Oleh: Endang Yusro
(Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang)

Selintas angan menjadi guru: Menilik aspek penilaian, sarana prasarana, dan makna sukses yang sesungguhnya menginspirasi catatan berikut.

Mengawali catatan, bahwa penilaian yang seharusnya berbasis kolaborasi, bukan ekspektasi saja. Sebagai guru, seringkali kita terjebak pada target nilai yang harus dicapai oleh murid.

Padahal, sebelum menilai hasil kerja mereka, pertanyaan mendasar yang perlu kita tanyakan adalah: “Sudahkah kita memberikan pengajaran secara profesional dan maksimal?”

Penilaian yang adil tidak hanya melihat angka pada lembar kertas, melainkan juga menyesuaikan dengan upaya yang telah diberikan oleh kedua belah pihak – baik dari guru maupun murid.

Tak hanya itu, kondisi sarana dan prasarana sekolah juga menjadi faktor krusial dalam penilaian. Kita perlu mengevaluasi: “Sejauh mana sekolah telah mempersiapkan fasilitas yang mendukung semangat belajar?”

Ruang kelas yang kurang nyaman, buku pelajaran yang terbatas, atau kurangnya akses ke teknologi pendidikan dapat menghambat potensi murid.

Jangan sampai harapan besar yang telah disampaikan saat promosi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) hanya menjadi angan-angan, dan murid malah menjadi korban dari keidealan yang tidak diimbangi dengan dukungan yang nyata.

Nilai Akademik Bukan Jaminan Kesuksesan

Di tengah budaya pendidikan yang seringkali mengedepankan angka, penting untuk menyadari bahwa nilai akademik bukanlah satu-satunya kunci menuju kesuksesan.

Nilai yang tertulis di rapor memang dapat mencerminkan pemahaman murid terhadap materi pelajaran tertentu, namun tidak mampu menangkap seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki setiap individu.

Kesalahan persepsi yang sering muncul dengan banyaknya orang yang beranggapan bahwa siswa dengan nilai tinggi pasti akan meraih prestasi besar di masa depan – baik dalam karir maupun kehidupan pribadi.

Namun realitas menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu terjadi. Banyak lulusan dengan nilai rapor sempurna yang mengalami kesulitan saat memasuki dunia kerja, karena kurangnya kemampuan praktis, komunikasi, atau kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Mereka mungkin ahli dalam menghafal teori, namun kesulitan menerapkannya dalam situasi nyata atau bekerja sama dalam tim.

Di sisi lain, banyak tokoh sukses yang tidak menunjukkan prestasi akademik luar biasa selama di sekolah.

Beberapa pengusaha besar, seniman ternama, atau ahli di bidang tertentu bahkan pernah dianggap “kurang cakap” secara akademik.

Misalnya, banyak pengusaha teknologi yang fokus pada ide dan inovasi mereka daripada nilai matematika atau bahasa di masa sekolah.

Mereka sukses bukan karena angka yang tinggi, melainkan karena kemampuan mereka untuk berpikir kreatif, mengambil risiko, dan terus belajar dari pengalaman.

Selain itu, banyak individu dengan prestasi akademik biasa yang mampu membangun hubungan sosial yang kuat, memiliki empati tinggi, dan mampu mengelola emosi dengan baik – hal-hal yang menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan hidup dan mencapai tujuan.

Lalu apa sebenarnya yang menentukan kesuksesan seseorang (baca, murid)?

Kesuksesan adalah konsep yang sangat personal dan dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang.

Namun, beberapa faktor yang sering menjadi penentu adalah: Pertama, kemampuan sosial dan komunikasi untuk bekerja sama dengan orang lain dan membangun jaringan yang bermanfaat.

Kedua, kreativitas dan inovasi untuk menemukan solusi baru dari masalah yang ada. Ketiga, ketahanan dan kemampuan beradaptasi untuk bangkit dari kegagalan dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Dan, kelima pemahaman diri: Untuk mengenali kekuatan dan kelemahan sendiri serta memilih jalan yang sesuai dengan minat dan bakat.

Mengubah Perspektif Pendidikan

Pendidikan seharusnya bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek potensi murid, bukan hanya mengejar nilai tinggi.

Guru dan orang tua perlu memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi minat mereka, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan keterampilan hidup yang penting.

Dengan demikian, setiap individu dapat menemukan jalan kesuksesan yang sesuai dengan diri mereka sendiri, tanpa harus terikat pada angka di rapor.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap nilai akademik tinggi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

Padahal, realitas menunjukkan bahwa prestasi akademik tidak menjamin kesuksesan baik di masa kini maupun mendatang.

Banyak murid dengan nilai bagus yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang di sekitarnya – kemampuan sosial yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berkarir.

Sebaliknya, tidak sedikit murid yang selama di sekolah dianggap “biasa saja” atau bahkan “sulit diatur”, namun mampu meraih kesuksesan yang gemilang di kemudian hari. Hal ini membuktikan bahwa potensi murid tidak bisa hanya diukur melalui angka dan nilai rapor.

Menutup catatan ini, penulis mengajak kepada stakeholder pendidikan khususnya guru untuk memberikan pelayanan yang prima kepada murid untuk mencapai nilai yang diharapkan.

Jika segala upaya sudah kita lakukan hasilnya diserahkan kepada Dzat Yang Maha Tau, Allah SWT. karena jangankan kita, Dia saja tidak akan merubah nasib hamba-Nya kecuali hamba-Nya tersebut yang mau mengubahnya.

Dari gambaran di atas, inti yang perlu kita tekankan kembali adalah komitmen untuk memberikan pendidikan secara maksimal.

Nilai yang dicapai murid seharusnya menjadi refleksi dari proses pembelajaran yang berkualitas, bukan hanya target yang harus dipaksakan.

Hanya dengan demikian, pendidikan benar-benar dapat membantu setiap murid mengembangkan potensi diri mereka, tanpa harus menyia-nyiakan harapan dan masa depan mereka demi keidealan yang tidak realistis.

Demikian, Wallahu a’lam bish-shawab.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *