Banten dengan kalimat birokrasi yang tertata rapi hinggap di meja. Surat bernomor 900.1.13.1/626-Bapenda/2026 itu mengundang kehadiran para tokoh Ormas, cendekiawan, dan alim ulama untuk berkumpul di Puri Kayana Hotel, Serang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perihalnya terkesan teramat mulia: Penyuluhan dan Penyebarluasan Kebijakan Pajak Daerah. Namun, bagi siapa saja yang terbiasa membaca tanda-tanda zaman dengan nalar jernih, substansi di balik kalimat &#8220;upaya-upaya intensifikasi dalam rangka meningkatkan PAD&#8221; itu teramat lugas terbaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahasa birokrasi yang santun itu sesungguhnya adalah pengakuan jujur yang disamarkan: daerah sedang butuh uang, dan pemerintah harus bergerak memburu sumber-sumber pajak baru langsung dari kantong masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di ruang-ruang pendingin hotel yang megah itu, sejatinya sedang terjadi sebuah drama kebudayaan dan politik fiskal yang getir. Pemimpin daerah dan para birokrat penerimaan menyadari betul satu hal: menaikkan tarif pajak atau memajaki objek-objek baru di tengah ekonomi yang sedang lemes adalah tindakan yang sangat rentan memicu gejolak sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rakyat leutik yang sehari-hari sudah tertatih-tatih mencari makan di pasar dan sawah pasti akan merasa tercekik. Oleh karena itu, kekuasaan tidak bisa berjalan sendirian membawa sebundel Peraturan Daerah. Pemerintah membutuhkan benteng spiritual dan sosial untuk meredam potensi perlawanan publik dari akar rumput.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah letak kecerdikan sekaligus titik krusial dari strategi penarikan pajak tersebut. Lembaga-lembaga terhormat seperti MUI, NU, Muhammadiyah, Mathla&#8217;ul Anwar, hingga majelis-majelis keagamaan dan akademisi ICMI dikumpulkan dalam satu ruangan. Pemerintah tidak sekadar ingin menyampaikan paparan slide presentasi tentang target Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari itu, pemerintah sedang melakukan penambangan legitimasi moral. Mereka meminjam jubah ketokohan para ulama dan cendekiawan agar wacana &#8220;sadar pajak&#8221; dapat dikemas menjadi sebuah narasi kewajiban moral bahkan keagamaan yang harus ditelan mentah-mentah oleh warga Banten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika para tokoh agama dan ulama sudah mengangguk setuju dalam sosialisasi tersebut, pesan penarikan pajak itu akan mengalir deras dan terdistribusi sangat efektif melalui mimbar-mimbar khotbah, pengajian mingguan, dan perjumpaan warga di pelosok kampung. Wacana yang semula adalah beban fiskal buatan birokrasi, mendadak berubah menjadi amanah kebangsaan yang sakral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rakyat kecil yang lugu pun pada akhirnya hanya bisa mengusap dada sambil mengangguk pasrah. Mereka terhipnotis oleh narasi kebaikan bersama, tanpa sempat membedah apakah kebijakan penarikan pajak tersebut lahir dari rasa keadilan atau sekadar ketidakmampuan pemerintah dalam berinovasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai alumni Aqidah Filsafat yang dibesarkan dalam riak gelombang pemikiran Binuangeun, fenomena ini memanggil ingatan kita pada tradisi kritik ontologis. Janji-janji manis Pilkada tentang pengundangan investor luar, pemolesan BUMD agar menghasilkan laba, serta optimalisasi potensi alam yang ramah lingkungan, kini menguap begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika syahwat politik kekuasaan berbenturan dengan kenyataan bahwa mengelola bisnis daerah itu sulit dan membutuhkan kapasitas teknis yang tinggi, para pejabat mulai merasa kewalahan. Mereka mendadak lempar handuk dari komitmen-komitmen besarnya, lalu beralih mengambil jalan pintas paling instan: memajaki rakyatnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mendatangkan investasi bersih yang menyejahterakan itu butuh iklim kepastian hukum dan ikhtiar yang rumit. Mengembangkan BUMD agar menjadi mesin pengeruk pendapatan non-pajak butuh sosok profesional yang berintegritas tinggi, bukan sekadar membagi-bagi jatah kursi direksi untuk tim sukses kampanye.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika dua instrumen tersebut mandek dan tong kosong nyaring bunyinya, cara paling gampang untuk menyelamatkan kas daerah yang megap-megap adalah memeras apa yang ada di depan mata. PBB dinaikkan diam-diam, retribusi pasar diperketat, dan perizinan rakyat kecil diperrumit dengan pelbagai pungutan resmi yang tak masuk akal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tanah Sunda Banten, cara mengelola daerah yang minim imajinasi ini ibarat “ngukur baju dina awak batur, tapi nu nyeri awak sorangan.” Birokrasi yang enggan merubah kebiasaan lamanya selalu memilih bertahan di zona nyaman tanpa mau mengambil risiko bisnis yang terukur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak mau memutar otak untuk menciptakan nilai tambah ekonomi daerah, tetapi sangat cekatan ketika menyusun draf aturan baru tentang penambahan target retribusi. Akibatnya, fungsi luhur pemerintah yang seharusnya bertindak sebagai pengayom dan pemberdaya masyarakat, bergeser secara perlahan menjadi juru tagih yang memburu setiap rupiah dari saku warga rahayat leutik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hadir di ruang acara tersebut mewakili ICMI Banten memberikan tanggung jawab intelektual yang teramat berat di pundak kita. Cendekiawan dan alim ulama tidak boleh terjebak hanya menjadi stempel legitimasi bagi keputusasaan fiskal yang dialami penguasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika panggung sosialisasi itu hanya dijadikan alat untuk membujuk publik agar rimbit dan pasrah menerima beban pajak baru, maka fungsi kritis akal sehat telah mati. Cendekiawan harus berani melompati pagar-pagar retorika birokrasi dan menanyakan pertanyaan paling mendasar: mengapa beban kegagalan inovasi daerah harus selalu ditimpakan kepada pundak rakyat yang paling lemah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keadilan fiskal yang sejati (kasejahteraan nu hakiki) tidak pernah lahir dari paksaan hukum yang dibalut dengan bahasa keagamaan atau moralitas publik. Ia lahir dari transparansi, efisiensi belanja pemerintah, serta keberanian kepala daerah untuk memangkas pemborosan operasional birokrasi sebelum berani menyentuh kantong warga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika pemerintah daerah hanya pandai menagih kewajiban rakyat tanpa mau membuktikan transparansi hasil pemanfaatan pajak tersebut untuk perbaikan jalan, sekolah, dan puskesmas di pelosok daerah, maka sejatinya yang sedang dibangun bukanlah kemandirian daerah, melainkan penindasan fiskal yang dilegalkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah kaki kita keluar dari Puri Kayana hari ini harus membawa perenungan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar lembaran amplop atau jamuan makan siang. Banten yang kita cintai membutuhkan kepemimpinan yang berkarakter kiayi birokrasi—pemimpin yang memiliki kedalaman etika sekaligus kepiawaian teknis dalam menyejahterakan warganya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan biarkan mimbar-mimbar keagamaan dan wadah para intelektual dijadikan tameng sosial untuk menutupi minimnya kapasitas tata kelola daerah. Sudah saatnya nalar jernih bersuara, agar kata &#8220;pajak&#8221; tidak lagi menjadi jeritan ketakutan bagi rakyat kecil yang sedang berjuang menyambung hidup di tanah kelahirannya sendiri.*</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hotel Puri Kayana Serang<br>Rabu, 22 Juli 2026</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/23/berburu-pajak-di-tanah-banten/">Berburu Pajak di Tanah Banten</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/23/berburu-pajak-di-tanah-banten/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Islam, Spanyol dan Piala Dunia Tahun 2026</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/19/islam-spanyol-dan-piala-dunia-tahun-2026/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/19/islam-spanyol-dan-piala-dunia-tahun-2026/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 13:16:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1399</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="269" height="357" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg 269w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30-226x300.jpeg 226w" sizes="auto, (max-width: 269px) 100vw, 269px" /></p>
<p>Oleh: M. Asep Rahmatullah Akademisi Unis Tangerang dan Pengurus ICMI Banten Bumi manusia merupakan ciptaan...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/19/islam-spanyol-dan-piala-dunia-tahun-2026/">Islam, Spanyol dan Piala Dunia Tahun 2026</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="269" height="357" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg 269w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30-226x300.jpeg 226w" sizes="auto, (max-width: 269px) 100vw, 269px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Oleh: M. Asep Rahmatullah</strong></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Akademisi Unis Tangerang dan Pengurus ICMI Banten</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bumi manusia merupakan ciptaan Allah swt sebagai raja yang di ibadahi oleh manusia dan pencipta alam semesta dan manusia. Sejarah dakwah Islam di belahan bumi manapun sejak dahulu menjadi bukti kehadiran Islam pernah tersebar di benua eropa, salah satunya Spanyol. Spanyol adalah sebuah Negara yang pernah ditaklukkan oleh Islam dengan dakwah, jihad dan ijtihad dalam mengembangkan agama Islam di negeri tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah masuknya Islam di Spanyol tidak lepas dari keberhasilan Thariq ibn Ziyad mengalahkan raja Roderick dari kerajaan Visigoth, sehingga kemenangan ini menjadi modal utama bagi Thariq bin Ziyad dan pasukannya untuk menaklukkan kota-kota penting yang ada di Spanyol. Pada proses ekspansi dakwah dan jihad Islam ke Spanyol di awali oleh tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa besar dalam memimpin satuan-satuan pasukan militer ke sana. Mereka adalah Tharif bin Malik, Tharik bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tharif bin Malik dapat disebut sebagai perintis, pelopor dan penyelidik pertama ekspansi jihad islam.Ia menyeberangi selat yang berada diantara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Kemudian Tharif bin Malik bersama pasukannya memenangkan pertempuran dan kembali ke Afrika Utara &nbsp;dengan membawa harta rampasan yang banyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika agama Islam masuk ke negeri Spanyol, negeri ini banyak mengalami kemajuan, perkembangan, pertumbuhan yang pesat baik dari bidang keagamaan, kebudayaan, perekonomian, pendidikan Islam, hukum, militer. Bangsa Spanyol memiliki kekuatan spirit keagamaan yang tinggi, seni kebudayaan yang kuat dan multikultural, &nbsp;penghasilan ekonomi yang cukup tinggi dari bidang pertanian yang subur, serta kontribusi pendidikan yang menghasilkan para pemikir hebat ilmuwan yang produktif melahirkan ide, gagasan dan karya besar yang monumental.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Spanyol mengalami perkembangan pesat dan kebudayaan dan pendidikan Islam yang dimulai dengan mempelajari ilmu agama dan sastra, kemudian meningkat dengan mempelajari ilmu-ilmu akal. Sejarah kejayaan Islam di Spanyol perlu dikaji awal kemunculannya. Ibukota Spanyol Islam yang dalam bahasa Arab disebut al-Andalus (dari kata Vandals).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulunya bernama Iberia, ketika Romawi berkuasa (abad ke 2) mereka menamainya “Asbania” (pantai Marmot). Spanyol adalah sebuah provinsi yang beribukota Cordova pada masa pemerintahan Bani Umayyah di Barat (1756-1031 M), luas wilayahnya 13.727 km2 dan jumlah penduduknya sekitar 782.999 jiwa. Islam pada masa ini telah berubah menjadi dokumen sejarah tersendiri bagi perjalanan masa-masa keemasan Islam yang patut menjadi perhatian bagi generasi sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Philip K. Hitty bahwa umat Islam pada masa 711-1490 M pernah mencatat satu satunya lembaran gemilang di dalam sejarah pemikiran orang Eropa dan pada abad pertengahan, <em>the golden age </em>(masa keemasan). Akan tetapi, meskipun pemerintah tersebut pernah berjaya dan bergensi di Eropa, namun harus diakui pula bahwa pemerintahan tersebut juga mengalami kemunduran, bermula ketika meninggalnya al Hakam II dan akhirnya secara berlahan-lahan daulat tersebut menemui kehancurannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kurung waktu 7,5 abad, agama Islam Spanyol telah berkembang dengan pesatnya yang pada gilirannya mampu membawa dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan, keilmuan dan pengetahuan yang terjadi di Eropa pada Umumnya. Menurut Rusniati, selama Islam berkuasa di Spanyol, banyak terdapat penguasa negeri yang memerintah, di antaranya adalah :</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Amir- Amir Bani Umayyah</li>



<li>Khalifah-khalifah Bani Umayyah</li>



<li>Daulah Ziriyah di Granada</li>



<li>Daulah Bani Hamud di Malaga</li>



<li>Daulah Bani Daniyah</li>



<li>Daulah Bani Najib dan Bani Hud di Saragosa</li>



<li>Daulah Aniriyah di Valensia</li>



<li>Daulah Bani Ubbad di Sevilla</li>



<li>Daulah Jahuriyah di Cordova</li>



<li>Daulah Bani Zin-Nun di Toledo</li>



<li>Daulah Bani Ahmar di Spanyol</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Sepak bola diperkenalkan ke Spanyol pada akhir abad ke-19 oleh pekerja dan pelaut asal Inggris. Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) resmi berdiri pada tahun 1909. Spanyol mencapai masa keemasannya melalui gaya permainan penguasaan bola tiki-taka, yang mengantarkan mereka mendominasi dunia dengan menjuarai Piala Dunia tahun 2010 dan Euro tahun 2008, 2012 dan 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembentukan Klub Olahraga ini pertama kali dimainkan secara terorganisir di wilayah Andalusia dan Basque oleh ekspatriat Inggris dan pelajar Spanyol yang kembali dari Inggris. Pertandingan resmi pertama diadakan di Tablada Hippodrome, Sevilla, antara Recreativo de Huelva dan Sevilla FC. Klub-klub legendaris seperti Athletic Club, FC Barcelona, dan Madrid Football Club (cikal bakal Real Madrid) lahir, yang kemudian menjadi kekuatan dominan di La Liga Spanyol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjelang Final piala dunia yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli tahun 2026 di Amerika Serikat suasana sangat ramai, riuh dan penuh perbincangan dan gejolak seantero dunia baik di dunia nyata dan maya, baik itu di media Instagram, Tiktok dan whatsap grup dan berbagai berita media. Begitu pun dengan masyarakat Indonesia yang sangat cinta dan fanatik dengan olah raga sepak bola sangat antusias &nbsp;menonton bareng (nobar) turnamen piala dunia tahun 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada final piala dunia tahun 2026 akan mempertemukan dua negara adidaya dan superioritas dalam bidang olahraga sepak bola, yaitu negara Argentina melawan Spanyol. Dalam perjalanan Piala dunia tahun 2026 terdiri dari 48 negara yang terbagi menjadi 12 grup A sampai dengan L, setiap grup ada 4 negara dengan jumlah 104 pertandingan sepak bola. Kemudian fase 24 besar, 16, besar, perempat final, semi final dan Final piala di dunia tahun 2026. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertandingan Timnas Sepak bola Spanyol mulai pada tanggal 15 Juni tahun 2026 dengan melawan Cabo Varde di Atlanta dengan skors kacamata 0 vs 0. Selanjutnya Spanyol mengalahkan Arab Saudi dengan skor 4 Vs 0, Spanyol 1 Vs Uruguay 0, Spanyol 3 Vs 0 Austria, Spanyol 1 Vs 0 Portugal, Spanyol 2 Vs 1 Belgia, Spanyol 2 Vs 0 Prancis. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelatih dan Pemain Timnas Sepak bola Spanyol</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="672" height="728" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/image.jpg" alt="" class="wp-image-1401" style="width:440px;height:auto" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/image.jpg 672w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/image-277x300.jpg 277w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/image-415x450.jpg 415w" sizes="auto, (max-width: 672px) 100vw, 672px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">(Sumber : wiki.x)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data Statistik</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><tbody><tr><td colspan="2">Timnas Spanyol 2026</td></tr><tr><td>Main</td><td>7</td></tr><tr><td>Menang</td><td>6</td></tr><tr><td>Kalah</td><td>0</td></tr><tr><td>Seri</td><td>1</td></tr><tr><td>Gol</td><td>13</td></tr><tr><td>Bobol</td><td>1</td></tr><tr><td>Selisih Gol</td><td>12</td></tr><tr><td>Clean Sheets</td><td>6</td></tr><tr><td>Kartu</td><td>6 Kuning, dan 0 Merah</td></tr></tbody></table></figure>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><tbody><tr><td>Pencetak Gol</td><td>Jumlah Gol</td></tr><tr><td>Mikel Oyarzabal</td><td>5</td></tr><tr><td>Mikel Merino</td><td>2</td></tr><tr><td>Pedro Porro</td><td>2</td></tr><tr><td>Lamine Yamal</td><td>1</td></tr><tr><td>Alex Baena</td><td>1</td></tr><tr><td>Fabian Ruiz</td><td>1</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dari catatan data statistik di atas, timnas sepak bola Spanyol di bawah pelatih Luis De La Fuente menunjukan kualitas permainan yang kekuatan individu dan kolektif kolegial yang sangat aktif, berani, cerdas, disiplin, inovatif, kreatif, kuat, pantang menyerah, produktif, tangguh, teratur, sistematis pada segala lini struktur kesebelasan sepak bola. Permainan kolaborasi tika tiki secara atraktif, defensif, dan ofensif ini terlihat dari kiper, bek kanan, kiri, tengah, gelandang bertahan dan menyerang serta stiker yang mampu bertahan dan menyerang secara tajam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Islam di spanyol merupakan warisan peradaban masa lalu sejarah agama, budaya, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan yang masih tersisa di Andalusia, Al-hambra, Cordoba dan Granada. Dan kini, umat Islam yang berasal dari Afrika Utara dan dunia Muslim kembali terlihat di ruang publik Spanyol sebagai rakyat biasa, &nbsp;akademisi, pengusaha, seniman,dan atlet sepak bola.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Salah satunya adalah Lamine Yamal yang lahir di Esplugues de Llobregat, Catalonia, pada 13 Juli 2007, dari ayah yang keturunan Maroko dan ibunya yang berasal dari Guinea Khatulistiwa. Lamine Yamal merupakan yang lahir dari Spanyol yang baru, sebuah negeri multi agama dan kultural yang memiliki akar identitas sejarah, migrasi, dan generasi emas Spanyol. Lamime Yamal berkembang dan bertumbuh di sekolah akademi sepakbola Barcelona. Lamine yamal pemain sepak bola terkenal &nbsp;yang memiliki gaya khas dan keterampilannya mengocek bola. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Islam, Spanyol dan Sepak bola telah menyatukan ikatan persaudaraan, saling menghargai perbedaan dan persamaan multi agama, ras, suku dan golongan yang harmoni moderasi dan toleransi yang ada di Spanyol dan dunia sepak bola. Semoga nilai-nilai spirit Islam yang di bawa oleh Lamine Yamal dan pemain lainnya dapat mengantarkan kemenangan Spanyol juara piala dunia tahun 2026.</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/19/islam-spanyol-dan-piala-dunia-tahun-2026/">Islam, Spanyol dan Piala Dunia Tahun 2026</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/19/islam-spanyol-dan-piala-dunia-tahun-2026/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Reorientasi Budaya Islam Sebagai Kompas Transendental Generasi Engké</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/16/reorientasi-budaya-islam-sebagai-kompas-transendental-generasi-engke/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/16/reorientasi-budaya-islam-sebagai-kompas-transendental-generasi-engke/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2026 22:55:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1395</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="699" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-699x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-699x450.jpeg 699w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-300x193.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-1024x659.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-768x494.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34.jpeg 1537w" sizes="auto, (max-width: 699px) 100vw, 699px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqKetua Komunitas Kamus Sunda Banten Matahari perlahan condong ke barat saat saya menatap...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/16/reorientasi-budaya-islam-sebagai-kompas-transendental-generasi-engke/">Reorientasi Budaya Islam Sebagai Kompas Transendental Generasi Engké</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="699" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-699x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-699x450.jpeg 699w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-300x193.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-1024x659.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34-768x494.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-16-at-16.11.34.jpeg 1537w" sizes="auto, (max-width: 699px) 100vw, 699px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br><em>Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Matahari perlahan condong ke barat saat saya menatap lurus ke arah cakrawala pesisir Binuangeun. Desau angin laut yang membawa aroma garam khas seolah berbisik, mengantarkan gelombang perenungan yang mendalam ke relung kesadaran saya sebagai seorang alumnus Prodi Aqidah Filsafat. Di hadapan hamparan samudra yang luas ini, pikiran saya mendadak melompat jauh ke bentangan aula Pesantren Modern Daarul Qolam, Gintung, tempat para maestro dan ulama berkumpul dalam kebersamaan kultural. Dalam acara Maestro Summit 2026 yang akan digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026 ini, ada sebuah resonansi kuat yang mengetuk dinding batin saya ketika membaca tajuk pembekalan yang akan dihantarkan oleh guru bangsa kita, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Beliau mengetengahkan tema yang amat krusial bagi masa depan peradaban kita: “Arah Baru Seni Budaya Islam Indonesia: Reorientasi Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah di Era Post Truth.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tema tersebut bukanlah sekadar deretan diksi akademis yang mentereng, melainkan sebuah alarm sosiologis yang sedang berdering keras di tengah riuh rendahnya zaman modern. Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya melihat pergulatan ini melalui kacamata yang lebih intim—sebuah sudut pandang lokal tempat bahasa daerah bertindak sebagai benteng terakhir dari pertahanan moral umat manusia. Era post-truth atau pasca-kebenaran telah mengubah lanskap kesadaran kita, di mana emosi dan keyakinan personal lebih dihargai ketimbang fakta objektif yang sahih. Di ruang digital yang mahaluas, narasi diproduksi secara massal untuk memanipulasi persepsi, mengaburkan batasan antara yang hak dan yang batil, hingga membuat kita kerap kali terasing dari kebenaran yang sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merenungkan fenomena pasca-kebenaran ini dari sudut pandang filsafat kebudayaan membawa saya pada satu kesimpulan filosofis yang mendasar: bahwa krisis terbesar manusia modern adalah amnesia linguistik dan kultural. Ketika masyarakat perlahan-lahan mulai eureun menggunakan bahasa ibunya, mereka sebenarnya sedang merobohkan tiang-tiang penyangga cara mereka berpikir dan memandang dunia. Dialek Sunda Banten yang kami rawat di dalam komunitas, dengan segala kelugasan dan kejujurannya, bukan sekadar urusan paranti bercakap-cakap di pasar atau di surau. Lebih dari itu, ia adalah struktur logos—sebuah wadah epistemologis tempat nilai-nilai luhur akidah Islam bersenyawa secara harmonis dengan kosmologi lokal yang bersahaja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat Banten sejak dahulu kala dibentuk oleh sebuah ekosistem sosial yang memiliki watak ketegasan yang luar biasa. Karakter pengkuh pada prinsip hidup dan kareueus terhadap identitas diri tecermin secara gamblang dalam dialek Sunda Banten yang egaliter dan apa adanya. Bahasa kami tidak mengenal stratifikasi hierarkis yang kaku, melainkan mengedepankan keterbukaan dan kejujuran komunal yang tulus. Di era post-truth, di mana kebohongan dikemas dengan retorika yang manis dan manipulatif, watak bahasa Banten yang lugas dan blak-blakan ini justru menjadi instrumen penawar yang sangat mujarab untuk menelanjangi kepalsuan digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita membedah trajektori sejarah, kekuatan dakwah Islam Nusantara di tanah Jawara ini tidak pernah bisa dilepaskan dari peran vital kemandirian pesantren. Pesantren-pesantren salafi yang tersebar di pelosok Banten bertindak sebagai laboratorium hidup tempat kebudayaan Islam dirawat tanpa harus kehilangan jangkar lokalnya. Melalui tradisi mengaji bandungan dan sorogan, para kiai dan santri menerjemahkan teks-teks Arab gundul yang sarat kedalaman ilmu ke dalam rasa bahasa Sunda Banten sehari-hari. Kemandirian pesantren inilah yang menjaga marwah umat agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan politik kekuasaan maupun arus industrialisasi yang masif menggempur kawasan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, realitas kontemporer saat ini memperlihatkan kecenderungan sosiologis yang sangat mencemaskan di kalangan generasi muda kita. Anak-anak muda Banten hari ini, yang tumbuh dalam kepungan algoritma media sosial, perlahan-lahan mulai merasa asing dengan diksi-diksi warisan leluhurnya sendiri. Mereka lebih fasih menirukan slang urban yang artifisial ketimbang meresapi kedalaman makna filosofis yang terkandung di dalam khazanah bahasa daerahnya. Gejala pendangkalan makna linguistik ini adalah awal dari kehancuran karakter, sebuah lampu kuning yang menandakan bahwa benteng pertahanan moral kita sedang mengalami keretakan yang serius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, reorientasi budaya Islam yang digaungkan oleh Kiai Ma&#8217;ruf Amin harus kita maknai sebagai sebuah panggilan jihad kebudayaan yang nyata. Seni budaya Islam tidak boleh lagi sekadar diposisikan sebagai tontonan hiburan yang instrumental atau pelengkap seremoni formal semata. Ia harus ditransformasikan menjadi wasilah dakwah yang hidup, sebuah media profetik paranti memurnikan kembali akal sehat umat dari polusi informasi pasca-kebenaran. Gerakan penyusunan kamus lokal yang kami lakukan di komunitas adalah salah satu bata kecil untuk membangun kembali menara peradaban Islam yang kokoh dan berakar pada bumi tempatnya berpijak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak boleh membiarkan langkah kebudayaan ini berjalan sendiri tanpa adanya sinergi yang kuat dengan institusi keagamaan dan pendidikan Islam. LSBPI MUI memiliki tanggung jawab sejarah untuk mengonsolidasikan para maestro, seniman, dan pegiat bahasa di seluruh Nusantara agar bergerak dalam satu irama yang padu. Mengintegrasikan khazanah dialek lokal dan sastra Islam daerah ke dalam muatan lokal pesantren dan madrasah adalah langkah taktis yang mendesak. Kita harus memastikan bahwa generasi engke—anak cucu yang akan mewarisi negeri ini—tetap memiliki kompas transendental yang jelas di tengah belantara disrupsi global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tepi pantai Binuangeun yang damai, kontemplasi ini membawa sebuah keyakinan baru bahwa fajar kebangkitan kultural itu akan terbit dari rahim Gintung. Pertemuan para maestro nasional esok hari harus mampu melahirkan manifesto kebudayaan yang tegas, yang menempatkan kearifan lokal sebagai pilar utama dakwah Islam Nusantara. Kita harus membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang ramah terhadap tradisi, yang mampu menyerap keindahan lokal untuk memancarkan cahaya kebenaran yang universal. Tugas kita adalah menjaga agar api peradaban ini tetap menyala di dalam dada setiap insan muslim di Nusantara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup dari refleksi siang ini, saya meneguhkan niat untuk terus melangkah bersama seluruh pengurus Komunitas Kamus Sunda Banten. Perjuangan mendokumentasikan dan menghidupkan kembali kata demi kata adalah ibadah kebudayaan yang tidak boleh eureun di tengah jalan, terlepas dari seberapa berat tantangan zaman yang menghadang. Menjaga kata berarti menjaga cara kita berpikir, dan menjaga cara kita berpikir adalah prasyarat mutlak paranti mempertahankan kebenaran di era yang penuh kepalsuan ini. Mari kita songsong Maestro Summit 2026 dengan optimisme yang membubung tinggi, demi lestarinya budaya Islam yang agung di bumi Nusantara. Wallahualam.***</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/16/reorientasi-budaya-islam-sebagai-kompas-transendental-generasi-engke/">Reorientasi Budaya Islam Sebagai Kompas Transendental Generasi Engké</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/16/reorientasi-budaya-islam-sebagai-kompas-transendental-generasi-engke/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Jujur atas Deklarasi Pesantren Ramah Anak</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/12/refleksi-jujur-atas-deklarasi-pesantren-ramah-anak/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/12/refleksi-jujur-atas-deklarasi-pesantren-ramah-anak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 13:13:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1392</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="578" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-578x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-578x450.jpeg 578w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-300x233.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-768x598.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30.jpeg 974w" sizes="auto, (max-width: 578px) 100vw, 578px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqPengurus FSPP Provinsi Banten Deklarasi Pesantren dan Madrasah Ramah Anak yang baru saja...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/12/refleksi-jujur-atas-deklarasi-pesantren-ramah-anak/">Refleksi Jujur atas Deklarasi Pesantren Ramah Anak</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="578" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-578x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-578x450.jpeg 578w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-300x233.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30-768x598.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-10.16.30.jpeg 974w" sizes="auto, (max-width: 578px) 100vw, 578px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br>Pengurus FSPP Provinsi Banten</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Deklarasi Pesantren dan Madrasah Ramah Anak yang baru saja dihelat di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, adalah sebuah oase di tengah gersangnya kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan Islam kita. Sebagai langkah awal, kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para inisiator dan penyelenggara yang memiliki keberanian serta niat luhur untuk menempatkan martabat anak sebagai prioritas tertinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perhelatan ini memancarkan cahaya harapan, sebuah ikhtiar sadar untuk kembali meneguhkan nilai-nilai kasih sayang (rahmah) dan kemaslahatan (maslahah) sebagai fondasi utama pendidikan di lingkungan pesantren. Kita patut berbangga bahwa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, masih ada tangan-tangan yang peduli untuk memagari masa depan generasi muda kita dengan payung perlindungan yang lebih inklusif dan bermartabat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik khidmatnya seremonial dan megahnya komitmen yang terucap, pikiran<br>kontemplatif kita tidak boleh berhenti pada tataran teks. Menelisik lebih dalam, deklarasi ini seolah menjadi pengingat pahit akan realitas yang selama ini sering kali disembunyikan di balik jubah kesucian lembaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita harus jujur mengakui, tanpa perlu menutup mata, bahwa lingkungan pesantren yang sarat dengan norma dan nilai mulia ternyata tidak sepenuhnya kebal dari perilaku menyimpang. Kasus-kasus asusila yang melibatkan oknum -sekali lagi oknum- pimpinan pondok bukanlah sekadar rumor yang dihembuskan untuk mendegradasi martabat lembaga, melainkan fakta getir yang memang terjadi, nyata di depan mata, dan menuntut tanggung jawab moral kita semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif filosofis dan teologis, mengakui adanya kebobrokan di &#8220;rumah sendiri&#8221; bukanlah sebuah pengkhianatan terhadap marwah, melainkan justru merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap hakikat institusi itu sendiri. Oknum-oknum pelaku tersebut, sejatinya hanyalah manusia biasa yang terjebak dalam desakan syahwat yang tidak selaras dengan tuntunan agama yang mereka ajarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan berani mengakui fenomena ini secara terbuka, kita sedang melakukan proses purifikasi atau penyucian ruang. Kita menolak membiarkan institusi yang kita cintai ini menjadi tempat persembunyian perilaku bejat yang mencederai martabat kemanusiaan dan merusak masa depan para santri yang seharusnya terlindungi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita juga perlu mencermati bahwa peristiwa-peristiwa yang mengemuka ke publik belakangan ini kemungkinan besar hanyalah puncak dari fenomena gunung es yang jauh lebih besar dibawah permukaan. Tanpa bermaksud menuduh secara general, ada potensi besar bahwa dibalik dinding-dinding pesantren yang tertutup dan budaya segan yang kebablasan, masih terdapat kasus-kasus lain yang tidak terlaporkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hambatan struktural, ketakutan korban, hingga upaya penutupan aib demi menjaga nama baik lembaga seringkali menjadi tembok tebal yang menghalangi keadilan. Deklarasi ini harus mampu menjadi martil yang memecah tembok tersebut, mengubah budaya tutup mulut menjadi budaya transparansi yang melindungi korban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, jika kita meninjau dari kacamata administratif dan protokoler, perhelatan ini<br>memancing sebuah pertanyaan kritis mengenai siapa sejatinya pemangku hajat utama. Bila deklarasi ini dipahami sebagai gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI, maka pelibatan seluruh elemen ormas keislaman menjadi sebuah keniscayaan yang mutlak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak bisa hanya merangkul dua arus utama saja dan mengabaikan entitas lain yang memiliki basis massa dan akar sejarah yang tak kalah kuat. Inklusivitas adalah kunci bagi sebuah kebijakan publik agar dapat diterima dan dijalankan dengan sepenuh hati di seluruh pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai contoh, di tanah Banten yang dikenal dengan kultur keislamannya yang kental, terdapat Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) yang menjadi payung bagi ribuan lembaga pendidikan. Begitu pula di Jawa Barat, kehadiran Forum Pondok Pesantren (FPP) merupakan entitas yang sangat berpengaruh dan memahami dinamika lokal di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika negara benar-benar ingin melakukan transformasi pendidikan ramah anak secara menyeluruh, maka merangkul forum-forum lokal ini bukanlah sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk menjangkau bilik-bilik pesantren yang paling dalam dan terpencil, yang selama ini mungkin belum tersentuh oleh narasi kebijakan pusat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak ingin deklarasi ini sekadar menjadi seremoni musiman yang berhenti pada penandatanganan piagam dan foto bersama di atas panggung. Keresahan kita adalah agar pesan moral yang terkandung di dalamnya mampu menembus setiap bilik santri, setiap ruang kelas, dan setiap ruang pribadi pimpinan pondok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komitmen ini harus diterjemahkan menjadi mekanisme kontrol yang nyata, sistem pelaporan yang independen bagi santri, serta keberanian kolektif untuk menindak siapa pun yang melakukan pelecehan, tanpa memandang kedudukan atau keturunan. Tanpa eksekusi yang konsisten, deklarasi ini hanya akan menjadi dokumen bisu yang tersimpan di laci-laci kantor birokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kapasitas saya sebagai pegiat bahasa dan ketua komunitas, saya melihat bahwa diksi-diksi yang kita gunakan harus berani bergeser dari sekadar wacana sakral menuju wacana yang membumi. Kita harus membiasakan diri berbicara jujur tentang realitas, menggunakan ketajaman bahasa untuk membedah masalah, bukan untuk membungkusnya dalam retorika yang menipu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ngaji diri bagi pengelola pesantren bukan lagi sekadar ibadah ritual, melainkan juga tindakan etis untuk mengevaluasi apakah perilaku kita masih sejalan dengan amanat suci yang dipikul. Menjaga pesantren berarti menjaga kemanusiaan di dalamnya, terutama mereka yang paling rentan, yakni anak-anak kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, kita menaruh harapan besar bahwa semangat dari Depok ini akan terus bergelombang, menginspirasi pesantren-pesantren lain untuk melakukan otokritik yang tajam. Mari kita jadikan deklarasi ini sebagai titik tolak untuk mendobrak feodalisme pendidikan yang sering kali menjadi celah bagi penyalahgunaan kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan berani mengakui keterbatasan kita sebagai manusia, termasuk para pimpinan pondok, kita justru sedang membangun fondasi yang lebih kokoh bagi masa depan pendidikan Islam. Sebuah fondasi yang dibangun di atas kejujuran, transparansi, dan komitmen tak tergoyahkan untuk melindungi martabat setiap anak manusia di bawah naungan atap pesantren.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga langkah ini bukan sekadar upaya memoles citra, melainkan sebuah gerakan pembersihan jiwa institusi yang sejati. Mari kita terus mengawal agar deklarasi ini benar-benar menjadi komitmen bersama, bukan sekadar simbolis yang luntur oleh waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesantren adalah rumah bagi ilmu dan adab, maka sudah sepantasnya ia menjadi tempat paling aman bagi siapapun yang menimba ilmu di dalamnya. Dengan kejujuran yang tulus dan kerja keras yang nyata, insya Allah, kita akan mampu mengembalikan martabat pesantren sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan sebagai ladang bagi noda yang merusak masa depan bangsa. Wallahualam.**</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/12/refleksi-jujur-atas-deklarasi-pesantren-ramah-anak/">Refleksi Jujur atas Deklarasi Pesantren Ramah Anak</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/12/refleksi-jujur-atas-deklarasi-pesantren-ramah-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ISLAM DAN PIALA DUNIA TAHUN 2026</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/11/islam-dan-piala-duniatahun-2026/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/11/islam-dan-piala-duniatahun-2026/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2026 03:40:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1387</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="269" height="357" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg 269w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30-226x300.jpeg 226w" sizes="auto, (max-width: 269px) 100vw, 269px" /></p>
<p>Oleh : M. Asep Rahmatullah Agama Islam adalah ajaran&#160;yang mengandung&#160;nilai-nilai kebaikan dalam bentuk rasacinta kasih...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/11/islam-dan-piala-duniatahun-2026/">ISLAM DAN PIALA DUNIA TAHUN 2026</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="269" height="357" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30.jpeg 269w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-11-at-10.38.30-226x300.jpeg 226w" sizes="auto, (max-width: 269px) 100vw, 269px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Oleh : M. Asep Rahmatullah</strong><a></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Agama Islam adalah ajaran&nbsp;yang mengandung&nbsp;nilai-nilai kebaikan dalam bentuk rasacinta kasih sayang, kedamaian, kesamaan, keadilan, kesetaraan, menolong, membantu, musyawarah persamaan, persaudaraan, persatuan, saling menghargai dalam bentuk moderasi dan&nbsp;toleransi&nbsp;yang hakiki. Serta&nbsp;rahmat untuk alam semesta dan seluruh umat manusia&nbsp;di muka bumi ini baik muslim maupun non muslim.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agama Islam ini agamaterakhir dan terbaik yang&nbsp;memerintahkan umat manusia untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan, sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi&nbsp;di bawah ini</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya :&nbsp;<em>“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik</em>. (QS Ali Imran Ayat : 110)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam catatan sejarah&nbsp;piala dunia,&nbsp;pada&nbsp;tahun 1900-1930 terjadi perang dunia 1 dan 2, dan pada sa’at itu pula&nbsp;konsep&nbsp;ide gagasan piala dunia di cetuskan oleh Jules Rimet seorang pengusaha dan pengacara dari Prancis, kemudian piala dunia yang pertama kali di selenggarakan oleh Federation Internasionale De Football Assosiation (FIFA) selama empat tahun sekali.&nbsp;Pada&nbsp;piala dunia yang pertama kalinya yang di laksanakan di negara Uruguay pada tahun 1930.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, piala dunia yang kedua pada tahun 1934, yang di selenggarakan oleh&nbsp;Italiasebagai tuan rumah, hanya di ikuti oleh 16 negara dan juaranya adalah italia yang mengalahkan cekoslowakia dengan skor 2 vs 1. Sampai dengan tahun 1978 piala dunia yang ke 11 hanya di ikuti oleh sejumlah 16 negara. Selanjutnya, pada piala dunia yang ke 12 tahun 1982 yang di selenggarakan oleh tuan rumah Spanyol, piala dunia di ikuti oleh 24 negara.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, pada turnamen piala dunia yang ke 16 tahun 1998 di prancis, pelaksanaan piala dunia pun bertambah banyak, yang di ikuti oleh sejumlah 32 negara yang ikut meramaikan perhelatan akbar piala dunia selama empat tahunan sekali.&nbsp;Pada tahun 2002, seabagai tuan rumah Korea Selatan dan Jepang, tahun 2006 di Jerman, tahun 2010 di Afrika Selatan, tahun 2014 di Brazil, tahun 2018 di Rusia, tahun 2022 di Qatar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan&nbsp;piala dunia yang ke 23&nbsp;kali di&nbsp;Wasington DC, Amerika Serikat&nbsp;pada tahun 2026, peserta Piala dunia sejumlah&nbsp;48&nbsp;negara.&nbsp;Berikut daftar tabel &nbsp;piala dunia&nbsp;Amerika&nbsp;tahun 2026di bawah ini sebagai berikut : &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Daftar&nbsp;Negara Piala Dunia Tahun 2026</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="597" height="1024" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/Picture1-597x1024.jpg" alt="" class="wp-image-1388" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/Picture1-597x1024.jpg 597w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/Picture1-175x300.jpg 175w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/Picture1-768x1317.jpg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/Picture1-263x450.jpg 263w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/Picture1.jpg 875w" sizes="auto, (max-width: 597px) 100vw, 597px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber :&nbsp;Kompas</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tabel&nbsp;di atas, bahwa&nbsp;peserta&nbsp;piala dunia&nbsp;terdiri dari berbagai negara perwakilan Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa yang mengikuti turnamen sepak bola dunia tahun 2026&nbsp;di&nbsp;Amerika. Oleh karena itu, piala dunia merupakan ajang kompetisi turnamen bergengsi antar seluruh negara di dunia&nbsp;yang sedang memasuki perdelapan final piala dunia yang menyisakan perwakilan negara Afrika dari Maroko, Eropa terdiri Prancis, Spanyol, Belgia, Inggris, Norwegia, Swiss dan Amerika hanya Argentina&nbsp;&nbsp;yang berlomba-lomba untuk memenangkan pertandingan&nbsp;olahraga&nbsp;piala dunia&nbsp;yang di gemari oleh seluruh lapisan masyarakat dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari catatan di&nbsp;atas, pada piala dunia yang ke 23&nbsp;di&nbsp;Amerika&nbsp;pada tahun 2026&nbsp;ini, banyak fenomena yang unik dan menarik yang terjadi di lapangan hijau stadion maupun di luar lapangan.&nbsp;Fenomena yang unik dan menarik menurut penulis adalah adanya sebuah benturan&nbsp;nilai-nilai&nbsp;agama, budaya, ekonomi dan politik di dalam dunia olahraga&nbsp;yang mengakibatkan gesekan-gesekan kecil piala dunia 2026.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di&nbsp;Amerika&nbsp;banyak berita dan isu yang beredar tidak sedap, baik itu diskriminasi, rasisme, rendahnya nilai keadilan baik itu tempat tinggal bagi para peserta piala dunia. Dan juga cara wasit yang memimpin jalannya pertandingan perdelapan final Argentina melawan Mesir yang banyak kontroversial, tidak objektif dan syarat kepentingan FIFA dan Yahudi. Serta juga berita tentang makanan yang disajikan dalam perhelatan piala dunia 2026.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Piala dunia di&nbsp;Amerika&nbsp;tahun 2026 sangat jauh dari nilai-nilai keadilan, keamanan dan objektif &nbsp;dan fair play dalam pertandingan olahraga, sehingga terjadi banyak benturan kepentingan elit, dan intervensi terhadap FIFA yang menguntungkan Argentina. Sehingga mengecewakan banyak masyarakat, penonton dan netizen sedunia, peristiwa ini merupakan citra buruk yang merusak dunia sepak bola. Sebagaimana samuel hutington ini merupakan benturan peradaban (Class Of civilization), dan menurut penulis perilaku ini sungguh miris dan menyedihkan benturan kepentingan agama, budaya dan ekonomi terjadi pada piala dunia 2026&nbsp;di&nbsp;Amerika</p>



<p class="wp-block-paragraph">Islam dan Piala dunia&nbsp;2026&nbsp;harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan moralitas bagi para pelatih, pemain sepak bola maupun pendukung penonton dari berbagai dunia. Ada nilai kebaikan seperti gerakan bersih-bersih yang di lakukan oleh penonton Jepang, dannilai spiritualitas yang dilakukan&nbsp;beberapa negara muslim seperti&nbsp;Maroko, Mesir, Spanyol, Prancis, dan juga non muslim lainnya yang dimana para pemain bersujdu syukur, berdoa, dan membawa keluarga ke lapangan, lalu ada&nbsp;mencium ibunya sebagai simbol penghormatan perintah agama.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan juga terliat beberapa simbol yang membawa bendera Palestina dari berbagai negara Islam maupun non Islam&nbsp;yang ingin&nbsp;membebaskan palestina dari belenggu penjajahan Israel&nbsp;Yahudi.&nbsp;Bahkan ada juga penonton yang membawa bendera Israel dan juga pemain yang bertato dengan lambang-lambang simbol tuhan, dajjal mesiah seperti mata satu ataupun freemansory yang terpampang di badannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga masyarakat dunia&nbsp;sadar bahwa Islam itu agama dakwah yang rahamatal lil alamin yang mengajak manusia kepada perbuatan baik, melarang keburukan, kejahatandan penjajahan&nbsp;yang melampaui batas kemanusiaan. Serta dapat&nbsp;saling menghargai dan menghormati agama dan budaya orang lain.&nbsp;Agama&nbsp;Islam mengajarkan kompetisi perlombaan yang&nbsp;beradab,&nbsp;sehat, sehingga terciptanya keamanan,&nbsp;kemerdekaan, keadilan,&nbsp;kedamaian, persaudaraan, persatuan dan peradaban&nbsp;yang harmonis dan toleran&nbsp;dalam &nbsp;piala dunia tahun 2026. Semoga</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dosen Universitas Islam Syekh Yusuf&nbsp;</strong><strong>dan Pengurus</strong><strong>&nbsp;ICMI Banten&nbsp;</strong></p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/11/islam-dan-piala-duniatahun-2026/">ISLAM DAN PIALA DUNIA TAHUN 2026</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/11/islam-dan-piala-duniatahun-2026/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Narji Resmi Berlabuh ke Partai Gajah</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/09/narji-resmi-berlabuh-ke-partai-gajah/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/09/narji-resmi-berlabuh-ke-partai-gajah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 20:44:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1384</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="253" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-253x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-253x450.jpeg 253w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-169x300.jpeg 169w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-576x1024.jpeg 576w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33.jpeg 720w" sizes="auto, (max-width: 253px) 100vw, 253px" /></p>
<p>Oleh : Taufik Hidayatullah Bang Narji dikenal sebagai pelawak ataupun komedian yang cukup luas dikenal...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/09/narji-resmi-berlabuh-ke-partai-gajah/">Narji Resmi Berlabuh ke Partai Gajah</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="253" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-253x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-253x450.jpeg 253w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-169x300.jpeg 169w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33-576x1024.jpeg 576w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-17.55.33.jpeg 720w" sizes="auto, (max-width: 253px) 100vw, 253px" /></p>
<p class="wp-block-paragraph">Oleh : Taufik Hidayatullah<br><br>Bang Narji dikenal sebagai pelawak ataupun komedian yang cukup luas dikenal di tanah air. Langkahnya dalam politik merupakan sebuah hak privat yang mesti kita hargai. Memang beliau merupakan sosok kader PKS yang menjabat sebagai dewan pakar PKS provinsi Banten bidang kesenian dan hiburan yang mewakili seniman. Adapun langkah beliau berlabuh kapal merupakan hak privat demokrasi seorang warga negara. Ya, kala acara khitanan massal Bang Narji resmi berbaju PSI partai berlogo gajah yang di ketua oleh anak Jokowi. Adapun tugas ataupun jabatan yang diemban beliau sekarang belum secara resmi diumumkan.Langkah langkah aktor politik telah dimulai baik partisan ataupun non partisan partai politik. Lagi lagi setiap dinamika yang terjadi sejatinya memiliki dimensinya terjadi dalam menjelang perhelatan pilpres 2029.Ya, terlepas dari itu semua sosok tokoh senior PKS, seperti bang Mardani Ali Sera memberikan ucapan selamat sekaligus berterima kasih atas langkah Bang Narji sekaligus berterima kasih atas kontribusinya di PKS selama ini.<br>Beliau juga bersaksi bahwa Bang Sunarji dan istri merupakan orang baik. Pasca berita ini diturunkan pengganti bang Narji belum diumumkan perlu diketahui beliau menjabat sebagai dewan pakar PKS bidang seni dan hiburan. Langkah beliau untuk berpindah partai merupakan sinyalemen partai berlogo Gajah itu memanaskan mesin mesin partainya untuk suksesi pilpres 2029 ditambah Jokowi mulai berkeliling ke daerah daerah yang menjadi basis suaranya di dua perhelatan pilpres lalu</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/09/narji-resmi-berlabuh-ke-partai-gajah/">Narji Resmi Berlabuh ke Partai Gajah</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/09/narji-resmi-berlabuh-ke-partai-gajah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangun Sinergi Inklusif Negeri dan Swasta dalam Sistem Penerimaan Murid Baru</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/07/09/membangun-sinergi-inklusif-negeri-dan-swasta-dalam-sistem-penerimaan-murid-baru/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/07/09/membangun-sinergi-inklusif-negeri-dan-swasta-dalam-sistem-penerimaan-murid-baru/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 20:43:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1381</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="675" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-675x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-675x450.jpeg 675w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-300x200.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-1024x683.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-768x512.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20.jpeg 1536w" sizes="auto, (max-width: 675px) 100vw, 675px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqSekretaris Umum AKSeS Provinsi Banten Sistem pendidikan merupakan jantung dari pembangunan peradaban sebuah...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/09/membangun-sinergi-inklusif-negeri-dan-swasta-dalam-sistem-penerimaan-murid-baru/">Membangun Sinergi Inklusif Negeri dan Swasta dalam Sistem Penerimaan Murid Baru</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="675" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-675x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-675x450.jpeg 675w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-300x200.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-1024x683.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20-768x512.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-22.10.20.jpeg 1536w" sizes="auto, (max-width: 675px) 100vw, 675px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br>Sekretaris Umum AKSeS Provinsi Banten</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sistem pendidikan merupakan jantung dari pembangunan peradaban sebuah bangsa, di mana kebijakan penerimaan murid baru bukan sekadar urusan teknis administratif, melainkan manifestasi dari keadilan sosial dan martabat kemanusiaan. Di Provinsi Banten, diskursus mengenai Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 yang tertuang dalam regulasi gubernur telah memantik refleksi mendalam mengenai realitas praktis di lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pengamat yang berakar pada filsafat dan kepedulian budaya, saya melihat adanya celah antara niat normatif pemerintah dengan praktik yang terjadi di satuan pendidikan. Ketimpangan ini menuntut evaluasi kritis, terutama pada tiga titik krusial: mekanisme Pra SPMB, komposisi panitia tingkat satuan pendidikan, serta integrasi sekolah swasta sebagai opsi pilihan kedua dalam sistem seleksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mekanisme Pra SPMB yang mewajibkan seluruh pendaftar untuk memiliki akun dan PIN melalui sistem daring semestinya menjadi pintu masuk yang menjamin transparansi dan integritas data. Namun, terdapat kekhawatiran mendalam bahwa sistem ini dapat mengalami kerentanan sistemik apabila ditemukan pendaftar yang berhasil diterima di sekolah negeri tanpa melalui tahapan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini, jika benar-benar terjadi, bukan sekadar anomali teknis, melainkan bentuk degradasi terhadap integritas sistem digital yang diagungkan. Ketidakkonsistenan prosedural semacam ini berisiko menciptakan ketidakadilan bagi pendaftar yang taat aturan, sekaligus mengindikasikan bahwa sistem tersebut mungkin tidak memiliki ketahanan yang cukup terhadap intervensi manusia yang tidak transparan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketidaktegasan dalam penegakan prosedur Pra SPMB mencerminkan ketiadaan check and balance yang memadai dalam ekosistem pendidikan kita. Sebagai alumni Aqidah Filsafat, saya memahami bahwa aturan yang tidak ditegakkan secara konsekuen akan kehilangan &#8220;ruh&#8221; dan nilai filosofisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah sistem yang membolehkan &#8220;pintu belakang&#8221; hanya akan memelihara praktik-praktik elitis yang merusak meritokrasi. Oleh karena itu, integritas sistem Pra SPMB harus dikembalikan sebagai prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar, guna memastikan bahwa setiap calon murid memiliki kedudukan yang setara di mata hukum pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, perhatian kita tertuju pada komposisi Panitia Tingkat Satuan Pendidikan yang saat ini cenderung bersifat eksklusif pada internal sekolah negeri. Selama ini, panitia tersebut hanya melibatkan unsur kepala sekolah, guru, komite, dan pengawas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, demi terwujudnya semangat silih asah, silih asih, dan silih asuh, keterlibatan unsur sekolah swasta di sekitar satuan pendidikan negeri menjadi urgensi yang tak terelakkan. Dengan melibatkan perwakilan swasta, panitia tidak lagi sekadar menjadi instrumen administratif, melainkan ruang kolaborasi organik yang menjamin transparansi di tingkat tapak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran perwakilan sekolah swasta dalam kepanitiaan di sekolah negeri akan mengubah paradigma penerimaan murid baru dari kompetisi yang tidak sehat menjadi kolaborasi strategis. Mereka akan memiliki akses langsung untuk memantau perkembangan pendaftaran, sehingga distribusi calon murid yang tidak tertampung di sekolah negeri dapat dilakukan secara manusiawi dan terencana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah bentuk nyata dari ngajaga lembur, di mana tanggung jawab atas nasib anak didik tidak lagi dibebankan secara sepihak kepada sekolah negeri, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh ekosistem pendidikan di wilayah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Poin ketiga yang menjadi inti dari saran saya adalah perihal pilihan sekolah kedua bagi para pendaftar. Regulasi saat ini masih membatasi opsi pilihan hanya pada sesama sekolah negeri atau konsentrasi keahlian di sekolah yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paradigma ini harus digeser dengan mengembalikan kebijakan di mana sekolah swasta di sekitar sekolah negeri menjadi pilihan kedua yang setara. Usulan ini tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga filosofis, karena mengakui sekolah swasta sebagai pilar penting pembangunan manusia yang tidak boleh diposisikan sebagai &#8220;tempat pelarian&#8221; atau &#8220;sisa&#8221; dari sekolah negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut, pembukaan opsi sekolah swasta sebagai pilihan kedua harus berlaku untuk seluruh jalur pendaftaran, tidak terbatas pada jalur prestasi akademik saja. Pemberian fasilitas yang hanya berfokus pada jalur prestasi adalah bentuk segregasi sistemik yang melanggengkan kasta dalam pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan membuka akses ini bagi seluruh jalur, kita sedang melakukan demokratisasi pendidikan, di mana setiap anak—apapun latar belakang akademiknya—memiliki jaminan akses yang layak. Jika pilihan kedua diarahkan ke sekolah swasta yang berada di radius zonasi, maka penumpukan pendaftar di sekolah negeri favorit dapat terurai dengan sendirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, saat ini Pemerintah Provinsi Banten telah meluncurkan Program Sekolah Gratis (PSG) yang menyentuh sekolah swasta. Program unggulan Gubernur Andra Soni dan Wakil Gubernur Dimyati Natakusumah ini seharusnya menjadi katalisator bagi integrasi negeri dan swasta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika biaya pendidikan di sekolah swasta sudah dijamin oleh pemerintah melalui program tersebut, maka tidak ada lagi alasan untuk membedakan perlakuan antara sekolah negeri dan swasta dalam sistem pendaftaran. Kebijakan yang tidak mengintegrasikan swasta dalam pilihan sistem SPMB di tengah program PSG adalah sebuah inkonsistensi kebijakan yang kontraproduktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara filosofis, sekolah negeri dan sekolah swasta harus bergerak sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling menguatkan, bukan sebagai entitas yang berkompetisi dalam merebut sumber daya. Ketiadaan klausul yang mengikat dalam kebijakan SPMB Bersama membuat terminologi &#8220;bersama&#8221; hanya menjadi label tanpa substansi yang kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah seharusnya hadir sebagai fasilitator yang menjamin bahwa program PSG yang memuliakan martabat sekolah swasta dapat berjalan selaras dengan distribusi murid yang adil melalui sistem pendaftaran yang inklusif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai kesimpulan, mari kita menata ulang masa depan pendidikan Banten dengan memosisikan keadilan sebagai poros utama. Reformasi SPMB memerlukan keberanian untuk mengintegrasikan sekolah swasta ke dalam panitia satuan pendidikan negeri, menjadikannya pilihan kedua yang setara bagi seluruh jalur pendaftaran, serta menegakkan disiplin prosedur Pra SPMB tanpa pandang bulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan semangat ngajaga lembur dan pendekatan filsafat yang memanusiakan, kita tidak hanya sekadar mengelola administrasi pendidikan, tetapi sedang merawat harapan masa depan anak-anak Banten melalui kebijakan yang memuliakan martabat setiap satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta. Wallahualam.*</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/07/09/membangun-sinergi-inklusif-negeri-dan-swasta-dalam-sistem-penerimaan-murid-baru/">Membangun Sinergi Inklusif Negeri dan Swasta dalam Sistem Penerimaan Murid Baru</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/07/09/membangun-sinergi-inklusif-negeri-dan-swasta-dalam-sistem-penerimaan-murid-baru/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
