Oleh: Endang Yusro
(Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang dan Pengurus ICMI Orwil Banten)

“Alasan saya masuk Muhammadiyah karena sesuai alam pikiran, yaitu Islam Progresif, Islam Berkemajuan.”
(Ir. Soekarno)

Membincang Bung Karno dengan pemikirannya tidak bisa dipisahkan baik dengan kebangsaan maupun keumatan. Beberapa kebijakan yang hingga kini tetap lestari adalah buah dari pemikiran tersebut. Banyak gedung dan monumen bersejarah yang masih kokoh berdiri menjadi bukti peradaban pemikiran sosok Proklamator RI. Hal ini menunjukkan apa yang digagas, apa yang diharapkan dari Putra Sang Fajar, begitu banyak kalangan menyebutnya semata-mata untuk kepentingan Bangsa dan Umat.

Tentang pemikirannya yang ditujukan demi kepentingan bangsa dan agama, bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan yang banyak dilakukan para tokoh di era reformasi ini orang bijak mengatakan, jika pemikiran dibangun oleh kepentingan pribadi atau golongan, maka hasilnya tidak akan langgeng. Rupanya selain takdir Bangsa, rakyat Indonesia juga tidak salah mendaulatnya sebagai Presiden Pertama RI. Pemikirannya selaras dengan pemikiran Bangsa Indonesia saat itu, Penyambung Lidah Rakyat pun tersemat pada sosok Pahlawan Nasional yang satu ini. Kiprahnya sebagai tokoh bangsa sebagai penyampai aspirasi suara rakyat.

Salah satu produk pemikiran Soekarno yang hingga kini menjadi pedoman hidup Bangsa Indonesia adalah Pancasila. Pemikirannya yang mengejawantah menjadi prinsip dasar negara ini diusulkan dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 menjelang Proklamasi Kemerdekaan pada sidang BPUPKI. Dalam usulan tersebut memuat lima prinsip, di antaranya: Kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan yang maha esa.

Selain itu, pemikiran Ir. Soekarno sebagaimana dilansir Pusat Studi Pancasila UGM menawarkan dua alternatif lain, yakni trisila dan ekasila. Kedua pilihan tersebut merupakan ringkasan dari lima sila yang diusulkan di atas untuk mengisi kemungkinan jika ada pihak dalam forum BPUPKI yang menginginkan dasar negara dalam jumlah bilangan lain, selain lima.

Sementara mengenai pemikiran tokoh pendiri Nusantara ini pada acara Penutupan Tanwir I Pemuda Muhammadiyah di Hotel Narita Tangerang, Rabu (30/11/2016), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan bahwa dalam banyak hal antara Muhammadiyah dan Soekarno memiliki banyak kesamaan dalam memaknai Islam yang mencerahkan dan tidak jumud. “Soekarno berujar, dan dari Muhammadiyah saya memperoleh inspirasi Islam berkemajuan.”

Pemikiran Soekarno tentang Islam yaitu, menekankan pada rasionalitas yang dapat dibuktikan dengan salah satu pernyataannya bahwa penggerak yang sebenarnya dari semua rethinking of Islam adalah kembalinya penghargaan terhadap akal. Soekarno menegaskan perlu difungsikannya akal agar umat Islam mampu bangkit dari keterlelapan. Pandangannya yang kompleks tentang Islam, yang percaya bahwa Islam dapat menjadi kekuatan positif dalam masyarakat, namun juga khawatir tentang potensi fanatisme dan eksklusivisme, yang kemudian melahirkan Pancasila ini mendapat kontroversi dan kritik.

Kontroversi dan kritik terhadap Pancasila sebagai ideologi negara, yang menimbulkan perdebatan di kalangan muslim yang menginginkan negara berbasis Islam. Kemudian kebijakannya terhadap Islam yang kompleks, yaitu berusaha untuk menyeimbangkan antara kepentingan muslim dan kelompok lainnya. Di masa sekarang ini kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), yang juga mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Profesor Yudian Wahyudi dalam Detik.com, menyinggung adanya pernyataan yang kontroversi karena ulah media yang tidak bertanggung jawab, yang memotong pernyataannya saat wawancara dengan jurnalis detik.com.

Adapun pernyataan yang dipotong menurutnya adalah, “Agama menjadi musuh besar Pancasila”. Ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap pemikiran masyarakat luas. Orang-orang yang salah paham dengan pemenggalan kalimat tersebut tentu cenderung mudah tersulut emosinya. Jika kita kaji mendalam terkait sejarah lahirnya gagasan Pancasila, Agama merupakan aspek paling dasar dalam kajian Soekarno. Pancasila tak akan lahir tanpa pendalaman yang fundamental (untuk tidak menyebut radikal) tentang syariat agama, utamanya agama Islam.

Bahkan ide 5 dasar ideologi bangsa berawal dari perenungan Soekarno di tempat pengasingannya di kepulauan Ende, Nusa Tenggara Timur ini tak jauh dari peran serta para tokoh agama. Seperti para tokoh agama yang berperan dalam menentukan dasar negara pada sidang BPUPKI.

Pemikiran Bung Karno tentang Islam Berkemajuan

Penggalan pernyataan Ir Soekarno pada awal catatan di atas yaitu, “Alasan masuk Muhammadiyah karena sesuai alam pikiran saya, yaitu Islam Progresif, Islam Berkemajuan.” sengaja penulis ambil dari pernyataan yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terpilih 2022-2027 Haedar Nashir pada
saat acara Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Solo, Jawa Tengah, Minggu, 20 November 2022 untuk membuka sub judul catatan ini.

Peradaban Islam sebagaimana tertera pada sub judul di atas, penulis maksudkan sebagai Islam Berkemajuan. Hal ini merujuk pada Tesaurus Bahasa Indonesia tentang sinonim kata berkemajuan, yaitu beradab, beradat, berakhlak, berbahasa, berbudaya. Sejalan dengan ini Islam Berkemajuan memiliki beberapa karakter utama, yaitu: 1) Berlandaskan tauhid; 2) Bersumber pada Al-Qur’an dan as-Sunnah; 3) Mengembangkan Ijtihad dan Tajdid, 4) Mengembangkan wasathiyah; Dan 5), Mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Cara dakwah dan pandangan Kiai Dahlan yang terbuka dan melampaui zamannya ketika itu yang sejalan dengan pemikiran Soekarno muda menjadikan kedekatannya dengan Muhammadiyah. Soekarno semakin jatuh hati kepada Muhammadiyah, terlepas adanya pro-kontra di kemudian hari. Namun yang jelas, dakwah sang Pencerah sebutan untuk Kiai Ahmad Dahlan mempengaruhi pemikiran Soekarno muda terhadap Islam dan demokrasi.

Soekarno berpendapat bahwa Islam adalah kemajuan itu sendiri. Hal ini menunjukkan Soekarno memegang prinsip kemajuan peradaban umat manusia bukan saja sesuai dengan Islam, tetapi lebih jauh lagi bahwa Islam itu sendiri berarti kemajuan. Kemudian pada tulisan berjudul “Memudakan Pengertian Islam,” yang merupakan tanggapan atas tulisan Kiai Haji Mas Mansur di majalah Adil berjudul “Memperkatakan Gerakan Pemuda.”

Soekarno menanggapi K.H. Mas Mansur dengan menyampaikan pandangan-pandangan yang sangat asli tentang reinterpretasi pemahaman keagamaan dalam Islam. Soekarno menyampaikan hal yang senada dengan pandangan-pandangan Muhammad Iqbal (1877-1938) dari Pakistan yang dituliskan dalam buku the Reconstruction of Religious Thought in Islam. Dalam tanggapannya, Soekarno mengatakan bahwa Islam itu terdiri dari dua hal, Roh dan wujud (manifestasi).

Ini dapat dianalogikan sebagai “Api Islam” untuk menyebut dimensi rohani dari Islam itu. Sebagai roh atau api, Islam bersifat universal. Ia adalah shalih li kulli zaman wa makan, sesuai waktu dan tempat. Namun, sebagai manifestasi, Islam terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini, api Islam diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda berdasarkan konteks ruang dan waktu.

Dalam beberapa pidatonya, Ir. Soekarno menyatakan ketertarikannya kepada Muhammadiyah karena Ormas ini mengusung al-tajdid (pembaharu) sebagai prinsip dasar dalam menjalankan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Tajdid yang berarti pembaharuan, dalam konteks Muhammadiyah mencakup upaya untuk memurnikan ajaran Islam, mengaktualisasikannya dengan kebutuhan zaman, dan mereformasi berbagai aspek kehidupan.

Muhammadiyah sebagai Gerakan Pembaharuan (al-Tajdid)

Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan peradaban Islam yang berkemajuan, seperti menolak ekstrimisme dan fanatisme dalam pemahaman agama, serta mendorong pemahaman Islam yang moderat dan toleran. Upaya ini dilakukan melalui berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan dakwah. Lebih jelasnya gerakan gerakan pembaharuan ini bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menegakkan nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif.
Berikut adalah beberapa upaya Muhammadiyah dalam mewujudkan Islam Berkemajuan dengan kata lain mewujudkan peradaban Islam, diantaranya, dalam bidang pendidikan, seperti mendirikan sekolah-sekolah modern yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum. Kemudian mengembangkan perguruan tinggi yang menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dan menciptakan kurikulum pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan relevan dengan perkembangan zaman. Menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan merata, sehingga semua lapisan masyarakat dapat mengakses pendidikan yang berkualitas.
Di bidang kesehatan, yang merupakan target pergerakan Muhammadiyah selain pendidikan, mendirikan rumah sakit dan puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menyelenggarakan program kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melakukan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan untuk menemukan solusi atas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat.
DI bidang ekonomi, Muhammadiyah mengembangkan ekonomi Islam yang adil, berkelanjutan, dan berlandaskan prinsip-prinsip agama. Mendorong masyarakat untuk melakukan usaha-usaha yang produktif dan bernilai. Menciptakan lapangan kerja baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di Bidang Dakwah, Muhammadiyah membentuk dan menggerakkan berbagai kelompok dakwah yang menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Menerbitkan buku, majalah, dan media dakwah lainnya untuk menyebarkan informasi tentang Islam kepada masyarakat. Lalu membuka dialog antaragama untuk meningkatkan pemahaman dan toleransi antarumat beragama. Dan, mendorong masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhammadiyah Membentuk kelompok tani, kelompok nelayan, dan kelompok usaha kecil untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kemudian meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Dan, mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.
Terakhir, dalam bidang kebudayaan, Muhammadiyah melakukan kajian dan penelitian tentang budaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap budaya Islam itu sendiri. Selanjutnya menciptakan karya seni dan budaya yang bernilai dan relevan dengan perkembangan zaman. Mendorong masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan kearifan lokal.
Menutup catatan ini, penulis kemukakan pernyataan bijak buah pemikiran Presiden Pertama RI ini yang mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia ini bukan milik satu golongan, bukan milik satu agama, bukan milik satu suku, bukan milik satu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *