(Renungan Malam Seorang Pengelola Lembaga Pendidikan)
Oleh: Endang Yusro
(Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang)
Pelajaran berharga yang dapat kita ambil, khususnya bagi saya pribadi, adalah menjadikan pengalaman masa lalu sebagai cermin dan introspeksi diri.
Kita harus mampu mengedepankan kepentingan bersama, khususnya kepentingan sekolah, di atas ego atau pendapat pribadi.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam keadaan membutuhkan.”
Hal ini juga ditegaskan dalam kaidah fikih yang terkenal: “Apabila kemaslahatan umum bertentangan dengan kemaslahatan pribadi, maka kemaslahatan umum harus didahulukan.”
Imam Al-Syatibi dalam kitabnya Al-Muwafaqat menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga lima hal pokok: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Semua ini tidak akan terjaga dengan baik jika kita hanya mementingkan diri sendiri.
Sebagaimana petuah orang bijak, apa yang kita anggap benar, belum tentu benar menurut pandangan orang lain.
Oleh karena itu, mengambil kebijakan yang berpihak pada kepentingan umum akan jauh lebih bermakna dan membawa kedamaian, daripada sekadar bersikap menolak karena merasa tidak sesuai dengan keinginan sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ath-Thabrani)
Imam Al-Ghazali dalam kitab At-Tibrul Masbuk juga menasihati bahwa seorang pemimpin harus memiliki pemikiran yang tajam untuk menjaga kemaslahatan umat, dan tidak boleh membiarkan hawa nafsu menguasai keputusannya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Sad ayat 26:
“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan benar, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
Selain itu, jangan pernah menganggap remeh atau menelantarkan suatu pekerjaan hanya karena kita merasa hal tersebut tidak terlalu penting.
Hal yang terlihat sepele bagi kita, seringkali memiliki arti yang sangat besar bagi orang lain.
Mengabaikannya justru dapat berakibat fatal di kemudian hari.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 105:
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu akan diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk bekerja dengan itqan atau sempurna dan profesional.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. Thabrani)
Imam An-Nawawi menegaskan bahwa tidak ada pekerjaan yang hina dalam Islam, selama dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang benar.
Bahkan pekerjaan yang paling sederhana pun akan bernilai ibadah jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Demikian renungan malam dari saya, sebagai orang yang diberi amanah untuk mengelola lembaga pendidikan ini.
Amanah bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”
Rasulullah SAW juga memperingatkan:
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayakan kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud)
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kelancaran, dan bimbingan agar kita semua dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan ridho-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
CatatanIntrospeksiDiri




