Ocit Abdurrosyid Siddiq
โ๐๐ถ๐ณ๐ถ ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฆ๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฅ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฉ ๐ด๐ธ๐ข๐ด๐ต๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ต๐ช ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ณ๐ข๐ฑ๐ช ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ด๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด-๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข: ๐ซ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข๐ฌ๐ถ๐ช, ๐ฌ๐ฆ๐ช๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ถ๐ซ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฉ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ต๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ข๐ญ.โ
Pagi di madrasah sering datang lebih awal daripada matahari. Di sebuah desa yang jalannya belum sepenuhnya ramah roda, seorang guru honorer membuka pintu kelas kayu yang engselnya berdecit pelan.
Ia menyapu lantai berdebu, merapikan bangku yang kakinya tak seimbang, lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis yang kapurnya tinggal serpihan. Di luar, ayam berkokok; di dalam, harapan pelan-pelan disusun.
Begitulah hari-hari dimulaiโtanpa seremoni, tanpa sorot kamera.
Guru honorer madrasah swasta hidup di persimpangan sunyi. Ia honorerโtanpa kepastian. Ia swastaโbergantung pada kas yayasan yang sering sesak. Ia madrasahโsering datang terakhir dalam antre perhatian.
Tiga lapis keadaan itu bukan sekadar label administratif; ia menjelma jadi realitas ekonomi, geografis, dan psikologis yang menuntut ketahanan lebih dari sekadar kompetensi pedagogik.
Dalam aspek ekonomi, angka-angka berbicara lirih. Honor yang diterima sering kali tak setara dengan biaya hidup paling dasar.
Ada yang mengajar penuh waktu, tetapi menerima bayaran yang harus dibagi dengan ongkos transportasi, pulsa untuk laporan daring, dan kebutuhan keluarga.
Sebagian memilih mengajar sambil berdagang kecil-kecilanโmenjual gorengan sepulang sekolah atau menggarap sawah milik tetangga.
Bukan karena tak cinta profesi, melainkan karena cinta itu perlu disokong beras dan listrik. Keikhlasan, di titik ini, bukan kebajikan romantis; ia adalah strategi bertahan.
Di pedalaman, tantangan bertambah lapis. Madrasah berdiri jauh dari pusat kebijakan, dekat dengan batas kesabaran.
Guru menempuh jarak panjangโkadang berjalan kaki, kadang menumpang kendaraan yang tak selalu datang tepat waktu. Saat hujan, jalan tanah berubah menjadi ujian niat.
Sinyal telepon kerap menghilang, tetapi tuntutan administrasi tetap hadir. Laporan diminta tepat waktu; jaringan tak selalu berpihak. Di sini, profesionalisme sering diuji bukan oleh kurikulum, melainkan oleh cuaca dan jarak.
Fasilitas minim menjadi latar yang tak bisa disangkal. Buku ajar tak selalu cukup; laboratorium adalah kata yang terdengar jauh. Alat peraga dibuat dari kertas bekas, botol plastik, dan kreativitas yang tak pernah tercatat di indikator kinerja.
Guru mengajar sains tanpa mikroskop, matematika tanpa alat ukur memadai, dan literasi digital dengan satu perangkat untuk ramai-ramai.
Namun kelas tetap berjalan. Anak-anak tetap belajar. Seolah ada perjanjian diam: keterbatasan tidak boleh mengalahkan cita-cita.
Minimnya perhatian pemerintah terasa bukan sebagai penolakan terang-terangan, melainkan sebagai senyap yang berkepanjangan.
Program datang dan pergi, sering kali berhenti di pinggir jalan sebelum mencapai madrasah. Data terhimpun, angka dipresentasikan, tetapi kehidupan di ruang kelas jarang disentuh langsung.
Guru honorer madrasah menjalankan kurikulum nasional, menyiapkan murid untuk ujian yang sama, dan membentuk karakter warga negaraโnamun pengakuan terhadap perannya kerap terhenti pada ucapan terima kasih.
Ada pula kisah-kisah kecil yang jarang masuk laporan. Seorang guru menggantikan jam rekan yang sakit tanpa tambahan honor, demi memastikan kelas tidak kosong. Yang lain membeli kapur dengan uang sendiri agar pelajaran tak terhenti.
Ada yang menunda membeli sepatu baru untuk anaknya, karena di sekolah ada siswa yang perlu buku tulis. Keputusan-keputusan ini tak heroik; ia hanya sunyi dan berulang.
Paradoksnya, semangat sering tumbuh justru dari rasa โmasih dikejarโ. Ketidakamanan status membuat sebagian guru honorer bekerja lebih giatโdatang lebih pagi, pulang lebih sore, siap memikul tugas tambahan.
Bukan untuk dipuji, melainkan agar madrasah tetap berdiri dan kepercayaan orang tua terjaga.
Namun etos kerja yang lahir dari ketakutan bukan fondasi yang sehat. Pendidikan yang adil seharusnya tumbuh dari rasa aman yang mendorong kualitas, bukan dari kecemasan yang memeras tenaga.
Tulisan ini saya buat tidak bermaksud mengadu profesi atau menuduh pihak tertentu. Tapi ingin mengajak kita berhenti sejenak, menatap ruang kelas yang jarang kita kunjungi, dan mendengar suara yang tak selalu sampai ke meja rapat.
Guru honorer madrasah swasta bukan kekurangan dedikasi; mereka kekurangan dukungan. Mereka bukan minta diistimewakan; mereka meminta dipantaskan.
Pada akhirnya, ukuran kebesaran sebuah bangsa bukan hanya pada tinggi gedung atau tebal laporan, melainkan pada cara ia memperlakukan mereka yang menjaga api pendidikan tetap menyala di tempat paling sunyi.
Jika kita sepakat bahwa mencerdaskan anak bangsa adalah tugas bersama, maka memastikan para penjaganya hidup layak bukan kemurahan hatiโia adalah keadilan.
Dan keadilan, seperti pelajaran pertama di kelas kecil itu, seharusnya diajarkan lewat praktik, bukan sekadar kata.
*
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Ketua Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar



