Oleh: Jaka Wijaya Kusuma

Di tanah Banten, angin laut berembus membawa kisah. Dari pesisir Anyer hingga pedalaman Lebak, dari riuh pasar tradisional hingga khidmatnya lantunan doa di masjid-masjid tua, ada satu hal yang kerap luput kita sadari: matematika hidup di tengah budaya kita.

Ia tidak selalu tampil sebagai rumus.
Ia hadir sebagai pola.
Sebagai irama.
Sebagai keteraturan yang indah.

Inilah matematika yang tumbuh dari rahim budaya Banten matematika yang bukan hanya dipelajari, tetapi diwarisi.

Pernahkah Anda memperhatikan motif batik khas Banten? Setiap garis, setiap lengkung, setiap pengulangan motif memiliki keteraturan yang presisi. Tidak ada yang benar-benar acak. Semua tersusun dalam harmoni.

Di sana ada konsep transformasi geometri refleksi, translasi, rotasi yang mungkin tidak disebut dengan istilah ilmiah, tetapi dipraktikkan dengan kepekaan estetika yang tinggi. Inilah yang dalam dunia pendidikan dikenal sebagai etnomatematika, sebuah pendekatan yang diperkenalkan oleh Ubiratan D’Ambrosio: matematika yang berakar pada budaya.

Ketika seorang perajin menyusun pola berulang dengan konsisten, ia sedang berbicara dalam bahasa matematika. Ketika ia menjaga keseimbangan desain agar tetap simetris, ia sedang mengajarkan konsep proporsi.

Bukankah ini bukti bahwa masyarakat Banten telah mencintai matematika jauh sebelum ia diajarkan di ruang kelas?

Seni debus bukan sekadar pertunjukan keberanian. Ia adalah komposisi gerak, waktu, dan irama. Dalam setiap hentakan, ada hitungan. Dalam setiap formasi, ada jarak dan sudut.

Keteraturan itu mengingatkan kita bahwa matematika tidak selalu diam di atas kertas. Ia bergerak. Ia berdenyut.

Sebagaimana musik memiliki birama, debus memiliki pola. Dan pola adalah jantung matematika.

Banten pernah menjadi pusat perdagangan penting pada masa Kesultanan Banten. Kapal-kapal dari berbagai negeri berlabuh, membawa rempah dan cerita.

Di balik aktivitas itu, ada perhitungan: takaran, timbangan, jarak tempuh, dan nilai tukar. Tanpa kecakapan berhitung, perdagangan tidak akan berkembang.

Sejarah ini mengajarkan bahwa kecintaan terhadap matematika bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Banten. Ia adalah bagian dari daya tahan dan kecerdasan kolektif.

Namun mengapa hari ini banyak anak-anak merasa matematika jauh dari kehidupan mereka?

Mungkin karena kita terlalu sering menghadirkannya sebagai simbol tanpa makna. Padahal, jika guru memulai pelajaran dengan kisah pola batik Banten, dengan hitungan dalam debus, atau dengan cerita perdagangan masa lalu, matematika akan terasa akrab.

Bayangkan seorang siswa di Serang atau Pandeglang yang menyadari bahwa pola yang ia lihat di rumahnya adalah geometri. Bahwa hitungan dalam tradisi keluarganya adalah aritmetika. Bahwa jarak antara dua kampung adalah soal pengukuran.

Saat itulah matematika berubah dari “pelajaran” menjadi “pengalaman”.

Kecintaan terhadap matematika tidak lahir dari tekanan ujian. Ia tumbuh dari rasa memiliki.

Ketika anak memahami bahwa matematika adalah bagian dari budayanya, ia tidak lagi merasa asing. Ia tidak sedang belajar sesuatu yang jauh dari dirinya. Ia sedang mengenali warisan intelektual yang sudah lama ada.

Sebagaimana budaya harus dilestarikan, kecintaan terhadap matematika pun perlu dirawat.

Budaya Banten mengajarkan kita tentang keberanian, ketekunan, dan harmoni. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat matematika: berani mencoba, tekun berpikir, dan mencari keteraturan dalam kerumitan.

Barangkali yang perlu kita lakukan hanyalah membuka mata bahwa di setiap motif, di setiap irama, di setiap transaksi, matematika sudah hadir.

Dan ketika kita menyadarinya, kita akan berkata dengan bangga:
Matematika bukanlah sesuatu yang datang dari luar.
Ia telah lama hidup dalam budaya Banten.

Tinggal bagaimana kita menghidupkan kembali kecintaannya.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *