Oleh: Endang Yusro

Berbicara tentang karakteristik air berarti tentang wujud asli dari air itu sendiri, yaitu cair. Ada tiga wujud air setelah mengalami proses, yaitu: dalam bentuk padat (es), cair (air), dan gas (uap).

Catatan singkat berikut lebih spesifik membahas wujud air dalam bentuk cair sebagai sifat asli daripada air itu sendiri yang kemudian meluap menjadi banjir. Kemudian membahasnya dari perspektif lain (baca, anomali), seperti kajian tentang hikmah jika air itu menjadi besar (banjir).

Sebelum mengurai karakteristik air dalam sudut pandang Islam, penulis terlebih dahulu mengungkapkan sifat air secara ilmiah. Menurut Rucika.co.id air memiliki 2 sifat yaitu fisika dan kimia.

Pertama, karakteristik fisik air yang terdiri atas 3 wujud sebagaimana di atas telah dijelaskan, yaitu berbentuk padat (es), cair (es), dan gas (uap). Kedua, karakteristik kimia (sifat molekuler) terdiri dari, 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen.

Dua karakter ini yang menjadikan air sebagai senyawa kimia yang memiliki sifat unik dan penting bagi kehidupan di bumi.

Karakter air yang bisa menempel pada permukaan lain (adhesi) dan menempel pada sesama molekul air (kohesi) ini memungkinkan terbentuknya kapilaritas, yakni air dapat bergerak melalui celah sempit dan melawan gravitasi, seperti dalam proses penyerapan air oleh akar tanaman.

Hal ini memungkinkan air dapat bergerak lebih cepat terlebih dalam jumlah banyak dan memungkinkan bertemunya aliran air dari berbagai sumber dalam satu lokasi yang menyebabkan banjir.

Sementara berbicara air dalam sudut pandang Islam tidak terlepas bagaimana Al-Qur’an menjelaskan tentang air. Dalam Al-Qur’an, air merupakan sumber kehidupan utama yang diciptakan Allah.

Air menjadi bahan baku penciptaan segala makhluk hidup, simbol kesucian dan rahmat, serta tanda kebesaran-Nya yang mengatur siklus alam seperti hujan dan sungai.

Dalam hal ini Al-Qur’an memandang pentingnya menjaga dan tidak memboroskannya seperti dalam Surah Al-Anbiya’: 30:

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Al-Furqan: 48, yang artinya: “Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih.”

Air juga diperlukan untuk bersuci (wudhu, mandi) sebelum beribadah, ini berarti peran pentingnya dalam ritual keagamaan. Air juga sebagai tanda kebesaran Allah SWT (Ayat Kauniyah).

Siklus air, angin sebagai pembawa kabar gembira (hujan), awan, hujan, sungai, dan laut adalah tanda kekuasaan Allah.

Penyebutan air (al-maa’) dan kata-kata terkaitnya (hujan, sungai, laut, mata air) lebih dari 200 kali menunjukkan betapa pentingnya konsep ini.

Dan yang paling penting, air merupakan simbol dan rahmat. Air sebagai simbol surga, ketakwaan, dan rahmat, seperti gambaran sungai-sungai di surga.

Adanya pengaturan dan pembatasan antara dua lautan (air tawar dan asin) menunjukkan pengaturan Ilahi, sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. al-Rahman: 19-20:

“Dia (Allah) membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) yang keduanya kemudian bertemu.”

Al-Qur’an juga mengajarkan untuk menjaganya agar tidak boros (keharusan konservasi), karena air adalah sumber kehidupan. Bahkan saat berwudhu pun Rasulullah Saw. mencontohkan bagaimana menggunakan air dengan hemat.


Memandang Banjir dengan Hikmah

Pembahasan pada sub ini merupakan cara pandang dari sudut lain (anomali) tentang banjir di kala banyak yang menyebutkan penyebab banjir adalah karena faktor alam seperti curah hujan ekstrem dan faktor manusia seperti membuang sampah sembarangan yang menyumbat sungai, deforestasi, serta pembangunan di daerah resapan air.

Pandangan lain akan banjir sebagai hikmah, bukan musibah. Adanya banjir adalah sebagai pengingat akan kebesaran Allah.

Teguran untuk introspeksi diri (menjauhi maksiat, menjaga alam), ujian keimanan, serta pelajaran tentang pentingnya sabar, solidaritas, dan kembali ke jalan yang benar.

Bencana menunjukkan betapa rapuhnya manusia dan harta, serta pentingnya saling membantu dan bergantung pada Allah.

Banjir sebagai ebagai muhasabah, yakni mengukur ulang arah hidup, menjauhi maksiat, dan mendekat pada Allah.

Dengan banjir mengajak kita memahami hukum alam dan kekuasaan Tuhan untuk lebih memperkokoh keimanan.

Banjir menanamkan kepedulian sosial. Menyadari pentingnya peduli pada sesama yang kesulitan, karena harta duniawi tidak ada artinya saat bencana datang.

Saat melihat banjir mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali) Q.S. Al-Baqarah: 156). Kemudian berdoa memohon pengganti yang lebih baik.

Menutup catatan ini penulis mengajak untuk mengambil pelajaran bahwa merusak alam akan berakibat bencana salah satunya banjir, sehingga kita harus menjaganya.

Sebagaimana pepatah mengatakan, “jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita”. Taatlah (patuhi) perintah Allah, maka Dia akan menjaga kita. Demikian Wallahu a’lam.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *