Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten

Di bawah langit Binuangeun yang mulai menjingga, saya duduk di sebuah balai bambu yang menghadap langsung ke arah debur ombak. Angin laut membawa aroma garam yang pekat, menusuk ingatan tentang lembar-lembar kitab Aqidah Filsafat yang dulu kami lahap dengan penuh gairah di ruang-ruang kelas yang pengap. Saat itu, kami bicara tentang insan kamil, tentang izzah (kemuliaan diri), dan tentang manusia sebagai subjek otonom di hadapan semesta.

Namun kini, di pertengahan Ramadhan yang seharusnya menjadi puncak kemenangan ruhani, saya justru melihat sebuah ironi yang menyesakkan dada: Lahirnya kaum proletar mental di tengah kemapanan material.

Ramadhan dan lebaran, dalam memori masa kecil kita, adalah tentang kesucian. Namun kini, ia seolah bertransformasi menjadi panggung perburuan massal. Bukan hanya oleh mereka yang benar-benar dhuafa, melainkan oleh tangan-tangan yang sebenarnya sudah cukup menggenggam dunia.

Fenomena “Tunjangan Hari Raya” atau sekadar bingkisan sarung merek ternama telah bermutasi menjadi candu yang merusak tatanan ontologis manusia.

Saya melihatnya di koridor-koridor kantor yang mentereng, di balik seragam dinas yang rapi, hingga di grup-grup percakapan organisasi yang katanya berjuang demi rakyat. Ada kegelisahan yang ganjil jika parsel belum tiba. Ada bisik-bisik yang merendahkan martabat tentang siapa yang memberi lebih banyak.

Di titik inilah, saya merasa kita sedang menyaksikan “Atrofi Jiwa”. Kelas menengah kita, yang secara ekonomi masuk kategori mampu, justru secara sukarela memposisikan diri sebagai “tangan di bawah”.

Secara filosofis, ini adalah sebuah bunuh diri eksistensial. Ketika seseorang yang mampu justru berharap pada pemberian, ia sedang menanggalkan statusnya sebagai khalifah—sang pengelola dan pemberi manfaat—dan memilih menjadi objek yang dikasihani.

Ia menukar kedaulatan jiwanya dengan sekilo gula atau selembar kain yang sebenarnya bisa ia beli sendiri tanpa harus merunduk-runduk. Inilah korupsi mental yang paling halus; sebuah pengkhianatan terhadap konsep istighna (kekayaan hati).

Kita sering menggunakan dalil tentang zakat dan sedekah sebagai tameng. Padahal, dalil itu ditujukan untuk mengetuk pintu langit di hati si kaya agar ia tidak menjadi berhala bagi hartanya, bukan sebagai “surat izin” bagi si mampu untuk melegalkan mentalitas pengemis.

Meminta—atau berharap mendapatkan—pemberian saat kita memiliki daya untuk memberi adalah sebuah bentuk alienasi diri. Kita terasing dari hakikat kemanusiaan kita yang seharusnya memancar, bukan sekadar menampung.

Laut tak pernah meminta air pada sungai agar ia tetap luas. Ia justru menguapkan dirinya ke langit, menjadi hujan yang menghidupkan daratan. Maka, di pertengahan Ramadhan ini, sudah saatnya kita melakukan tazkiyatun nafs yang radikal. Menyeka cermin hati dari debu-debu mentalitas parasit yang membuat kita merasa “kurang” di tengah kecukupan.

Kemenangan sejati di bulan Ramadhan dan hari raya bukanlah tentang seberapa tebal amplop yang masuk ke saku kita, melainkan seberapa tangguh kita berdiri di atas kaki sendiri sebagai hamba yang merdeka. Biarlah mereka yang benar-benar tak berdaya yang menerima haknya, dan biarlah kita—kaum terdidik—kembali pada jati diri sebagai sumber rahmat.

Di hadapan Sang Wajib al-Wujud, nilai seorang manusia tidak diukur dari apa yang ia tumpuk dalam kardus-kardus bingkisan, melainkan dari seberapa besar keberadaannya mampu menjadi jawaban bagi doa-doa orang lain. Wallahualam.


Binuangeun, Rabu, 14 Ramadhan 1447 H

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *