Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Filsafat, peradaban, dan keadaban berpikir adalah konsep yang saling terkait erat. Karena, filsafat dapat dipandang sebagai inti dari peradaban karena menyediakan kerangka dasar kerja untuk : (1). Proses pemahaman eksistensial, yaitu menawarkan cara-cara untuk memahami keberadaan, makna hidup, dan realitas di sekitar kita. (2). Etika dan moralitas, karena filsafat bisa mengembangkan sistem nilai dan prinsip-prinsip moral yang memandu perilaku manusia dalam masyarakat. (3). Nalar kritis, karena ajaran filsafat mendorong penggunaan logika dan penalaran, yang krusial untuk kemajuan ilmiah dan sosial. (4). Keadaban berpikir (atau etika dalam berpikir) hal itu merujuk pada cara kita menerapkan prinsip-prinsip filosofis dalam proses berpikir kita. Hal itu tentunya membutuhkan (melibatkan) objektivitas dan keterbukaan, kesiapan untuk mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda dan merevisi keyakinan berdasarkan bukti-bukti yang bersifat ilmiah. Lebih dari itu, filsafat juga menumbuhkan empati intelektual, karena selalu berusaha untuk memahami alasan dibalik keyakinan orang lain, bahkan jika kita tidak setuju. Filsafat juga akan menumbuhkan rasa ketelitian yang logis, yaitu memastikan setiap argumen kita valid dan didukung oleh penalaran yang kuat.

Secara singkat, filsafat menumbuhkan keadaban berpikir, yang pada gilirannya bisa menopang dan memajukan peradaban yang berlandaskan pada nalar, etika, dan pemahaman mendalam tentang manusia dan alam semesta. Bahkan, orang yang punya pemikiran yang bersifat filosofis, ia kerapkali akan bekerja dan mengabdi secara kreatif, inopatif, dan produktif. Bahkan, filsafat membentuk pikiran yang beradab, sementara pikiran yang beradab menciptakan peradaban yang berkembang dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, penulis mencoba untuk mengemukakan betapa pentingnya filsafat, serta mencoba untuk menggali keterkaitan antara pemikiran filosofis dan penemuan ilmiah. Lebih dari itu, pada tulusan kaki ini mencoba membahas keterkaitan antara filsafat dan ilmu pengetahuan terutama dalam kontektualitas perkembangan peradaban manusia. Karena, filsafat sebagai dasar pemikiran kritis dan reflektif, ia memiliki peran penting dalam membentuk paradigma ilmiah yang digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. Misalnya, pemikiran kefilsafatan tentang alam semesta, eksistensi, dan pengetahuan telah mendorong perkembangan konsep-konsep dasar dalam ilmu pengetahuan, seperti logika, epistemologi, dan metodologi ilmiah.

Di sisi lain, penemuan ilmiah yang didorong oleh eksperimen dan observasi juga banyak mempengaruhi perubahan dalam cara pandang filosofis terhadap dunia dan manusia. Alhasil, dalam tulisan kali ini, penulis mencoba untuk nejelaskan bagaimana pemikiran dari psra tokoh-tokoh besar seperti Dokrates, Plato, Aristoteles, Descartes, dan bahkan sampai pada Imanuel Kant yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan teori-teori ilmiah, serta bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan modern saat ini demikian dinamis, seperti teori relativitas dan mekanika berlipat ganda, yang akhirnya terus memunculkan berbagai pertanyaan filosofis baru tentang realitas, kebenaran, dan pengetahuan. Melalui tulisan kali ini, penulis ingin menyimpulkan, bahwa antara filsafat dan ilmu pengetahuan memang tidak berdiri terpisah, alias tidak bisa berdiri sendiri, melainkan untuk saling terkait dan saling mempengaruhi dalam upaya menciptakan peradaban yang lebih maju.

II. Pentingnya Filsafat, Logika Dan Bahasa Dalam Konteks Membentuk Peradaban

Allah telah memberikan potensi besar berupa akal kepada manusia, yakni sebagai alat untuk berpikir (apa ta’kilun, apala ta’lamun, apala yatadabbarun). Dan alasan manusia untuk dapat mengembangkan filosofis eksplorasi. Sedangkan eksplorasi filosofis dapat dibangun dengan menciptakan dialog dan kolaboratif antara sains, filsafat, logika dan bahasa. Sementara dimensi peradaban sebagai gabungan dari semangat dan sikap dan cara hidup sosial tidak dapat dipisahkan dari filsafat dalam membentuk kebaikan perilaku masyarakat. Di sisi lain, bahasa, ilmu pengetahuan dan teknologi juga memiliki importan peran dalam peradaban. Bahkan, hasil sains tidak mungkin bisa dipahami begitu saja oleh masyarakat jika tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa. Oleh karena itu, dengan tercapainya aspek-aspek tersebut, maka penemuan filsafat oleh kita (manusia di alam jagat raya ini) pada akhirnya dapat membangun peradaban di seluruh lingkup sejarah dari waktu ke waktu. Jadi, dalam sejarah peradaban manusia, ilmu pengetahuan, filsafat, logika dan bahasa memiliki peran masing-masing, bahkan membutuhkan dialog dan kerja sama antara keempat faktor diatas, hal itu demi terwujudnya peradaban yang berharga dalam kehidupan umat manusia di alam jagat raya ini (kata kuncinya adalah, filsafat, logika, bahasa, dan sains, bisa membentuk peradaban).

Sementara secara teoritis, bahwa filsafat itu sendiri adalah suatu sistem pemikiran, atau lebih tepatnya, suatu cara berpikir yang terbuka, yaitu terbuka terhadap pertanyaan dan pertanyaan ulang. Oleh karena itu, cinta (Phylo) dalam kata “Phyloshopphia” pada dasarnya diperlakukan sebagai kata kerja, suatu proses, bukan sebagai kata benda tertentu. Dalam pengertian ini adalah sikap hidup yang mencari pertanyaan dan hidup dalam pertanyaan terus menerus tanpa henti.

A. Peran Filsafat Dalam Konteks Berpikir Kritis Untuk Mengarungi Kesadaran Hidup

Filsafat merupakan salah satu jalan terbaik dalam mengatasi kekeliruan dan keterbatasan berpikir. Seperti makna dari kata “philosophia” itu sendiri yang artinya ; “cinta kebijaksanaan”. Oleh karena itu, filsafat mendorong manusia untuk senantiasa mempertanyakan, mencari, dan memahami kebenaran secara mendalam. Sedangkan peran filsafat dalam konteks keberlangsungan peradaban manusia sangatlah krusial. Karena, negara-negara yang mengadopsi pendekatan filsafat dalam sistem pendidikannya, baik akademik maupun non-akademik, mereka memiliki potensi besar untuk berkembang. Bahkan, melalui metode berpikir kritis dan reflektif yang ditawarkan oleh filsafat, setiap lapisan masyarakat-pun dapat turut andil dalam pembangunan bangsa secara sadar dan terarah.

Menurut filsuf Yunani kuno, yakni Aristoteles, bahwa kebajikan intelektual tidak hanya terletak pada kemampuan berpikir, tetapi terutama pada kesediaan untuk terus belajar dan belajar. Dalam “Metaphysics”, Aristoteles menyatakan bahwa cinta akan kebijaksanaan berawal dari rasa heran, sementara rasa heran itu sendiri hanya akan muncul ketika seseorang menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya. Seseorang yang merasa sudah bijak padahal belum memahami dasar-dasar pengetahuan, maka ia ibarat pelaut yang mengira ombak kecil adalah lautan, padahal ia belum pernah meninggalkan dermaga. Lebih dari itu, menurut Aristoteles, bahwa manusia adalah makhluk “logos” atau makhluk berakal budi yang memiliki potensi untuk mencintai dan mengejar kebenaran. Namun, potensi itu hanya bisa berkembang melalui latihan, pembiasaan, keterbukaan terhadap kritik, dan keinginan untuk terus belajar dan belajar.

Namun yang lebih celaka, ketika ketidaktahuan itu mengaku bijak (orang bodoh mengaku pintar), maka nalar pun akan lumpuh, dan bahkan dialog menjadi buntu. Karena, kejahatan intelektual terbesar bukan terletak pada kebodohan itu sendiri, melainkan pada keengganan untuk berubah dan memperbaiki diri. Bahkan, dalam memahami realitas yang demikian dinamis saat ini, maka ketika berpikir hanya berdasarkan asumsi-asumsi semata, hal itu tentunya tidak cukup. Oleh karena itu, saat ini diperlukan proses penalaran yang objektif dan kritis untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Di sinilah filsafat hadir, yaitu melalui pendekatan dialektika historis yang mampu mengurai sebab-akibat dari setiap peristiwa, dan filsafat kerapkali menawarkan jalan menuju pemahaman yang lebih utuh.

III. Filsafat Menurut Sidi Ghazali Gazalba

Menurut Sidi Ghazali Ghazalba (bukan sang hujjatul Islam, yakni Imam Al-Ghazali), bahwa filsafat adalah sesuatu yang mendalam, sistematis, radikal dan universal untuk mencari kebenaran, mencari hakikat dan hakikat dalam kaitannya dengan segala sesuatu yang ada. Hasbullah Bakri dari Darwis A. Soereiman mengatakan, bahwa filsafat adalah ilmu yang mendalami segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan, alam semesta, dan manusia untuk menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana segala sesuatunya, sejauh akal budi manusia mampu. Apakah kita sedang bersikap, maupun sedang menyatakan sesuatu, maka hal itu harus dilandasi oleh pengetahuan.

Jika kita coba memahami dan sekaligus menteorisasikan tentang filsafat, bahwa filsafat adalah sebuah proses, suatu cara untuk terus mencari kebenaran sambil mencari kebenaran, dan filsafat sebagai upaya untuk memahami gagasan. Mengajukan pertanyaan kepada seseorang memberi kita gagasan untuk memikirkan pertanyaan yang diajukan dan mencoba menemukan jawabannya.
Sedangkan logika berasal dari kata sifat, dan sekaligus berasal dari bahasa Yunani, yaitu “logike” dan berkaitan dengan kata benda “Logos” yang berarti bahasa atau kata-kata sebagai perwujudan pikiran manusia (Salam, 1988: 162). Logika secara umum dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari penalaran yang valid (Suriasumantri, 2005: 46). Logika adalah suatu metode pemberian landasan berpikir atau landasan kebenaran terhadap pengetahuan yang diperoleh dari proses berpikir. Bahkan menurut Ibnu Sina, logika adalah ilmu peralihan dari apa yang sudah diketahui ke apa yang harus diketahui, beserta penjelasannya, serta jenis-jenis dan kegunaan relatif dari metode-metode tersebut, pengetahuan tentang sifat penggunaannya.

Logika juga dapat diartikan sebagai sarana hukum yang mencegah akal untuk melakukan kesalahan dalam berpikir dan memberikan penerimaan terhadap akal dan pikiran dalam arti yang lebih luas sebagaimana dimaksud dalam bahasa sehari-hari (Khan, 2004: 79). Sedangkan bahasa menurut Santoso, adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan secara sadar oleh alat vokal manusia. Lebih dari itu, menurut Wibowo, bahasa adalah suatu sistem simbol, bunyi yang bermakna dan artikulasi (dihasilkan oleh alat vokal), sewenang-wenang dan konvensional. Mamun ada juga pendapat lain mengenai pengertian bahasa, terutama yang dikemukakan oleh Syamsuddin, dan ia memberikan dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang digunakan untuk pembentukan pikiran dan perasaan, keinginan dan tindakan, alat yang digunakan untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa merupakan tanda nyata baik dan buruk, budi pekerti, tanda nyata keluarga dan bangsa, tanda jelas keutamaan kemanusiaan.

A. Peran Filsafat Dalam Membentuk Peradaban

Masyarakat mempunyai keraguan terhadap binatang. Pertanyaan manusia tidak pernah habis dan karena sifatnya itu, maka manusia mulai memikirkan segala sesuatu di sekitarnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang membingungkan. Hal itulah yang mendasari pembentukan filosofis (Ansari, 2002: 15). Jika kita berbicara tentang lahir dan berkembangnya filsafat pada mulanya, maka kelahirannya tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan (sains) yang terjadi pada peradaban kuno (zaman Yunani kuno).

Filsafat tidak lain hanyalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok secara kritis, bukan secara dangkal dan dogmatis, seperti yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam ilmu pengetahuan. Sedangkan pengertian filsafat menunjukkan bahwa filsafat bertujuan untuk menemukan kebenaran, bertindak kreatif, serta menerapkan dan mewujudkan nilai-nilai. Filsafat berperan dalam membangun peradaban. Filsafat berkaitan erat dengan inti peradaban manusia dan merupakan bagian integral dari eksperimen manusia dalam menghadapi kontradiksi, kekalahan, dan kemenangan kehidupan, serta kebutuhannya. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa filsafat adalah ilmu yang menempati kedudukan jiwa seutuhnya dan menduduki derajat tertinggi dalam penciptaan kekuatan, karena bidang studi filsafat bersifat universal.

Ilmu filsafat-lah yang mewakili kebutuhan dasar manusia, dan tanpa filsafat, maka ilmu pengetahuan tidak dapat bertahan (Purwadi, 2002: 38). Dengan kata lain, filsafat merupakan sumber segala kemungkinan dan kemajuan manusia dalam perkembangan kehidupan di dunia yang tidak terbatas dan tidak terbatas. Sedangkan peradaban, ia merupakan perpaduan pikiran dan sikap serta cara membimbing kehidupan dan tindakan sosial masyarakat, dan peradaban tentunya tidak bisa dipisahkan dari tradisi-tradisi filosofis yang selalu membantu manusia untuk menyikapi kehidupan dan kesejahteraan serta pada akhirnya membawa kemajuan bagi peradaban. (Mariam,2004: 8) Karena kebahagiaan yang sejati dan lain sebagiannya, harus merupakan suatu bentuk kontemplasi yang setidaknya terdiri dari aktivitas intelektual, berdasarkan pemahaman ide-ide filosofis dan kontemplatif (Riemann, 1989: 253).

B. Peran Logika Dalam Membentuk Peradaban

Berpikir merupakan aktivitas manusia untuk mencari pengetahuan yang sebenarnya, namun kebenaran itu sendiri tidak mempunyai dimensi yang sama bagi semua individu. Oleh karena itu, setiap cara berpikir manusia mempunyai standar kebenaran yang menjadi dasar proses pencarian kebenaran. Dalam kegiatan berpikir ini suatu pemikiran atau keputusan suatu pemikiran menurut ciri-ciri logika dasar, atau wawasan yang kokoh terhadap kebenaran, maka suatu pemikiran diperlihatkan secara logis dan disebut berpikir logis (Salam, 1988: 1).

Logika merupakan salah satu cabang filsafat yang memberikan informasi tentang bagaimana seharusnya manusia untuk berpikir. Oleh karena itu, pengetahuan sebagai hasil pemikiran manusia sesuai dengan apa adanya atau seharusnya. Padahal, aktivitas berpikir manusia tercermin dalam sikap dan tindakan, sehingga dapat dikatakan bahwa setiap tindakan manusia merupakan cerminan atau simbol dari aktivitas berpikir manusia. Bahkan, dinamika berpikir tersebut jelas tidak mudah, terkadang orang melakukan kesalahan dalam berpikir. Bukan karena ilmunya yang salah, tapi pemikirannya tidak sederhana dan tidak mengikuti aturan. Secara logika, berpikir berarti menyusun silogisme dengan tujuan untuk mencapai kesimpulan yang benar dan menghilangkan kontradiksi sebanyak-banyaknya.

C. Peran Bahasa Dalam Membentuk Peradaban

Bahasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan ciri khas manusia yang terwujud dalam segala aspek dan aktivitas manusia. Sejak dahulu kala, para ahli pemikiran manusia menyebut makhluk yang memiliki bahasa dan akal sebagai ahli bahasa (istilah “nalar hewan”), yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu “logos ekune”. Sedangkan berbicara dalam arti komunikasi dimulai dengan pengkodean semantik dan gramatikal di otak pembicara, dilanjutkan dengan pengkodean fonologis. Dilanjutkan dengan persiapan decoding fonologis, decoding gramatikal, dan decoding semantik yang berlangsung di otak pendengar (Chaer, 2003: 51). Akhirnya, pikiran membentuk bahasa, dan tanpa pikiran tidak ada bahasa. Pikiranlah yang menentukan aspek sintaksis dan leksikal bahasa, bukan sebaliknya (Chaer, 2003: 51). Oleh karena itu, dalam berbicara tidak hanya kata-kata yang digunakan, melainkan bahasa yang diilhami oleh pikiran dan renungan. Sebagai perwujudan suatu bentuk pemikiran, maka bahasa juga dapat menjadi alat untuk mengembangkan dan menyempurnakan pemikiran tersebut. Dengan kata lain, bahasa membantu pemikiran manusia untuk berpikir lebih sistematis (Chaer, 2003: 59). Bahasa memungkinkan orang berpikir secara koheren dan sistematis serta membantu manusia untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Dengan kata lain, pikiran dan bahasa merupakan alat untuk melakukan tindakan.

Di sisi lain, fungsi bahasa dapat dibagi menjadi empat fungsi. (1). Fungsi kognitif, kemampuan bahasa untuk menggambarkan kebenaran. (2). Fungsi emosional, kemampuan bahasa untuk menggambarkan aspek emosi manusia dan emosi terdalam. (3). Fungsi imperatif, yaitu kemampuan bahasa untuk memerintahkan atau mengendalikan perilaku.

D. Betapa Pentingnya Filsafat, Logika Dan Bahasa Dalam Membentuk Peradaban

Filsafat adalah berpikir, namun bukan sekedar berpikir, berpikir sementara, atau berpikir tanpa aturan atau disiplin, melainkan berpikir secara mendalam untuk mencari kebenaran dengan selalu memperhatikan disiplin dan hukum-hukum berpikir. Ketika berfilsafat, maka setiap orang membutuhkan logika, dan fokus pada kebenaran yang sebenarnya dan jangan menyesatkan diri sendiri. Karena logos (logika) menuntun kita dalam mengambil keputusan berdasarkan pemikiran yang rasional dan bijaksana (Muntasyir dkk, 2006: v). Bahasa sebagai suatu sistem simbol yang diungkapkan melalui bunyi (voice) dan dirasakan oleh telinga (auditori) erat kaitannya dengan ungkapan pikiran sendiri dan hasil renungan filosofis diri. Tanpa bahasa , para filsuf tidak dapat mengkomunikasikan hasil spekulasinya kepada orang lain. Tanpa bantuan bahasa, seseorang tidak bisa memahami gagasan filsafat. Manusia dapat membentuk simbol dan memberi nama untuk menandai realitas, namun hewan sama sekali tidak mampu melakukannya. Sedangkan nama-nama itu diberikan agar masyarakat dapat mengingat angka dan mengaitkannya satu sama lain. Bahasa merupakan lambang pemikiran dan apa yang dipikirkan orang. Bahasa dapat melambangkan karena logika, apa yang dipikirkan orang harus dapat dibicarakan, dapatkah orang mengungkapkannya, atau hendaknya mereka mengetahui bagaimana hal itu dapat diungkapkan dalam bahasa sebagai lambang (Muslih, 2005: 106). Oleh karena itu, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, kita semakin menghadapi tantangan dalam menyediakan alternatif.

Di sisi lain, kita dihadapkan pada kemajuan teknologi dan dampak negatifnya, perubahan yang cepat, serta perubahan nilai-nilai yang pada akhirnya akan semakin menjauhkan kita dari nilai-nilai dan moral. Dengan mengingat hal-hal tersebut, pada dasarnya kita membutuhkan pengetahuan untuk memberi kita arahan. Dengan ilmu tersebut seseorang dikaruniai kebijaksanaan dan prinsip untuk menentukan pemikiran yang jernih, benar dan sehat, termasuk nilai-nilai kehidupan yang sangat penting dibutuhkan oleh umat manusia. Filosofi dan logika inilah yang diharapkan mampu mendekatkan manusia pada nilai-nilai kehidupan dan mempertemukannya dengan mengetahui pendapat mana yang harus ditolak, dan pendapat mana yang harus disetujui, dan kapan saat yang tepat untuk menerimanya bahwa mereka bisa memberi makna pada kehidupan.

Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan bagian dari landasan terbentuknya peradaban, dan perkembangannya harus berlangsung paralel dengan perkembangan bidang filsafat dan logika. Melalui perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat dan logika yang seimbang, mereka saling mendukung dan saling mengontrol, terutama terkait landasan epistemologis (metode) dan aksiomatik (nilai) ilmu pengetahuan, pada akhirnya bermuara pada terbentuknya peradaban manusia yang berbudi luhur dan bermanfaat. Sedangkan pengetahuan teknis, kreativitas filosofis, dan perkembangan logika tidak dapat dijelaskan secara terpisah dari bahasa. Karena, dalam bahasa manusia, objek dan peristiwa mendapat bentuk dinamis. Manusia tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan dunia. Manusia memerlukan simbol bahasa dan kata. Dan bahasa sebagai sistem simbolik juga dapat digunakan dalam arti yang lebih luas. Artinya, bahasa menjadi alat perubahan ideologi, ilmu pengetahuan, dan hasil refleksi filosofis, agar ilmu pengetahuan manusia bisa terus berkembang. Kelahiran bahasa terkait dengan kelahiran budaya. Melalui kebudayaan, segala kreasi yang dihasilkan dari ilmu yang dimiliki seseorang juga dapat dimiliki oleh orang lain dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa ilmu pengetahuan, filsafat, logika, dan bahasa telah menjadi alat penting dalam membangun peradaban manusia sepanjang sejarah umat manusia berada di alam jagat raya ini, baik dari segi material, intelektual maupun spiritual.

E. Epilog

Tuhan telah memberikan kepada manusia potensi besar, yaitu berupa “akal” sebagai alat berpikir. Manusia dapat menggunakan otaknya untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memudahkan banyak hal dalam aktivitas manusia di alam jagat raya ini. Dan dengan nalar, manusia juga bisa mengembangkan penelitian filosofis. Berkat pencapaian ilmu pengetahuan, teknologi, dan penemuan filosofis, manusia telah mampu menciptakan sebanyak peradaban sepanjang sejarahnya. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan dan filsafat bisa memudahkan manusia untuk mengembangkan potensinya dan melangkah maju dalam kehidupan. Terlebih lagi, manusia membutuhkan logika sebagai prinsip dasar berpikir yang benar. Sementara hasil ilmu pengetahuan dan filsafat itu tidak boleh bersifat duniawi atau hampa nilai. Terlebih lagi, capaian ilmu pengetahuan, filsafat, dan logika tidak dapat diketahui masyarakat umum jika tidak dikomunikasikan melalui bahasa. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan, filsafat, logika, dan bahasa memang masing-masing memiliki kepentingannya masing-masing dalam sejarah peradaban, dan keempat peran tersebut sudah pasti memerlukan ruang dialog dan kerjasama yang inhern, dan bahkan keempat faktor tersebut (filsafat, logika, ilmu pengetahuan, dan sains) memang telah membentuk peradaban mulia sepanjang sejarah kehidupan manusia di alamat jagat raya ini.

IV. Dimensi Filsafat Dalam Sejarah Peradaban Islam

Pada sub judul bagian ini, penulis akan mencoba melakukan dialog yang bersifat “Imajiner” yakni seolah-olah penulis hadir diacara forum perdebatan filosofis (perdebatan tentang soal filsafat), yakni perdebatan sengit antara Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rust. Sementara hasil perdebatan senget dan bersifat polemis yang demikian sakralistik ketika di zaman Islam kelasik dulu, pada akhirnya Imam Ghazali mengarang buku berjudul “Tahafut Al-falasifah”, sementara Ibnu Rust sendiri, ia mengarang buku berjudul “Tahafut At-Tahafut”. Sementara isi buku karya dari Imam Al-Ghazali, secara substantif memang mengkritif tentang kerancuan cara berfikir para filsuf Muslim yang tidak peripatetik. Sementara isi buku karya Ibnu Rust mencoba meluruskan, bahwa tidak setiap filsuf Muskim rancuh cara berpikir ke-filsafatannya. Bahkan menurut Ibnu Rust, bahwa filsafat sangat penting bagi Islam dan dunia Islam, hal itu sebagai pisau analisis. Oleh karena itu, dibawah ini penulis mencoba menampilkan berbagai pertanyaan, bolehkan Islam dan umat Islam untuk mempelajari filsafaat?

Bolehkah seorang muslim mempelajari filsafat?

Mengenai pertanyaan tersebut, hingga saat ini (terutama di kalangan ahli fikih berbeda pendapat). Bahkan ada juga yang lebih ekstrim pendapaynya, yang kemudian menyatakan bahwa filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Karena, menurut pendapat (ulama fikih yang super ekstrim itu), bahwa sumber dan timbangan untuk menentukan kebenaran (dalam filsafat) kerapkali berdasarkan akal semata. Bahkan menurut pendapat yang ekstrim itu, bahwa asal-mula filsafat adalah meniadakan agama, sehingga para ulama dan ahli fikih ada yang menganggapnya sesat disebabkan oleh keterbatasan akal (dalam menafsirkan fenomena).

Misalnya, ketika filsafat mengkaji tentang Tuhan. Tuhan adalah objek yang tak terlihat, sehingga menimbulkan spekulasi. Hal yang sama juga terjadi ketika menentukan awal mula alam semesta. Filsafat meniadakan informasi dari wahyu dan terus berspekulasi. Spekulasi-spekulasi seperti itu yang dianggap menyesatkan. Demikian juga Imam al-Ghazali menganggap bahwa filsafat banyak menimbulkan masalah. Sehingga, hukum seorang muslim untuk mempelajari filsafat adalah tergantung pada tujuan. Sebagaimana ketika ada pertanyaan, “bolehkah seorang muslim mempelajari ideologi komunisme?” Di satu sisi, hal itu penting untuk mengetahui kekurangan dan kesesatan ideologi komunis itu, yakni agar kita bisa meluruskan orang lain agar tidak tersesat. Hal itu justru bagus (ketika dasar aqidah Islamnya sudah kuat dan mapan). Namun ketika mempelajari ideologi komunis itu tampa keyakinan agama yang kuat, justru ia malah jadi oleng alias berbahaya,, dan apalagi ia kemudian untuk menerapkan dan mengadopsinya ideologis komunis tersebut, maka hal itu yang jadi masalah besar.

Bagaimana awal mula filsafat masuk ke dunia Islam, dan bagaimana hal itu bisa terjadi?

Sebelum munculnya ulama mutakallimin (para ulama ahli ilmu kalam), semua penentuan kebenaran dalam Islam berbasiskan pada wahyu, baik melalui al-Qur’an maupun hadits. Berbeda dengan filsafat yang menyesuaikan wahyu dengan akal. Ketika wahyu tidak rasional, alias tidak masuk akal, maka harus diganti (sebagaimana yang dilakukan oleh golongan oknum orang Islam yang liberal dan mendekati ideologi ateistik). Ketika timbangan rasionalisme yang sangat terbatas itu kemudian juga dikaitkan dengan berbagai pemikiran Barat an sih…, akhirnya wahyu bahkan dianggap tidak relevan lagi. Dan tenyata, cikal-bakal serta fenomena tersebut memang sudah dimulai sejak abad ke-2 H, yaitu bersamaan dengan perkembangan ilmu kalam, dan dari ilmu kalam itulah para ulama mutakallimin menggunakan logika (manthiq). Meski itu bukan awal masuknya filsafat di tengah kaum muslimin, namun hal itu yang justru menjadi pintu masuk bagi filsafat itu sendiri.

Namun dalam konteks sejarahnya, ulama yang pertama mendalami filsafat adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rust, dan bahkan Imam Ghazali sendiri, sesungguhnya ia juga seorang filsuf Muslim. Mereka itulah sosok-sosok yang dianggap sebagai filsuf muslim pertama yang kemudian menulis berbagai kitab filsafat. Sementara dalam perkembangan berikutnya, bahwa eksistensi filsafat di dunia Islam, maka munculah tokoh Khalifah al-Ma’mun yang membuka baitul hikmah. Sementara baitul hikmah adalah pusat kajian ilmunpengetahuan dan filsafat yang di dalamnya banyak menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani kuno. Maka, sejak abad ke-2 H, filsafat sebenarnya sudah masuk ke dunia Islam dan terus berkembang hingga Islam mengalami masa keemasan, yakni ketika berada di abad ke 7 – 13 M.

Filsafat menjadikan kita untul berpikir secara mendalam, kritis, dan sistematis. Namun, bolehkah filsafat diadopsi sebagai metode berpikir?

Filsafat itu kan berpikir untuk mendapat kesimpulan berdasarkan rasionalisme akal. Berpikir itu menghukumi sebuah fakta. Maka, filsafat adalah salah satu metode berpikir. Namun, apakah ia bisa dijadikan sebagai metode berpikir yang benar dan boleh diadopsi? Yang perlu dihindari dari filsafat adalah ketika menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sedangkan dalam Islam informasi tentang kebenaran itu tidaklah didapat berdasarkan metode filsafat yang merumuskan kebenaran dengan spekulasi, melainkan dengan wahyu. Karena, ketika akal manusia tidak mampu lagi memahami apa yang disampaikan oleh wahyu, maka bukan berarti wahyu yang salah, melainkan disebabkan keterbatasan akal manusia itu sendiri. Tidak heran jika hadits Rasulullah baru terbukti setelah sekian abad. Filsafat itu sering dijadikan metode berpikir untuk mencari kebenaran. Namun bagi seorang muslim, konsep spekulasi itu tidak menutupkemungkinan akan menimbulkan masalah karena meniadakan wahyu sebagai “ma’lumah sabiqoh”, dan bahkan dikhawatirkan menafikkan kebenaran agama.

Lalu, bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim terhadap filsafat?

Sebaiknya dihindari, yakni sekalipun jika ingin mempelajari filsafat, maka pelajarilah secara baik untuk dikritisi dan dikoreksi atas kesalahan-kesalahan yang ada di sana (jangan sampai gara-gara menggeluti dunia fildafat dan sekaligus menjadi ahli filsafat, malah nantinya menjadi anti Tuhan). Dalam beberapa kasus tertentu, bahkan kita tidak bisa menghindarinya, karena masuk ke dalam kurikulum pendidikan yang wajib dipelajari, dan tentunya para para guru yang mengajarkan filsafatnya, tentunya dasar-dasar agamanya harus kuat, jangan sampai menjadi labirin ateistik. Hal tersebut, sebagaimana pernyataan dan sekalugus kehawatiran dari Imam al-Ghazali, bahwa ada yang bisa kita ikuti dari ajaran filsafat, dan ada juga yang tidak bisa kita ikuti.

Mengapa ada juga orang yang mempelajari filsafat justru terkesan mendekati ateistik?

Ketika filsafat masuk ke dunia Islam, saat itu para ulama mutakallimin mencoba mengkompromikannya dengan agama. Agama kemudian dikaitkan dengan berbagai informasi metafisika, seperti eksistensi Allah, malaikat, dan seterusnya, yang dikaitkan dengan al-Qur’an dan Hadist. Landasan analisisnya tetap menggunakan dasar-dasar filsafat yang bersandar pada akal. Namun ketika para filsuf yang liberalistik, dan kemudian mereka memasuki ranah filsafat metafisika, yakni seperti Tuhan yang tidak bisa diindera secara empirik dan bertentangan dengan empirisme, akhirnya sang filsuf yang liberalistik itu kerapkali berpendapat, bahwa sesuatu yang tidak bisa diindera artinya tidak ada, maka ia kerapkali mengambil kesimpulan, bahwa ketika Tuhan tidak bisa diindera, maka Tuhan itu tidak ada. “Tuhan hanyalah sesuatu yang diada-adakan oleh pikiran manusia”. Dan itulah celakanya pemahaman filsafat kalau sudah berada di tangan atau di pemahaman orang yang liberalistik-ateistik.

Oleh katena itu, ketika hal itu (filsafat) dikaitkan dengan agama, dan para filsuf-nya juga orang yang beragama (agamis), memang tidak serta merta sang filsuf itu menjadi ateistik. Tapi ia akan terus mengkritisi hal-hal metafisika dalam konteks logika. Bahkan, hal-hal yang sudah pakem, sudah kot’i dan sudah diyakini kemutlakannya dalam Islam (karena merupakan hal-hal ghaib) tidak boleh diperdebatkan sampai sekarat, dan yang perlu untuk terus dikritisi itu, yaitu hal-hal yang bersifat “dhonni” dan perlu untuk ditanyakan ulang. Tak berhenti sampai di situ, hukum syari’ah pun juga dipertanyakan kembali, terutama dari hal-hal yang bersifat furu’iyyah. Namun, kerapkali orang liberalistik-ateistik, syari’at Islam dianggap sudah tidak relevan.

Ketika hal itu menjadi akut dan senantiasa menjadi landasan dalam bersikap, maka konsekwensi logisnya, Islam kemudian diragukan dan dirasa tidak sesuai dengan perkembangan zaman, sebagaimana pertentangannya dengan ide-ide demokrasi yang liberalistik, profanistik, HAM, dan lain-lain. Walhasil, tak sedikit pula (oknum orang Islam) yang akhirnya meragukan dan bahkan meninggalkan ajaran Islam.

Bagaimana filsafat memandang sosialisme dan komunisme?

Sebagai dasar, perlu dipahami terkait dialektika materialisme sebagai upaya pemikiran untuk mencari kebenaran? Sementara dasar materialisme adalah segala sesuatu berasal dari materi dan akan kembali kepada materi. Jika hal itu dijadikan landasan berpikir, maka akhirat, pahala, maupun dosa-pun menjadi tidak ada. Agama pun dianggap sebagai candu dan racun, karena melemahkan akal pikiran akibat menyandarkan segala urusan kepada Tuhan. Manusia menjadi tidak produktif dan tidak bebas. Hal itu, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Karl Marx, ia kemudian menawarkan konsep revolusi mental, sebuah teori tentang sosiologi yang menyatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa hanya bisa diwujudkan dengan menjauhkan mereka dari agama.

Selain sosialisme dan komunisme, filsafat juga melahirkan demokrasi. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap atasnya?

Jika kita menggunakan konstruksi berpikir filsafat, maka kita harus mulai dari ontologi. Apa sih hakikat demokrasi? Jika merujuk pada Abraham Lincoln, demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Berdasarkan antroposentrisme, teori tersebut menunjukkan bahwa manusia merupakan standar kebenaran dari manusia, oleh manusia, untuk manusia. Berdasarkan antropomorpisme, hal itu berarti manusia menggantikan peran Tuhan selaku pemilik hakikat kebenaran. Manusia seolah-olah dituhankan.

Apa fungsi dan manfaatnya dari filsafat? Bolehkah seorang muslim mempelajari filsafat?

Filsafat seyogyanya untuk terus dijadikan sebagai metode berpikir dan perbedaannya pada pengakuan wahyu. Jika dikaitkan dengan filsafat sains, seperti ontologi, aksiologi, dan epistimologi, apakah hal-hal tersebut boleh dipelajari? Tentunya saja harus dipelajari agar umat Islam bisa mengulang kembali masa kejayaannya seperti terjadi di abad ke 7 – 13 M, dimasa saat itu umat Islam menguasai filsafat, sain, dan ilmu pengetahuan, akhirnya umat Islam saat memimpin peradaban dunia (menjadi super power saat itu).

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *