Ocit Abdurrosyid Siddiq

​Keberagaman umat manusia adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Dari ujung barat hingga timur, Tuhan menciptakan manusia tidak dalam satu cetakan yang seragam. Kita hadir dengan ribuan bahasa, warna kulit yang berbeda, budaya yang beraneka rupa, serta jalan keyakinan yang beragam. Namun, penting untuk disadari bahwa keragaman ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, melainkan desain sengaja dari Sang Pencipta sebagai tanda kebesaran-Nya.

​Tuhan menghadirkan perbedaan bukan sebagai bahan bakar kebencian atau alasan untuk bersengketa. Sebaliknya, keragaman adalah sebuah “tantangan Ilahi” bagi manusia. Tuhan menantang setiap jiwa untuk menggunakan akal pikirannya. Apakah dengan perbedaan ini manusia akan saling memangsa, atau justru berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam kebajikan?

​Di sinilah peran akal dan pikiran menjadi pembeda utama. Bagi mereka yang mau berpikir dan merenung, perbedaan adalah kuas yang mewarnai kanvas kehidupan. Layaknya pelangi, keindahan justru muncul dari perpaduan warna yang berbeda, bukan dari satu warna yang dominan. Namun, bagi kalangan yang enggan menggunakan pikirannya—mereka yang terjebak dalam fanatisme buta—keragaman sering kali dimaknai secara dangkal sebagai ancaman. Bagi kelompok ini, perbedaan adalah jurang pemisah yang harus dihindari, bahkan dimusuhi.

​Salah satu ciri utama manusia yang berakal sehat adalah kemampuannya untuk bertoleransi. Toleransi bukan berarti meleburkan iman atau mencampuradukkan akidah, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan hati yang tenang dan penuh hormat. Orang yang berakal memahami bahwa menghargai keyakinan orang lain tidak memerlukan sanksi sosial maupun teologis, melainkan murni sebagai ekspresi kasih sayang sesama hamba Tuhan.

​Ujian kedewasaan toleransi ini sering kali terlihat jelas dalam momen perayaan hari besar keagamaan. Sering muncul perdebatan mengenai hukum mengucapkan selamat kepada pemeluk agama lain. Namun, jika dilihat dengan kacamata kemanusiaan dan akal yang jernih, menyampaikan ucapan “selamat” saat saudara sebangsa merayakan hari besarnya adalah bentuk empati sosial.

​Ketika kita mengucapkan selamat, kita sedang mengekspresikan rasa “turut berbahagia” atas kegembiraan yang dirasakan oleh tetangga atau teman kita. Hal ini sama sekali tidak berarti iman kita tergadai, atau kita mengakui kebenaran teologis agama tersebut. Akidah tetap tersimpan kokoh di dalam hati, takkan luntur hanya karena lisan menyapa raga saudara yang berbeda iman. Itu adalah wujud penghormatan kita kepada sesama manusia ciptaan Tuhan, tanpa bermaksud mencampuradukkan keyakinan.

​Pada akhirnya, tugas kita sebagai manusia adalah merawat perbedaan ini dalam bingkai kebersamaan yang mesra. Kita semua adalah hamba Tuhan yang berjalan di muka bumi yang sama. Meskipun jalan setapak dan cara kita beribadah berbeda, tujuan akhir kita adalah pengabdian kepada Sang Pencipta. Mari kita gunakan akal pikiran untuk terus merajut persaudaraan, karena di mata Tuhan, yang terbaik bukanlah yang paling keras teriakannya, melainkan yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
*

Pasirgintung, Kamis, 25 Desember 2025
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Wakil Ketua Umum Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *