Oleh : Adung Haris
I. Prolog
Ramadhan merupakan fenomena multidimensional yang tidak hanya dilihat sebagai ibadah ritual semata, tetapi memiliki dampak mendalam jika ditinjau dari perspektif psikologi (individu) dan sosiologi (masyarakat). Berikut ini adalah penjabaran Ramadhan dari kedua perspektif tersebut berdasarkan hasil kajian dan reflektif penulis :
A. Perspektif Psikologi (Individu Dan Kesehatan Mental)
Dari sudut pandang psikologi, Ramadhan berfungsi sebagai mekanisme terapiutik, pengelolaan emosi, dan pengembangan diri. Hal itu meningkatkan berbagai diantaranya ; (1). Peningkatan Kesehatan Mental Dan Emosi. Hasil studi menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Hal itu terjadi karena fokus pada aspek spiritual, menenangkan pikiran, dan menurunkan produksi hormon kortisol (hormon stres). (2). Pengendalian Diri (Self-Regulation). Puasa ramadhan melatih kemampuan individu untuk menahan diri dari hal-hal yang halal (makan/minum) pada siang hari, yang secara psikologis membentuk kesabaran, disiplin diri, dan manajemen emosi. (3). Momentum Perubahan Perilaku (Transformasi Diri). Bulan suci ramadhan menjadi titik balik (turning point) bagi setiap individu umat Muslim untuk merubah kebiasaan buruk menjadi baik, serta meningkatkan produktivitas. (4). Peningkatan Mindfulness. Pendekatan mindfulness (kesadaran penuh) selama puasa membantu meningkatkan kualitas ibadah dan ketenangan jiwa.
B. Perspektif Sosiologi (Masyarakat Dan Hubungan Sosial)
Dari sudut pandang sosiologi, Ramadhan berfungsi sebagai perekat sosial (social glue) dan momen penguatan solidaritas, diantaranya : (1). Penguatan Solidaritas Sosial Dan Empati. Karena, puasa menciptakan perasaan senasib sepenanggungan. Pengalaman lapar dan haus yang dirasakan secara kolektif meningkatkan rasa empati terhadap mereka yang kekurangan. (2). Interaksi Kolektif Dan Kohesi Sosial. Yaitu berupa aktivitas seperti shalat tarawih berjamaah, tadarus, dan buka puasa bersama, hal itu dapat mempererat hubungan antarindividu dalam masyarakat (solidaritas mekanik). (3). Pengurangan Ketimpangan Sosial. Anjuran sedekah dan zakat yang intensif di bulan Ramadhan mendorong pemerataan ekonomi dan kedermawanan, yang berfungsi mengurangi kesenjangan sosial. (4). Patologi Sosial (Sisi Lain). Karena secara sosiologis, bulan suci ramadjan juga sering ditandai dengan fenomena “pengemis musiman” yang terkadang meningkat, yang memerlukan perhatian pada aspek penanganan masalah sosial. Dengan kata lain, bulan suci ramadhan dalam perspektif psikologi bertindak sebagai “mental booster” yang meningkatkan ketahanan jiwa, sedangkan dalam perspektif sosiologi, ia bertindak sebagai “social bond” yang mempererat solidaritas kemanusiaan.
II. Puasa Ramadan, Rasa Empati, Dan Kepekaan Sosial
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa puasa Ramadhan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan rasa empati dan kepekaan sosial. Menurut hasil penelitian dan bahkan telah dipublikasikan dalam jurnal “New Journal of Life and Medical Sciences”, bahwa puasa Ramadhan terbukti dapat meningkatkan “self-identification”, toleransi terhadap stres, tanggung jawab, dan empati. Dr. Arbab Idrees, seorang peneliti di bidang psikologi sosial, ia menjelaskan bahwa menahan lapar dan haus selama berpuasa membuat seseorang dapat merasakan sedikit dari penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan. “Hal itu membuka mata dan hati untuk lebih memahami keadaan sesama yang kurang beruntung,” ujarnya.
Sementara proses penelitian yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menunjukkan bahwa puasa mendorong umat Islam untuk lebih peka terhadap kesulitan yang dialami oleh sesama, sehingga tercipta semangat tolong-menolong dan solidaritas. Dr. Latipun, dosen Psikologi UMM, menegaskan bahwa aktivitas seperti sedekah, zakat, berbagi makanan untuk berbuka puasa, dan gotong royong meningkat selama bulan Ramadhan. Lebih lanjut, studi yang dilakukan oleh salah satu lembaga dibidang sosial keagamaan (Baznas Kota Yogyakarta misalnyq) mengungkapkan bahwa puasa mengajarkan untuk tidak hidup bermewah-mewahan, yang bisa menimbulkan kecemburuan pada orang yang kurang mampu. Bahkan puasa ramadhan meningkatkan kesadaran akan kondisi sosial di sekitar meningkat, mendorong keterlibatan dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial.
Sementara menurut Prof. Nevzat Tarhan dari Universitas Uskudar di Turki menambahkan bahwa puasa membantu mengembangkan sifat-sifat seperti kesabaran, pemaafan, dan pengertian dalam kehidupan sehari-hari. “Pengendalian diri yang dilatih selama puasa berkontribusi pada peningkatan empati,” jelasnya. Dengan kata lain, puasa Ramadhan tidak hanya menjadi praktik keagamaan, tetapi juga sarana efektif untuk mengasah kepekaan sosial dan meningkatkan rasa empati terhadap sesama manusia. Para ahli menyarankan agar masyarakat dapat memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk lebih meningkatkan kepedulian dan solidaritas sosial.
III. Sosiologi Puasa
Bulan suci ramadhan tahun 1447 H /2026 M, dimana ibadah puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah penting dalam agama Islam yang diwajibkan bagi umat Muslim. Karena, puasa Ramadhan tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat penting bagi umat Islam. Ketika puasa hanya dimaknai ritual semata, maka lahiriah rutinitas semata juga, maka pembahasannya akan selesai manakala pengertian puasa didefinisikan secara umum yaitu bahwa puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa, tidak lebih.
Sementara tujuan akhir setiap menjalankan ibadah termasuk puasa Ramadhan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berusaha agar selama dan setelah menjalankan ibadah berada pada posisi terjaga dari perbutan yang dilarang oleh syariat, dan senantiasa dapat mewujudkan sikap dan perilaku sesuai dengan kaidah islamiyah. Ini sesungguhnya yang diharapkan sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an, bahwa diwajibkan ibadah puasa itu pada akhirnya agar dapat mencapai derajat taqwa yang benar-benar bertaqwa (QS. Al-Baqarah:183). Ini dimaksudkan ibadah puasa bisa menjadi media untuk membentuk karakter seseorang baik sikap individu maupun sosial.
Emile Durkheim, yang dikenal dengan Bapak Sosiologi Modern lahir di Epinal Perancis pada tanggal 15 April 1858 mengatakan bahwa solidaritas sosial adalah perekat yang menyatukan masyarakat. Ia mengidentifikasi dua jenis solidaritas sosial, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organik. Solidaritas mekanistik didasarkan pada kepercayaan, nilai, dan tradisi bersama, sedangkan solidaritas organik didasarkan pada rasa saling ketergantungan dalam masyarakat modern. Dalam konteks puasa Ramadhan misalnya, maka kita dapat melihat bahwa praktik tersebut sebagai ekspresi solidaritas mekanisme umat Islam.
Kaum Muslimin di seluruh dunia sama-sama memiliki keyakinan akan pentingnya puasa selama Ramadhan, dan keyakinan bersama itu akhirnya bisa menciptakan rasa solidaritas dan tujuan bersama. Dengan berpartisipasi dalam ibadah puasa di Bulan Ramadhan, umat Islam menegaskan identitas kolektif mereka dan rasa memiliki sesama anggota komunitas Muslim. Selain itu, Rmil Durkheim juga menegaskan bahwa ritual itu penting sekali. Ibadah atau ritual memainkan peran penting dalam menciptakan dan memperkuat solidaritas sosial tadi. Ritual dipandang sebagai tindakan simbolis yang mencerminkan dan memperkuat nilai dan kepercayaan bersama. Apalagi praktik ibadah yang dilakukan bersama-sama dapat menghadirkan rasa identitas kolektif dan memberi individu rasa yang dimiliki.
Dalam konteks puasa umat Islam Indonesia, kita melihat praktik berbuka puasa sebagai ritual yang mempererat solidaritas sosial itu. Dengan berbuka puasa bersama, umat Islam menegaskan identitas kolektif mereka dan rasa memiliki sebagai sesama bagian dari komunitas Muslim. Buka puasa bersama juga menciptakan rasa hubungan emosional dan memberi individu rasa senang dan hormat terhadap sesuatu yang sakral. Sama seperti yang dikatakan Emil Durkheim, ritual dapat menghadirkan perasaan emosional yang mendalam pada individu. Dengan berpartisipasi dalam ritual, seseorang mengalami rasa kagum terhadap yang suci. Pengalaman emosional seperti ini pada gilirannya akan memperkuat komitmen mereka terhadap nilai dan keyakinan bersama, menciptakan rasa kewajiban dan kewajiban moral. Dilihat dari berbagai aspeknya, ibadah puasa selama Ramadhan merupakan praktik yang tidak mudah, dan memerlukan disiplin diri dan komitmen yang signifikan. Dengan berpartisipasi dalam praktik ini, individu kemudian terdorong untuk memperkuat komitmen mereka terhadap nilai dan kepercayaan yang dianut bersama.
Maka sekecil apa pun tindakan/perbuatan kita akan berdampak makro terhadap kondisi orang (masyarakat) di sekitar kita. Ramadhan adalah ibadah yang diwajibkan untuk semua mukmin.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa diwajibkan sebagaimana atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa). Kata “alaikum” di atas (untuk kalian semua) terdiri dari saya, kamu dan kita. Dari ayat tersebut faktor individu (orang/saya) dengan target psikologis internal individu, kamu sebagai target objek “dakwa kepedulian” terhadap orang yang paling dekat (muqorrobin kita ; keluarga, teman dekat) dan kita adalah orang (obyek) yang terjangkau dengan kita, yang kita kenal atau tidak dengan target psikologis sosial atau yang kita kenal dengan sosiologi masyarakat.
Sementara tujuan utama Ramadhan adalah ketaqwaan (agar kamu bertakwa). Bertaqwa adalah kata kerja yang menyerukan dan mengharuskan melakukuakan perbuatan “taqwa”. Menurut Ali bin abi Thalib Radiallahuanhu memberikan definisi taqwa yang lebih rinci, Beliau berkata :
التقوى هي الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل والرضا بالقليل و الإستعداد ليوم الرحيل
(Taqwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai yang diturunkan (Al-Qur’an dan As-sunnah), menerima dengan yang sedikit dan selalu senantiasa bersiap-siap menempuh untuk hari perjalanan menghadap Allah). Dari pendapat Sayyidian Ali RA tersebut, ternyata ada dua perlakuan taqwa, yaitu pertama beramal sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah dan kedua adalah perlakuan persiapan untuk menjemput ajal.
Dalam kegiatan perilaku ibadah Ramadan yang kita lakukan sehari hari ada banyak kegiatan ketaqwaan yang secara tidak terasa kita lakukan dan juga kita indakan (tidak kita pedulikan). Kita melakukan berbuka puasa dengan kecukupan disisi lain kita tidak tahu (dan mungkin tidak mau tahu) bahwa saudara kita, tetangga kita yang juga sedang berpuasa belum bisa berbuka atau dengan berbuka nasi dan garam saja. Kita melakukan teraweh dengan khusu beramai ramai di musholla dan masjid, tapi ada saudara, teman kita yang tidak bisa melakukan teraweh karena tidak punya pakaian yang pantas untuk di bawah sholat berjamaah. Ini seakan arti kesholehan kita “ambigu” terhadap “ketolehan” orang lain. Semoga ibadah Puasa Ramadhan kita tahun ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual saja, akan tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat penting bagi umat Islam.
IV. Ramadhan : Dari Pengendalian Hawa Nafsu Hingga Kepedulian Sosial
Pelaksanasn ibadah ramadhan tahun ini, dan bahkan hingga hari ini (Sabtu, 28 Februari 2026) kita sudah memasuk hari yang ke sepuluh. Dan ramadhsn seperti tamu agung yang membawa cahaya, menyingkap tabir kegelapan, dan mengetuk pintu hati yang kerap terhijab oleh debu-debu dunia. Ramadhan hadir dengan kelembutan ilahi, menghadirkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali melelahkan. Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender, bukan sekadar ritual yang berulang setiap tahun, tetapi sebuah perjumpaan sakral antara jiwa dan Rabb-nya, antara manusia dan fitrahnya, antara raga yang lelah dan ruh yang rindu kembali kepada cahaya hakikat. Namun, sudahkah kita benar-benar memahami makna kehadirannya? Ataukah kita hanya sekadar menjalani tanpa menyelami, menjalankan tanpa menghayati? Apakah Ramadhan kali ini akan berlalu begitu saja, seperti angin yang berhembus tanpa meninggalkan jejak di hati?
Ataukah ia akan menjadi musim semi bagi jiwa, menumbuhkan tunas-tunas kebaikan, menyuburkan ladang amal, dan menghadirkan aroma ketakwaan yang merekah dalam sanubari?
Ramadhan adalah panggilan untuk aktualisasi diri, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menemukan kembali esensi keberadaan kita di dunia ini. Sebuah perjalanan menuju puncak makna diri, dimana kita membersihkan hati dari noda-noda dunia, menyucikan niat dari ambisi semu, dan membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu yang selama ini membatasi langkah kita menuju cahaya-Nya. Bukankah kita diciptakan untuk sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar mengejar dunia? Bukankah ada langit yang lebih luas untuk kita jelajahi, bukan hanya tanah yang kita pijak ini?Maka Ramadhan hadir sebagai jembatan, sebagai titian menuju kesadaran tertinggi, tempat di mana kita menyadari bahwa kehidupan bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang menjadi.
Dalam keheningan sahur, dalam sujud yang panjang, dalam tilawah yang syahdu, di situh ada bisikan kasih dari langit yang mengajak kita untuk kembali. Kembali kepada ketulusan, kembali kepada keikhlasan, kembali kepada hakikat manusia sebagai hamba. Inilah saatnya kita bertanya pada diri sendiri, Sudahkah kita benar-benar menjadi diri kita yang terbaik? Sudahkah kita mengisi hari-hari yang kita lalui dengan kebaikan yang abadi? Ataukah kita hanya tenggelam dalam rutinitas tanpa makna, sibuk dengan hal-hal fana yang tak akan menemani keabadian kita? Ramadhan mengajarkan kita bahwa hidup adalah tentang penyempurnaan, tentang bagaimana kita melangkah dari kegelapan untuk menuju cahaya, dari kekosongan menuju kebermaknaan, dari kefanaan menuju keabadian. Ramadhan mengundang kita untuk merefleksi, meresapi, dan mengaktualisasikan potensi terbaik yang Allah titipkan dalam diri kita. Maka, mari kita susuri jalan ini (suasana ramadhan) dengan penuh kesadaran. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum perubahan, sebagai titik balik menuju diri yang lebih baik, lebih bercahaya, lebih dekat dengan-Nya. Karena hidup terlalu berharga untuk dijalani tanpa makna.
Ramadhan, bulan di mana hati belajar mencintai dengan lebih tulus, akal berpikir dengan lebih jernih, dan jiwa menemukan kedamaiannya dalam dekapan Ilahi. Bahkan, aktualisasi diri di bulan Ramadhan: Sebuah Kajian Holistik dan Solutif. Karena, bulan ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum besar untuk aktualisasi diri secara spiritual, intelektual, sosial, dan moral.
Konsep aktualisasi diri dalam Islam, hal itu berkaitan dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan ihsan (kesempurnaan dalam amal).
Dalam psikologi modern, Abraham Maslow menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak hierarki kebutuhan manusia, dimana seseorang mencapai potensi terbaiknya. Dalam Islam, puncak aktualisasi diri adalah mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Oleh karena itu, ramadhan tidak boleh menjadi musim ibadah yang hanya berlangsung sebulan. Ia harus meninggalkan jejak yang mendalam dalam jiwa kita. Karena, tujuan akhirnya bukan sekadar melewati bulan ini dengan serangkaian ibadah, tetapi menjadi pribadi yang lebih baik dalam jangka panjang. Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99). Ayat tersebut mengajarkan bahwa penghambaan kepada Allah tidak berhenti setelah Ramadhan usai. Sebaliknya, ia harus terus berlanjut hingga akhir hayat. Jika strategi aktualisasi diri yang kita bangun di bulan ini benar-benar efektif, maka hasilnya akan terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan setelahnya. Kini, pertanyaan terakhir yang harus kita renungkan: Sudahkah kita menjalankan strategi yang tepat untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum transformasi sejati? Jika belum, maka masih ada waktu untuk berbenah. Jangan biarkan bulan yang penuh berkah ini berlalu tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita. Mari pastikan bahwa ketika Ramadhan ini berakhir, kita bukan lagi pribadi yang sama seperti sebelumnya. Mari keluar darinya sebagai manusia yang lebih kuat, lebih bersih, dan lebih dekat kepada Allah. Sebab, inilah hakikat aktualisasi diri yang sejati.



