Ocit Abdurrosyid Siddiq
Dalam lembaran-lembaran kitab tua dan cerita-cerita yang diwariskan oleh para leluhur, dunia pernah digambarkan sebagai panggung drama moral yang sangat sederhana namun tegas. Dahulu kala, narasi tentang kehidupan berjalan linear dengan hukum sebab-akibat yang transparan: ketaatan melahirkan keselamatan, sementara kezaliman memanggil kehancuran.
Langit, dalam persepsi manusia masa lampau, bukanlah sekadar atap biru yang bisu. Ia adalah entitas yang hidup, reaktif, dan memiliki amarah. Ketika kaum-kaum terdahulu melampaui batas, menindas yang lemah, dan menistakan kebenaran, alam semesta seolah berkonspirasi untuk menegakkan keadilan.
Kita diajarkan bahwa gempa bumi yang membelah tanah, badai yang mencabut pohon dari akarnya, hingga banjir bah yang menenggelamkan peradaban, adalah perpanjangan tangan Tuhan. Bencana-bencana itu hadir bukan sebagai fenomena geologis semata, melainkan sebagai stempel legitimasi bagi sabda para nabi.
Wabah penyakit dan hama yang menyerang lumbung-lumbung penguasa lalim dimaknai sebagai hukuman nyata—sebuah mekanisme korektif agar manusia yang angkuh kembali menundukkan wajahnya ke tanah, menyadari betapa kecilnya mereka di hadapan Kuasa yang Tak Terhingga. Pada masa itu, ketakutan adalah fondasi dari kepatuhan, dan bencana adalah bahasa Tuhan yang paling fasih.
Namun, roda waktu terus berputar dan membawa kita pada sebuah era yang membingungkan, di mana masa kenabian diyakini telah usai. Pintu langit dianggap telah tertutup rapat dari intervensi langsung yang bersifat ajaib. Tidak ada lagi laut yang terbelah untuk menyelamatkan kaum tertindas, tidak ada lagi burung-burung yang membawa batu panas untuk menghancurkan pasukan gajah.
Kita hidup dalam kesunyian teologis, di mana alam semesta bekerja murni berdasarkan hukum fisika yang dingin dan tak peduli. Tetapi, jika benar bahwa masa intervensi langsung itu telah habis, mengapa realitas yang tersaji di hadapan kita justru memperlihatkan sebuah logika yang terbalik dan menyakitkan?
Di zaman modern ini, kita menyaksikan sebuah anomali yang merobek nalar keadilan. Bencana alam tidak lagi selektif memilih pendosa sebagai korbannya. Sebaliknya, gempa dan tsunami justru kerap menghantam wilayah-wilayah yang penduduknya dikenal santun, ramah, dan taat beribadah. Tempat-tempat suci tempat nama Tuhan diagungkan hancur luluh lantak rata dengan tanah, mengubur jasad-jasad orang soleh yang sedang bersujud.
Sementara itu, di belahan bumi lain, istana-istana para penjahat kemanusiaan, koruptor, dan tiran berdiri kokoh, tak retak sedikit pun oleh guncangan zaman. Mereka menikmati kemewahan di atas penderitaan orang lain, seolah-olah langit justru merestui kejahatan mereka dengan memberikan rasa aman yang abadi.
Ketimpangan ini semakin menganga lebar ketika kita menoleh ke belakang, menelusuri lorong gelap sejarah kemanusiaan. Kita melihat jejak darah dalam sejarah perbudakan yang berlangsung berabad-abad, di mana manusia diperlakukan lebih rendah daripada binatang. Kita melihat kekejaman kolonialisme yang merampas hak hidup bangsa-bangsa, hingga tragedi Holocaust dan berbagai genosida yang melenyapkan jutaan nyawa tak berdosa.
Pertanyaan besar yang menggantung di udara adalah: di mana intervensi Tuhan saat jeritan kepedihan itu membubung ke angkasa? Mengapa pertolongan yang dinanti tidak kunjung tiba bagi mereka yang kecewa, bagi mereka yang mati dalam keadaan memohon keadilan-Nya?
Puncak dari krisis keyakinan ini tervisualisasi dengan sangat brutal di era kita saat ini, di tanah Gaza. Ribuan tubuh jatuh berguguran seperti daun kering di musim gugur. Angka statistik mencatat lebih dari tujuh puluh ribu jiwa—termasuk perempuan dan anak-anak—hilang dan terkubur di bawah reruntuhan beton.
Dunia tidak diam; segala upaya manusiawi telah dikerahkan. Jalur diplomasi ditempuh di meja-meja perundingan internasional, bantuan kemanusiaan dikirimkan menembus blokade, dan seruan gencatan senjata diteriakkan di jalan-jalan kota besar dunia. Di sisi spiritual, doa-doa telah dipanjatkan tanpa henti dari jutaan mulut di seluruh penjuru bumi, mengetuk pintu langit dengan air mata dan harapan.
Namun, apa hasilnya? Perang terus berkecamuk, mesiu terus meledak, dan nyawa terus melayang. Langit tetap hening, membisu tanpa suara, seolah tuli terhadap ratapan makhluk-Nya.
Situasi ini memaksa kita melontarkan pertanyaan yang paling menakutkan: Apa sebenarnya yang sedang ditunggu oleh Tuhan? Apakah penderitaan ini belum cukup menjadi alasan bagi-Nya untuk turun tangan, ataukah Dia memang tidak berencana untuk hadir sama sekali?
Keheningan Tuhan di tengah hiruk-pikuk pembantaian ini menjadi pukulan telak bagi fondasi iman. Keyakinan yang dulu tertanam kokoh di dada kini mulai goyah, retak oleh realitas yang tak terbantahkan. Mencari keadilan di dunia ini rasanya sungguh payah dan sia-sia.
Ketiadaan pertolongan Tuhan, yang membiarkan kejahatan merajalela tanpa hukuman instan, melahirkan sebuah hipotesis yang mengerikan. Keraguan itu mulai berbisik: jangan-jangan, seluruh konsep tentang Tuhan hanyalah rekayasa manusia semata.
Mungkinkah Dia hanyalah buah pikir para leluhur kita yang ketakutan menghadapi ganasnya alam? Mungkinkah Tuhan diciptakan hanya sebagai mekanisme pertahanan psikologis, sebuah tempat sandaran harap agar manusia tidak gila menghadapi ketidakpastian hidup? Jika hipotesis ini benar, maka segala doa dan harapan kita sesungguhnya adalah kesia-siaan belaka. Kita berteriak pada ruang kosong.
Sebab, fakta yang tersaji di depan mata sangatlah telanjang dan kejam: saat darah tumpah membanjiri bumi dan dunia berubah menjadi kelam, Tuhan tidak hadir untuk menghentikannya. Di balik segala interpretasi agama yang berupaya membela-Nya, kenyataan pahit tetap berdiri tegak—Ia memilih diam, membiarkan manusia saling mangsa dalam kesendirian yang absolut.
*
Tangerang, Rabu 31 Desember 2025
Penulis adalah alumni Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung



