Ocit Abdurrosyid Siddiq
Di balik kemegahan gedung-gedung pemerintahan dan riuh rendah pidato kenegaraan, terdapat sebuah realitas kelam yang menggerogoti sendi-sendi bangsa ini. Kita seolah sedang menyaksikan sebuah pertunjukan kolosal, sebuah teater tragedi di mana naskah utamanya adalah tentang ambisi yang tak terkendali. Segalanya bermula ketika aturan main yang semestinya menjadi pondasi kokoh kehidupan bernegara, kini diterjang paksa demi memuluskan jalan bagi segelintir orang.
Regulasi tidak lagi sakral; ia ditekuk, dipelintir, dan dimanipulasi hanya untuk membuka gerbang bagi pelanggengan kekuasaan. Akibatnya, hukum yang tersisa hanyalah kerangka rapuh yang penuh luka, tak lagi mampu menjadi payung pelindung bagi keadilan, melainkan menjadi alat pukul bagi mereka yang memegang kendali.
Tragedi ini semakin memilu ketika kita menengok para penjaga gawang demokrasi. Mereka yang disumpah di bawah kitab suci untuk menjaga kemurnian suara rakyat, kini seolah lupa akan ikrar tersebut. Integritas telah tergadai; mereka melacurkan harga diri institusi demi tumpukan pangan dan kenyamanan pribadi.
Wasit demokrasi yang seharusnya berdiri di titik paling netral dan suci, justru berkhianat secara terang-terangan. Nurani mereka telah terkunci rapat, membiarkan kecurangan berlenggang bebas di depan mata tanpa rasa malu.
Di sisi lain, para wakil yang kita beri mandat untuk duduk di kursi parlemen pun setali tiga uang. Mereka lupa bahwa kursi empuk itu adalah amanat dari keringat rakyat. Yang dikejar hanyalah kekuasaan yang menyesatkan, sebuah obsesi buta tanpa arah yang jelas.
Rasa bela rasa terhadap kaum papa -mereka yang hidup di garis kemiskinan dan ketidakpastian- telah lama menguap. Janji-janji manis yang diteriakkan lantang saat masa kampanye lenyap tak berbekas begitu kursi kekuasaan diduduki, meninggalkan konstituen dalam kehampaan harapan.
Keadaan ini diperparah oleh perilaku para pejabat tinggi yang sibuk memperkaya diri sendiri. Jabatan publik bukan lagi dianggap sebagai sarana pengabdian, melainkan ladang basah untuk mengeruk keuntungan bagi keluarga dan kelompok tercinta. Nepotisme dan kolusi tumbuh subur, sementara rakyat di akar rumput menjerit dalam ketimpangan sosial yang kian menganga.
Tak cukup hanya menjarah anggaran, keserakahan ini meluas hingga ke alam raya. Bumi pertiwi digali tanpa belas kasihan, sumber daya alam dieksploitasi habis-habisan demi pundi-pundi emas. Hutan yang gundul pun menangis, mengirimkan bencana alam sebagai teguran keras yang pada akhirnya kembali menyengsarakan kita dalam nasib yang kelam.
Korupsi telah bermetamorfosis menjadi wabah gila yang menjalar dari pusat kekuasaan di ibu kota hingga ke dana-dana desa di pelosok negeri. Para “maling berdasi” ini tertawa bergerombol, merasa aman karena tahu bahwa hukum di negeri ini tumpul ke atas. Keadilan telah jebol, tak mampu menahan derasnya arus keserakahan. Di tengah kekacauan ini, pemerintah meluncurkan program-program populis yang terdengar manis namun seringkali tak tepat sasaran.
Kebijakan tersebut hanyalah pencitraan di lembar koran dan media sosial, sementara para petinggi negara sibuk saling silang sengketa. Perbedaan suara dan intrik politik di kalangan elit hanya membuat rakyat semakin bingung membaca berita, tak tahu mana kebenaran dan mana kepalsuan.
Dalam panggung sandiwara yang tak bertepi ini, posisi kita sebagai rakyat sungguh menyedihkan. Kita hanyalah penonton sepi yang eksistensinya baru diakui dan dibutuhkan setiap lima tahun sekali. Di luar bilik suara, nasib kita tak ubahnya debu. Lebih tragis lagi, suara kita -hak paling berharga dalam demokrasi- dihargai begitu murah.
Martabat bangsa ini runtuh hanya karena bujukan amplop berisi uang seratus ribuan dan paket sembako yang hanya cukup untuk mengisi perut beberapa hari. Harga diri kita hancur, ditukar dengan kenikmatan sesaat, tanpa menyadari bahwa setelah transaksi hina itu selesai, kita akan kembali ditinggal melarat selama bertahun-tahun ke depan.
Namun, jika kita mau jujur bercermin, semua kekacauan ini bukanlah kesalahan sepihak para penguasa. Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan: kondisi bangsa yang carut-marut ini adalah ulah kita semua. Pemerintah dan rakyat sama-sama telah “tua” dan lelah, terjebak dalam mentalitas yang rusak.
Kita harus berani mengakui bahwa yang memilih dan yang dipilih memiliki kualitas moral yang setara rusaknya. Penyelenggara negara serakah akan kekuasaan, sementara rakyat peserta pemilu serakah akan uang suap jangka pendek.
Ada simbiosis mutualisme yang toksik di sini. Kita mengeluh tentang pemimpin yang korup, namun di saat yang sama kita menadahkan tangan menerima “serangan fajar”. Kita memaki hukum yang tumpul, namun kita sendiri sering mencari jalan belakang saat berurusan dengan birokrasi.
Inilah akar masalah mengapa negara ini tak pernah benar-benar maju. Langkah kita kaku dan berat, sulit untuk bisa sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Kita terjebak dalam sebuah lingkaran setan yang kita ciptakan sendiri; sebuah siklus di mana keburukan pemimpin lahir dari ketidakpedulian rakyat, dan penderitaan rakyat dilanggengkan oleh keburukan pemimpin.
Selama kita tidak memutus mata rantai keserakahan dan mentalitas transaksional ini, mimpi tentang kejayaan bangsa hanyalah sebuah ilusi. Kita akan terus berjalan di tempat, menari di atas panggung sandiwara yang skenarionya tidak pernah berubah, menuju masa depan yang statis dan penuh ketidakpastian.
Aturan main kini diterjang paksa
Demi ambisi merebut kursi kuasa
Regulasi ditekuk agar jalan terbuka
Menyisakan hukum yang penuh dengan luka
Penjaga suara lupa sumpah di tangan
Melacurkan diri demi tumpukan pangan
Wasit demokrasi yang harusnya suci
Kini berkhianat nurani pun dikunci
Wakil kita duduk lupa amanat rakyat
Hanya kekuasaan yang dikejar sesat
Tak ada bela rasa pada kaum papa
Janji kampanye hilang entah ke mana
Pejabat tinggi sibuk menumpuk harta
Untuk keluarga dan kelompok tercinta
Jabatan dipakai mengeruk keuntungan
Rakyat menjerit dalam ketimpangan
Bumi digali tanpa rasa belas kasihan
Alam dieksploitasi habis-habisan
Hutan menangis datanglah bencana alam
Meninggalkan kita di nasib yang kelam
Korupsi merajalela bagai wabah gila
Dari pusat kota hingga dana di desa
Maling berdasi tertawa bergerombol
Hukum tumpul keadilan pun jebol
Program manis populis namun tak sasaran
Hanya pencitraan di lembar koran
Petinggi negara saling silang sengketa
Beda suara membuat bingung berita
Kita rakyat hanya jadi penonton sepi
Di panggung sandiwara yang tak bertepi
Hanya dibutuhkan lima tahun sekali
Suara kita murah gampang dibeli
Cukup dibujuk amplop seratus ribuan
Ditambah sembako pengisi perut tuan
Harga diri hancur ditukar sesaat
Habis itu kita ditinggal melarat
Namun sadarlah ini ulah kita semua
Pemerintah dan rakyat sama-sama tua
Yang memilih dan dipilih sama rusaknya
Penyelenggara dan peserta sama serakahnya
Inilah sebab negara tak pernah maju
Sulit sejajar langkah kita kaku
Kita terjebak dalam lingkaran setan
Mimpi kejayaan hanyalah buatan
*
Tangerang, Sabtu, 27 Desember 2025
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Wakil Ketua Umum Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar
*





