Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Founder SDQ Amirul Mukminin, Ragas
Al-Qur’an adalah sumber kemuliaan. Ia memuliakan siapa pun dan apa pun yang bertaut dengannya: waktu, manusia, malaikat, bahkan sejarah. Karena Al-Qur’an, kehidupan tidak sekadar bergerak, tetapi memiliki arah. Tanpa wahyu, kemajuan mudah kehilangan makna; dengan Al-Qur’an, langkah manusia dituntun menuju kebaikan dan keadilan.
Ramadan menjadi istimewa karena Al-Qur’an. Bulan itu dimuliakan bukan semata oleh puasa, melainkan oleh peristiwa turunnya wahyu sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Ramadan adalah madrasah peradaban, tempat umat belajar menundukkan hawa nafsu dan menghidupkan nurani melalui Al-Qur’an.
Lailatul Qadar pun agung karena Al-Qur’an. Satu malam yang nilainya melampaui seribu bulan memperoleh kemuliaannya sebab pada malam itulah wahyu diturunkan. Ini menegaskan bahwa kemuliaan waktu tidak ditentukan oleh panjangnya, tetapi oleh nilai ilahiah yang hadir di dalamnya.
Malaikat Jibril menjadi mulia karena Al-Qur’an yang diembannya. Ia dipilih sebagai pembawa amanah wahyu, penghubung antara langit dan bumi. Keistimewaan Jibril bukan pada zatnya semata, tetapi pada tugas agung menjaga dan menyampaikan Kalam Allah tanpa cela.
Nabi Muhammad ﷺ memiliki mukjizat terbesar berupa Al-Qur’an. Di tengah dunia yang menuntut bukti kasat mata, Rasulullah dihadirkan dengan mukjizat yang hidup, rasional, dan melampaui zaman. Al-Qur’an terus dibaca, dikaji, dan diuji, tetap menjadi sumber hidayah bagi manusia hingga akhir zaman.
Bahasa Arab dimuliakan karena Al-Qur’an. Ia terjaga, dipelajari, dan dihidupkan lintas bangsa karena menjadi medium wahyu. Demikian pula umat Islam dimuliakan bukan karena jumlah atau asal-usul, tetapi karena amanah Al-Qur’an yang harus ditegakkan dalam kehidupan.
Ilmu pengetahuan pun menjadi mulia ketika dipandu Al-Qur’an. Wahyu mendorong manusia untuk membaca, berpikir, dan meneliti, namun sekaligus memberi batas etika. Ilmu tanpa Al-Qur’an berpotensi melahirkan kesombongan; ilmu bersama Al-Qur’an menumbuhkan kerendahan hati dan tanggung jawab.
Masjid dan majelis ilmu dimuliakan karena Al-Qur’an. Di sanalah wahyu dibaca, diajarkan, dan dihayati. Setiap ruang yang dihidupkan dengan tilawah dan tadabbur berubah menjadi pusat pencerahan, bukan hanya ritual, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran sosial.
Hati manusia menjadi hidup karena Al-Qur’an. Ia adalah syifā’, penyembuh bagi kegersangan batin dan kebingungan moral. Al-Qur’an menenangkan yang gelisah, meluruskan yang menyimpang, dan menguatkan yang lemah. Kemuliaan manusia sejati lahir dari hati yang dituntun wahyu.
Dari sinilah pentingnya pendidikan berbasis Al-Qur’an. Sekolah Al-Qur’an bukan sekadar institusi akademik, tetapi ekosistem nilai. Ia menyatukan iman, ilmu, dan akhlak, sehingga kecerdasan tumbuh seiring dengan kematangan moral dan spiritual.
SDQ Amirul Mukminin hadir sebagai ikhtiar memuliakan pendidikan dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an diletakkan sebagai pusat orientasi kurikulum dan budaya sekolah. Anak-anak dibiasakan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan nilai wahyu dalam keseharian.
Alumni SDQ Amirul Mukminin diharapkan tumbuh menjadi kader pemimpin masa depan. Pemimpin yang adil, amanah, dan berani berpihak pada kebenaran. Kepemimpinan seperti ini tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui pembiasaan nilai Qur’ani sejak usia dini.
Pada akhirnya, siapa pun yang ingin mulia, dekatlah dengan Al-Qur’an. Ramadan, Lailatul Qadar, Jibril, Rasulullah, ilmu, dan pendidikan semuanya dimuliakan oleh wahyu. Sekolah Al-Qur’an adalah jalan strategis menyiapkan generasi Qur’ani—generasi yang kelak memimpin peradaban dengan cahaya iman, ilmu, dan akhlak mulia. Wallahu a’lam.





