Penguatan Tradisi Pesantren di Kota Santri Pandeglang yang Penuh Asa dan Lebih Moderat
Oleh :
UIS (Uung Ibnu Shobari)
✓ Ketua Koperasi Syariah MUI Pandeglang
✓ Khaadimul Madeenah
Di tengah hiruk pikuk dinamika ummat, Allah ﷻ kembali menitipkan amanah besar kepada salah satu putra terbaik Pandeglang.
K.H. Tb. Uuf Zaki Gufron Ma’ani kini dipercaya menjadi Nahkoda baru MUI Kota Santri Pandeglang.
Beliau adalah sosok yang nampak sangat tawadhu’ di sela-sela kesibukannya menahkodai MALNU PUSAT, JATMAN Provinsi Banten, dan seabrek amanah lainnya. Tapi jika saatnya tiba di mimbar ilmu, karakter kelembutannya berubah. Abah Kyai Uuf menjelma menjadi “singa podium” dengan kepiawaian ilmu keagamaannya. Tafaqquh fiddeen yang nyata.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama”
QS. Fathir (35): 28
Rasa takut dan ilmu inilah yang Insya Allah menjadi kompas beliau dalam memimpin.
Selama 5 tahun terakhir beliau juga telah teruji di MUI sebagai Ketua Komisi Pendidikan dan Dakwah. Ladang khidmat yang mengasah cara berfikir moderat, mendidik, dan mencerahkan.
ESTAFET DARAH DAN ADAB KEPEMIMPINAN
Beliau jelas banyak belajar dari kakak biologisnya:
Almaghfurlah K.H. Hamdi Ma’ani. Sosok yang pernah memimpin MUI Pandeglang, lalu melanjutkan khidmat sebagai Ketum MUI Provinsi Banten.
Sebuah perjalanan yang puncaknya luar biasa: wafat dan dimakamkan di Maqbaroh Ma’la Makkah Al-Mukarromah. Di tempat yang sama dengan keluarga Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Husnul khotimah yang menjadi do’a kita semua.
Kini, estafet darah leadership itu melebur. Amanah itu turun kepada adiknya. Darah yang sama, guru yang sama, wasiat yang sama: Khidmatul Ummah.
Dan perlu digarisbawahi:
Estafet ini bukan KKN dalam arti umum. Melainkan estafet berdasarkan Kualitas, Kapasitas, dan NKRI. Karena yang dicari ummat bukan nasab kosong, tapi ilmu, adab, dan pengabdian yang nyata.
Tanda kesyukuran atas terselenggaranya Musyawarah Daerah XI MUI Pandeglang Kamis, 4 September 2026 (21 Rabiul Awwal 1448) ini dihantarkan oleh sistem sidang Tim Formatur yang sangat objektif. 13 personil yang terdiri dari: 3 KSB Demisioner, 3 Ormas Besar di Pandeglang [MA, NU & MD], 2 Unsur Forum Pesantren [FSPP dan RMI], 4 Delegasi Kecamatan, 1 Dewan Pertimbangan, Plus Unsur MUI Provinsi Banten sebagai Pendamping.
Semua bermusyawarah atas dasar pedoman organisasi yang sehat, berdaulat, dan mufakat. Inilah demokrasi ala pesantren.
ESTAFET KEPEMIMPINAN ORGANIK
Kolumnis sangat faham. Tulisan ini bukan hiperbola.
Jika kita buka lembaran sejarah MUI Pandeglang, kita akan melihat polanya jelas:
Estafet itu rapi. Dari dipiloti oleh kakak kandungnya, dilanjutkan oleh alim wakilnya K.H. Yusuf Zamzami Al-Barbasy selaku Ketum Demisioner 2026, hingga kini sampai ke Abah Kyai Uuf.
Para sepuh yang alim ini adalah bukti. Bahwa estafet kepemimpinan di MUI Pandeglang sangat sehat. Dimenej oleh para pemangku jabatan yang Insya Allah profesional, akademisi, cendekiawan, dan tentu dengan kearifan serta kealiman para pinisepuh Kota Santri.
KIPRAH DAN HARAPAN: PANDEGLANG LEBIH BAROKAH
Di pundak Abah Kyai Uuf kini ada visi besar untuk 5 tahun ke depan:
Menjadikan ruang MUI jauh dari muatan politik apapun, dengan tetap menjadi wadah mitra strategis Pemerintah yang berdaulat.
Sebuah kompas yang jernih. Agar MUI kembali fokus pada tugas kenabian: rahmatan lil ‘alamin.
Sebagaimana Allah ﷻ berfirman:
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”
QS. Al-Anbiya (21): 107
Agar MUI kembali fokus pada 3 hal:
- Menguatkan Tradisi Pesantren : Menjadikan fatwa dan tausiyah MUI berakar pada tradisi salaf, tapi bahasa dan geraknya moderat, sejuk, dan merangkul.
- Menjaga Wasathiyah : Menjadi penengah ummat. Menjauhkan Pandeglang dari perpecahan, mendekatkan pada ukhuwah.
- Menghidupkan Ekonomi Umat : Dari hulu pesantren sampai hilir koperasi syariah. Agar dakwah tidak hanya bicara akhirat, tapi juga mensejahterakan dunia.
Kami semua berharap dan terus bermunajat agar di tubuh MUI Pandeglang penuh dengan do’a. Semoga Allah ﷻ berikan Abah Kyai Uuf kekuatan, kesehatan, keluasan ilmu, dan keistiqamahan.
Karena kami yakin: Yang menanam hari ini, akan dipanen anak cucu 100 tahun kemudian.
Wallaahu A’lamu Bissowwab
Allaahul Musta’aan Wahdinasshiraathal Mustaqeem(oenkmms48)



