Ocit Abdurrosyid Siddiq

โ€œ๐˜Ž๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข: ๐˜ซ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ.โ€

Pagi di madrasah sering datang lebih awal daripada matahari. Di sebuah desa yang jalannya belum sepenuhnya ramah roda, seorang guru honorer membuka pintu kelas kayu yang engselnya berdecit pelan.

Ia menyapu lantai berdebu, merapikan bangku yang kakinya tak seimbang, lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis yang kapurnya tinggal serpihan. Di luar, ayam berkokok; di dalam, harapan pelan-pelan disusun.

Begitulah hari-hari dimulaiโ€”tanpa seremoni, tanpa sorot kamera.

Guru honorer madrasah swasta hidup di persimpangan sunyi. Ia honorerโ€”tanpa kepastian. Ia swastaโ€”bergantung pada kas yayasan yang sering sesak. Ia madrasahโ€”sering datang terakhir dalam antre perhatian.

Tiga lapis keadaan itu bukan sekadar label administratif; ia menjelma jadi realitas ekonomi, geografis, dan psikologis yang menuntut ketahanan lebih dari sekadar kompetensi pedagogik.

Dalam aspek ekonomi, angka-angka berbicara lirih. Honor yang diterima sering kali tak setara dengan biaya hidup paling dasar.

Ada yang mengajar penuh waktu, tetapi menerima bayaran yang harus dibagi dengan ongkos transportasi, pulsa untuk laporan daring, dan kebutuhan keluarga.

Sebagian memilih mengajar sambil berdagang kecil-kecilanโ€”menjual gorengan sepulang sekolah atau menggarap sawah milik tetangga.

Bukan karena tak cinta profesi, melainkan karena cinta itu perlu disokong beras dan listrik. Keikhlasan, di titik ini, bukan kebajikan romantis; ia adalah strategi bertahan.

Di pedalaman, tantangan bertambah lapis. Madrasah berdiri jauh dari pusat kebijakan, dekat dengan batas kesabaran.

Guru menempuh jarak panjangโ€”kadang berjalan kaki, kadang menumpang kendaraan yang tak selalu datang tepat waktu. Saat hujan, jalan tanah berubah menjadi ujian niat.

Sinyal telepon kerap menghilang, tetapi tuntutan administrasi tetap hadir. Laporan diminta tepat waktu; jaringan tak selalu berpihak. Di sini, profesionalisme sering diuji bukan oleh kurikulum, melainkan oleh cuaca dan jarak.

Fasilitas minim menjadi latar yang tak bisa disangkal. Buku ajar tak selalu cukup; laboratorium adalah kata yang terdengar jauh. Alat peraga dibuat dari kertas bekas, botol plastik, dan kreativitas yang tak pernah tercatat di indikator kinerja.

Guru mengajar sains tanpa mikroskop, matematika tanpa alat ukur memadai, dan literasi digital dengan satu perangkat untuk ramai-ramai.

Namun kelas tetap berjalan. Anak-anak tetap belajar. Seolah ada perjanjian diam: keterbatasan tidak boleh mengalahkan cita-cita.

Minimnya perhatian pemerintah terasa bukan sebagai penolakan terang-terangan, melainkan sebagai senyap yang berkepanjangan.

Program datang dan pergi, sering kali berhenti di pinggir jalan sebelum mencapai madrasah. Data terhimpun, angka dipresentasikan, tetapi kehidupan di ruang kelas jarang disentuh langsung.

Guru honorer madrasah menjalankan kurikulum nasional, menyiapkan murid untuk ujian yang sama, dan membentuk karakter warga negaraโ€”namun pengakuan terhadap perannya kerap terhenti pada ucapan terima kasih.

Ada pula kisah-kisah kecil yang jarang masuk laporan. Seorang guru menggantikan jam rekan yang sakit tanpa tambahan honor, demi memastikan kelas tidak kosong. Yang lain membeli kapur dengan uang sendiri agar pelajaran tak terhenti.

Ada yang menunda membeli sepatu baru untuk anaknya, karena di sekolah ada siswa yang perlu buku tulis. Keputusan-keputusan ini tak heroik; ia hanya sunyi dan berulang.

Paradoksnya, semangat sering tumbuh justru dari rasa โ€œmasih dikejarโ€. Ketidakamanan status membuat sebagian guru honorer bekerja lebih giatโ€”datang lebih pagi, pulang lebih sore, siap memikul tugas tambahan.

Bukan untuk dipuji, melainkan agar madrasah tetap berdiri dan kepercayaan orang tua terjaga.

Namun etos kerja yang lahir dari ketakutan bukan fondasi yang sehat. Pendidikan yang adil seharusnya tumbuh dari rasa aman yang mendorong kualitas, bukan dari kecemasan yang memeras tenaga.

Tulisan ini saya buat tidak bermaksud mengadu profesi atau menuduh pihak tertentu. Tapi ingin mengajak kita berhenti sejenak, menatap ruang kelas yang jarang kita kunjungi, dan mendengar suara yang tak selalu sampai ke meja rapat.

Guru honorer madrasah swasta bukan kekurangan dedikasi; mereka kekurangan dukungan. Mereka bukan minta diistimewakan; mereka meminta dipantaskan.

Pada akhirnya, ukuran kebesaran sebuah bangsa bukan hanya pada tinggi gedung atau tebal laporan, melainkan pada cara ia memperlakukan mereka yang menjaga api pendidikan tetap menyala di tempat paling sunyi.

Jika kita sepakat bahwa mencerdaskan anak bangsa adalah tugas bersama, maka memastikan para penjaganya hidup layak bukan kemurahan hatiโ€”ia adalah keadilan.

Dan keadilan, seperti pelajaran pertama di kelas kecil itu, seharusnya diajarkan lewat praktik, bukan sekadar kata.
*

Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Ketua Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *