Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Dekan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)

Di tengah krisis kepercayaan publik, kepemimpinan kembali diuji pada perkara yang paling mendasar: karakter. Jabatan tanpa karakter mudah berubah menjadi kekuasaan tanpa arah. Masyarakat kini tidak hanya menuntut kecakapan teknis, tetapi juga keteguhan moral. Kepemimpinan berdampak lahir bukan dari sorotan panggung, melainkan dari kedalaman batin. Ibarat pohon rindang yang berakar pada integritas dan bertumbuh melalui keteladanan. Ibarat matahari, bulan, dan bintang yang memberi terang dan arah yang jelas. John C. Maxwell mengingatkan, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.”

Integritas menjadikan pemimpin dipercaya, bukan sekadar ditaati. Keteladanan menghidupkan nilai, bukan sekadar memajangnya sebagai slogan. Pemimpin yang berdampak memimpin lebih dahulu dirinya sendiri sebelum mengarahkan orang lain. Dalam situasi yang rapuh, publik mencari figur yang dapat diteladani, bukan sekadar pejabat administratif. Di titik inilah kepemimpinan beralih dari posisi menjadi pengabdian. Warren Bennis menyebut, “Leadership is the capacity to translate vision into reality.”

Visi dalam kepemimpinan laksana memanah. Seorang pemanah membidik dengan fokus sebelum melepaskan anak panah. Tanpa sasaran yang jelas, tenaga sebesar apa pun akan terbuang percuma. Pemimpin yang visioner memahami ke mana organisasi dan bangsanya hendak diarahkan. Ia menghimpun energi kolektif pada tujuan yang bermakna. Stephen R. Covey mengajarkan, “Begin with the end in mind.”

Memanah juga menuntut ketenangan. Tangan yang bergetar membuat arah melenceng. Demikian pula pemimpin: ia perlu tenang di tengah kegaduhan dan tekanan. Ia tidak tergesa bereaksi, melainkan menimbang dengan jernih. Dari ketenangan lahir keputusan yang matang. Daniel Goleman menulis, “The most effective leaders are all alike in one crucial way: they all have a high degree of emotional intelligence.”

Disiplin kepemimpinan menyerupai jogging. Ia bukan soal kecepatan, melainkan konsistensi. Pemimpin berdampak tidak hanya kuat di awal, tetapi setia dalam perjalanan. Ia hadir dari hari ke hari, menjaga ritme, dan menepati komitmen kecil. Dari kebiasaan kecil itulah tumbuh ketangguhan besar. Jim Collins menyebutnya sebagai “a relentless culture of discipline.”

Dalam jogging, yang utama bukan siapa tercepat, melainkan siapa yang bertahan. Pemimpin berdampak melatih stamina moral dan emosional. Ia tidak mudah goyah oleh kritik, tidak lekas surut oleh rintangan. Dengan langkah yang stabil, ia mengantar tim sampai garis akhir. Angela Duckworth menegaskan, “Grit is passion and perseverance for very long-term goals.”

Taktik kepemimpinan dapat diibaratkan gulat. Di sana ada strategi, kelincahan, dan keberanian. Pemimpin perlu tahu kapan menekan dan kapan mengendur. Ia membaca situasi, memanfaatkan peluang, dan menghindari jebakan. Kepemimpinan bukan hanya perkara idealisme, tetapi juga kecakapan praktis. Sun Tzu telah lama mengingatkan, “Victorious warriors win first and then go to war.”

Dalam gulat, yang menang bukan yang paling besar, melainkan yang paling cerdas membaca gerak lawan. Pemimpin berdampak tidak mengandalkan kekuasaan semata. Ia berpijak pada akal sehat dan etika. Ia tegas, namun tetap manusiawi. Peter Drucker membedakan dengan jernih, “Management is doing things right; leadership is doing the right things.”

Kolaborasi dalam kepemimpinan serupa berkuda. Pemimpin adalah penunggang, tim adalah kuda penuh tenaga. Jika tidak diarahkan, tenaga itu bisa liar; jika terlalu ditekan, ia akan memberontak. Pemimpin berdampak menjaga ritme dan arah. Ia membuat semua bergerak seirama menuju tujuan bersama. Simon Sinek menegaskan, “Leadership is not about being in charge. It is about taking care of those in your charge.”

Berkuda juga menuntut kepekaan. Pemimpin harus merasakan gerak timnya. Ia tahu kapan mempercepat dan kapan memperlambat. Ia tidak memaksa di tanjakan, dan tidak lengah di turunan. Dari kepekaan lahir sinergi. Patrick Lencioni mengingatkan, “Teamwork begins by building trust.”

Kepekaan sosial dalam kepemimpinan menyerupai berenang. Pemimpin tidak berdiri di tepi kolam, melainkan turun ke dalam air. Ia merasakan dingin, arus, dan tekanan. Dengan berenang, ia memahami beban yang dipikul rakyat, guru, mahasiswa, atau pegawainya. Dari pemahaman itu lahir kebijakan yang lebih adil. Paulo Freire menulis, “True solidarity is found only in the plenitude of this act of love.”

Dalam berenang, pemimpin belajar menyesuaikan diri dengan arus. Ia tidak selalu melawan, tetapi juga tidak hanyut. Ia tahu kapan mengikuti dan kapan mengubah arah. Kepekaan membuat kepemimpinan tetap manusiawi di tengah sistem yang kaku. Howard Gardner menegaskan, “An effective leader takes into account the emotional needs of others.”

Regenerasi kepemimpinan dapat dianalogikan dengan lari estafet. Tongkat tidak boleh berhenti di satu tangan. Pemimpin berdampak menyiapkan penerus sebelum ia selesai berlari. Ia berlari sekuat tenaga, lalu menyerahkan tongkat dengan anggun. John C. Maxwell menulis, “A leader’s lasting value is measured by succession.”

Dalam estafet, keberhasilan ditentukan oleh kekompakan tim, bukan kehebatan satu orang. Pemimpin berdampak sadar bahwa masa depan lebih penting daripada ego pribadi. Ia menyiapkan sistem, nilai, dan manusia agar perjalanan tidak terputus. Jim Collins menyebut, “Great leaders look out the window for success and in the mirror for failure.”

Kepemimpinan berdampak adalah seni memadukan karakter, visi, disiplin, taktik, kolaborasi, kepekaan, dan regenerasi dalam satu tarikan napas pengabdian. Ia bukan sekadar memimpin orang, tetapi menghidupkan harapan. Pada saat bangsa menghadapi berbagai tantangan, kita memerlukan pemimpin yang bukan hanya kuat secara struktural, melainkan juga kokoh secara moral. Nelson Mandela menegaskan, “A good head and a good heart are always a formidable combination.” Dari kepemimpinan seperti inilah masa depan Indonesia dititipkan.***

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *