Oleh : Adung Abdul Haris
I. Prolog
Dalam suatu perenungan yang mendalam, kerapkali penulis tergelitik oleh suatu pemikiran yang agak liar dan terus mengembara, dan kemudian memercikan suatu pertanyaan maupun pernyataan yang lebih mendasar misalnta, “Di setiap kekacauan, ternyata masih ada secercah harapan dan nilai-nilai kebenaran serta keadilan”. Alam pikiran penulis yang terkesan liar yang terus menggelayuti relung batin penulis itu, ternyata dalam konteks saat ini memang ada benarnya juga. Karena, kalau kita coba rasakan alam jagat raya saat ini, seakan-akan sudah gersang serta penuh dengan intrik politik global (munculnya para pemimpin dunia saat ini, yang seolah-olah sudah berlaku semena-mena dan menganeksasi negara lain dll). Reflektif atau renungan penulis diatas, ternyata merupakan bagian dari ekspresi filosofis penulis yang terasa agak berat dan kuat, yang kenyataannya terus mengitari alam idealis penulis. Di dalam renungan penulis yang mendalam itu, ternyata sebagai bukti dan kerapkali menunjukkan keyakinan mendalam bahwa meskipun dalam situasi yang paling kacau-balau dan sulit sekalipun, namun prinsip-prinsip mendasar kebenaran dan keadilan ternyata masih tetap ada dan dapat ditemukan. Hal itu berfungsi sebagai pengingat bagi kita semua, bahwa secercah harapan masih tetap ada di tengah kekacauan. Bahkan, ketika keadaan maupun gelagat tanpa harapan-pun, ternyata masih ada juga keyakinan bahwa keadilan pada akhirnya akan menang.
Apa yang penulis ungkapkan diatas, bahwa nilai-nilai yang bersifat universal memang harus eksis di alam jagat raya ini (sampai yaumil kiyamah). Diantara beberapa konsep kebenaran yang universal itu, seperti adanya nilai-nilai kebenaran dan keadilan, dan itu dianggap abadi dan tidak dapat dihancurkan oleh kekacauan eksternal. Lebih dari itu, ketika terjadi carut-marut atau munculnya kekacauan, memang titik evisentrum itu merupakan momentum besar, atau sebuah panggilan berharga untuk bertindak (menegakkan kebenaran). Hal itu tentunya harus menginsfirasi setiap orang, yakni untuk mencari, mempertahankan, dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran itu, dan tidak peduli seberapa suram situasinya. Bahkan, hal itu merupakan tema umum dalam dunia sastra, hukum, dan filsafat, dan itu seringkali berfungsi sebagai sumber ketahanan dan tekad. Demikian juga, ketika situasi suram dan keadaan centang-perenang ketika di zaman revolusi Prancis misalnya, yakni yang terjadi beberapa abad yang lalu, saat itu muncul sang pemikir, filsuf, atau sang pencerah di zamannya, yaitu filsuf Friedrich Hegel.
II. Filsuf Friedrich Hegel
Ketika terjadinya revolusi di Prancis beberapa abad yang lalu, saat itu muncul seorang pemikir (filsuf) yang realitanya ia tidak sekadar menulis buku, melainkan juga menggeser cara sebuah zaman memahami dirinya sendiri. Dialah sosok “Hegel” atau lengkapnya, Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Ia lahir di Stuttgart (Jerman) tahun 1770 dan wafat pada 1831, dalam usia yang masih produktif. Namun jejaknya melampaui satu abad karena ia memberi “bahasa” bagi banyak perdebatan modern, yakni mulai dari negara, sejarah, agama, seni, hingga konflik batin manusia. Hegel terkenal bukan karena gagasannya yang mudah dicerna, tapi karena ia berani merangkum kenyataan manusia yang berlapis-lapis dalam satu proyek besar, yaitu upaya menjelaskan bagaimana pikiran, masyarakat, dan sejarah bergerak menuju kebebasan. Hegel hidup di Eropa yang sedang demam perubahan. Revolusi Prancis saat itu yang memang sedang mengguncang dunia dan mengoyak tatanan lama, perang Napoleon mengacak-acak peta politik, dan modernitas hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai badai. Di tengah lanskap itu, Friedich Hegel menyaksikan satu pertanyaan raksasa yang mengintai setiap generasi, bagaimana mungkin dunia yang tampak kacau saat itu, tetap masih memiliki rasionalitas, dan bagaimana mungkin manusia yang tampak kecil dapat menjadi subjek kebebasan.
Dari situlah ia menulis, bukan sebagai pengamat dingin, melainkan sebagai orang yang percaya bahwa sejarah bukan kumpulan peristiwa acak, melainkan perjalanan kesadaran manusia memahami dirinya sendiri.
A. Mengapa Hegel Terkenal
Hegel menjadi terkenal karena tiga hal yang saling mengunci. Pertama, ia menyatukan logika dan sejarah. Karena saat itu, banyak filsuf membahas kebenaran, namun seolah-olah berada di ruang steril, yakni jauh dari pasar, perang, dan perebutan kekuasaan. Hegel menolak kebiasaan itu. Baginya, gagasan hidup di dunia nyata, dan dunia nyata bergerak bersama gagasan. Karena itu, memahami manusia berarti memahami proses, bukan sekadar hasil. Kedua, Hegel memperkenalkan cara memandang konflik sebagai motor perkembangan. Hegel sering disederhanakan sebagai “dialektika”, seolah-olah dunia bergerak dari tesis ke antitesis lalu menjadi sintesis. Rumus itu populer, tetapi versi Hegel sebenarnya lebih halus. Intinya, sesuatu berkembang karena bertemu batasnya sendiri, lalu “diangkat” ke bentuk yang lebih kaya. Ia memakai istilah “Aufhebung”, kata Jerman yang unik karena mengandung makna membatalkan sekaligus mempertahankan, meniadakan sekaligus menyimpan inti yang berharga. Konflik, bagi Hegel, bukan sekadar tabrakan yang merusak, melainkan proses pematangan. Ketiga, ia menempatkan kebebasan sebagai tema utama sejarah. Hegel memandang sejarah dunia sebagai proses panjang, dimana manusia pelan-pelan belajar bahwa kebebasan bukan hadiah, melainkan kesadaran yang harus diperjuangkan dalam lembaga, hukum, etika, dan budaya. Jadi kebebasan bukan sekadar perasaan di kepala, melainkan kenyataan sosial yang perlu bentuk.
B. Karya Besarnya Dan Apa Yang Dibicarakan
Hegel bukan penulis satu buku yang terkenal karena satu kalimat. Ia membangun satu bangunan besar dengan banyak ruang. Karya yang paling sering disebut sebagai mahakarya awalnya berjudul “Phenomenology of Spirit” atau Fenomenologi Roh terbit di tahun 1807. Buku tersebut seperti perjalanan panjang kesadaran manusia, dari pengalaman paling sederhana sampai puncak yang ia sebut pengetahuan mutlak. “Roh” di sini bukan hantu atau mistik murahan. Roh adalah kesadaran manusia yang hidup dalam dunia, yang bekerja, berbahasa, berbudaya, beragama, bernegara. Buku itu terkenal juga karena bagian “tuan dan budak”, kisah filosofis tentang pengakuan. Hegel menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hidup dari makan dan aman, manusia butuh diakui. Bahkan relasi dominasi sekalipun, pada akhirnya rapuh, karena sang tuan bergantung pada budak untuk kerja dan pengakuan, sementara budak justru menemukan dirinya melalui kerja yang membentuk dunia. Banyak teori modern tentang identitas, martabat, dan politik pengakuan meminjam napas dari sini.
Karya besar berikutnya adalah “Science of Logic” atau Ilmu Logika yang terbit bertahap mulai tahun 1812 M hingga tahun 1816 M. Ini wilayah Hegel yang paling “keras” dan paling membuat orang menyerah di halaman-halaman awal. Ia membahas logika bukan sebagai aturan debat, melainkan sebagai struktur paling dasar dari realitas dan pikiran. Ia bergerak dari konsep paling tipis seperti “ada” dan “tiada”, lalu menunjukkan bagaimana konsep-konsep itu tidak stabil dan melahirkan konsep yang lebih kaya. Bagi Hegel, logika bukan permainan kata, melainkan anatomi gerak pikiran. Ada juga “Encyclopedia of the Philosophical Sciences” atau Ensiklopedia Ilmu-Ilmu Filsafat yang pertama kali terbit di tahun 1817 M, dan kemudian direvisi. Ini semacam peta ringkas sistem Hegel, mencakup logika, filsafat alam, dan filsafat roh. Jika Ilmu Logika adalah hutan lebat, ensiklopedia ini lebih mirip peta jalur, walau tetap menuntut stamina. Untuk urusan negara dan hukum, karya puncaknya berjudul “Elements of the Philosophy of Right” atau Filsafat Hukum terbit tahun 1821. Di sini Hegel membahas kebebasan dalam bentuk institusional, keluarga, masyarakat sipil, dan negara. Ia terkenal dengan kalimat yang sering diperdebatkan, bahwa yang rasional itu nyata dan yang nyata itu rasional.
Kalimat itu kerapkali disalahpahami sebagai pembenaran apa pun yang terjadi, seolah-olah semua yang ada pasti benar. Padahal yang ia maksud lebih rumit, realitas yang sungguh-sungguh bertahan dan membentuk dunia biasanya mengandung struktur rasional tertentu, dan tugas filsafat adalah memahami struktur itu, bukan sekadar mencaci atau memuja. Selain buku-buku “inti”, Hegel juga terkenal lewat kumpulan kuliahnya yang disusun dari catatan murid. Di antaranya berjudul “Lectures on the Philosophy of History” tentang filsafat sejarah, “Lectures on Aesthetics” tentang seni, “Lectures on the Philosophy of Religion” tentang agama, dan “Lectures on the History of Philosophy” tentang sejarah pemikiran. Kuliah-kuliah itu membuat Hegel terasa lebih hidup karena kita melihat cara ia membaca dunia, dari tragedi Yunani sampai gereja, dari lukisan sampai revolusi.
C. Apa Isi Pokok Tulisan Hegel
Jika harus diringkas tanpa merusak kedalaman, ada beberapa tema kunci yang terus muncul. Hegel melihat kenyataan sebagai proses yang bergerak, bukan benda yang diam. Maka kebenaran bukan foto, melainkan film panjang. Yang penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana hasil itu menjadi mungkin. Ia menekankan bahwa kesadaran manusia selalu lahir dalam relasi. Manusia menemukan dirinya bukan dalam kesendirian murni, tetapi melalui perjumpaan dengan orang lain, lewat pengakuan, lewat konflik, lewat kerja, lewat bahasa. Karena itu filsafat Hegel sering terasa “sosial”, bahkan ketika ia berbicara tentang batin.
Ia memandang sejarah sebagai pendidikan kebebasan. Hegel tidak mengatakan sejarah selalu indah atau tanpa korban. Ia sadar sejarah penuh luka. Namun ia percaya ada arah besar, dimana konsep kebebasan menjadi semakin jelas dan semakin melembaga. Pada satu masa, hanya satu orang dianggap bebas. Pada masa lain, sebagian orang. Dan modernitas, dengan segala ketegangan, membawa klaim bahwa setiap manusia punya martabat kebebasan. Hegel membaca gerak itu sebagai logika sejarah. Ia juga membangun apa yang sering disebut idealisme absolut. Hal itu bukan berarti Hegel menganggap dunia hanya pikiran. Lebih tepat, ia menolak pemisahan tajam antara pikiran dan realitas. Bahkan menurutnya, struktur rasional yang kita temukan dalam berpikir juga hadir dalam cara dunia tersusun, dan keduanya bertemu dalam sejarah kebudayaan manusia.
D. Pengaruhnya Yang Panjang
Hegel adalah “ayah” bagi banyak pertengkaran intelektual setelahnya. Karl Marx, misalnya, mengambil ide gerak dialektis tetapi membalik fokusnya ke ekonomi politik dan kondisi material. Sementara Kierkegaard, ia mengkritik Hegel, karena dianggap terlalu sistematis dan kurang memberi ruang bagi kecemasan individu. Sedangkan para pemikir Frankfurt seperti Adorno dan Horkheimer berdebat dengan Hegel tentang rasionalitas modern.
Bahkan dalam teori politik kontemporer, gagasan pengakuan dan relasi tuan budak terus dipakai untuk membaca ketimpangan dan martabat manusia. Karena itu, Hegel bukan sekadar nama dalam sejarah filsafat. Ia seperti “pabrik konsep yang masih memproduksi peralatan berpikir bagi zaman kita”. Demikianlah, membaca Hegel memang tidak seperti membaca novel yang cepat selesai. Ia lebih mirip mendaki gunung berkabut. Karena, di beberapa titik pendakian gunung itu, kerapkali gak kuat dan kerapkali kita ingin balik badan, tetapi ketika awan membuka sedikit, tampak pemandangan yang membuat kita faham mengapa banyak orang bersikeras menempuh jalur itu. Hegel terkenal karena ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan, bahwa manusia bukan hanya hidup di dalam peristiwa, melainkan juga hidup di dalam makna, dan makna itu bergerak. Hegel menulis untuk menunjukkan bahwa kebebasan bukan slogan, melainkan perjalanan panjang sebuah kesadaran manusia, melalui konflik, kerja, institusi, dan sejarah, sampai akhirnya manusia dapat berkata bahwa ia bukan sekadar “ada”, melainkan mengerti mengapa ia “ada” dan untuk apa ia “ada” dan hidup. Filsafat memang selalu mengundang teka teki yang jawabannya sangat tergantung kepada siapa yang mempelajarinuya????
III. Epilog
(Para Filsuf Dan Prabrik Ide)
Apa yang telah penulis gambarkan di sub judul bagian atas, secara puitis dan realistis memang menggambarkan tentang peran sentral para filsuf sepanjang sejarah. Mereka berfungsi sebagai “pabrik konsep” yang terus-menerus memproduksi “peralatan berpikir” (ide, teori, kerangka kerja logis, dan etis) yang membentuk cara setiap generasi berikutnya untuk bisa memahami realitas, etika, dan keberadaan itu sendiri. Beberapa contoh filsuf (termasuk sang filsuk Friedich Hegel) yang ide-idenya secara fundamental mendefinisikan zaman mereka meliputi :
Sokrates, Plato, dan Aristoteles (filsuf Yunani kuno), dan ide-ide mereka mengenai logika, etika, politik, dan metafisika mendasari seluruh peradaban Barat, demikian juga kehadiran Friedich Hegel juga demikian mewarnai filsuf di akhir abab ke 19 M, termasuk Immanuel Kant, yang karyanya merevolusi etika dan epistemologi (teori pengetahuan) di Era Pencerahan. Kemudian Karl Marx, yang konsep-konsepnya mengenai ekonomi dan masyarakat membentuk lanskap politik abad ke-20 M, kemudian Simone de Beauvoir dan filsuf eksistensialis lainnya, yang nenawarkan alat baru untuk memahami gender, kebebasan, dan keberadaan pasca-Perang Dunia II. Oleh karena itu, nelalui karya-karya merekalah “peralatan berpikir” tersebut diperkenalkan, dikritik, dan disempurnakan, yakni seiring berjalannya waktu.





