Ocit Abdurrosyid Siddiq
Nurcholish Madjid (Cak Nur) melalui naskah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) merumuskan sebuah paradigma teologi inklusif yang melampaui batas-batas formalitas agama. Tulisan “ringan” ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis poin-poin inklusivisme dalam NDP, mulai dari distingsi makna “islam” dan “Islam”, prinsip kemanusiaan berbasis tauhid, hingga kesinambungan risalah langit. Esai ini juga menyoroti diskrepansi antara idealisme inklusif dalam teks NDP dengan realitas puritanisme yang sering kali muncul dalam praktik perkaderan organisasi.
Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) merupakan dokumen ideologis fundamental yang memberikan arah teologis dan filosofis bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dirumuskan oleh Nurcholish Madjid pada akhir dekade 1960-an, NDP merefleksikan semangat neomodernisme Islam yang menekankan pada aspek substansialitas dan universalitas ajaran Islam.
Salah satu pilar sentral dalam NDP adalah inklusivisme Islam, sebuah konsep yang memandang kebenaran sebagai entitas yang luas dan tidak tereduksi dalam sekat-sekat sektarianisme. Diskursus ini menjadi krusial untuk dikaji kembali mengingat meningkatnya kecenderungan eksklusivisme dan puritanisme di tingkat akar rumput yang sering kali berbenturan dengan semangat dasar perumusan NDP itu sendiri.
Fondasi inklusivisme dalam NDP berakar pada pembedaan epistemologis antara “islam” sebagai kualitas spiritual universal dan “Islam” sebagai institusi agama historis. Secara etimologis, Cak Nur menarik makna “aslama” yang berarti berserah diri kepada Kebenaran Mutlak (Tuhan).
Kepasrahan sebagai fitrah. Dalam perspektif ini, islam dipandang sebagai agama fitrah yang melekat pada setiap manusia. Tindakan pasrah kepada Tuhan adalah inti dari semua risalah kenabian sepanjang sejarah. Oleh karena itu, secara esensial, siapa pun yang melakukan kepasrahan batin kepada Tuhan dapat disebut sebagai muslim dalam pengertian generik.
Identitas formal. Di sisi lain, Islam dengan huruf kapital merujuk pada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dengan perangkat syariat dan institusi sosiologisnya.
Klaim inklusivisme NDP terletak pada pengakuan bahwa kebenaran substantif (islam) mendahului dan melampaui identitas formal. Hal ini memberikan ruang bagi pengakuan atas eksistensi kebenaran dalam tradisi agama lain, sejauh tradisi tersebut mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada bagian mengenai “Dasar-Dasar Kepercayaan”, konsep tauhid tidak hanya dipahami secara metafisik, tetapi juga secara sosiologis sebagai instrumen pembebasan (liberasi). Tauhid menegaskan bahwa hanya Allah yang bersifat mutlak, sementara segala sesuatu selain Allah adalah relatif dan profan.
Kesederajatan Manusia. Konsekuensi logis dari tauhid adalah penafian terhadap segala bentuk hierarki antarmanusia yang didasarkan pada faktor-faktor askriptif seperti ras, suku, atau nasab (garis keturunan).
Kritik atas elitisme nasab. Fenomena elitisme nasab yang masih bertahan di sebagian kalangan Muslim dipandang sebagai anomali terhadap semangat tauhid. Menjadikan keturunan sebagai standar kemuliaan merupakan bentuk “absolutisme terhadap yang relatif”. Sejatinya, kemuliaan manusia hanya diukur berdasarkan kualitas amal saleh dan kontribusi kemanusiaan, bukan privilese genetis.
Cak Nur mengusung konsep kesinambungan risalah (continuity of revelation) yang mengakui adanya benang merah antara ajaran monoteistik (Islam, Kristen, dan Yahudi). Beliau menekankan bahwa Islam hadir sebagai musaddiq (pembenar) dan penyempurna, bukan sebagai pembatal (annulment) total terhadap ajaran sebelumnya.
Resistensi terhadap ajaran Kristen dan Yahudi yang sering muncul di kalangan umat Islam dipandang sebagai kegagalan dalam memahami dialektika sejarah risalah langit ini. Sikap apologetik yang berlebihan sering kali menutup celah bagi kolaborasi kemanusiaan yang lebih luas.
Meskipun naskah NDP bersifat inklusif-progresif, realitas di lapangan menunjukkan adanya kecenderungan puritanisme di kalangan kader. Hal ini dapat dianalisis melalui beberapa faktor:
Distorsi Metodologis: Penyampaian materi NDP dalam Latihan Kader (LK) sering kali bersifat indoktrinatif daripada dialektis. Instruktur cenderung menyajikan kesimpulan daripada proses berpikir filosofis.
Reduksi Fikih-Sentris: Keagamaan dipahami semata-mata sebagai ketaatan hukum formal, sehingga aspek esoteris dan inklusif dari tauhid terabaikan.
Insekuritas Identitas: Di tengah arus globalisasi, eksklusivisme sering menjadi mekanisme pertahanan diri untuk menjaga identitas kelompok, meskipun harus mengorbankan prinsip keterbukaan intelektual.
Inklusivisme Islam dalam NDP bukanlah sebuah upaya sinkretisme, melainkan sebuah kedalaman teologis yang bersumber dari pemahaman tauhid yang murni. Dengan membedakan antara esensi kepasrahan (islam) dan identitas formal (Islam), NDP memberikan fondasi bagi kader untuk menjadi individu yang memiliki integritas akidah sekaligus keterbukaan intelektual.
Diperlukan reorientasi dalam metodologi pembelajaran NDP agar semangat inklusivitas ini tidak berhenti sebagai teks mati, melainkan menjadi kesadaran kolektif yang mampu menjawab tantangan pluralitas dalam masyarakat modern.
*
Referensi Kunci :
1. Madjid, Nurcholish. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI.
2. Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin dan Peradaban.
3. Azra, Azyumardi. Islam Subtansial: Reorientasi Pemikiran Islam Indonesia.
*
Penulis adalah alumnus LK1 HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin IAIN SGD Bandung, pengurus ICMI Orwil Banten





