Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pengurus ICMI Orwil Banten

Pagi di pesisir Binuangeun acapkali menawarkan keheningan yang mengundang perenungan. Di tengah desir angin yang membawa aroma garam dan kehidupan, layar gawai tiba-tiba berpendar, memecah simpé (kesunyian) rutinitas. Di berbagai grup perpesanan, sebuah teks berseliweran dengan riweuh-nya. Pesan berantai itu memuat pernyataan yang diklaim dari Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer. Di dalamnya, sang PM seolah-olah dengan tulus mengakui bahwa Islam adalah satu-satunya jawaban atas krisis peradaban, sembari membongkar konspirasi busuk Barat untuk menghancurkan nilai-nilai liberal demi membendung arus Islamisasi di benua Eropa.

Bagi sebagian jalma awam, narasi ini bak oase yang melegakan dahaga kebanggaan komunal. Namun, sebagai seseorang yang pernah ditempa dalam ruang dialektika kritis di bangku Aqidah Filsafat, pesan tersebut dengan cepat membunyikan alarm epistemologis di kepala saya. Secara nalar politik, klaim itu adalah sebuah oksimoron yang telanjang. Mengatakan bahwa seorang pemimpin dari faksi progresif akan menghancurkan pilar kebebasan sipil demi sentimen agama adalah sebuah anomali. Itu adalah langkah bunuh diri politik yang mustahil mendapat tempat dalam tata negara yang dikawal ketat oleh rule of law.

Lebih dari sekadar kecacatan logika politik, info yang biasanya dicomot dari “grup sebelah” ini menyingkap tabir psikologis yang jauh lebih memprihatinkan. Pesan berantai semacam ini sejatinya adalah manifestasi dari playing victim kolektif—sebuah sandiwara amatir yang naskahnya kita tulis sendiri. Mengapa kita merasa perlu memahat figur musuh imajiner yang dengan teatrikal mengakui ketakutan dan kekagumannya pada kita? Jawabannya mengerucut pada satu titik yang menyakitkan: inferiority complex yang dibalut jubah superioritas.

Ada semacam dahaga patologis untuk mendapatkan validasi dari Liyan (The Other), khususnya dari entitas penguasa yang sering kita tempatkan secara biner sebagai lawan. Kita seolah mendamba pengakuan mereka, seolah-olah kebenaran teologis belum mencapai derajat paripurna jika belum mendapatkan legitimasi dari bibir seorang Perdana Menteri Barat. Inilah ironi terbesarnya. Demi menggaungkan bahwa Islam adalah kebenaran yang mutlak, kita justru merasa perlu nginjeum biwir batur (meminjam bibir orang lain). Kita meramu kebohongan atas nama suara nurani mereka, padahal sejatinya itu hanyalah gema dari rasa tidak percaya diri kita sendiri yang memantul di dinding keawaman.

Amanah yang saya emban sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten sering kali menarik ingatan saya pada pepatah karuhun. Dalam pusaka kearifan Sunda Banten, kita berpegang teguh pada laku nanjeur ku benerna—segala sesuatu akan berdiri kokoh karena esensi kebenarannya sendiri, bukan karena disangga oleh bambu kepalsuan. Membela kebenaran menggunakan perangkat kedustaan adalah pamali yang fatal, sebuah kontradiksi yang justru menggerus muruah (kehormatan) peradaban yang sedang kita bela. Islam tidak membutuhkan stempel validasi eksternal yang dipaksakan. Ia adalah konstelasi nilai yang bercahaya dengan sendirinya.

Oleh karena itu, fenomena ini adalah sebuah alarm bagi kesadaran intelektual kita. Di era di mana algoritma lebih memihak pada sensasi ketimbang substansi, tanggung jawab moral kita menjadi sangat berat. Sebagai barisan cendekiawan, kita adalah panutan, penunjuk arah bagi masyarakat yang sering kali kebingungan. Kita tidak boleh tergelincir menjadi bagian dari kerumunan yang ngigel bari nabeuh—ikut menari sambil menabuh genderang kebohongan yang sama.

Mari kita asah kembali ketajaman nalar dan kedalaman batin kita. Kita dituntut untuk jauh lebih selektif dalam menerima narasi, mencecap maknanya hingga ke akar filosofisnya, dan berhati-hati sebelum membagikannya. Mengedepankan saring saméméh sharing dan membudayakan tabayyun bukanlah sekadar anjuran moralistik, melainkan laku keilmuan yang nyata. Biarlah kebenaran memancar murni dari otentisitasnya, tanpa perlu rekayasa narasi atau topeng validasi. Sebab kebenaran yang sejati akan selalu menemukan jalannya untuk diakui, sealamiah mentari yang tak pernah meminta izin untuk terbit dan menghangatkan langit Binuangeun seperti di pagi hari ini. Wallahualam.
*

TASABU, Tanggal Satu Bersama Ibu
Binuangeun, 1 April 2026

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *