Ocit Abdurrosyid Siddiq

“Di era di mana kecerdasan buatan mampu meniadakan yang ada dan mengadakan yang tiada, mata kita tak boleh sekadar melihat, tetapi harus menatap dengan nalar. Kebenaran sejati tidak terletak pada apa yang tampil di layar, melainkan pada ketajaman kita membedakan antara fakta yang nyata dan ilusi yang dicipta.”
*

Dunia pernah berputar dengan irama yang jauh lebih lambat, sebuah tempo yang kini terasa asing bagi generasi yang terlahir dengan gawai di tangan. Jika kita memutar kembali jarum waktu, ingatan kita akan terdampar pada masa ketika suara “tik-tak-tik” dari mesin tik manual menjadi musik latar di kantor-kantor dan ruang kerja rumah.

Itu adalah era di mana setiap huruf yang terketik membutuhkan ketegasan fisik, dan setiap kesalahan membutuhkan usaha lebih untuk dikoreksi. Tidak ada tombol backspace digital yang bisa menghapus jejak dengan sekejap; yang ada hanyalah cairan koreksi putih dan kesabaran yang panjang.

Pada masa itu, komunikasi memiliki bobot rindu yang berbeda. Kita mengenal Pak Pos yang datang dengan sepeda atau motor tuanya, membawa wesel atau surat beramplop cokelat. Menunggu kedatangannya adalah sebuah ritual penuh harap. Begitu pula dengan telepon engkol atau telepon putar; untuk menghubungi seseorang, kita harus memutar piringan angka satu per satu, mendengarkan desasing nada sambung, dan menghargai setiap detik percakapan karena biaya interlokal yang tidak murah.

Segala sesuatunya terasa nyata, berwujud, dan menyentuh indra. Kita hidup dalam dimensi di mana usaha dan hasil berjalan beriringan secara fisik.

Namun, zaman berganti lari begitu cepat, seolah tanpa jeda untuk sekadar menarik napas. Teknologi melesat bagai kilat yang menyambar, mengubah lanskap peradaban manusia secara drastis. Perlahan namun pasti, mesin tik berdebu di gudang, digantikan oleh papan ketik layar sentuh yang sunyi. Wesel pos berganti menjadi notifikasi perbankan digital yang instan. Telepon engkol menjadi barang antik di museum, sementara kita kini bisa bertatap muka dengan siapa saja di belahan dunia mana pun melalui layar pipih dalam genggaman.

Dunia berubah menjadi serba layar, dan realitas fisik perlahan mulai tergeser oleh realitas virtual.

Kini, kita berdiri di ambang revolusi yang lebih mencengangkan sekaligus meresahkan: kehadiran Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini bukan lagi sekadar alat hitung atau pemroses kata, melainkan entitas yang mampu “berpikir” dan memanipulasi data dengan cara yang hampir menyerupai—atau bahkan melampaui—kemampuan manusia.

AI telah mengubah wajah dunia dengan kemudahan yang ditawarkannya. Semua jadi mudah hanya dengan satu perintah suara atau sebaris teks. Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan potensi disorientasi yang berbahaya jika kita tidak waspada.

Di sinilah letak paradoks terbesar zaman kita. Kecerdasan buatan memiliki kemampuan ganda yang mengerikan: ia bisa meniadakan yang ada, dan mengadakan yang tiada. Dengan teknologi deepfake dan manipulasi audio-visual, seseorang yang tidak pernah berbicara bisa dibuat seolah-olah berpidato lantang.

Peristiwa yang tidak pernah terjadi bisa diciptakan buktinya secara digital dengan sangat meyakinkan. Realitas tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kebenaran, karena ilusi kini dapat diproduksi secara massal.

Oleh karena itu, kita perlu menanamkan sebuah filosofi baru dalam berinteraksi dengan dunia digital, sebuah mantra kebijaksanaan yang harus dipegang teguh. Kita harus menyadari bahwa “Tidak setiap yang ada itu nyata.” Apa yang muncul di beranda media sosial kita, meski terlihat eksis, belum tentu memiliki substansi di dunia nyata. Lebih jauh lagi, “Tidak setiap yang nyata itu fakta.” Sebuah gambar mungkin asli (nyata), namun narasi yang menyertainya bisa jadi pelintiran yang menjauhkan dari fakta sebenarnya.

Rangkaian kewaspadaan ini harus terus berlanjut. Kita harus memahami bahwa “Tidak setiap fakta itu benar.” Fakta yang dipotong konteksnya bisa menjadi alat untuk menyesatkan, kehilangan nilai kebenaran yang utuh. Dan bahkan jika sesuatu itu benar, “Tidak setiap yang benar itu baik.” Ada kebenaran-kebenaran yang jika diungkapkan tanpa empati hanya akan melukai dan memecah belah, bukan menyatukan.

Puncaknya, “Tidak setiap yang baik itu bermanfaat.” Sesuatu mungkin berniat baik, namun jika tidak relevan atau justru membuang waktu produktif kita, maka nilai kebermanfaatannya patut dipertanyakan.

Dalam kabut informasi yang tebal ini, kecerdasan buatan bisa menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menjadi asisten yang luar biasa, namun juga bisa menjadi pabrik hoaks yang sempurna. Maka, satu-satunya perisai yang kita miliki adalah nalar kritis dan hati yang bening.

Kita dituntut untuk lebih cermat dalam mencecap berita, tidak menelannya mentah-mentah hanya karena judulnya sensasional atau sesuai dengan preferensi pribadi kita. Kita harus lebih selektif dalam berbagi informasi, jangan sampai jari-jari kita menjadi agen penyebar ilusi yang meresahkan masyarakat.

Sebagai manusia yang berakal budi, kita memiliki tanggung jawab moral di ruang digital. Slogan-slogan peringatan tidak boleh hanya menjadi hiasan bibir. “Saring sebelum sharing” harus menjadi mekanisme otomatis dalam otak kita sebelum menekan tombol kirim. Kita perlu melakukan verifikasi, melihat sumber, dan membandingkan data.

“Kaji sebelum bagi” mengajak kita untuk tidak sekadar menjadi perantara pesan, tetapi menjadi kurator kebenaran. Kita harus memahami apa yang kita bagikan, bukan sekadar ikut-ikutan.

Terakhir, “Kupas sebelum copas” (copy-paste) mengingatkan kita untuk tidak menjadi plagiator buta atau penyebar pesan berantai yang tidak jelas ujung pangkalnya. Kita harus mengupas isinya, memahami konteksnya, dan memastikan validitasnya agar kebenaran tak hilang dan lepas di tengah riuhnya lalu lintas data.

Perkembangan teknologi, dari mesin tik hingga AI, adalah keniscayaan sejarah yang tidak bisa kita tolak. Namun, bagaimana kita menyikapinya adalah pilihan. Kita boleh merindukan romantisme masa lalu dengan segala keterbatasannya, namun kita hidup di masa kini dengan segala kecanggihannya. Tugas kita bukan untuk memusuhi teknologi, melainkan menaklukannya dengan kebijaksanaan. Jangan sampai kecerdasan buatan membuat kemanusiaan kita menjadi tumpul.

Mari menjadi pengguna teknologi yang sadar, yang mampu membedakan antara yang nyata dan maya, serta yang mampu menempatkan kebenaran dan kebermanfaatan di atas segalanya.
*

Tangerang, Hotel Aston Serang, Sabtu, 3 Januari 2026
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Ketua Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *