Taufik Hidayatullah

Anak sholeh dan sholehah merupakan dambaan setiap orang tua di dunia ini. Entah itu sebagai penghibur lara, penennag jiwa ataupun penggores kebaikan masa tua mereka. Indikasi anak itu terbentuk baik buruknya semenjak kecil tentunya mesti melalui proses jalan yang panjang melalui didikan kedua orang tuanya. Pendidik terbaik, pemberi arahan motivasi hingga penuntun arah kesuksesaan anak-anaknya melalui do’a yang dilangitkan setiap malam. 

Setiap orang tua sudah barang tentu memiliki hasrat dan keinginan mendambakan seorang anak yang mampu memberikan warna kebaikan dalam hidupnya. Hidup di dunia yang penuh dengan tipu daya, masalah yang menghantam jiwa hingga problema sosial kemasyarakatan kerap kali menjadikan orang tau kahwatir akan masa depan anak-anaknya. Bekal itu tentu bukan hanya yang bersifat materi saja. Namun bekal kehidupan yang abadi pun mesti dipersiapkan. 

Ya, kita sering berdo’a agar supaya hidup kita khusnul khotimah tidak hanya di dunia namun lebih adari itu akherat pun mesti demikian. Roda kehidupan mulai dari mengandung, meyusui hingga mengurus hingga dewasa bahkan rumah tangga merupakan peran sentral orang tua. Tentu halyang sedemikian tidak mudah dan perlu kesabaran ekstra. Namun adakah kiranya kritera seorang walad (anak) yang terkategorisasi sebagai anak sholeh. Nah ada ungkapan seperti ini yang mungkin dijadikan acuan. Berikut ini :

فِى الدُّنيَا يَنْفَع فِى الأخِرَةِ يَرْفَع وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَشْفَعْ

‘’Di dunia memberikan manfaat, di akherat mengangkat derajat dan hari kiamat memberikan syafaat’

Jadi, anak yang sholeh itu di dunia memberikan manfaat bagi orang taunya semasa hidup, lalu kemudian di akherat mengangkat derajat orang tuanya dan di ahri kiamat memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya. Begitulah kiranya gambaran dan kategorisasi anak yang sholih. Wallahua’lam

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *