Oleh: Endang Yusro

(Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang dan Pengurus ICMI Banten)

Banyak permasalahan karena merasa diperlakukan tidak adil, dizalimi seseorang, kelompok atau pemerintah seseorang (dalam hal ini, penulis) mengutuk keadaan yang menimpa dirinya.

Catatan ini sebagai pengalaman pribadi penulis, dengan kata lain sebagai curhatan yang mengalami keadaan memilukan (menurut manusiawi penulis), namun semoga ini cara Allah SWT. untuk kebaikan hamba-Nya (khawatir terlalu arogan kalau mengatakan, memuliakan hamba-Nya.

Salah satu pengalaman penulis yaitu peluang mendapatkan SK Inpassing yang hingga sekarang belum mendapatkan, padahal LIP (Lembar Induk Pengusul) sebagai syarat utama pengajuan Inpassing sudah penulis dapatkan dari Kementerian.

Kemudian melakukan pemberkasan beberapa kali dengan mengirim ke Kemendikbudristek (sekarang Kemendikdasmen) melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan langsung ke kantornya.

Penulis mendapatkan LIP tersebut sejak 2017 bersama dengan teman-teman seangkatan satu sekolah. Sementara teman-teman yang lain (ada 7 orang) sudah mendapatkan SK Inpassing dan menikmati hasilnya hingga sekarang (2026).

Jika membayangkan nominalnya selama 9 tahun (2017 – 2027) x 12 bulan x Rp. 1.500.000,- jumlahnya berapa, ya? Mungkin bisa untuk berangkat haji. 🤭

Setelah melakukan pemberkasan, penulis juga melakukan berbagai cara yang terlalu panjang jika diceritakan. Yang terakhir adalah berkoordinasi dengan Pak Menteri Kemendikdasmen, yang penulis menganggapnya masih Ayahanda karena satu Ormas.

Setelah berkoordinasi penulis tidak mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Awalnya KECEWA memang karena yang diharapkan bisa membantu namun entah karena apa, menemukan jalan buntu. 

Dan akhirnya penulis menerima keadaan selama ini sebagai takdir-Nya. Namun penulis juga berharap hal ini hanya sebatas takdir muallaq (sementara).

Semoga penulis diberi kekuatan dan semangat mengurus berkas Inpassing hingga mendapatkan SK, karena khawatir menjadi pertanggungjawaban juga kelak jika sampai berhenti mengurusnya, sementara peluang sudah di depan mata.

Nah, curhatan di atas sebagai salah satu kasus yang penulis alami yang jika menelannya bulat-bulat akan kecewa bahkan mengingkari Sang Maha Kuasa.

Curhatan di atas juga sebagai pembuka inti catatan ini, yaitu “Andai saja tidak berpikir takdir”.

***

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, seringkali kita menyaksikan wujud kesusahan yang melanda diri sendiri atau orang lain. 

Ketika langkah kaki terhenti di celah kesulitan, ketika harapan terhempas oleh kenyataan yang kejam, muncul rasa tidak adil yang menusuk hati. 

Banyak permasalahan tumbuh subur dari dasar perasaan ini: merasa diperlakukan tidak adil, dizalimi oleh seseorang atau kelompok, hingga akhirnya terjerat dalam lingkaran kutukan yang tidak terhenti.

Andai tidak berpikir takdir, maka setiap luka yang diterima akan segera diubah menjadi api kemarahan yang membara, menyebar ke setiap sudut kehidupan.

Bayangkan seorang pekerja yang selama bertahun-tahun bekerja dengan penuh dedikasi, tetapi selalu terpinggirkan dalam promosi, sementara rekan yang kurang bekerja justru mendapatkan kesempatan lebih.

Perasaannya tertekan, merasa haknya dicuri, dan mulai mengutuk orang yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan.

Atau kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran kota, yang tanahnya diambil tanpa pemberian ganti rugi yang layak, yang fasilitas dasar tidak terpenuhi, sementara kota semakin maju dengan biaya penderitaan mereka.

Mereka merasa dizalimi, dan rasa tidak adil itu menggerogoti hati, membuat mereka mengutuk sistem yang dianggap tidak adil.

Tanpa pemikiran tentang takdir, kutukan ini tidak akan berhenti di tingkat individu atau kelompok—ia akan meluas ke lingkup yang lebih luas, bahkan sampai mengutuk Negeri yang dianggap gagal memberikan keadilan.

Ketika seseorang tidak berpikir takdir, ia melihat setiap kesulitan sebagai sesuatu yang sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan orang lain atau sistem yang salah.

Tidak ada ruang untuk refleksi diri, tidak ada pemahaman bahwa kehidupan penuh dengan lika-liku yang mungkin memiliki makna tersembunyi.

Kutukan terhadap orang lain, kelompok, atau Negeri menjadi sarana untuk melepaskan beban perasaan tidak adil, tetapi justru membuat diri terjebak dalam kesedihan dan kemarahan yang tidak berujung.

Permasalahan tidak terpecahkan, malah menjadi lebih besar karena setiap kutukan menciptakan ketegangan yang lebih dalam, memecah persatuan, dan menghalangi upaya untuk mencari solusi bersama.

Negeri, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan pemberi keadilan, kemudian menjadi sasaran kutukan. Seseorang, golongan, umat parpol, dyl. yang merasa tidak adil melihat negeri sebagai penyebab utama keresahan mereka, tanpa mempertimbangkan kemaslahatan bersama. 

Dalam hal ini, Islam mengenalnya sebagai bagian penting dari implementasi Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat), yaitu menjaga kemaslahatan bersama (kepentingan umum/ mashlahah ammah

Mereka lupa bahwa bahwa pembangunan yang berkeadilan membutuhkan waktu dan upaya bersama. Tanpa pemikiran takdir, mereka hanya melihat sisi gelap dari kenyataan, tanpa melihat harapan yang masih ada untuk perubahan. 

Hanyut dalam kekecewaan sampai dengan mengutuk tidak hanya merusak citra negeri, tetapi juga merusak semangat masyarakatnya untuk bekerja sama menuju masa depan yang lebih baik.

Namun demikian, ketika kita memikirkan takdir, tidak berarti kita menyerah pada kenyataan yang tidak adil, kecewa dengan nasib “sial” yang menimpa.

Sebaliknya, pemikiran tentang takdir memberikan ruang untuk ketenangan hati, untuk memahami bahwa setiap pengalaman—baik menyenangkan maupun menyakitkan—memiliki makna yang akan terungkap seiring waktu.

Lebih baik kita berdoa apapun takdir yang Tuhan berikan adalah yang terindah buat kita. 

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku.” (H.R. Ibnu Majah)

Kita masih bisa berjuang menuntut keadilan, tetapi dengan hati yang tenang, tanpa terjebak dalam perbuatan yang menistakan diri sendiri.

Kita bisa mengkritik sistem yang tidak adil, tetapi juga berusaha untuk memperbaikinya, bukan hanya mengutuknya.

Menutup catatan ini, perasaan tidak adil adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, tetapi bagaimana kemudian kita menanggapi itu menentukan arah hidup kita.

Setelah kita berusaha maksimal namun belum juga hadir yang kita harapkan, seandainya tidak berpikir takdir kita akan terjebak dalam putus asa dan kecewa yang tiada tara kemudian mengutuknya tanpa henti yang membuat permasalahan semakin besar dan persatuan semakin terpecah.

Namun, dengan memikirkan takdir, kita bisa menemukan kekuatan untuk menghadapi kesusahan, untuk berjuang dengan penuh keberanian, dan untuk tetap berharap pada keadilan yang akan tiba.

Demikian catatan singkat berawal dari kisah penulis. Semoga menjadi pengobat jiwa hati yang resah menghadapi problematika hidup. Wallahu a’lam.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *