Ocit Abdurrosyid Siddiq

Waktu adalah sungai yang mengalir deras, tak pernah berbalik arah, dan tak pernah mau menunggu siapa pun yang tertinggal di tepiannya. Saat kita berdiri di penghujung tahun seperti sekarang ini, kita seolah dipaksa berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menoleh ke belakang.

Tahun ini perlahan pergi, menutup lembaran kalendernya, namun ia tidak pergi dengan tangan kosong. Ia membawa serta segala cerita yang telah kita ukir, baik dengan tinta emas maupun dengan goresan noda yang ingin kita hapus. Segala pikiran yang pernah melintas dan segala lisan yang pernah terucap kini telah menjadi sejarah yang tak mungkin diubah.

Dalam keheningan refleksi ini, kita menyadari dua sisi mata uang dari eksistensi kita sepanjang tahun. Di satu sisi, mungkin ada kebanggaan kecil karena kita telah memberikan manfaat bagi diri sendiri, menjadi sandaran bagi keluarga, atau sekadar meringankan beban orang lain. Namun, di sisi lain, kejujuran hati memaksa kita mengakui adanya lisan yang tajam yang mungkin telah melukai hati orang lain, bahkan mungkin hati mereka yang paling tulus mencintai kita.

Ada momen-momen berharga yang terlewatkan begitu saja, hilang ditelan kesibukan yang semu, menyisakan penyesalan karena waktu tak bisa diputar ulang. Kekecewaan yang mungkin kita goreskan pada wajah kerabat adalah hutang rasa yang harus kita bayar dengan perbaikan diri.

Kendati demikian, rasa syukur tetap harus menjadi landasan utama. Di setiap sujud, terucap terima kasih kepada Sang Pencipta karena di antara tumpukan kesalahan, masih terselip amal-amal bermanfaat yang sempat terwujud. Tahun ini, dengan segala dinamikanya, adalah saksi bisu perjalanan diri kita. Ia adalah arsip kehidupan yang kelak akan menjadi bekal di keabadian.

Kesadaran ini membawa kita pada sebuah paradoks waktu yang menampar: setiap tahun angka usia kita bertambah, namun secara hakikat, jatah atau kuota umur kita di dunia ini justru semakin berkurang. Kita sedang berjalan menuju garis akhir, bukan menjauhinya.

Bagi kita yang telah melangkahkan kaki hingga setengah abad perjalanan hidup, lonceng peringatan itu terdengar semakin nyaring. Hidup selama lima puluh tahun adalah sebuah pencapaian sekaligus peringatan keras. Saat menatap cermin, kita tidak hanya melihat kerutan di wajah, tetapi juga melihat batin yang mungkin masih carut-marut.

Kesadaran yang paling menohok adalah pengakuan bahwa dosa dan khilaf mungkin masih jauh lebih berat timbangannya dibandingkan amal baik dan pahala. Kita lebih sering lalai daripada sadar, lebih sering menuntut hak daripada menunaikan kewajiban.

Oleh karena itu, di sisa usia yang entah tinggal seberapa lama ini, tidak ada pilihan lain selain memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Ini adalah momen untuk mengubah haluan hidup. Kualitas diri harus terus menanjak naik, bukan lagi diukur dari jabatan atau harta, melainkan dari kedalaman spiritual dan kematangan emosional.

Fokus utama harus dikembalikan ke tempat di mana hati berada, yaitu keluarga. Mengeratkan tali cinta yang mungkin sempat renggang, serta memperbanyak ibadah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Sang Pemilik Jiwa.

Sudah saatnya kita berhenti berlari mengejar bayang-bayang duniawi yang takkan pernah habis. Ambisi pekerjaan yang menguras waras perlahan harus digantikan dengan ketenangan menikmati hidup. Misi kita selanjutnya adalah mendamaikan sanubari.

Kita berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi polusi jiwa: tidak lagi mengumbar sumpah serapah, membuang jauh sifat iri dan dengki, serta menutup telinga dan mulut dari ghibah yang tak berguna. Menjaga pandangan dan tidak usil pada urusan orang lain adalah kunci ketenangan batin.

Resolusi tahun depan bukanlah tentang pencapaian materi yang muluk-muluk, melainkan sebuah janji sederhana namun berat: menjadi manusia yang lebih menebar senyum, kasih, dan tawa. Tahun ini adalah cermin retak yang harus kita perbaiki pantulannya di masa depan.

Segala kebaikan yang telah ada mari kita pertahankan dan tingkatkan, sementara segala keburukan kita jadikan pelajaran mahal agar tidak terulang. Mari kita sambut tahun baru bukan dengan pesta pora, melainkan dengan hati yang terang, jiwa yang tenang, dan tekad untuk hidup lebih mulia di sisa hari yang dianugerahkan Tuhan. Wallahualam.
*

Tangerang, Jumat, 26 Desember 2025
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Wakil Ketua Umum Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *