Ocit Abdurrosyid Siddiq
Sejarah peradaban manusia sering kali mencatat masa-masa kelam, sebuah periode di mana “lembah” kehidupan terasa begitu gelap dan mencekam. Dalam narasi klasik kemanusiaan, kita mengenal masa-masa di mana nurani seolah terbenam di dasar lautan nafsu. Kala itu, akal sehat tak lagi menjadi panglima; ia mati suri, digantikan oleh keinginan-keinginan purba yang liar.
Kita menyaksikan bagaimana kezaliman bukan lagi sesuatu yang ditakuti, melainkan menjadi tontonan sehari-hari, bahkan dirayakan. Aib dan noda yang semestinya disembunyikan justru dipajang sebagai hiasan kebanggaan. Di titik nadir itulah, langit seolah menangis menyaksikan bumi yang gersang, menanti setitik embun kasih sayang untuk membasuh luka peradaban.
Dalam kegelapan itulah, mekanisme Ilahi biasanya bekerja melalui kedatangan sosok-sosok istimewa. Mereka hadir membelah gulita, membawa pelita di tengah kebutaan moral. Seruan mereka lantang namun menyejukkan, mengajak manusia untuk “pulang” kepada esensi kemanusiaan dan ketuhanan. Mereka bertugas membasuh debu dosa dan menghapus arang noda, menyerukan agar manusia kembali pada Yang Esa demi kedamaian jiwa dan raga.
Inilah pola yang kita kenal; ada kerusakan, lalu datang utusan untuk memperbaikinya. Namun, narasi ini sering kali menyisakan sebuah pertanyaan besar yang menggantung di udara, sebuah bisikan gelisah yang datang dari balik rimba raya dan pulau-pulau sunyi.
Pertanyaan itu sederhana namun menohok jantung teologi kita; Bagaimana dengan mereka yang jauh di sana? Bagaimana nasib manusia-manusia yang hidup terisolasi di pedalaman, yang terpisah oleh samudra luas dan hutan belantara, yang tak pernah tersentuh oleh kaki para nabi yang tertulis dalam kitab suci? Apakah Tuhan lupa menyapa mereka?
Jika surga hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengenal nama Tuhan dalam bahasa tertentu, alangkah tidak adilnya semesta ini. Apakah sebuah dosa jika mereka tidak mengenal nama Tuhan versi kita, padahal warta tentang-Nya tak pernah sampai ke telinga mereka? Kegelisahan ini seolah menggugat keadilan langit.
Namun, jika kita mau menajamkan mata batin, kita akan menyadari bahwa Tuhan itu Maha Bicara dan Maha Menyapa. Dia tidak dibatasi oleh sekat geografis, tidak terkungkung oleh satu jenis jubah, dan tidak terpaku pada satu rupa tradisi. Sang Pencipta hadir di setiap jengkal ciptaan-Nya. Bagi mereka yang hidup di pedalaman, Tuhan hadir melalui “wisik” atau bisikan leluhur yang bijak.
Dia hadir dalam hukum alam yang mengatur kapan hujan turun dan kapan musim berganti. Bahasa Tuhan bagi mereka bukanlah bahasa kitab yang rumit, melainkan bahasa yang menyatu dengan lidah ibunda, yang mewujud dalam adat istiadat, dan merasuk ke dalam budaya luhur mereka.
Bagi masyarakat yang tak terjangkau kitab suci, “nabi” mereka mungkin tidak membawa tongkat mukjizat, melainkan hadir dalam wujud tetua adat yang santun, atau bahkan berupa suara hati nurani yang jernih menuntun mereka menjaga keseimbangan alam. Di sinilah kita harus memahami sebuah metafora penting; Kebenaran itu ibarat air. Air bersifat suci dan menghidupkan, namun wadahnya bisa berbeda-beda.
Di satu tempat air itu ditampung dalam gelas kaca, di tempat lain dalam cawan emas, dan di pedalaman sana, air itu mungkin ditampung dalam tempurung kelapa atau daun pisang. Bentuk wadahnya berbeda, warnanya tak sama, namun esensi air di dalamnya tetaplah sama, menghapus dahaga spiritual.
Tak pernah ada warta resmi yang mengabarkan bahwa Tuhan mengutus “nabi” di tengah masyarakat suku Aborigin di pedalaman benua Australia. Atau “rosul” yang diturunkan di tengah suku Apache di Arizona dan New Mexico, atau suku Cherokee di North Carolina. Bahkan setelahnya -setelah nabi “resmi” diutus Tuhan di tempat lain yang jaraknya jauh dan beda benua- tak pernah datang ke mereka orang yang diyakini sebagai pembawa cahaya.
Orang dimaksud, yang dianggap sebagai penerus estafeta ajaran nabi berupa para tokoh penyebar agama. Tak ada “para wali”, para warosatul anbiya, dan para pendakwah, yang memberikan dan menyampaikan pesan bahwa “inilah jalan yang benar bagi kalian sebagai petunjuk hidup, baik di dunia saat ini, atau di akhirat kelak”. Karena tiadanya cahaya petunjuk ke mereka, lalu kita menilainya sesat dan tidak selamat, serta tidak akan mencium aroma surga kelak?
Sayangnya, ego keagamaan sering membuat kita terjebak dalam kesalahan fatal; kita sering “menakar baju orang lain dengan ukuran badan sendiri.” Kita memaksa orang lain mengenakan cara beragama kita, padahal kondisi sosiologis dan budaya mereka jauh berbeda. Kita merasa baju kitalah yang paling pas, dan baju orang lain adalah sesat.
Padahal, sinar iman itu datang merata ke seluruh muka bumi, hanya saja wujud pantulannya yang tak selalu terbaca oleh mata awam kita. Di kota besar nabi bersabda melalui mimbar, namun di rimba raya alamlah yang berkata-kata. Tujuannya tetap satu muara, menjaga harmoni semesta agar tidak rusak oleh tangan manusia.
Oleh karena itu, sudah semestinya kita berhenti saling meniadakan dan berhenti saling menyalahkan. Tiap kaum memiliki cara unik yang dianugerahkan Tuhan untuk mengingat-Nya. Hormatilah jalan setapak yang mereka lalui, meski jalan itu sunyi dan berliku, berbeda dengan jalan tol yang kita tapaki.
Sebab pada akhirnya, di ujung perjalanan panjang ini, hanya ada satu cahaya yang dicari. Kita semua hanyalah tamu di bumi ini, pengembara yang sama-sama mencari damai dalam misteri Ilahi yang tak bertepi. Wallahualam.
Di lembah kelam nurani terbenam
Kala nafsu menjadi raja akal pun padam
Kezaliman jadi tontonan aib jadi hiasan
Manusia lupa jalan tersesat tanpa tujuan
Langit menangis melihat bumi yang gersang
Menanti setitik embun kasih sayang
Lalu hadir sosok membelah gulita
Membawa pelita di tengah buta
Seruan lantang mengajak pulang
Membasuh debu menghapus arang
“Kembalilah,” katanya, “pada Yang Esa”
Agar damai menyentuh jiwa dan raga
Namun angin berbisik dari balik rimba
Bagaimana mereka yang jauh di sana
Yang terisolasi di pulau sunyi
Tak tersentuh nabi tak dengar janji suci
Adakah Tuhan lupa menyapa mereka
Hingga surga terasa tak adil membagi rasa
Apakah dosa bila tak kenal nama-Nya
Padahal warta tak pernah sampai ke telinga
Ternyata Tuhan Maha Bicara, Maha Menyapa
Tak terpaku pada satu jubah satu rupa
Dia hadir dalam wisik leluhur yang bijak
Dalam hukum alam di mana kaki memijak
Bahasa Tuhan menyatu dengan lidah ibunda
Mewujud dalam adat merasuk dalam budaya
Nabi bagi mereka mungkin tetua yang santun
Atau suara hati yang menuntun
Kebenaran itu air wadahnya berbeda-beda
Jangan kau cela hanya karena tak sama warna
Kita sering menakar baju orang lain
Dengan ukuran badan kita sendiri yang tak mungkin
Sinar iman itu datang merata
Hanya wujudnya yang tak selalu terbaca mata
Di kota nabi bersabda, di rimba alam berkata
Tujuannya satu menjaga harmoni semesta
Jangan saling meniadakan jangan saling menyalahkan
Sebab tiap kaum punya cara Tuhan mengingatkan
Hormatilah jalan setapak yang mereka lalui
Karena di ujung sana satu cahaya yang dicari
Kita semua tamu di bumi ini
Mencari damai dalam misteri Ilahi
*
Tangerang, Minggu, 28 Desember 2025
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Wakil Ketua Umum Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar, Alumni Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung





