Oleh : Adung Haris
I. Prolog
Kritik tajam dari seorang filsuf dan sekaligus seorang sosiolog-antropolog, Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr, ketika beberapa dekade yang lalu, akhirnya saat ini betul-betul terbukti (terbongkar). Karena realita manusia modern saat ini, seolah-olah mengalami “kegelapan spiritual”, alias manusia modern saat ini seakan-akan sudah telah kehilangan rasa sakral terhadap alam semesta. Bahkan, alam tidak lagi dipandang sebagai “ayat” atau tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus dijaga kesuciannya, melainkan sekadar objek pemuas nafsu konsumsi (terutama potensi alam dan minyak yang ada di kawasan Timur Tengah) yang hingga saat ini terus jadi rebutan dan memicu perang yang terus berkecamuk. Sementara hubungan yang seharusnya bersifat organik dan saling menghidupi (antara manusia dengan alam) akhirnya telah bergeser menjadi hubungan transaksional yang dingin, dimana manusia merasa berhak mengambil segalanya tanpa mau memberi kembali atau memikirkan keberlanjutannya.
Ketidakhadiran rasa tanggung jawab dan empati sosial di internal manusia modern saat ini, memang lahir dari pandangan hidup yang terlalu mendewakan materi dan kemajuan fisik semata. Bahkan, komunitas masyarakat global saat ini sibuk untuk terus mengeruk isi bumi demi kenyamanan sesaat, namun abai terhadap luka-luka ekologis yang kita tinggalkan. Alam diperlakukan sebagai entitas tanpa nyawa yang boleh diperbudak, padahal setiap jengkal tanah dan tetes air di alam jagat raya ini, kerapkali membawa pesan ketuhanan yang menuntut penghormatan. Ketika etika lingkungan tercerabut dari akarnya, maka yang tersisa hanyalah keserakahan yang dibungkus dengan nama pembangunan dan proses ekonomisasi dan kapitalisasi.
Pada akhirnya, memperlakukan alam secara semena-mena adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan kita sendiri. Jika kita terus menikmati kekayaan alam tanpa rasa syukur dan kewajiban moral, maka kita sedang menggali lubang kehancuran bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, saat ini kita perlu kembali belajar untuk “mendengarkan” alam, menyadari bahwa kita hanyalah bagian kecil dari harmoni kosmos, dan mencoba untuk mulai menata kembali hubungan kita dengan lingkungan melalui laku hidup yang lebih merunduk, santun, dan penuh kasih sayang.
II. Manusia Dan Rasa Abisiusitas Terhadap Materi
Setiap individu manusia saat ini, seolah-olah seringkali merasa dikejar oleh waktu karena mereka mencoba mengisi setiap detiknya dengan hal-hal yang bersifat materi semata, dan terus menciptakan perasaan fragmentasi yang melelahkan, dan tidak untuk mencoba mendedikasikan diri pada sesuatu yang bersifat sublimatik-spiritualistik. Dan kita mencoba untuk melambatkan waktu serta memperluas ruang sublim di dalam diri kita sendiri. Sedangkan repetisi seperti itu adalah cara kita untuk menjinakkan waktu yang liar, kemudian mengubah setiap detik menjadi peluang untuk menjadi sedikit lebih presisi, sedikit lebih sadar, dan sedikit lebih utuh daripada sebelumnya.
A. Kerendahan Hati Dalam Ketekunan
Hanya orang yang benar-benar rendah hati saja yang bersedia terlihat bodoh dengan melakukan satu hal yang sama setiap hari selama bertahun tahun. Namun, secara filosofis-spiritualistik, hal itu adalah upaya untuk menghancurkan penghancuran ego sentris kita secara sistematis, karena kita harus menerima fakta bahwa kita belum sempurna dan masih membutuhkan latihan menuju individu yang punya kecerdasan moral spiritual. Bahkan, di tengah masyarakat yang terobsesi oleh berbagai pencitraan saat ini dan berbagai kesempurnaan palsu yang serba rekayasa saat ini, maka ketekunan untuk terus mengasah satu bidang (mengasah ketajaman moral spiritual) adalah pernyataan paling berani tentang kejujuran terhadap keterbatasan yang ada di dalam diri kita.
B. Intuisi Yang Lahir Dari Pengulangan
Ketajaman insting bukanlah hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari pengamatan yang sangat detail terhadap satu proses yang berulang. Ketika kita telah mengulang satu hal sepuluh ribu kali, maka kita mulai melihat pola-pola yang tidak terlihat oleh mata biasa, merasakan getaran halus sebelum sesuatu terjadi, dan memahami bahasa rahasia dari bidang tersebut. Intuisi ini adalah kecerdasan tertinggi manusia yang hanya bisa dicapai setelah logika telah jenuh melakukan tugas tugas teknisnya secara berulang.
C. Ketahanan Mental Yang Tidak Tergoyahkan
Setiap repetisi, ibarat satu bata yang menyusun dinding ketahanan mental kita terhadap kegagalan dan kritik. Seseorang yang terbiasa berpindah pindah fokus, malah dia akan mudah hancur saat menghadapi hambatan besar, karena mereka tidak memiliki akar yang cukup dalam. Sebaliknya, latihan satu tendangan sebanyak sepuluh ribu kali misalnya, hal itu akam menciptakan struktur psikologis yang sangat stabil, dimana kita tidak lagi takut pada kekalahan karena proses latihan itu sendiri yang telah menjadikan kemenangan yang kita raih setiap hari.
D. Esensi Kualitas di Atas Kuantitas
Kita hidup di era dimana jumlah pengikut, jumlah karya, dan jumlah pencapaian seringkali lebih dihargai daripada bobot dari karya itu sendiri. Filosofi satu tendangan mengingatkan kita bahwa satu karya yang dihasilkan dari kedalaman jiwa, hal itu jauh lebih berharga daripada seribu karya yang lahir dari ketergesaan. Lebih dari itu, bahwa kualitas adalah jejak abadi yang ditinggalkan manusia di dunia ini, dan kualitas hanya bisa dicapai melalui dedikasi yang tidak terbagi kepada satu hal yang kita cintai atau kita yakini.
E. Menjadi Legenda Dalam Kesederhanaan
Kehebatan sejati seringkali tidak tampak rumit, ia justru terlihat sangat sederhana karena segala hal yang tidak perlu telah disingkirkan melalui proses penyaringan yang panjang. Saat kita mencapai sepuluh ribu kali latihan misalnya, maka kita membuang segala ornamen yang hanya berfungsi sebagai hiasan dan menyisakan esensi yang paling murni dan mematikan. Inilah puncak dari perjalanan manusia, di mana kesederhanaan menjadi bentuk kecanggihan tertinggi dan satu tindakan kecil mampu mengubah sejarah karena ia dilakukan dengan seluruh berat keberadaan kita.
Jika hari ini seluruh pencapaian dan gelar yang kita miliki karena mengetahui banyak hal, lalu tiba-tiba menghilang misalnya, maka bagian manakah dari diri kita yang tetap tegak berdiri karena telah kita asah selama sepuluh ribu jam dalam kesunyian? Bahkan, akal adalah anugerah yang perlu dirawat agar ia tetap tajam dan jernih. Jika akal tidak dilatih, maka ia perlahan-lahan akan menjadi tumpul dan mudah menerima segala sesuatu tanpa pertimbangan. Karena itu, berpikir setiap hari bukan hanya kebiasaan, melainkan kebutuhan agar manusia tetap mampu memahami kehidupan dengan benar.
Sedangkan melatih akal, berarti kita juga terus membiasakan diri untuk bertanya, merenung, dan mencari makna di balik setiap pengalaman. Bahkan, pikiran yang terus aktif, ia tidak mudah tertipu oleh hal yang tampak di permukaan, tetapi mampu melihat lebih dalam dengan kebijaksanaan. Dari proses ini, manusia harus belajar membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, dengan kejernihan yang semakin matang.
Jagalah pikiran kita seperti kita menjaga cahaya dalam kegelapan. Isi dengan pengetahuan, latih dengan refleksi, dan arahkan dengan niat yang baik. Bahkan, dengan akal yang terlatih, maka kita akan mampu melihat kebenaran dengan lebih jernih, dan menjalani hidup dengan keputusan yang lebih bijaksana dan bermakna.
Di samping itu, kita juga harus menjaga akal sehat kita, bahkan saat ini kita juga harus terus menjauhkan diri dari mentalitas yang bersifat instan, karena ia sering kali meracuni cara kita memandang pencapaian. Bahkan, di dunia yang serba cepat saat ini, kita sering kali jatuh cinta pada hasil akhir namun kerapkali membenci proses yang panjang dan melelahkan. Lebih dari itu, kita kerapkali juga lupa bahwa pohon yang rindang dan berbuah lebah bermula, ia awalnya dari sebutir benih yang harus berjuang di kegelapan tanah, memperkuat akar dalam kesunyian, dan menghadapi terik mata hari serta hujan yang lebat sebelum akhirnya pohon itu mampu memberikan manfaat kepada yang lain. Lebih dari itu, kesuksesan juga bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa tangguh kita untuk bisa merawat niat dan konsistensi diri di saat buah yang kita harapkan itu belum juga menampakkan wujudnya.
Menanam berarti percaya pada waktu dan hukum alam yang tidak bisa ditawar. Setiap fase, mulai dari menyiapkan lahan, menyiram, hingga memangkas dahan yang layu, adalah investasi yang membutuhkan ketabahan batin. Jika kita menyerah hanya karena tidak melihat perubahan dalam semalam, maka kita sebenarnya sedang menggali kubur bagi potensi besar kita sendiri. Karena, kebahagiaan sejati dalam sebuah kesuksesan tidak hanya terletak pada rasa manis buahnya, tetapi pada kedewasaan yang kita peroleh selama perjalanan panjang menunggu dan merawat pohon tersebut hingga ia siap untuk dipetik.
III. Keragaman Dunia Yang Terus Membius
Di balik riuh rendahnya dunia saat ini, yakni yang terus memuja keberagaman tanpa kedalaman, maka akan tersimpan sebuah luka psikologis yang jarang kita akui bahwa kita seringkali merasa hampa justru karena kita memiliki terlalu banyak pilihan. Fenomena sosial hari ini memaksa kita (manusia) untuk menjadi permukaan yang luas namun setipis kertas, karena meraba segala hal tetapi tidak pernah benar-benar menggenggam esensi dari satupun pencapaian.
Bahkan secara batiniah, rasa ketakutan kita terhadap ketinggalan informasi atau yang sering disebut sebagai kecemasan sosial telah mengikis habis kemampuan jiwa kita untuk menghening, menetap pada satu titik, dan membiarkan diri kita ditempa oleh repetisi yang membosankan namun menyucikan. Kesadaran akan kekuatan satu hal yang ditekuni secara radikal bukan sekadar soal keahlian teknis, melainkan tentang keberanian untuk menghadapi kekosongan diri di tengah pengulangan yang tanpa henti.
Saat seseorang memilih untuk mengulang satu gerakan sebanyak sepuluh ribu kali misalnya, maka ia sebenarnya sedang melakukan dialog filosofis dengan kesabarannya sendiri, serta meruntuhkan ego sentrisnya yang selalu haus akan kebaruan, dan membangun fondasi karakter yang tidak akan goyah oleh badai distraksi. Secara sosial, ketekunan semacam itu adalah bentuk perlawanan paling sunyi terhadap budaya instan yang menghargai kecepatan di atas ketepatan, dan itu mengingatkan kita bahwa keajaiban sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita mulai, melainkan pada seberapa dalam kita mampu menyelami satu muara.
A. Kedalaman di Tengah Kedangkalan
Dunia mungkin terkesima dengan mereka yang memamerkan ribuan warna, namun sejarah selalu tunduk pada satu cahaya yang mampu menembus kegelapan dengan fokus yang tajam. Saat kita melatih satu hal secara berulang, maka kita sedang berhenti menjadi pengembara yang tersesat di permukaan dan mulai menjadi penyelam yang menemukan mutiara di dasar samudra. Karena ada ketenangan psikologis yang luar biasa ketika kita berhenti mengejar segalanya, bahkan pada saat itulah kita menyadari bahwa satu titik yang didalami dengan sungguh-sungguh sebenarnya mengandung seluruh semesta yang kita cari di tempat lain.
B. Melampaui Kebosanan Sebagai Gerbang Kebijaksanaan
Kebosanan seringkali dianggap sebagai musuh dalam masyarakat modern, padahal ia adalah gerbang menuju penguasaan diri yang paling murni. Ketika kita melakukan tendangan yang sama untuk ke seribu kalinya, maka pikiran kita akan memberontak dan meminta sesuatu yang baru, namun disitulah letak ujian sesungguhnya untuk tetap tinggal. Dengan melewati rasa jenuh, maka kita sebenarnya sedang mencuci jiwa kita dari ketergantungan pada stimulasi luar dan mulai menemukan ritme internal yang membuat kita tetap tegak meski tanpa sorak sorai penonton.
C. Integrasi Antara Tubuh Dan Jiwa
Sesuatu yang dilakukan sepuluh ribu kali tidak lagi menjadi sekadar gerakan otot, melainkan telah menyatu dengan hembusan napas dan detak jantung kita. Secara psikologis, hal itu adalah tahap dimana kesadaran “sadar” menyerahkan kendali kepada bawah sadar, menciptakan sebuah aliran atau “flow” yang membuat tindakan tersebut terasa lebih alami seperti air yang mengalir. Pada titik ini, tidak ada lagi jarak antara pelaku dan perbuatan, sehingga setiap gerak yang muncul adalah manifestasi jujur dari keberadaan kita yang paling dalam.
D. Kekuatan Dari Kesunyian Yang Tersembunyi
Mereka yang mempelajari banyak hal seringkali memiliki suara yang keras namun tidak bergema, sementara mereka yang fokus pada satu hal, ternyata memiliki keheningan yang menggetarkan. Ada otoritas batin yang terbangun saat kita tidak perlu lagi membuktikan apa pun kepada dunia karena kompetensi kita telah mendarah daging. Dalam interaksi sosial misalnya, maka kekuatan tersebut dirasakan sebagai karisma yang tenang, yaitu sebuah kehadiran yang tidak mendominasi namun sangat sulit untuk diabaikan karena ia berpijak pada fondasi latihan yang tak terlihat.
IV. Mulailah Belajar Menjadi Manusia Yang Konseptual Idealis Sekaligus Realistis Aplikatif
Bahkan saat ini, banyak orang terjebak dalam delusi bahwa filsafat hanyalah tumpukan teori usang di menara gading atau sekadar kutipan senja yang estetik. Namun faktanya, filsafat adalah “Bibliotherapy” obat bagi luka-luka psikologis dan kebosanan mental yang mengepung kita di era informasi instan saat ini. Jika kita merasa filsafat itu berat, mungkin kita hanya belum tahu di mana posisi “kegilaan” kita berada dalam sejarah pemikiran.
A. Kita Sedang Mengalami “Penjara Pikiran” di Tengah Arus Informasi
Masalah terbesar kita saat ini bukanlah kurangnya informasi, melainkan ketidakmampuan kita untuk menyaring mana yang bernilai dan mana yang merusak otak. Saat ini kita sering terjebak dalam “followmanship” buta hanya mengikuti apa kata tokoh, orang tua, atau kelompok tertentu, dan kita tanpa pernah berani menguji kebenarannya sendiri. Akibatnya, saat ini kita menjadi “Ulul Albab” yang “cacat”, yakni mampu mendengar, tapi gagal menyeleksi yang terbaik.
B. The Curiosa: Ilmuwan Yang Menyamar Sebagai Filosof
Filosof tipe ini tidak sibuk dengan konsep abstrak yang melangit, melainkan terobsesi pada hal-hal spesifik atau res singularis. Lihatlah bagaimana Ibnu Rusydi (Averroes), ia bukan sekadar pemikir besar, tapi juga ahli anatomi dan hukum yang teliti. Baginya, memahami tertib alam melalui detail terkecil adalah jalan menuju kebenaran. Sains modern sebenarnya hanyalah “anak” yang lahir dari rahim rasa penasaran para curiosi ini.
C. The Gadfly : Si “Lalat Hijau” Pengganggu Status Quo
Seorang filosof sejati harus berani menjadi Gadfly atau lalat pengganggu yang menyengat kemalasan berpikir masyarakat. Seperti Socrates, ternya tugasnya adalah terus mengusik kenyamanan mereka yang merasa sudah paling benar dan membongkar pandangan yang miopik (sempit). Perspektif pembicara menegaskan bahwa gfly bukan sekadar pengkritik, tapi pembaharu sosial yang memiliki rencana besar untuk mengubah oligarki menjadi demokrasi yang adil.
D. The Mandarin vs The Courtier : Jebakan Gelar Dan Gaji
Hati-hati dengan mereka yang bersembunyi di balik gelar akademis mentereng. Tipe Mandarin sering kali hanya mengejar “kredit poin” dan kenaikan pangkat di universitas ketimbang mencari kebijaksanaan. Lebih buruk lagi adalah tipe Courtier pegejar karier ambisius yang menggunakan filsafat sebagai alat untuk mendapatkan paycheck yang lebih baik dan legitimasi bagi penguasa. Mereka tidak mengembangkan kebenaran, melainkan mempromosikan diri sendiri.
E. Filsafat Adalah Jejak Kaki Yang Menumbuhkan Bunga
Mengutip puisi Goethe tentang Nabi Muhammad SAW, filsafat seharusnya seperti jejak kaki yang membuat bunga merekah di lembah dan napas yang menghidupkan padang rumput. Jika pemikiran kita tidak membuat kehidupan di sekitar kita lebih “hijau” dan bermakna, mungkin itu bukan filsafat, melainkan hanya ego yang dibalut diksi rumit. Oleh karena itu, menjadi bijaksana berarti siap mempertanggungjawabkan bukti logis dan selalu terbuka untuk dikritik.
F. Kita Berada di Tipe Yang Mana?
Apakah kita seorang Curiosa yang haus detail, Gadfly yang hobi menyengat ketidakadilan, atau jangan-jangan tanpa sadar kita sedang menjadi Courtier yang hanya mencari validasi dan materi? Menurut pandangan kita semua, apakah orang jahat itu bisa tetap menang jika semua orang memilih menjadi “pengamat” ketimbang “pemikir”? Mari berdebat secara elegan. Karena, eringkali kita merasa bebas hanya karena tidak ada jeruji besi di depan mata kita, padahal kita sedang menjalani hukuman dalam siklus rutinitas yang monoton dan tanpa makna. Bahkan, penjara yang paling mengerikan adalah kenyamanan yang mematikan nalar kritis dan kreativitas kita. Kita terjebak dalam jadwal, kebiasaan, dan ekspektasi sosial hingga lupa untuk bertanya: “Apakah ini hidup yang benar-benar kita inginkan?” Sementara kebebasan sejati dimulai saat kita berani untuk mendobrak kebiasaan-kebiasaan yang membelenggu jiwa kita dan mulai melihat dunia dengan mata yang baru setiap harinya.
Untuk itu, mari kita jauhi sifat arogansi sektoral kita, yang kerapkali ada di dalam diri kita. Bahkan, arogansi (sombong) pada titik tertentu sering juga dianggap sifat negatif, tapi di sisi lain sebenarnya ia juga memiliki sisi yang berguna, manakala ditempatkan pada porsinya. Sedikit kesombongan bisa menjadi penanda bahwa kita menghargai diri sendiri, menegakkan martabat, dan tidak membiarkan orang lain merendahkan kita. Ia (rasa sombong) seperti pagar yang menjaga harga diri kita agar tidak diinjak-injak oleh siapa pun. Namun, terlalu banyak kesombongan justru merusak. Karena, saat rasa ego sentris menguasai diri kita, kerapkali kita mulai menilai dunia dari posisi diri kita sendiri, bahkan kehilangan empati, dan menutup diri dari kritik yang membangun. Akhirnya, soal harga diri berubah menjadi kebanggaan buta, dan keberanian menjadi kesombongan yang mengasingkan. Namun, dengan porsinya yang tepat, maka kesombongan menjadi sahabat, bukan musuh. Ia menjaga kita tetap tegak di tengah dunia yang kadang meremehkan, tanpa menjatuhkan orang lain atau menutup hati. Harga diri tumbuh, hati tetap lapang, dan kita bisa menghadapi hidup dengan tegap tapi tetap bijaksana.
V. Ketololan Yang Dipertontokan
Apakah kita tahu George Carlin, yakni seorang komedian terkenal asal Amerika Serikat? Jika belum, coba cari tahu. Gaya komedinya tidak hanya lucu, tetapi juga amat sangat mendidik. Saya teringat satu perkataannya, “Jangan remehkan kekuatan orang-orang tolol dalam jumlah besar”. Karena, satu orang tolol saja sudah merepoktan alias menyusahkan banyak orang. Apalagi, jika orang-orang tolol itu terus berkumpul, dan menyuarakan ketololannya? Itu pasti menjadi bencana besar. Walaupun begitu, kita perlu tahu terlebih dahulu, apa itu tolol? Ketololan adalah kebodohan yang keras kepala. Orang tak sadar, bahwa ia berpikir dengan pola yang salah, tetapi tetap saja ia seringkali ngotot merasa benar. Tidak hanya itu, ia bahkan menjadi kasar terhadap orang lain, guna membela kesalahan berpikirnya. Inilah ketololan. Dan “dimensi ketololan itu saat ini nampaknya sedang pentas atau sedang dipertontonkan ke purmukaan publik global” terutama ketika kita menyimak perdebatan publik di dunia saat-saat ini, yakni di tengah suasana perang yang yang masih berkecamuk (terutama yang terjadi di kawasan Timur Tengah saat ini). Dan kita juga tidak tau kapan perang yang terjadi saat ini akan segera berakhir? Entah mengapa, kata ini (tolol) lalu muncul ke publik global saat-saat ini, lalu siapa oknum sosok pemimpin global yang yang kerapkali mempertontonkan (tingkat ketololannya itu?). Yang akhirnya, sayup-sayup kata “tolol itu” bersarang juga di benak saya. Bahkan, secara psikologis, saya tidak lagi bisa berkata-kata, bahkan gairah menulis juga menurun, karena kerap kali merasa, bahwa tulisan apapun yang saya tulis dan saya tuangkan, tapi tetap saja terasa tak berguna, karena kerapkali terkesima oleh virus “ketololan” yang saat ini terkesan sedang terpentaskan di panggung global (akibat terjadi perang antara Israel-AS dan Irak) yang hingga saat ini belum ada kata akhir. Walaupun begitu, ada beberapa hal tentang ketololan yang kiranya bisa dipahami lebih jauh.
A. Virus Ketololan
Pertama, ketololan itu merusak. Bahkan, orang-orang yang terjangkiti oleh virus ketololan, atau orang-orang tolol adalah pencipta konflik dan perang di dalam sejarah manusia. Mereka bisa saja berpendidikan tinggi. Namun, pikiran mereka lemah, dan sama sekali tidak kritis, sehingga tak mampu menata hasrat-hasrat agresif yang bercokol di dalam batinnya. Alhasil, mereka tak mampu menyelesaikan masalah dengan jalan-jalan damai, lalu terus memerosokan diri ke dalam konflik yang tanpa berakhir.
Kedua, ketololan itu membuat semua hal jadi rumit. Orang-orang tolol hidup dengan semboyan, “Jika bisa dipersulit, kenapa harus dibuat mudah?“ “Jika bisa direbut, kenapa harus dibiarkan”. Bahkan, ada tiga, ketololan yang menutup semua jalan dialog. Orang-orang tolol amat sensitif. Perbedaan pendapat mengancam kepercayaan diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi marah dan kecewa. Jika sudah begitu, mereka dengan mudah menyerang rekan dialognya dengan kata-kata kasar, atau kekerasan fisik. Ketololan mungkin merupakan masalah tersendiri (terbesar) di seantero jagat raya yang kita saksikan saat ini?
Ketololan berikutnya adalah ketololan yang berwujud keras kepala (publik global rasanya sudah bisa menebak-nebak, siapa kiranya yang sudah terindikatif virus ketololan itu). Karena, kerapkali ia menolak untuk berubah. Di dalamnya bercokol ketakutan dan kemarahan yang amat dalam. Argumen yang dibangun dengan akal sehat, serta data-data terbaru, diabaikannya dengan begitu mudah, sambil terus tenggelam ke dalam arus ketololan yang ada. Ironisnya, orang-orang tolol seperti itu cenderung menjadi korban dari kepentingan politik dan ekonomi kotor yang lebih besar. Tidak hanya itu, (oknum pemimpin global) mereka juga konob katanya ternyata mintai uang (kepada negara tertentu) untuk mendukung kepentingan politik dan ekonomi tertentu yang biasanya bersembunyi di balik slogan-slogan yang mereka usung dan mereka agungkan.
B. Akar Ketololan
Mengapa orang menjadi tolol? Patut diingat, orang-orang tolol itu bisa amat cerdas secara akademik. Namun, karena miskin pemikiran kritis dan reflektif, akhirnya mereka terjebak di dalam ketololan. Ada beberapa hal yang bisa dipetakan lebih jauh. Pertama, ketololan berakar pada keenganan untuk belajar. Dunia ini memang kompleks, apalagi dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat sekarang ini. Orang harus terus belajar dalam hidupnya. Sayangnya, orang-orang tolol ini merasa minder di hadapan dunia yang kompleks ini, sehingga mereka menolak untuk membuka diri, dan untuk belajar. Kedua, ketololan berakar dalam pada rasa takut, terutama takut akan perbedaan. Orang-orang tolol hidup begitu nyaman di dalam kepompong sempit mereka. Ketika perbedaan muncul, mereka kaget, dan menjadi kasar. Padahal, perbedaan adalah hakikat kehidupan. Menolak perbedaan berarti juga menolak kehidupan itu sendiri.
Ketiga, ketololan juga berakar pada ketakutan akan perubahan. Tradisi dan identitas lama terancam oleh perubahan besar yang terjadi di tingkat global (internasional). Orang-orang lalu memegang erat identitas lokalnya secara buta, lalu terjebak ke dalam ketololan. Sama seperti perbedaan, perubahan adalah kehidupan itu sendiri. Menolak perubahan juga berarti menolak kehidupan. Ketololan itu merugikan, baik masyarakat secara luas, maupun pribadi yang terjebak di dalam ketololan itu. Berbagai petaka peradaban, mulai dari kemiskinan, ketidak adilan global, sampai dengan munculnya perang, hal itu disebabkan oleh keputusan yang dibuat oleh orang-orang tanda kutif “radactolol”. Sudah waktunya, ia dilepas dari kehidupan pribadi maupun bersama kita. Karena taruhannya terlalu besar, apalagi di tengah berbagai krisis yang melanda dunia saat ini, mulai dari krisis lingkungan, bencana alam terus menerus, sampai muncilnya perang saat ini (AS-Israel dan Iran). Jika para pemimpin dunia saat ini tidak bisa menawarkan jalan keluar, setidaknya jangan turut memperbesar masalah yang sudah ada, apalagi menambah masalah baru. Oleh karena itu, para pemimpin dunia saat ini tidak semuanya terjangkiti “virus ketololan”. Dan mari kita melepaskan virus ketololan yang mungkin menjangkiti pikiran kita masing-masing.
VI. Epilog (Membaca Buku Adalah Bentuk Pemberontakan Terakhir)
Munculnya soal ketololan, yakni sebagaimana telah diungkapkan di sub judul diatas, karena dunia modern saat ini seolah-olah kita tidak boleh kita membaca (membaca tekstual maupun konteksnya). Bahkan, dunia saat ini seolah-olah, agar kita terus mengonsumsi potongan informasi (snack-sized content) yang mendegradasi kemampuan kognitif kita. Lebih berbahayanya, saat kita kehilangan kemampuan membaca teks panjang, kita kehilangan kedaulatan atas pikiran kita sendiri. Sistem bekerja dengan memonopoli atensi melalui distraksi yang tak ada habisnya. Berhenti sejenak untuk duduk sendiri dan membaca buku selama berjam-jam bukan sekadar hobi itu adalah tindakan subversif yang paling radikal untuk merebut kembali akal sehat dari cengkeraman algoritma.
A. Krisis Atensi: Mengapa Kita Menjadi “Budak” Digital?
Kita hidup di era di mana universitas pun mulai meninggalkan buku. Mahasiswa hanya didorong untuk membaca esai pendek atau kutipan cepat, bukan karya utuh yang membangun semesta berpikir. Akibatnya, kita menjadi dangkal, reaktif, dan mudah dikendalikan oleh narasi yang disuapkan lewat layar. Masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada bagaimana teknologi itu dirancang untuk membuat kita lumpuh tanpa bantuan sistem. Ketika kita tidak lagi mampu fokus pada satu narasi panjang (novel atau teks filsafat), otot imajinasi kita atrofi dan di titik itulah, kemandirian kita mati.
B. Novel Adalah Latihan Empati Dan Perluasan Realitas
Banyak yang menganggap novel atau fiksi hanyalah hiburan kosong, justru novel panjang adalah alat untuk membangun “semesta” dalam kepala. Tanpa kemampuan membangun imajinasi melalui literatur, pandangan kita terhadap dunia akan menjadi hitam-putih dan sangat sempit. Bahkan, membaca fiksi yang kompleks, maka otak kita bisa bekerja dalam ambiguitas moral. Di sana tidak ada jawaban instan. Kita dilatih untuk merasakan penderitaan dan perspektif orang lain, sebuah keterampilan yang sengaja dihapus oleh sistem pendidikan “industrial” yang hanya fokus pada efisiensi.
C. Harta Sejati Bukanlah Bitcoin Atau Mobil Mewah, Tapi Imajinasi
Kita sering terjebak dalam delusi kekayaan materi. Padahal, uang kertas hanyalah ilusi yang kita sepakati bersama agar tetap relevan. Bahkan Bitcoin, dalam pandangan radikalnya, bisa menjadi bagian dari strategi kontrol “deep state” untuk melacak aktivitas manusia secara anonim namun transparan bagi sistem. Sedangkan kekayaan yang tak bisa dirampas (recession-proof) adalah pengetahuan dan pengaruh (influence). Jika esok dunia “gelap” akibat badai matahari atau keruntuhan sistem ekonomi, orang yang selamat bukanlah pemilik saldo digital terbesar, melainkan mereka yang memiliki kapasitas intelektual untuk memimpin, menciptakan solusi, dan bercerita.
D. (AI) Sebagai Mekanisme Kontrol “Antichrist”
Natanya, AI bukan sekadar alat bantu produktivitas, melainkan mekanisme kontrol baru yang disiapkan saat mata uang fiat runtuh. Miliaran dolar digelontorkan untuk AI agar manusia menjadi sepenuhnya bergantung secara kognitif AI yang memberi tahu kita cara berpikir, merasa, dan bertindak. Inilah “State of Surveillance” yang sebenarnya. Tujuannya adalah memisahkan manusia dari intuisi alaminya. Semakin kita bergantung pada jawaban instan dari mesin, semakin jauh Anda dari sumber kreativitas ilahi. Kekuasaan sejati di masa depan adalah kapasitas untuk memfokuskan atensi secara mandiri tanpa bantuan algoritma.
E. Penderitaan Adalah Bahan Bakar Kreativitas Ilahi
Kita sering lari dari rasa sakit, padahal rasa sakit adalah titik awal imajinasi. Tuhan tidak membuat kesalahan dan tidak mati, maka Tuhan tidak membutuhkan imajinasi. Manusia memilikinya justru karena kita terbatas, bisa gagal, dan bisa menderita. Imajinasi kita adalah cara kita memperluas “kemungkinan” semesta. Jika kita hidup hanya mencari kenyamanan tanpa pernah memaksa otak untuk bergulat dengan teks-teks sulit atau pemikiran mendalam, Anda sedang mengkhianati potensi kemanusiaan kita. Kebahagiaan sejati ditemukan dalam koneksi mendalam (cinta) dan penciptaan (imajinasi) dua hal yang tidak bisa diproduksi oleh kecerdasan buatan mana pun.
Kapan terakhir kali kita duduk selama 3 jam tanpa ponsel, hanya berdua dengan buku yang memaksa kita berpikir keras hingga kepala Anda terasa panas? Jika kita kehilangan kemampuan untuk fokus, maka kita telah kehilangan kebebasan. Apakah kita siap memberontak dengan mulai membaca buku malam ini, atau kita lebih nyaman membiarkan algoritma menentukan nasib kita?




