Oleh: Indra Martha Rusmana
Wakil Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Serang

Sebuah kota tidak hanya diukur dari tinggi bangunannya, tetapi dari keberanian pemimpinnya untuk menata ruang hidup warganya dengan harapan. Peluncuran Kota Serang Baroe pada Jumat, 26 Desember 2025 di kawasan Royal, Kota Serang, adalah penanda bahwa perubahan itu nyata dan sedang berjalan.

Dulu, kawasan Royal dan Pasar Lama adalah potret klasik problem perkotaan: kumuh, semrawut, dipenuhi pedagang kaki lima tanpa penataan yang memadai, lalu lintas yang padat, dan wajah kota yang kehilangan keindahan. Bukan karena warganya tak peduli, tetapi karena ruang yang tidak tertata sering kali memaksa masyarakat bertahan dengan cara apa adanya.

Hari ini, wajah itu mulai berubah.

Di bawah kepemimpinan Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia, Kota Serang menunjukkan keberanian untuk melakukan penataan. Sebuah langkah yang tidak mudah, karena membangun kota sejatinya adalah mengelola kepentingan banyak orang. Pedagang dipindahkan ke kawasan Pasar Kepandean, sementara kawasan Royal ditata menjadi ruang publik yang lebih tertib, bersih, dan representatif.

Inilah makna sesungguhnya dari Kota Serang Baroe: bukan sekadar nama, tetapi simbol perubahan cara pandang. Bahwa kota ini bisa lebih rapi tanpa kehilangan denyut ekonominya. Bahwa keindahan kota tidak harus mengorbankan kehidupan rakyat kecil, asalkan diiringi dengan kebijakan lanjutan yang berpihak.

Harapan besar kini bertumpu pada langkah berikutnya. Setelah kawasan Royal Baroe diresmikan, Pasar Kepandean perlu mendapatkan perhatian yang sama serius. Para pedagang yang telah direlokasi harus benar-benar merasakan kehadiran pembeli, bukan sekadar dipindahkan tempatnya. Penataan parkir yang tertib, biaya parkir yang masuk akal, ketersediaan tempat sampah di setiap titik, toilet yang bersih dan layak, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola kawasan menjadi keharusan, bukan pilihan.

Sebab kita tahu, menjaga jauh lebih berat daripada membangun. Membangun bisa selesai dalam hitungan bulan, tetapi menjaga membutuhkan kesadaran, kedisiplinan, dan rasa memiliki yang tumbuh bersama.

Kota Serang Baroe tidak akan berarti apa-apa jika hanya menjadi proyek fisik. Ia harus menjadi ruang hidup yang dirawat bersama: oleh pemerintah yang konsisten, oleh pedagang yang tertib, dan oleh masyarakat yang peduli. Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji—bukan hanya saat meresmikan, tetapi saat memastikan keberlanjutan.

Kita semua tentu berharap, suatu hari nanti kawasan Royal Baroe bukan hanya menjadi tempat singgah, tetapi titik rindu. Tempat orang ingin kembali, berjalan, berbincang, berbelanja, dan merasa bangga mengatakan, “Inilah Kota Serang hari ini.”

Kota Serang Baroe adalah undangan bagi kita semua: untuk percaya bahwa perubahan itu mungkin, dan untuk bersama-sama menjaganya agar tetap hidup.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *