Oleh: Indra Martha Rusmana
Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Kota Serang
Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan spiritual Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha. Ia adalah tonggak peradaban, sumber nilai, dan fondasi transformasi umat. Dari peristiwa agung inilah lahir perintah shalat, sebuah ibadah yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, dan orientasi hidup seorang Muslim.
Dalam konteks kekinian, Isra Mi’raj menjadi momentum reflektif, terutama bagi pemuda Islam. Sebab sejarah Islam sejak awal sesungguhnya ditopang oleh energi, keberanian, dan kecerdasan kaum muda. Islam tumbuh, berkembang, dan berkemajuan karena ada pemuda yang siap memikul risalah, meski di tengah tantangan zaman yang tidak ringan.
Pemuda dalam Lintasan Sejarah Rasulullah SAW
Jika kita membuka lembaran sejarah Islam, akan tampak jelas bahwa Rasulullah SAW memberi ruang besar kepada pemuda. Ali bin Abi Thalib, misalnya, masih sangat muda ketika dengan penuh keberanian menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidur saat peristiwa hijrah. Keberanian itu bukan keberanian kosong, melainkan keberanian yang lahir dari iman dan kecerdasan spiritual.
Ada pula Mush’ab bin Umair, seorang pemuda Quraisy yang meninggalkan kemewahan demi dakwah. Ia diutus Rasulullah ke Yatsrib untuk menyiapkan masyarakat Madinah sebelum hijrah. Perannya strategis, visinya jauh ke depan, dan keteguhannya menjadi contoh bagaimana pemuda mampu menjadi agen perubahan peradaban.
Belum lagi Usamah bin Zaid, yang pada usia sangat muda dipercaya Rasulullah memimpin pasukan. Ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal menanamkan kepercayaan kepada pemuda, bukan sekadar sebagai pelengkap, tetapi sebagai aktor utama pembangunan umat.
Isra Mi’raj dan Spirit Transformasi
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kemajuan tidak lahir dari stagnasi. Rasulullah diperjalankan melintasi ruang dan dimensi, seakan menegaskan bahwa umat Islam harus memiliki keberanian melampaui batas-batas lama, baik dalam berpikir, bersikap, maupun bertindak. Perintah shalat yang turun dalam peristiwa ini mengandung pesan disiplin, keteraturan, dan kesadaran akan waktu, nilai-nilai fundamental bagi lahirnya peradaban maju.
Bagi pemuda, shalat bukan hanya ritual, tetapi pusat pembentukan karakter. Shalat menumbuhkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Dari shalat yang benar, lahir etos kerja, semangat belajar, dan keberanian mengambil peran strategis di tengah masyarakat.
Pemuda dan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah sejak kelahirannya memaknai Islam sebagai agama yang berkemajuan. Islam yang mendorong umatnya untuk berpikir rasional, bertindak solutif, dan berkontribusi nyata bagi kemanusiaan. Dalam kerangka ini, pemuda adalah lokomotif perubahan.
Islam Berkemajuan menuntut pemuda untuk tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi menjadikan sejarah sebagai inspirasi untuk menjawab tantangan masa depan. Pemuda Muslim hari ini harus hadir sebagai pribadi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Menguasai teknologi, aktif dalam literasi, dan peka terhadap persoalan sosial, tanpa kehilangan kompas spiritualnya.
Isra Mi’raj memberi pesan bahwa kedalaman spiritual harus berjalan seiring dengan keluasan intelektual dan keberpihakan sosial. Inilah ruh Islam Berkemajuan yang terus diperjuangkan Muhammadiyah: iman yang mencerahkan, ilmu yang membebaskan, dan amal yang memajukan.
Penutup
Isra Mi’raj adalah panggilan peradaban. Ia mengajak umat Islam, khususnya pemuda, untuk bangkit, bergerak, dan mengambil peran. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari tangan-tangan muda yang beriman, berilmu, dan berani.
Di tangan pemuda yang meneladani spirit Isra Mi’raj dan nilai Islam Berkemajuan, masa depan umat dan bangsa akan ditulis dengan tinta optimisme dan kerja nyata. Sebab pemuda bukan sekadar harapan, melainkan penentu arah zaman.
Wallahu a’lam bish-shawab.


