Oleh: Didin Haryono, Alumni Pondok Pesantren Alhikmat Ciekek, Pandeglang
Tiga puluh tujuh tahun telah berlalu, tetapi kenangan menjadi santri kobong di Pondok Pesantren Alhikmat, Ciekek, Pandeglang, masih terasa begitu dekat. Ada banyak hal yang tak mungkin terlupakan dari kehidupan pesantren sederhana itu. Bangunannya hanya berupa bilik-bilik bersahaja, fasilitasnya sangat terbatas, tetapi dari tempat itulah kami belajar tentang ilmu, kedisiplinan, kemandirian, pengabdian, dan arti kehidupan bermasyarakat.
Menjadi santri kobong pada masa itu bukanlah perkara mudah. Untuk mandi dan buang air, kami harus berjalan sekitar 500 meter menuju tempat yang dikenal dengan nama Cilebak. Di sana terdapat sumber air yang ditampung dalam sebuah kolam sederhana, sekaligus menjadi tempat mandi para santri. Tidak ada fasilitas mewah, tidak ada kamar mandi pribadi, apalagi kenyamanan seperti yang dinikmati sebagian santri masa kini. Semuanya serba terbatas, tetapi keterbatasan itu justru mengajarkan kami untuk hidup sederhana dan tidak mudah mengeluh.
Rutinitas dimulai sejak dini hari. Sekitar pukul empat, suara langkah dan ketukan alat pemukul dari rotan, yang kami kenal sebagai hoe, mulai terdengar dari kobong ke kobong. Sang kiai berkeliling membangunkan santri agar segera bersiap menunaikan salat Subuh berjamaah. Santri yang masih terlelap terkadang harus merasakan ketegasan sang kiai melalui pukulan rotan. Bagi kami, itulah bagian dari pendidikan kedisiplinan pada masa itu. Pagi tidak boleh dihabiskan dengan bermalas-malasan, sebab ada kewajiban ibadah dan ilmu yang harus ditunaikan.
Seusai salat Subuh, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an dan pengajian kitab kuning. Di antara kitab yang diajarkan kiai adalah Alfiyah, Riyadhus Shalihin, dan Fathul Mu’in. Ketiganya bukan sekadar bahan pelajaran, melainkan jalan untuk memahami tata bahasa Arab, akhlak, serta hukum-hukum Islam. Pengajian berlangsung hingga sekitar pukul tujuh pagi. Setelah itu, kami harus bergegas menuju sekolah di luar pesantren, yakni Pendidikan Guru Agama (PGA).
Di sinilah perjuangan berikutnya dimulai. Hampir setiap hari kami terlambat masuk sekolah. Bukan karena sengaja bermalas-malasan, melainkan karena kewajiban mengaji di pesantren baru selesai ketika jam sekolah sudah dekat. Akibatnya, hukuman dari guru sekolah menjadi bagian dari keseharian kami. Untungnya, para guru memahami keadaan siswa yang sekaligus menjadi santri. Mereka tahu bahwa keterlambatan kami bukan lantaran kurang menghargai waktu, melainkan karena harus menjalani dua tanggung jawab sekaligus: menuntut ilmu agama di pesantren dan menempuh pendidikan formal di sekolah.
Ada satu hal yang juga tak mudah dilupakan: bekal sekolah belum tentu cukup untuk mengisi perut. Dalam bahasa kami, belum sempat ngaliweut. Kadang-kadang berangkat sekolah dengan perut yang masih kosong menjadi hal biasa. Namun, keadaan itu tidak menghentikan langkah kami. Kami belajar menerima keadaan, menjalani kewajiban, dan menanamkan keyakinan bahwa ilmu harus diperjuangkan, apa pun keterbatasannya.
Menjelang sore, sekitar pukul lima, kami kembali ke pondok. Belum sempat beristirahat panjang, pekerjaan lain sudah menunggu. Ada yang memasak, menanak nasi dengan cara ngaliweut, mencari air, mandi, dan menyiapkan diri untuk salat Magrib berjamaah. Setelah itu, pengajian malam kembali berlangsung hingga sekitar pukul sembilan. Barulah kami mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, mengulang pelajaran, atau menyelesaikan tugas-tugas lainnya sebelum akhirnya beristirahat. Esok dini hari, semua rutinitas itu kembali berulang.
Jika dikenang hari ini, kehidupan tersebut tampak berat. Akan tetapi, justru dari keseharian seperti itulah kami ditempa. Kami belajar mengatur waktu, berbagi pekerjaan, menghormati guru, hidup bersama dalam kesederhanaan, dan menyelesaikan persoalan tanpa selalu menunggu bantuan orang lain. Kobong bukan sekadar tempat tidur. Ia adalah ruang pendidikan kehidupan, tempat watak dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari.
Alhamdulillah, ketika para santri kobong kembali ke tengah masyarakat, banyak di antara mereka tidak mengalami kesulitan untuk bergaul dan menyesuaikan diri. Mereka terbiasa hidup bersama orang lain, memahami perbedaan karakter, bekerja sama, serta mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan. Bagi mereka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan memasuki dunia kerja, bekal pesantren menjadi kekuatan tersendiri. Mereka tidak harus kehilangan identitas keislamannya ketika berhadapan dengan dunia modern. Sebagian bahkan dipercaya menjadi imam, memimpin kegiatan keagamaan, mengabdi di lembaga, maupun menekuni dunia usaha dan profesi.
Tentu, pengalaman setiap santri tidak selalu sama. Pesantren pun memiliki tantangan dan kekurangan yang perlu terus diperbaiki. Namun, pengalaman kami menunjukkan bahwa pendidikan pesantren tidak semestinya diukur hanya dari megahnya bangunan, lengkapnya fasilitas, atau tingginya capaian akademik. Ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni bagaimana pendidikan membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, mampu beradaptasi, dan berguna bagi sesama.
Tiga puluh tujuh tahun setelah menjadi santri kobong di Pondok Pesantren Alhikmat, Ciekek, Pandeglang, saya semakin memahami bahwa pendidikan sejati tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang-kadang, ia tumbuh dari bilik sederhana, air yang harus ditimba dan dijangkau dengan berjalan kaki, perut yang belum terisi, serta malam-malam panjang yang diisi dengan mengaji dan belajar.
Kini, yang tersisa bukan sekadar kenangan tentang beratnya kehidupan santri, melainkan rasa syukur atas bekal yang pernah ditanamkan. Dari kobong sederhana itu kami belajar bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana meraih keberhasilan untuk diri sendiri, melainkan juga bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Dalam momentum Hari Santri Nasional 2026, kenangan tentang santri kobong ini layak menjadi bahan refleksi. Kita tidak perlu meromantisasi segala keterbatasan masa lalu, apalagi menganggap hukuman fisik sebagai satu-satunya cara mendidik. Zaman telah berubah. Pesantren perlu menghadirkan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan layak bagi para santri. Namun, nilai kedisiplinan, kesungguhan menuntut ilmu, kesederhanaan, kemandirian, dan penghormatan kepada guru tetap harus dijaga.
Jangan sampai pesantren semakin megah bangunannya, tetapi kehilangan ruh pendidikannya. Jangan pula santri semakin tinggi pendidikannya, tetapi semakin jauh dari masyarakat. Ilmu agama harus mampu berjalan beriringan dengan pengetahuan umum, teknologi, keterampilan, dan kepekaan sosial. Santri harus mampu hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai orang yang pandai membaca kitab, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu memberi solusi atas persoalan kehidupan.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang santri bukan hanya seberapa tinggi ilmu yang diraihnya, tetapi seberapa besar ilmu itu membentuk akhlaknya dan memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.🙏🙏





