Oleh : Adung Haris

I. Prolog

Estetika lebaran mencakup keindahan visual dan suasana suci Idul Fitri, hal itu ditandai dengan busana warna netral/hijau, hiasan lentera, ketupat, serta dekorasi bernuansa Islami. Momen tersebut diperindah melalui silaturahmi, foto keluarga estetis, hampers mewah, dan takbiran yang menciptakan suasana hangat, bersih, dan penuh kedamaian.

A. Unsur Estetika Lebaran di Indonesia

(1). Visual Dan Dekorasi.
Warna Busana : Warna netral seperti putih, krem, beige, atau abu-abu untuk kesan elegan, atau hijau yang bermakna Islami. (2). Dekorasi. Penggunaan lentera, ornamen bulan sabit, kaligrafi, dan pola Islami dalam dekorasi rumah maupun hampers. (3). Visual Digital. Penggunaan Twibbon, wallpaper, dan foto dengan bingkai Islami untuk media sosial.

B. Tradisi Dan Suasana

(1). Silaturahmi Dan Bermaafan, yaitu inti keindahan estetika sosial, saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan. (2). Kuliner Khas. Ketupat, opor, dan kue kering yang ditata rapi. (3). Tradisi Uang Baru. Uang baru yang dibagikan memiliki makna kesucian dan kebersihan. (4). Takbiran, yaitu suara takbir di malam hari yang membawa ketenangan. (5). Ziarah Kubur. Acara ziarah kubur merupakan momen refleksi dan penghormatan kepada leluhur. (5). Estetika Pesan (Ucapan).
Menggunakan caption sosial media yang estetis, menyentuh hati, dan puitis tentang keikhlasan dan kembali fitrah. Keindahan Lebaran adalah perpaduan tradisi budaya Indonesia dengan nilai-nilai spiritual Islam yang menciptakan suasana memorable.

Sementara estetika lebaran secara spiritual adalah keindahan yang terpancar dari penyucian jiwa, pikiran, dan perbuatan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu. Ini bukan sekadar perayaan fisik, melainkan harmoni antara iman, tradisi, dan kebahagiaan dalam refleksi diri kembali ke fitrah. Berikut ini adalah elemen-elemen estetika lebaran dari perspektif spiritual seperti :

A. Penyucian Jiwa (Fitrah)

Estetika tertinggi Lebaran adalah kembalinya manusia kepada kesucian (fitrah) setelah berjuang melawan godaan duniawi selama Ramadan yang berefektasi pada hal-hal yang bersifat positif diantaranya :

(1). Keindahan Silaturahmi Dan Maaf. Prosesi acara sungkeman dan silaturahmi bukan hanya tradisi, melainkan momen spiritual untuk melebur dosa antarmanusia (hablum minannas), memulihkan hubungan, dan merajut kembali persaudaraan. (2). Kerinduan dan Refleksi Diri. Mudik dan ziarah kubur adalah ekspresi rindu yang spiritual, menghubungkan kembali manusia dengan akar keluarga dan mengingat kematian, yang membawa refleksi batin. (3). Kesederhanaan dan Rasa Syukur. Estetika spiritual Lebaran terpancar dari rasa syukur kepada Allah SWT atas kekuatan yang diberikan selama berpuasa, bukan dari kemewahan fisik. (4). Kedamaian Batin. Lebaran menghadirkan suasana tenang dan seimbang, di mana fokus utamanya adalah ketenangan jiwa, bukan sekadar hiruk-pikuk perayaan materi. Dengan demikian, estetika Lebaran secara spiritual adalah tentang keseimbangan antara keindahan lahiriah (baju baru, rumah rapi) dan keindahan batiniah (hati yang bersih dan tulus).

II. Alasan Spiritual Dan Psikologis Munculnya Rasa Haru Saat Lebaran

Gema takbir yang menyambut Idul Fitri sering kali memicu getaran emosi mendalam bagi umat Islam. Fenomena ini muncul sebagai bentuk refleksi alami setelah menjalani ibadah sebulan penuh di bulan Ramadan. Rasa haru tersebut merupakan perpaduan antara syukur, kerinduan, dan harapan. Secara spiritual, Idul Fitri bermakna kembali kepada fitrah atau kesucian jiwa setelah berjuang menahan hawa nafsu. Abu Hamid Al-Ghazali atau Imam Al-Gazali dalam kitabnya berjul “Ihya Ulumuddin” menjelaskan bahwa emosi manusia berkaitan erat dengan penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Karena, ibadah yang tulus dapat membersihkan hati dari sifat negatif. Ketika Ramadan berakhir, maka muncul kelegaan sekaligus kesedihan karena momen spiritual yang intens tersebut akan segera berlalu. Hal itu diperkuat dengan kumandang takbir sebagai ekspresi kemenangan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Dalam kajian psikologi agama, pengalaman itu disebut sebagai “peak experience”. Konsep milik sang psikologi Abraham Maslow itu, menggambarkan tentang momen emosional mendalam saat seseorang merasa sangat dekat dengan kekuatan yang lebih besar. Menurut sang psikolog Muslim, yaitu Malik Badri dalam bukunya berjudul “Contemplation : An Islamic Psychospiritual Study” menyebutkan bahwa ibadah dapat menghadirkan kedamaian dan keharuan. Takbir menjadi simbol berakhirnya perjalanan batin yang panjang selama bulan suci.

A. Kenangan Keluarga Dan Tradisi Memaafkan

Lebaran juga identik dengan dimensi sosial yang kuat melalui silaturahmi. Momen berkumpul bersama keluarga sering memicu nostalgia, yakni campuran perasaan bahagia dan rindu terhadap kenangan masa lalu yang hangat dengan keluarga. Namun, hari raya Idul Fitri juga bisa menghadirkan rasa kehilangan terhadap anggota keluarga yang telah tiada. Umat Islam biasanya mengungkapkan kerinduan ini melalui ziarah kubur dan do’a untuk menjaga hubungan emosional. Bahkan, tradisi saling memaafkan di Indonesia memiliki dampak psikologis signifikan untuk membersihkan beban emosi negatif. Bahkan, Sayyid Sabiq dalam “Fiqh Sunnah” menekankan betapa pentingnya menjaga hubungan harmonis demi ketenangan batin.

B. Momentum Syukur Dan Harapan

Kesadaran bahwa Ramadan belum tentu dapat ditemui kembali pada tahun depan menambah rasa haru. Idul Fitri menjadi titik evaluasi apakah kualitas ibadah dan kebaikan kita dapat dipertahankan setelah bulan suci berakhir. Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya berjudul “Membumikan Al-Qur’an”, beliau menuliskan bahwa Idul Fitri adalah saat manusia kembali suci. Momentum ini merupakan titik awal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih bersih. Rasa haru saat takbir berkumandang, hal itu menunjukkan bahwa hati manusia masih terhubung dengan fitrahnya. Fenomena ini mengingatkan pada setiap pribadi kita untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan serta sesama manusia secara berkelanjutan.

III. Menyelami Makna Spiritual Pada Hari Raya Idul Fitri

Perayaan Idul Fitri tentu sudah menjadi perayaan yang menjadi tradsi pada setiap tahunnya. Idul Fitri pada tahun ini jatuh pada tahun yang ke- 1447 Hijriyyah bertepatan pada tahun 2026 M. Banyak umat Islam dari berbagai latar belakang keluarga, suku, negara, dan bangsa yang berbeda merayakan momen hari raya menjadi momen merajut tali penghubung yang kuat khususnya kepada saudara yang seagama yaitu Islam. Sedangkan merayakan hari raya Idul Fitri di Indonesia menjadi sesuatu perayaan yang sangat spesial bagi masyarakat. Hal itu bisa terlihat dari banyaknya orang tua yang membelikan pakaian baru serta aksesoris lainnya untuk perayaan hari sakralistik, yakni perayaan Idul Fitri. Di sisi lain ada yang menyiapkan uang THR (Tunjangan Hari Raya) untuk dibagikan kepada anak kecil atau dibagikan kepada kerabat-kerabat mereka. Terlebih lagi, banyak ibu-ibu di Indonesia yang membuat kue-kue lebaran atau memasak makanan yang menjadi hidangan lebaran buat orang yang berkunjung ke rumahnya atau kue sebagai hadiah di hari raya Idul Fitri. Ditambah lagi dengan kegiatan takbiran yang dilakukan pada malam hari raya, hal itu sebagai momen mengagungkan Allah Swt. Semua momen yang mengagungkan dan yang seru itu ditutup dengan momen berkeliling kampung untuk saling meminta maaf dan memaafkan antar saudara muslim. Hal itu merupakan manifestasi atas kebaikan yang terpancar dalam cerminan hasil dari ibadah puasa umat Islam yang mereka jalani pada bulan suci ramadhan. Lalu sudahkah kita tahu dan sudahkah kita menyelami makna spiritual yang ada pada hari raya idul fitri tahun ini? Yakni, setelah menjalani puasa selama satu bulan penuh di bulan suci ramadhan yang menjadi rutinitas ibadah?

A. Menyelami Makna Idul Fitri : Apa Makna Spiritual di Balik Perayaan Idul Fitri?

Manusia yang memiliki jiwa spiritual di dalam dirinya biasanya memiliki hubungan rohani yang kuat dengan tuhannya. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Spiritual adalah istilah yang menggambarkan hubungan dekat dengan atau bersifat kejiwaan (batin). Sedangkan Idul Fitri secara etimologis (secara harfiah) bisa dimaknai dengan “kembali kepada fitrah (suci)”. Kalau kita melihat kepada Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183 menjelaskan bahwa tujuan dari puasa itu sendiri, yaitu membentuk orang-orang yang bertakwa yakni menjalani perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Oleh karena itu, makna spiritual dibalik perayaan Idul Fitri ialah menyucikan jiwa, pikiran dan perbuatan dari sesuatu yang salah dalam timbangan ajaran agama Islam. Umat Islam diharapkan dapat meningkatkan kualitas iman, ibadah dan perilaku yang dahulunya jelek menjadi sesuatu yang baik. Lalu, bagaimana Idul Fitri dapat membantu kita untuk kembali ke Fitrah? Islam mengatakan bahwa hidup di dunia ini adalah ladang untuk berbuat baik, dan bahwa kehidupan yang sebenar-benarnya adalah kehidupan di akhirat karena kenikmatan yang di dapat di dunia bersifat sementara dan akan meninggalkan kita atau kita meninggalkan nikmat tersebut. Oleh karena itu, untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya, maka kita diminta untuk beramal di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Lalu bagaimanakah kita sebagai umat Islam kembali kepada fitrah pada zaman sekarang ?

Salah satu hal yang menjadi solusi pada masa sekarang ialah memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang maju menjadi momen menambah pengetahuan yang didapatinya lebih meningkat dibanding zaman dahulu di mana teknologi belum menjadi tren bagi masyarakat. Teknologi pada masa kini sudah menjadi kehidupan yang melekat mulai dari usia balita, anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Banyak konten-konten agama yang bertebaran di platform digital seperti instagram, tik tok, fb-pro, dan youtube yang menjadi tontonan anak muda masa kini untuk mencari tambahan pengetahuan ilmu yang bersifat ukhrawi. Misalnya program login selama satu bulan ramadhan yang dipandu oleh para ahli yang profesional, dan lain sebagainya.

Hingga saat ini, penulis juga banyak menyimak dan sekaligus menganalisis tampilnya para edukator dan para profesional dibidang suport keagamaan maupun dibidang edukasi. Bahkan, di dalam video-vidio mereka (para edukator) kerapkali mereka menekankan makna dan proses penggalian nilai-nilai agama maupun makna toleransi ditinjau dari berbagai perspektif agama yang ada di Indonesia. Sementara edukasi dibidang sosial kekeagamaan misalnya, para edukator itu mereka sampai juga pada titik berbicaraan yang levelitasnya, atau pada maqomat, bagaimana peran taubat dan istighfar dalam spiritualitas Idul Fitri ?

Sedangkan taubat ialah kembali kepada Allah dengan cara memperbaiki diri, sedangkan istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah dengann mengucapkan kalimat yang mengarah kepada permintaan ampunan diri atas segala dosa yang pernah dilakukannya. Orang yang melampaui batas dosanya jangan sampai berputus asa atas kesalahannya. Ingatlah Allah selalu membuka pintu ampunannya kepada orang yang banyak berbuat kesalahan sebagaimana hal tersebut termaktub di dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 53. Terlebih lagi dalam ujung ayat Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 222 diterangkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang sering taubat dan juga sering menyucikan diri dari tindakan yang tidak baik. Oleh karena itu, momen spesial Idul Fitri yang diisi silaturahmi dan saling meminta maaf serta memaafkan antara saudara seagama, kerabat dan tetangga sekitar tempat tinggalnya. Hal itu ada kaitannya dengan peran taubat dan istighfar yang membentuk jiwa spiritualitas pada hari raya idul fitri. Dengan kata lain, menyelami Mlmakna Idul Fitri di tahun ini, tentunya dapat membentuk karakter manusia yang bertakwa dan meningkatkan jiwa spiritual yang ada dalam dirinya melalui pemahaman kegiatan yang ada di hari raya Idul Fitri.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *