<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ICMI BANTEN</title>
	<atom:link href="https://icmibanten.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://icmibanten.or.id/</link>
	<description>Inspiratif &#38; Transformatif</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jun 2026 02:38:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/cropped-ICMI-Orwil-Banten-logo2-32x32.png</url>
	<title>ICMI BANTEN</title>
	<link>https://icmibanten.or.id/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Back to Basic UUD 1945 Asli: Best Solution of Crisis NKRI</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/06/02/back-to-basic-uud-1945-asli-best-solution-of-crisis-nkri/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/06/02/back-to-basic-uud-1945-asli-best-solution-of-crisis-nkri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 02:38:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1334</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="450" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-450x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-450x450.jpeg 450w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-300x300.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-150x150.jpeg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-768x768.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51.jpeg 832w" sizes="(max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<p>Bismillahir Rahmanir Rahiem Menarik menyimak wawancara di acara Podcast Yahya-Yahya bersama mantan Dubes RI untuk...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/06/02/back-to-basic-uud-1945-asli-best-solution-of-crisis-nkri/">Back to Basic UUD 1945 Asli: Best Solution of Crisis NKRI</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="450" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-450x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-450x450.jpeg 450w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-300x300.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-150x150.jpeg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51-768x768.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-02-at-09.03.51.jpeg 832w" sizes="(max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<h1 class="wp-block-heading">Bismillahir Rahmanir Rahiem</h1>



<p class="wp-block-paragraph">Menarik menyimak wawancara di acara Podcast Yahya-Yahya bersama mantan Dubes RI untuk negara Kuba, ibu Hanna, yang telah beredar viral di media sosial.<br>Simak dengan baik wawancara cerdas tsb dgn baik kang Dr. Wonny/Warek UICI Jkt, jika tidak salah atau keliru mendengar info hasil wawancara om Yahya tsb dengan ibu Hanna, dimana Presiden Kuba Fidel Castro, menyebutkan ada UU yang berlaku di negara Kuba, warganya bebas menganut agamanya. Jadi, Kuba bukan negara Komunis, ateis-anti agama sebagaimana kita pahami dan persepsikan selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wawancara ini menurut pendapat saya AA cukup menarik, apabila disimak beberapa pointer informasi yang bisa ditarik menjadi sebuah pelajaran (a lesson learned, iktibar) bagi negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sama-sama kita cintai ini.<br>Ada hal penting dan bernilai strategis yang harus ingat kembali (remember) dalam sejarah konstusi NKRI, sebelum UUD 1945 diamandemen sebanyak 4 kali oleh MPR RI, terakhir diamandemen tahun 2002 yang berlaku hingga saat ini, dimana anggota MPR RI terdapat utusan golongan profesional (&#8220;golongan karya&#8221;) dihilangkan, tidak ada lagi. Pada hal pada UUD 1945 Asli, sebenarnya terdapat ketentuan bshwa anggota MPR RI berasal dari utusan golongan yang waras dari kaum profesional spt guru, dosen, dokter dll) yang barangtentu mereka-mereka, manusia terdidik dan terpelajar yang berhimpun dIdalam organisasi profesi, dan dimasukkan ke Parlemen sebagai anggota MPR RI di Senayan Jakarta tanpa biaya besar (low cost) dikarenakan keahliannya/profesinya, pengalaman pengabdian kemasyarakatannya dengan berkepribadian/watak yang tak tercela, ketokohannya based keahlian dan kejujuran bukan hanya popularitas semata, terlebih hidup wakil rakyat-anggota MPR RI pada umumnya sudah selesai mengejar harta, kebutuhan hidup duniawi. Mereka tinggal fokus berkarya berbasis karakter Triple C (3 C=concept, concent and commitment) pengabdiannya kpd rakyat, bangsa dan negara secara bersungguh-sungguh, mengemban amanah pembawa dan memperjuangkan aspirasi rakyat dengan sebaik-baiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika manusia-manusia berkarakter seperti itu menjadi wakil rakyat Indonesia sebagai anggota DPR RI dan MPR RI, maka saya dan kita berkeyakinan atau bisa dipastikan bahwa MPR RI bisa berfungsi mengawasi Presiden RI sebagai mandataris MPR RI, Presiden RI spt perilaku Jokowi dan PS tidak akan bisa &#8220;bercawe-cawe&#8221;, melakukan penyalahgunaan kekuasaan secara sewenang-wenang (abuse of power) dalam satu dasa warsa terakhir. Juga arah pembangunan nasional sesuai aspirasi rakyat berdasarkan GBHN RI yang ditetapkan MPR RI. Tidak seperti dulu dan sekarang di era Presiden RI Jokowi seenaknya (abuse of power), telah membangun IKN Nusantara di Kaltim yang juga tak ada dalam visi dan misi capres RI pada Pilpres thn 2014, etc. Juga di era Presiden RI PS, antara lain &#8220;abuse of power&#8221; dalam praktek politik luar negeri telah bergeser dari Bebas Aktif (Non Blok) menjadi &#8220;Go Blok&#8221; (Istilah Dr. Yudi Latif) dimana sikap Presiden PS pro USA pimpinan dajjal Donald Trump dimana Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang kemudian bertransformasi menjadi Board of War (BoW), dimana USA bersama Israel menyerang Negara Revolusi Islam Iran sebagai negara merdeka dan berdaulatan. Danjjal Trump telah melanggar hukum internasional, Piagam PBB, melanggar HAM dan memarginalkan fungsi PBB sebagai penjaga perdamaian dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang dilakukan Presiden RI PS sesungguhnya ini merupakan sebuah pelanggaran konstitusi UUD 1945 dan Dasa Sila Bandung hasil KAA thn 1955 di Bandung&#8212;akan tetapi anggota DPR RI dan DPD RI=MPR RI yang semua hasil Pemilu Pileg, berdasarkan elektoral 100 persen, tanpa ada Utusan Golongan, maka sikap mereka diam saja (cicing wae) seribu bahasa, dengan kata lain ada pembiayaran, seolah-olah para wakil rakyat/DPR dan DPD RI yang berkedudukan di Senayan Jakarta, mereka tidak berdaulat, tidak berdaya dan hilangnya harga diri (powerless, and nirdignity).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal demikian tersebut terjadi di era Presiden Jokowi dan PS, akibat UUD 1945 diamandemen 4 kali, yang benar-benar sudah keluar (off side) dari amanat konstitusi warisan para pendiri bangsa (the founding fathers), bahwa UUD 1945 hasil amandemen 4 kali, terakhir thn 2002, telah membuat Indonesia mengalami problem struktural yang sangat parah (akut), krisis besar, disebabkan fungsi dan peran sistem dan tatanan kelembagaan negara berjalan &#8220;abnormal&#8221;, sesat dan menyesatkan, terdistorsi dan disorientasi bablas menjurus pada ideoloogi liberalisme-kapitalistik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang mana ada GBHN yang mengarahkan pembangunan nasional dan daerah berdasarkan aspirasi rakyat yang sesungguhnya ?<br>Faktual yang terjadi sistem perekonomian dan perpolitikan nasional Indonesia dalam genggaman hegemoni dan cengkraman oligarki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lihat dan pelajari fakta apa, kapan, dimana dan bagaimana nasib proyek IKN Nusantara di Penajam Kaltim, KAC Whoosed Jkt-Bandung, proyek stranas Ecocity Rempang dan PIK 2 yang melanggar HAM dan mengancam kedaulatan NKRI, proyek Hilirisasi Tambang Nikel yang banyak bocor ke RRC, mobil Esmka, program MBG, proyek pembentukan Kopdes dan Koplur Merah Putih, etc ?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak UUD 1945 diamandemen sebanyak 4 kali sebagai produk gerakan Reformasi yang bablas, dimana penyelenggaraan pembangunan arahnya tak terkontrol oleh para Wakil Rakyat di Parlemen (DPR RI, DPD RI = MPR RI).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bpk Prof. Dr. M Amin Rais, mantan Ketua MPR RI sebagai Bapak Reformasi Indonesia, berhasil melengserkan Presiden RI kedua Bpk Jenderal Suharto 32 tahun berkuasa, sudah menyadari kekeliruan tersebut, amburadulnya sistem ketatanegaraan NKRI, terutama praktek Pemilu Pileg, Pilpres dan Pilkadal yang berbiaya tinggi (higt cost) yang merusak sistem Demokrasi Pancasila, khususnya Sila ke 4 Pancasila yaitu demokrasi yang waras (tulus dan ikhlas dengan permusyawaratan-bilhikmah dan bijaksana), bukan demokrasi liberalisme-kapitalistik bin bulus (curang) dan fulus (transaksi uang, sogok menyogok, siap menyuap) seperti yang terjadi pada Pemilu-pemilu di era pasca Reformasi saat ini, yang membuat kehidupan negara-bangsa &#8220;repotnasi&#8221; carut marut hukum akibat oknum kepolisian &#8220;parcok&#8221; yang membuat Indonesia semakin menjauh dari konsep awal Cita-cita dan Tujuan Bernegara sebagaimana Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 paragraf terakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau, bpk Prof. M Amin Rais pernah menyatakan kekeliruan dan &#8220;kegagalan&#8221; gerakan reformasi di media massa beberapa tahun yang lalu.<br>Mengapa gagal dalam mewujudkan Cita-cita dan Tujuan Bernegara?, karena dampak negatif rendahnya kualitas sdm- wakil-wakil rakyat yang duduk di parlemen dalam hal (perspektif) ditinjau dari aspek tingkat pendidikan (Rata-rata SLTA), pengalaman berpolitik sebagai negarawan nihil-minim, mayoritas kaum saudagar, dan sikap mental yang pada umumnya tersandra money politic, transaksional dan superpragmatisme akibat Pemilu Pileg hight cost, sehingga berpotensi besar terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (kkn). Gejala sosial demikian itu fakta, bukan lagi fiksi hasil halusinasi, kejujuran sirna di negeri Kanoha bin Mapioso. Selama KKN ini terus berlangsung, janganlah mengharap produk-produk legislasi pro rakyat oleh DPR RI lahir, yang terjadi faktanya pro konglomerat dan oligarky, dimana hukum dan perpolitikan dikendalikan dan dikontrol oleh kekuatan ekonomi besar, kaum oligarki. Sedangkan supermasi hukum sebagai prasyarat pokok menjadi negara maju, modern dan berperadaban terkikis dan sirna di negeri Kanoha Mapioso, astaghfirullah halaaziem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu &#8220;best solution&#8221; agar NKRI keluar dari problem struktural dan kultural gemar berKKN yang akut saat ini, adalah kembali ke pangkal jalan (back to basic) yaitu UUD 1945 Asli yang ditetapkan sidang PPKI tgl 18/8-1945.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia berdasarkan UUD 1945 asli tsb, kembali memiliki MPR RI yang beranggotakan DPR RI (40 persen) pilihan rakyat dan pengangkatan utusan golongan-golongan yang waras sebagaimana watak terbaik (best characters) sebesar 60 persen, sebagaimana saya sebutkan diatas. Selanjutnya dokumen pembangunan nasional GBHN dihidupkan kembali, bukan visi dan misi Capres RI hasil Pilpres yang sering terjadi disorientasi spt IKN Nusantara, Proyek Stranas Eco Rempang City, Proyek PIK 2, program MBG etc yang melanggar HAM dan memboroskan APBN dan kurang tepat sasaran karena dampak perbuatan kriminal KKN yang akut tsb. Apa yang dilakukan negara Kuba, dimana negara sukses menggratiskan pelayanan pendidikan sampai S1, S2 dan S3 dan pelayanan kesehatan rakyatnya yang prima dan gratis, sebagai dampak positif public policy and regulasi dari karya para wakil rakyat dari urusan golongan profesional yang mapan dan telah selesai hidup duniawinya dalam hal mengejar harta, tahta dan wanita/free sex, apalagi perbuatan KKN, nehi.. do not, no way. Sebenarnya watak angota DPR RI dan MPR RI seperti inilah yang didambakan oleh para pendiri bangsa Indonesia (the founding fathers of NKRI) sebagaimana UUD 1945 Asli.<br>Dengan demikian, agak sulit rasanya, atau pesimis Indonesia diusia yang keseratus tahun nanti, Indonesia Emas thn 1945 akan tercapai Cita-cita dan Tujuan Bernegara RI sebagaimana diharapkan yaitu Terwujudnya masyarakat Indonesia yang Adil dan Makmur. Selama negara-bangsa Indonesia, praktek penyelenggaraan negara mengacu pada UUD 1945 hasil Amandemen thn 2002, maka hasilnya akan Nato= no action talk only &#8220;omon-omon&#8221;, fiksi dan halunisasi, yang faktualnya KKN yang tak kunjung berhenti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekian dan terima kasih, semoga Tulisan saya AA hendaknya bermanfaat, berkontribusi dalam hal penyadaran publik untuk restorasi NKRI kini dan masa depan. Walaupun saya dan kita menyadari, penyelesaian problem struktural akut itu merupakan tugas yang tak mudah dan penuh tantangan, untuk kembali ke UUD 1945 Asli sebagaimana isi buku Paradoks Indonesia by PS, yang kini Presiden RI. Juga 8 (delapan) sikap dan pernyataan kritis lk 103 orang Perwira TNI, salah satu pointernya agar NKRI kembali ke UUD 1945 Asli. Saya AA dan kita juga berharap demikian, dalam rangka menormalkan kembali kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Asli dijalankan secara murni dan konsekwen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirulkalam, semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menolong hamba-hambaNya yang beriman, bertaqwa, beramar makruf nahi mungkar dan mempercayai kehidupan akhirat yang kekal-abadi (baqa), InsyaAllah kita selamat hidup baik. di dunia dan maupun di akhirat, Aamiin-3 YRA***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Save Rakyat, Bangsa dan NKRI dengan &#8220;Back to Basic UUD 1945 Asli ###</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gallery and Ecofunworkshop, Kp Wangun Atas Rt 06 Rw 01 Kel. Sindangsari Botim City, West Java, Sabtu 16 Mei 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wassalam<br>====🙏👏🤝<br>Dr. Ir. H. Apendi Arsyad. MSi (Dosen, Konsultan, Pegiat dan Pemerhati serta Kritikus Sosial melalui Tulisan-tulisannya di Media Sosial dalam rangka ikutserta berkontribusi mewujudkan Visi dan Misi Indonesia Emas tahun 2045).</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/06/02/back-to-basic-uud-1945-asli-best-solution-of-crisis-nkri/">Back to Basic UUD 1945 Asli: Best Solution of Crisis NKRI</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/06/02/back-to-basic-uud-1945-asli-best-solution-of-crisis-nkri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dialektika Ruang dan Esensi dalam Fikih Dam Haji</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/06/02/dialektika-ruang-dan-esensi-dalam-fikih-dam-haji/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/06/02/dialektika-ruang-dan-esensi-dalam-fikih-dam-haji/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 02:36:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1331</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="617" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-617x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-617x450.jpeg 617w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-300x219.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-1024x747.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-768x560.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42.jpeg 1184w" sizes="(max-width: 617px) 100vw, 617px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqPengurus ICMI Orwil Provinsi Banten Sebuah tayangan video berdurasi pendek yang melintasi beranda...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/06/02/dialektika-ruang-dan-esensi-dalam-fikih-dam-haji/">Dialektika Ruang dan Esensi dalam Fikih Dam Haji</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="617" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-617x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-617x450.jpeg 617w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-300x219.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-1024x747.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42-768x560.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-05-31-at-11.33.42.jpeg 1184w" sizes="auto, (max-width: 617px) 100vw, 617px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br>Pengurus ICMI Orwil Provinsi Banten</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah tayangan video berdurasi pendek yang melintasi beranda gawai digital memperlihatkan keriuhan yang lazim dijumpai pada bulan Dzulhijjah. Di sebuah pelataran luas di salah satu sudut wilayah Banten, kepulan asap dari dapur umum membubung tinggi di sela-sela kesibukan puluhan warga yang sedang menguliti dan memotong daging hewan ternak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada awalnya, ingatan kolektif kita akan langsung menyimpulkan bahwa aktivitas tersebut adalah ritual penyembelihan hewan kurban Idul Adha pada hari tasyrik yang melibatkan gotong royong masyarakat setempat. Namun, sebuah narasi penjelasan di dalam video tersebut seketika membalikkan asumsi awam; hewan-hewan yang disembelih itu bukanlah hewan kurban, melainkan hewan dam jemaah haji yang sedang berada di Tanah Suci.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biaya pembelian hewan tersebut dikirimkan secara digital dari Makkah ke tanah air, untuk kemudian dieksekusi dan dibagikan langsung kepada kaum fakir miskin di pedesaan Banten. Fenomena sosiologis ini memicu sebuah perenungan filosofis mendalam mengenai elastisitas hukum Islam dalam merespons ruang, waktu, dan kemaslahatan umat manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Realitas sosiokultural di atas tidak dapat dilepaskan dari desain sosiogeografis pelaksanaan ibadah haji modern yang dialami oleh sebagian besar jemaah asal Indonesia. Jemaah haji reguler, terutama yang tergabung dalam gelombang pertama, dipastikan telah tiba di Tanah Suci beberapa minggu sebelum prosesi Wukuf di Arafah dilaksanakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika mereka dipaksakan untuk mengambil skenario Haji Ifrad—yakni mendahulukan haji baru kemudian melaksanakan umrah—maka mereka harus mempertahankan kondisi ihram beserta seluruh larangannya yang sangat ketat selama hampir sebulan penuh. Menjaga kepatuhan ritual di bawah tekanan cuaca ekstrem dan kelelahan fisik tentu menjadi beban yang sangat berat bagi jemaah haji kontemporer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsekuensinya, demi keselamatan jiwa dan kemudahan ibadah, hampir seluruh jemaah haji Indonesia secara sadar memilih skenario Haji Tamattu’ atau Haji Qiran sebagai pilihan manasik yang paling rasional dan aman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pilihan manasik yang masif ini membawa konsekuensi hukum yang bersifat kausalitas mutlak, di mana jemaah secara otomatis akan terkena &#8220;pasal&#8221; kewajiban membayar dam nusuk. Dalam diskursus fikih klasik, kata dam yang secara harfiah berarti darah, sering kali disalahpahami oleh sebagian jemaah sebagai sebuah bentuk hukuman atas kesalahan atau pelanggaran yang ternoda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, dam dalam konteks Haji Tamattu’ dan Qiran sesungguhnya merupakan dam syukran, yaitu sebuah kompensasi finansial spiritual sebagai wujud rasa syukur atas kelonggaran dan kenyamanan yang diberikan oleh syariat. Syariat Islam memberikan dispensasi kepada jemaah untuk melepas ihram dan hidup normal di Makkah setelah umrah selesai, sebelum nantinya mengenakan ihram kembali untuk berhaji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pengenaan denda ini tidak boleh dipandang sebagai kecacatan ritual, melainkan bagian integral dari paket efisiensi ibadah yang sah dan berpijak pada prinsip taisir*l (kemudahan).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terobosan fikih yang memindahkan lokasi penyembelihan dan pendistribusian hewan dam ke tanah air, sebagaimana yang terekam dalam video di Banten tersebut, merupakan buah dari ijtihad kontemporer yang dinamis. Selama berabad-abad, pemahaman arus utama umat Islam mematok bahwa seluruh prosesi penyembelihan hewan hadyu atau dam wajib diselesaikan di dalam batas geografis Tanah Haram Makkah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pertumbuhan jumlah jemaah haji global yang eksponensial di era modern memicu terjadinya surplus daging sembelihan yang sangat luar biasa di Mina dan Makkah. Persoalan logistik, potensi mubazir, dan higienitas lingkungan di Tanah Suci kemudian mendorong para cendekiawan muslim untuk meninjau kembali aspek substansi sosial dari ibadah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan fundamental yang muncul adalah apakah letak geografis penyembelihan bersifat mutlak, ataukah asas kemanfaatan bagi penerima daging yang justru menjadi inti dari perintah syariat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membedah fenomena ini secara akademis, kita harus melacak akar metodologi hukum yang diwariskan oleh para imam mazhab dalam fikih klasik. Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali memiliki pandangan yang sangat ketat mengenai keterikatan ruang dalam pelaksanaan penyembelihan hewan denda haji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut mereka, Tanah Haram Makkah bukan sekadar tempat distribusi, melainkan tempat ibadah itu sendiri yang sifatnya ta&#8217;abbudi atau ritual baku yang tidak dapat diganggu gugat. Mereka bersandar pada dalil-dalil tekstual Al-Qur&#8217;an, salah satunya Surat Al-Hajj ayat 33 yang menyatakan bahwa tempat penyembelihan hewan hadyu adalah di sekitar Baitul Atiq (Tanah Haram).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan logika mazhab ini, pemindahan lokasi penyembelihan ke luar dari wilayah Makkah, apalagi hingga lintas benua ke Indonesia, dipandang membatalkan keabsahan ibadah dam tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Mazhab Hanafi memberikan ruang interpretasi yang sedikit berbeda dan menjadi celah bagi perkembangan ijtihad kontemporer di kemudian hari. Meskipun Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya tetap mewajibkan penyembelihan dilakukan di Tanah Haram untuk jenis dam tertentu, mereka memiliki kelonggaran dalam aspek waktu pelaksanaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh lagi, pendekatan metodologi hukum Hanafi dikenal sangat menekankan pada aspek illat (alasan hukum) yang bersifat rasional dan berorientasi pada kemaslahatan sosial (ta&#8217;aqquli). Konstruksi berpikir inilah yang kemudian dikembangkan oleh para ahli fikih modern untuk melihat bahwa sasaran utama dari penyembelihan hewan ini adalah memberi makan kepada manusia yang membutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika fakir miskin di Makkah sudah mengalami surplus makanan, maka mengalihkan hewan tersebut kepada yang kelaparan di belahan bumi lain menjadi tindakan yang sangat logis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam lanskap keagamaan di Indonesia, perbedaan paradigma hukum ini terefleksi secara jelas melalui sikap kelembagaan yang diambil oleh organisasi kemasyarakatan Islam. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjadi salah satu institusi keagamaan yang secara progresif memberikan legitimasi terhadap terobosan fikih penyembelihan dam di tanah air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muhammadiyah menggunakan pisau analisis Maqashid Asy-Syariah (tujuan-tujuan syariat) dengan argumen bahwa esensi dari pembayaraan dam adalah penegakan keadilan sosial dan pengentasan kelaparan. Ketika dana dam dikirim ke Indonesia, ia tidak hanya menyelesaikan kewajiban ritual jemaah, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi peternak lokal dan memperbaiki gizi masyarakat miskin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Muhammadiyah, memilih kemaslahatan nyata bagi umat Islam di tanah air jauh lebih utama daripada mempertahankan formalitas ruang yang berisiko memicu kemubaziran di Makkah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan yang berbeda secara diametral dipegang oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tetap berdiri kokoh pada jalur kehati-hatian fikih klasik. Melalui Fatwa MUI Nomor 41 Tahun 2011, lembaga ini menegaskan bahwa penyembelihan hewan dam yang dilakukan di luar batas Tanah Haram Makkah hukumnya secara syar&#8217;i adalah tidak sah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">MUI memandang bahwa keterikatan tempat dalam ibadah haji adalah aturan manasik yang bersifat dogmatis, sehingga manusia tidak memiliki otoritas untuk memindahkannya berdasarkan rasionalisasi ekonomi semata.<br>Kendati demikian, MUI tidak menutup mata terhadap problem kemaslahatan sosial, sehingga mereka menawarkan sebuah titik temu yang moderat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Solusi dari MUI adalah hewan dam harus tetap disembelih di Makkah sesuai syariat, namun dagingnya dibekukan (frozen) lalu dikirimkan menggunakan kargo laut ke Indonesia untuk didistribusikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama RI bertindak sebagai regulator yang mencoba menjembatani keragaman pemikiran hukum ini demi pelayanan jemaah yang optimal. Melalui Surat Edaran Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Nomor 2 Tahun 2024, Kementerian Agama secara resmi memfasilitasi skema pembayaran dam yang akuntabel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk mengelola penarikan dana dam dari jemaah haji yang secara sukarela memilih mazhab fikih sosial. Langkah ini diambil karena pemerintah menyadari bahwa potensi dana dari ratusan ribu jemaah haji Tamattu’ Indonesia dapat dikonversi menjadi program strategis nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dana tersebut dimanfaatkan untuk pengadaan hewan ternak di dalam negeri yang dagingnya disalurkan guna menyukseskan program penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterlibatan BAZNAS RI dalam ekosistem ini bertindak sebagai amil resmi yang menjamin bahwa seluruh proses pengiriman uang, pembelian hewan, hingga penyembelihan berjalan transparan. Dari sudut pandang akuntansi syariah dan manajemen publik, BAZNAS berhasil mengubah tata kelola dam yang semula bersifat individual dan tidak terdata menjadi sebuah kekuatan ekonomi umat yang terorganisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hewan-hewan yang disembelih di berbagai daerah, seperti di pelosok Banten dalam tayangan video tersebut, dipastikan telah melalui uji kesehatan dan kelayakan syariat yang ketat. Dengan demikian, jemaah haji yang berada di Makkah dapat menunaikan ibadahnya dengan tenang, karena laporan penyembelihan disampaikan secara berkala melalui sistem informasi digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengintegrasian ibadah privat dengan dampak sosial publik ini menjadi percontohan bagi pengelolaan ibadah haji di negara-negara muslim lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cendekiawan muslim kontemporer, seperti Yusuf Al-Qaradawi dan beberapa pemikir hukum Islam lainnya, sering kali mengingatkan pentingnya kontekstualisasi fikih di era modern. Al-Qaradawi dalam berbagai literaturnya menekankan bahwa fikih harus selalu bergerak dinamis laksana air, tidak boleh beku dan mengeras hingga menyulitkan kehidupan umat manusia (al-haraj).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibadah dalam Islam selalu membawa dua dimensi kembar yang tidak boleh dipertentangkan, yaitu kesalehan ritual yang menghubungkan makhluk dengan Khalik, dan kesalehan sosial yang menghubungkan manusia dengan sesamanya. Ketika kondisi zaman menuntut adanya rekayasa hukum demi menghindari kemudaratan yang lebih besar—seperti pembuangan daging yang membusuk akibat surplus—maka ijtihad harus berani melangkah maju.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, perpindahan lokasi penyembelihan dam ke tanah air harus dibaca sebagai bentuk perluasan wilayah pengabdian sosial ibadah haji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat peta perbedaan pandangan yang begitu kaya dan berbasis pada argumen yang sama-sama kuat, kita dipanggil untuk melihat khazanah fikih ini dengan kacamata yang jernih. Keragaman pendapat antara ulama klasik yang memegang teguh teks ruang, dan ulama kontemporer yang membaca tanda-tanda zaman, sesungguhnya adalah sebuah berkah spiritual yang indah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada satu pihak pun yang berhak mengklaim kebenaran mutlak atau menuduh pihak lain telah merusak tatanan agama dalam wilayah ijtihad khilafiyah ini. Kedua belah pihak sejatinya memiliki niat yang sama mulianya, yaitu menjaga kesucian ibadah haji sekaligus memastikan bahwa syariat Islam tetap memancarkan rahmat bagi seluruh alam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sikap saling menghormati atas pilihan metodologi hukum masing-masing kelompok merupakan fondasi utama bagi kedewasaan beragama umat Islam di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umat Islam, khususnya para jemaah haji Indonesia, harus disodorkan pilihan-pilihan keagamaan ini secara terbuka, jujur, dan edukatif tanpa ada unsur paksaan atau doktrinasi tunggal. Tugas para pembimbing haji dan ulama di tanah air adalah memetakan argumen-argumen hukum tersebut secara objektif, lengkap dengan segala konsekuensi spiritual dan sosialnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jemaah yang memiliki kecenderungan hati pada aspek kehati-hatian ritual individual dapat memilih menyembelih di Makkah atau mengikuti opsi pembekuan daging dari MUI. Sementara itu, jemaah yang memiliki kepekaan sosial tinggi dan meyakini urgensi ketahanan pangan bangsa dapat memilih menyalurkan dana dam mereka melalui BAZNAS ke tanah air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebebasan memilih ini akan melahirkan ketenteraman batin bagi jemaah, sehingga mereka dapat menjalankan ibadah di Tanah Suci tanpa dibayangi rasa bersalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa penyembelihan hewan dam di wilayah Banten yang semula dikira sebagai kurban Idul Adha adalah sebuah simbol nyata dari jembatan spiritual spiritualitas global. Jembatan ini menghubungkan ritual fisik jemaah haji yang sedang bergerak mengitari Kabah di Makkah, dengan pemenuhan kebutuhan gizi riil anak-anak yatim dan fakir miskin di pelosok nusantara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fikih Islam telah membuktikan dirinya mampu bekerja melintasi batas geografis dan ruang udara melalui pemanfaatan teknologi finansial dan kematangan berijtihad para ulamanya. Keragaman fatwa yang ada di tengah-tengah kita tidak sepatutnya memicu keretakan sosial, melainkan harus dipandang sebagai instrumen kekayaan intelektual yang memperkaya pilihan hidup umat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan hati yang lapang, kita dapat merayakan keragaman pendapat ini sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang senantiasa relevan di setiap waktu dan tempat. Wallahualam.*</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/06/02/dialektika-ruang-dan-esensi-dalam-fikih-dam-haji/">Dialektika Ruang dan Esensi dalam Fikih Dam Haji</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/06/02/dialektika-ruang-dan-esensi-dalam-fikih-dam-haji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BPJAMSOSTEK Menuju Universal Coverage di Banten, Bisakah?</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/bpjamsostek-menuju-universal-coverage-di-banten-bisakah/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/bpjamsostek-menuju-universal-coverage-di-banten-bisakah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 11:38:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1327</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="450" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-450x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-450x450.jpeg 450w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-300x300.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-150x150.jpeg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05.jpeg 700w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<p>Oleh: H. Didin Haryono (Wakil Ketua ICMI ORWIL Banten) Pemerintah menargetkan Universal Coverage Jaminan Sosial...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/30/bpjamsostek-menuju-universal-coverage-di-banten-bisakah/">BPJAMSOSTEK Menuju Universal Coverage di Banten, Bisakah?</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="450" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-450x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-450x450.jpeg 450w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-300x300.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05-150x150.jpeg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-29-at-10.46.05.jpeg 700w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Oleh: H. Didin Haryono </strong></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">(<strong>Wakil Ketua ICMI ORWIL Banten</strong>)</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah menargetkan Universal Coverage Jaminan Sosial Ketenagakerjaan pada 2030. Seluruh pekerja Indonesia, baik formal maupun informal, harus terlindungi BPJS Ketenagakerjaan. Targetnya mulia. Namun di Banten, pertanyaannya masih menggantung: bisakah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai provinsi industri sekaligus wilayah dengan jumlah pekerja informal terbesar ketiga di Jawa, Banten menjadi barometer keberhasilan target ini. ICMI ORWIL Banten menilai ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal keadilan sosial yang tidak bisa ditunda.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Cakupan Masih Jauh dari Merata</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Banten memiliki 5,6 juta angkatan kerja. Data BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten menunjukkan, peserta aktif baru menyentuh 38-40%.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketimpangannya nyata. Di Tangerang, Tangerang Selatan, Cilegon, dan Kota Serang, cakupan pekerja formal sudah 75-85%. Perusahaan besar patuh karena diawasi Disnaker dan terikat regulasi pengadaan barang dan jasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, di Pandeglang dan Lebak, cakupan pekerja informal hanya 15-20%. Padahal risiko kerja di sektor pertanian, perikanan, dan UMKM justru lebih tinggi. Petani jatuh dari pohon kelapa, nelayan hilang di laut, pedagang pasar tertimpa dagangan. Tanpa BPJAMSOSTEK, semua biaya ditanggung sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tiga Hambatan Utama</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga ganjalan yang membuat target universal coverage sulit tercapai di Banten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Kesadaran rendah di sektor informal yang bersifat struktural&nbsp;<br>Masalahnya bukan sekadar malas daftar atau tidak paham. Ada empat akar persoalan:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Miskin informasi dan kepercayaan: Sosialisasi berhenti di permukaan. Informasi tentang manfaat, cara klaim, dan contoh nyata jarang sampai ke desa. Yang beredar justru kabar simpang siur: urus klaim ribet, uang lama cair. Akibatnya, iuran Rp16.800 per bulan dianggap buang uang.</li>



<li>Orientasi hidup harian yang mendesak: Pekerja informal hidup dari tangan ke mulut. Prioritasnya hari ini makan, bukan risiko yang mungkin terjadi enam bulan lagi.</li>



<li>Salah kaprah manfaat: Banyak yang mengira BPJAMSOSTEK hanya untuk karyawan pabrik. Padahal pedagang pasar, tukang ojek, nelayan, bahkan guru ngaji bisa ikut. Manfaat beasiswa anak sampai S1 sering tidak tersampaikan, padahal ini daya tarik terbesar bagi keluarga miskin.</li>



<li>Peserta nunggak dan berhenti di tengah jalan: Banyak pekerja informal yang awalnya daftar lalu tidak sanggup bayar rutin. Ketika penghasilan seret, iuran jadi beban pertama yang dipotong. Status kepesertaan nonaktif, dan perlindungan hilang saat dibutuhkan.<br>Kesadaran tidak akan naik hanya dengan spanduk dan brosur. Ia naik jika ada tokoh yang dipercaya bicara, ada contoh nyata klaim cair cepat, dan ada skema bayar yang fleksibel.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">2. Akses layanan tidak merata dan birokrasi berbelit&nbsp;<br>Dari 8 kabupaten/kota, hanya 4 yang punya kantor cabang penuh: Tangerang, Cilegon, Serang, dan Tangerang Selatan. Pandeglang dan Lebak tidak punya kantor cabang. Warga harus menempuh 3-4 jam dan mengeluarkan ongkos Rp80-100 ribu untuk urus pendaftaran apalagi klaim.&nbsp;<br>Persyaratan klaim kematian dan kecelakaan kerja masih meminta 8-12 dokumen, termasuk surat keterangan kerja yang sulit didapat pekerja informal. Proses verifikasi berlapis membuat pencairan memakan waktu 1-3 bulan. Tanpa jemput bola digital dan penyederhanaan prosedur, universal coverage hanya jadi slogan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Kepatuhan UMKM lemah karena beban biaya dan lemahnya pengawasan&nbsp;<br>Banten memiliki lebih dari 900 ribu UMKM. Mayoritas usaha mikro dengan 1-5 pekerja. Mereka wajib mendaftarkan pekerja, tetapi banyak yang tidak patuh.<br>Tiga alasannya: persepsi biaya naik, minim pemahaman kewajiban hukum, dan lemahnya penegakan. Pengawasan Disnaker masih fokus ke perusahaan besar. Akibatnya, tukang jahit, mekanik bengkel, dan kasir warung bekerja tanpa perlindungan. Ketika kecelakaan terjadi, semua biaya ditanggung sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>ICMI Usulkan Empat Langkah Konkret</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">ICMI ORWIL Banten siap menjadi mitra strategis untuk mempercepat universal coverage. Empat langkah yang bisa segera dimulai:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Skema gotong royong Pemda&nbsp;<br>Daerah dengan fiskal kuat seperti Tangerang, Tangsel, Cilegon, dan Kota Serang bisa menganggarkan iuran bagi pekerja rentan. Untuk Pandeglang, Lebak, dan daerah dengan APBD terbatas, Pemprov Banten harus hadir menanggung iuran melalui skema Penerima Bantuan Iuran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Model ini sudah berjalan di Jawa Barat untuk BPJS Kesehatan dan bisa diadaptasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Integrasi dengan BUMDes dan koperasi&nbsp;<br>BUMDes bisa menjadi agen pendaftaran dan penagihan iuran. Petani dan nelayan dapat membayar iuran melalui potongan hasil panen. Cara ini praktis dan menjangkau sampai desa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Edukasi dan sosialisasi masif&nbsp;<br>ICMI akan menggerakkan pengurus wilayah, cabang, dan majelis untuk menjadikan jaminan sosial sebagai materi pendidikan yang membumi:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Tingkat masyarakat: Jadikan khutbah Jumat, pengajian, dan forum RT/RW sebagai ruang edukasi. Libatkan tokoh agama dan adat sebagai agen literasi.</li>



<li>Tingkat sekolah dan kampus: Masukkan materi literasi jaminan sosial ke pelajaran PPKn, ekonomi, dan kuliah kewarganegaraan. Latih mahasiswa jadi relawan edukasi di desa binaan KKN.</li>



<li>Media digital: Sebar konten pendek, infografik, dan testimoni penerima manfaat lewat medsos, radio komunitas, dan grup WhatsApp desa.<br>Pesan utamanya sederhana: jaminan sosial adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan ajaran Islam tentang saling melindungi.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">4. Perbaiki kualitas pelayanan BPJAMSOSTEK&nbsp;<br>Pelayanan tidak boleh berbelit dan mengada-ada. Yang perlu diperbaiki:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Digitalisasi dan jemput bola ke desa: Proses pendaftaran dan klaim harus bisa lewat aplikasi, WhatsApp, dan agen keliling. Petugas perlu turun ke pasar, pelabuhan, dan balai desa minimal dua kali sebulan.</li>



<li>Sederhanakan persyaratan dan percepat klaim: Cukup KTP, KK, dan surat keterangan desa. Target penyelesaian maksimal 7 hari kerja.</li>



<li>Transparansi dan pengaduan responsif: Buka kanal pengaduan via call center dan medsos dengan jawaban maksimal 1×24 jam. Tindak tegas petugas yang mempersulit.</li>



<li>Pelatihan budaya layanan: Petugas lapangan adalah wajah BPJAMSOSTEK. Mereka harus dilatih komunikasi, empati, dan pemahaman regulasi.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ini Soal Keadilan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Banten punya risiko kerja tinggi. Di utara, PHK massal dan kecelakaan pabrik mengintai. Di selatan, kecelakaan laut dan sawah sering terjadi. Tanpa BPJAMSOSTEK, satu musibah bisa membuat keluarga jatuh miskin dalam semalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi ICMI, melindungi pekerja adalah wujud nyata dari nilai keadilan dan kemaslahatan umat. Keadilan sosial bukan slogan dalam Pembukaan UUD 1945. Ia menuntut negara hadir untuk semua warga, bukan hanya untuk mereka yang bekerja di gedung ber-AC.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesenjangan cakupan 75% di Tangerang versus 15% di Pandeglang adalah cermin ketimpangan struktural. Pekerja formal mendapat perlindungan karena sistem memaksa perusahaan patuh. Sementara pekerja informal dibiarkan berjuang sendiri. Ini bukan keadilan, ini pembiaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif Islam, maslahah dan takaful ijtimai adalah kewajiban. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Muslim yang satu dengan muslim lainnya seperti satu bangunan, saling menguatkan.” Jika ada pekerja yang jatuh sakit atau meninggal lalu keluarganya terlantar, seluruh masyarakat ikut menanggung dosa sosial itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Universal coverage 2030 bukan sekadar target administratif. Ia adalah ujian apakah negara benar-benar hadir untuk rakyat kecil. Jika kita gagal melindungi 60% pekerja informal Banten, maka kita gagal menjaga marwah konstitusi dan nilai kemanusiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penutup</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, bisakah BPJAMSOSTEK menuju universal coverage di Banten? Jawabannya bisa, jika tiga unsur bergerak bersama: Pemprov Banten dan Pemkab/Pemkot berbagi peran mengcover iuran, BPJAMSOSTEK membenahi pelayanan, dan ICMI bersama ormas lainnya menjadi garda depan edukasi dan pengawalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan tunggu ada anak putus sekolah karena ayahnya kecelakaan kerja dan meninggal tanpa biaya pengobatan, dan jangan sampai mereka kehilangan beasiswa yang sudah menjadi haknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">ICMI ORWIL Banten menyatakan siap mengawal agar perlindungan sosial benar-benar sampai ke Pandeglang, Lebak, Tangerang, dan seluruh penjuru Banten. Karena perlindungan sosial adalah hak, bukan hadiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://reportasebanten.co.id/2026/05/bpjamsostek-menuju-universal-coverage-di-banten-bisakah/</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/30/bpjamsostek-menuju-universal-coverage-di-banten-bisakah/">BPJAMSOSTEK Menuju Universal Coverage di Banten, Bisakah?</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/bpjamsostek-menuju-universal-coverage-di-banten-bisakah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Takaful Ijtimai di Banten: Dari Konsep Islam ke Aksi Nyata untuk Pekerja Informal</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/takaful-ijtimai-di-banten-dari-konsep-islam-ke-aksi-nyata-untuk-pekerja-informal/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/takaful-ijtimai-di-banten-dari-konsep-islam-ke-aksi-nyata-untuk-pekerja-informal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 11:36:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1324</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="450" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-450x450.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-450x450.jpg 450w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-300x300.jpg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-150x150.jpg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-768x768.jpg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015.jpg 900w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<p>Oleh: H. Didin HaryonoWakil Ketua ICMI ORWIL Banten Takaful Ijtimai: Konsep Saling Menanggung Dalam fiqh...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/30/takaful-ijtimai-di-banten-dari-konsep-islam-ke-aksi-nyata-untuk-pekerja-informal/">Takaful Ijtimai di Banten: Dari Konsep Islam ke Aksi Nyata untuk Pekerja Informal</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="450" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-450x450.jpg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-450x450.jpg 450w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-300x300.jpg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-150x150.jpg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015-768x768.jpg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260529-WA0015.jpg 900w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Oleh: H. Didin Haryono<br>Wakil Ketua ICMI ORWIL Banten</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Takaful Ijtimai: Konsep Saling Menanggung</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam fiqh sosial, takaful ijtimai berarti satu umat saling menanggung beban. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang dan kepedulian mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.” Konsep ini adalah cikal bakal jaminan sosial modern. Bedanya, takaful ijtimai berangkat dari tanggung jawab moral dan ukhuwah. Negara, pengusaha, komunitas, dan individu punya peran yang saling mengikat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Banten, konsep ini belum menjelma jadi sistem. Akibatnya 60% pekerja masih rentan jatuh miskin karena satu musibah kerja. Realitas di Banten: Utara Aman, Selatan Tertinggal Banten punya 5,6 juta angkatan kerja. Peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan baru 38-40%. Wilayah Utara: Tangerang, Cilegon, Tangsel, Kota Serang. Cakupan pekerja formal 75-85%. Perusahaan besar patuh karena diawasi Disnaker dan terikat syarat tender pemerintah. Sistem “memaksa” perlindungan jalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wilayah Selatan: Pandeglang dan Lebak situasinya double problem.<br>1. Cakupan pekerja informal hanya 15-20%.<br>2. Cakupan pekerja formalnya pun masih rendah. Basis ekonominya didominasi UMKM mikro 1-5 pekerja yang kepatuhan dan pengawasannya lemah. Pabrik besar dan kawasan industri hampir tidak ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal risiko kerja di sawah, laut, kebun, dan pasar justru lebih tinggi. Petani jatuh dari pohon kelapa, nelayan hilang di laut, pedagang tertimpa dagangan. Tanpa BPJAMSOSTEK, semua biaya ditanggung sendiri. Satu musibah bisa bikin keluarga jatuh miskin dalam semalam. Kesenjangan 85% vs &lt;30% ini bukti takaful ijtimai belum hidup. Perlindungan dinikmati yang kerja di gedung AC, bukan yang paling rentan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenapa Mandek di Selatan Banten</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Rantai kepercayaan putus <br></strong>Info manfaat BPJAMSOSTEK nggak nyampe ke desa. Yang beredar: klaim ribet, cair 3 bulan. Iuran Rp16.800/bulan dianggap buang uang untuk orang yang hidupnya harian. Tanpa contoh tetangga yang klaimnya cair 7 hari, orang nggak mau daftar.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Akses belum sampai pelosok<br></strong>KCP BPJAMSOSTEK sudah beroperasi di Rangkasbitung dan Pandeglang kota. Itu langkah maju. Tapi bagi warga Bayah, Cikeusik, Sumur, atau Binuangeun, jarak ke kantor masih 3-4 jam dengan ongkos Rp80-100rb PP. Ditambah klaim butuh 8-12 dokumen dan proses 1-3 bulan. Jadi “ada kantor” belum sama dengan “mudah dijangkau”. Makanya layanan agen perisai keliling + klaim via WhatsApp harus jadi prioritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Tanggung jawab kolektif belum dihidupkan<br></strong>900 ribu UMKM di Banten, mayoritas mikro. Wajib daftarin pekerja tapi banyak yang abai karena merasa biaya naik + minim pemahaman hukum. Pengawasan Disnaker fokus ke utara. Negara hadir untuk yang kuat, absen untuk yang lemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Implementasi Takaful Ijtimai di Banten: 4 Jalan Gotong Royong</p>



<p class="wp-block-paragraph">ICMI ORWIL Banten tawarkan model yang menghidupkan prinsip saling menanggung:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Gotong Royong Fiskal Daerah<br></strong>Negara hadir pertama. Tangerang, Cilegon, Tangsel, Kota Serang bisa anggarkan iuran pekerja rentan dari APBD. Untuk Pandeglang-Lebak yang APBD terbatas, Pemprov Banten wajib cover lewat skema Penerima Bantuan Iuran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Ini bukan charity, ini kewajiban negara wujudkan keadilan sosial. Model PBI BPJS Kesehatan di Jabar bisa diadaptasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. BUMDes &amp; Koperasi sebagai Pilar Komunitas <br></strong>Takaful ijtimai hidup di level desa. BUMDes jadi agen pendaftaran + penagihan iuran. Petani/nelayan bayar lewat potongan hasil panen. Ketika komunitas yang kelola, kepercayaan naik dan biaya transaksi turun. Ini mengembalikan semangat gotong royong.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Edukasi Lewat Jaringan Agama &amp; Sosial <br></strong>Literasi nggak akan jalan lewat spanduk. ICMI gerakkan pengurus wilayah sampai majelis: jadikan khutbah Jumat, pengajian, forum RT/RW sebagai ruang edukasi. Tokoh agama/adat jadi agen literasi yang dipercaya. Di kampus, mahasiswa KKN dilatih jadi relawan desa. Pesannya: melindungi pekerja adalah ibadah sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>4. Reformasi Layanan agar Amanah<br></strong>Amanah = mudah + cepat. Pendaftaran dan klaim lewat aplikasi, WhatsApp, agen keliling. Persyaratan disederhanakan: KTP, KK, surat desa. Target klaim max 7 hari kerja. Kanal pengaduan responsif 1×24 jam. Petugas lapangan dilatih empati, karena mereka wajah negara di desa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Slogan ke Praktik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Universal coverage 2030 akan gagal kalau hanya andalkan pabrik besar. Takaful ijtimai menuntut kita perluas definisi “kita”. Petani Lebak, nelayan Pandeglang, guru ngaji di kampung, tukang di UMKM mikro — mereka semua bagian dari satu tubuh umat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika negara cover iuran, komunitas kelola, dan ICMI kawal edukasi, maka Banten bisa jadi contoh: jaminan sosial bisa bekerja untuk yang paling rentan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banten tidak kekurangan risiko kerja. Yang kurang adalah sistem yang memastikan saat musibah datang, tidak ada keluarga yang jatuh sendirian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlindungan sosial adalah hak. Dan dalam Islam, menunaikan hak adalah bagian dari iman.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber: https://haluanbanten.co.id/2026/05/29/takaful-ijtimai-di-banten-dari-konsep-islam-ke-aksi-nyata-untuk-pekerja-selatan/</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/30/takaful-ijtimai-di-banten-dari-konsep-islam-ke-aksi-nyata-untuk-pekerja-informal/">Takaful Ijtimai di Banten: Dari Konsep Islam ke Aksi Nyata untuk Pekerja Informal</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/takaful-ijtimai-di-banten-dari-konsep-islam-ke-aksi-nyata-untuk-pekerja-informal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Qurban Bersama ICMI Banten 1447 H: Menguatkan Kepedulian Sosial dan Semangat Berbagi</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/qurban-bersama-icmi-banten-1447-h-menguatkan-kepedulian-sosial-dan-semangat-berbagi/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/qurban-bersama-icmi-banten-1447-h-menguatkan-kepedulian-sosial-dan-semangat-berbagi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 May 2026 10:38:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1319</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="750" height="422" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-750x422.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-750x422.jpeg 750w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-300x169.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-1024x576.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-768x432.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-1536x864.jpeg 1536w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /></p>
<p>Serang, 28 Mei 2026, (icmibanten.or.id) &#8211; Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Banten menyelenggarakan kegiatan...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/30/qurban-bersama-icmi-banten-1447-h-menguatkan-kepedulian-sosial-dan-semangat-berbagi/">Qurban Bersama ICMI Banten 1447 H: Menguatkan Kepedulian Sosial dan Semangat Berbagi</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="750" height="422" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-750x422.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-750x422.jpeg 750w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-300x169.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-1024x576.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-768x432.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18-1536x864.jpeg 1536w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.39.18.jpeg 1600w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /></p>
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Serang, 28 Mei 2026</strong>, (icmibanten.or.id) &#8211; Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Banten menyelenggarakan kegiatan “Qurban Bersama ICMI Banten” 1447 H pada Kamis, 28 Mei 2026, bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1447 H. Kegiatan ini dilaksanakan di Sekretariat ICMI Orwil Banten sebagai wujud syukur, kepedulian sosial, serta komitmen ICMI Banten dalam memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, keumatan, dan kebersamaan di tengah masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan qurban ini menjadi momentum penting bagi ICMI Banten untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Selain sebagai ibadah yang memiliki dimensi spiritual, qurban juga merupakan sarana memperkuat solidaritas sosial, membangun empati, serta meneguhkan semangat berbagi kepada sesama, khususnya kepada warga masyarakat yang berada di lingkungan sekitar Sekretariat ICMI Orwil Banten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketua ICMI Orwil Banten, Eden Gunawan, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan Qurban Bersama ICMI Banten 1447 H. Menurutnya, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi yang baik antara pengurus, panitia, para pequrban, serta mitra strategis yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Kami juga mengapresiasi para pequrban, baik dari unsur pengurus ICMI Banten, Yayasan Al Maghfiroh Jakarta, maupun Polda Banten, yang telah berkontribusi dalam kegiatan qurban tahun ini. Semoga seluruh amal kebaikan ini diterima Allah SWT dan membawa keberkahan bagi kita semua,” ujar Eden Gunawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menambahkan bahwa kegiatan qurban tidak hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan qurban, tetapi juga sebagai bentuk pendidikan sosial dan spiritual. Melalui qurban, umat Islam diajak untuk meneladani nilai keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, serta tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada momentum yang sama, ketua <em>Steering Committee</em>, Didin Haryono Bahrudin, menyampaikan bahwa kegiatan Qurban Bersama ICMI Banten 1447 H merupakan bagian dari ikhtiar ICMI Banten untuk menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam bentuk kerja sosial yang konkret dan dirasakan langsung oleh masyarakat. “Qurban mengajarkan kita tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian. Karena itu, ICMI Banten ingin memastikan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang kebersamaan antara para cendekiawan muslim, mitra kelembagaan, dan masyarakat. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah sosial yang mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat berbagi di tengah umat,” ujar Drs. Didin Haryono.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Ketua Organizing Committee, Sibromulisi, dalam laporannya menyampaikan bahwa hewan qurban yang disembelih pada kegiatan tersebut terdiri dari 5 ekor domba dan 1 ekor sapi. Adapun 1 ekor sapi merupakan sumbangan dari Polda Banten. Proses penyembelihan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan syariat Islam dan standar penyembelihan halal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Alhamdulillah</em>, pelaksanaan qurban tahun ini berjalan dengan lancar. Penyembelihan hewan qurban dilakukan dengan memberdayakan juru sembelih halal yang sudah bersertifikasi, serta dibantu oleh panitia yang bekerja secara tertib dan kompak. Daging qurban kemudian dibagikan kepada puluhan warga masyarakat di sekitar Sekretariat ICMI Orwil Banten,” jelas Sibromulisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah seorang penerima manfaat menyampaikan rasa syukur dan haru atas kepedulian ICMI Banten dan para pequrban. Ia mengatakan bahwa bantuan daging qurban tersebut sangat berarti bagi keluarganya, terutama di tengah kebutuhan hidup yang semakin berat. “Kami sangat berterima kasih. Bagi kami, daging qurban ini bukan hanya makanan, tetapi juga tanda bahwa masih ada saudara-saudara yang peduli kepada masyarakat kecil. Semoga Allah membalas kebaikan para pequrban, panitia, dan ICMI Banten dengan keberkahan yang berlipat,” ungkapnya dengan penuh haru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan Qurban Bersama ICMI Banten 1447 H ini diharapkan dapat terus menjadi agenda sosial keumatan yang berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, ICMI Banten berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam bidang pemikiran dan kecendekiawanan, tetapi juga dalam aksi nyata yang membawa manfaat sosial, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian antarwarga.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.18-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-1320" style="width:657px;height:auto" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.18-1024x768.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.18-300x225.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.18-768x576.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.18-600x450.jpeg 600w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.18.jpeg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.38-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-1321" style="width:666px;height:auto" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.38-1024x768.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.38-300x225.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.38-768x576.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.38-600x450.jpeg 600w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-30-at-10.38.38.jpeg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/30/qurban-bersama-icmi-banten-1447-h-menguatkan-kepedulian-sosial-dan-semangat-berbagi/">Qurban Bersama ICMI Banten 1447 H: Menguatkan Kepedulian Sosial dan Semangat Berbagi</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/30/qurban-bersama-icmi-banten-1447-h-menguatkan-kepedulian-sosial-dan-semangat-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menulis Buku Sejarah</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menulis-buku-sejarah/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menulis-buku-sejarah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 14:30:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1317</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="359" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM-359x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM-359x450.jpeg 359w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM-240x300.jpeg 240w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM.jpeg 503w" sizes="auto, (max-width: 359px) 100vw, 359px" /></p>
<p>Oleh : Adung Haris I. Prolog Menulis buku sejarah menurut yang saya alami dan saya...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menulis-buku-sejarah/">Menulis Buku Sejarah</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="359" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM-359x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM-359x450.jpeg 359w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM-240x300.jpeg 240w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-27-at-4.09.31-AM.jpeg 503w" sizes="auto, (max-width: 359px) 100vw, 359px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em><strong>Oleh : Adung Haris</strong></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">I. Prolog</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menulis buku sejarah menurut yang saya alami dan saya lakukan adalah langkah luar biasa untuk merawat memori kolektif. Karena setidaknya, buku karya yang kita hasilkan akan menjadi warisan intelektual yang sangat berharga bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, agar proses riset dan penulisan buku yang kita lakukan tetap mengalir, berikut ini adalah beberapa tips praktisnya :</p>



<p class="wp-block-paragraph">A. Tentukan Fokus Area.<br>(1). Apakah kita menggarap sejarah lokal di sekitar kit (wilayah Banten), biografi tokoh, atau peristiwa nasional? Karena, fokus yang spesifik akan mempermudah pengumpulan data. (2). Gunakan Sumber Primer. Oleh karena itu, mau tidak mau, kita juga harus mengunjungi (mencari) arsip resmi atau perpustakaan nasional untuk mendapatkan data paling otentik. (3). Buat Kerangka (Outline). Susun bab perbah, yaitu berdasarkan kronologi peristiwa atau tematis agar alur cerita sejarah yang kita tulis lebih mudah diikuti pembaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">B. Terapkan Metode Sejarah.<br>(1). Lakukan tahapan seperti proses heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi, interpretasi, dan historiografi dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">C. Jaga Konsistensi.<br>Luangkan waktu minimal 30 menit setiap hari untuk menulis agar kebiasaan tetap semangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">II. Menulis Buku Sebagai Warisan Intelektual : Membentuk Sejarah Melalui Kata</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menulis buku (termasuk menilis buku sejarah) tidak hanya untuk memenuhi ambisi pribadi, tetapi juga merupakan cara untuk meninggalkan jejak intelektual yang bisa diakses oleh banyak generasi di masa yang akan datang. Dengan menulis buku, maka kita memiliki kesempatan untuk menyuarakan pemikiran dan ide yang mungkin belum terwakili di dunia literasi. Selain itu, kita juga berpeluang untuk menjadi sumber inspirasi dan referensi bagi banyak orang. Karena setiap gagasan yang kita tuangkan dalam tulisan, faktanya memiliki potensi untuk mengubah cara pandang orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menulis buku juga memberikan kebebasan tanpa batas untuk mengeksplorasi ide, membangun karakter, dan menciptakan dunia baru. Karena menulis buku adalah ruang pribadi untuk berekspresi tanpa batasan.<br>Banyak penulis sukses menyatakan bahwa langkah pertama dalam menulis adalah memiliki komitmen untuk memulai. Jadi, untuk kita yang pemula jangan terlalu fokus pada hasil akhir, nikmati setiap prosesnya, karena setiap halaman yang ditulis adalah langkah menuju pencapaian besar, Insyaallah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, menulislah, karena satu huruf dari tulisan kita bisa menjadi amal sholih di hadapan Allah. Menulis juga sudah menjadi tradisi para ulama terdahulu dalam sejarah peradaban Islam. Dengan menulis buku, kita bukan hanya sekadar menyusun kata, tetapi juga menciptakan karya yang bermanfaat dan dapat berdampak positif bagi dirimu sendiri dan orang lain. Mulailah menulis sekarang, dan jadikan setiap kalimat sebagai langkah menuju impian besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">A. Merangkai Sejarah Dengan Berkarya Dan Menulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sub judul bagian ini, penulis akan mencoba menjelaskan seputar motivasi menulis, hukum bagi seorang penulis, karakteristik dasar bagi penulis, dan catatan penting saat kita menulis. Mengingat, menulis sebenarnya pekerjaan yang sangat menyenangkan, apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, ada juga orang yang menganjurkan agar “menulis dengan hati”, sehingga tulisan yang kira hasilkan juga bisa mengalir seperti air yang turun dari tebing ke bawah bukit, lancar tanpa hambatan. Bahkan, tulisan yang baik biasanya dihasilkan dari penulis yang menulis dengan ikhlas, tanpa beban dan mempunyai pengetahuan yang baik pula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, ada juga orang yang menganggap bahwa pekerjaan menulis itu berat dan membosankan. Pendapat itu tentu saja bukan tanpa alasan. Mereka umumnya bingung kuga, yakni harus menulis apa dan untuk apa tulisan yang akan dibuatnya. Memang, jika orang menulis tanpa tujuan, tentu saja hasilnya akan sulit dan dijamin hambar dan tidak bernilai. Oleh karena itu, menulis harus mempunyai tujuan yang jelas, ibarat kita bicara, maka jangan bicara asal bicara melainkan bicara yang ada manfaatnya. Menulis pun seperti itu, karena menulis juga harus mempunyai tujuan yang jelas dan mempunyai perencanaan yang jelas pula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">B. Motivasi Menulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Menulis untuk keabadian diri&#8221;. Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer tersebut lebih lengkapnya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, maka ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah&#8221;. Dengan kata lain, menulis adalah bekerja untuk keabadian diri, bahkan menyangkut berbagai hal, diantaranya :</p>



<p class="wp-block-paragraph">(1). Tugas yang Tinggi Martabatnya.<br>Inilah kata-kata pamungkas warisan dari Imam Al-Ghazali, yang akan menguatkan tekad siapa pun para penulis yang merasa dirinya bukan turunan dari salah satu strata sosial di atas (termasuk apa yang dilakkukan oleh diri saya sendiri tentunya, walaupun karya baru hanya beberapa buah buku). &#8220;Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis&#8221;. Tutur Imam Al-Ghazali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(2). Pahala Yang Selalu Mengalir.<br>Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib). Lebih dari itu menurut Ali bin Abi Thali, bahwa &#8220;Tulisan adalah senjata yang ampuh, karena satu peluru hanya menembus satu kepala, sementara satu tulisan akan menembus beribu kepala”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(3). Mencipta Sejarah Baru.<br>Walaupun dengan kita menulis, suatu ketika kita tidak bisa terkenal seperti penulis yang terkemuka. Tapi, paling tidak kita sudah mencipta sejarah baru, terutama buat diri kita sendiri. Kata seorang penulis di tempat saya, ia kerapkali mengatakan, &#8220;Saya belum hebat, belum sukses dalam dunia penulisan, namun saya sudah lebih baik daripada mereka yang tak pernah menulis&#8221;. Tutur sang penulis yang tanpa henti untuk menulis dan menulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">C. Hukum Bagi Seorang Penulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibarat gizi, bacaan adalah nutrisi untuk otak sang penulis. bagaimana mau sehat, kalau membaca saja malas. bagaimana mau menulis novel yang bagus, kalau baca ketentuan pengiriman naskah saja tidak mau? Baca sebanyak mungkin. Apa pun, dan pelajari bagaimana penulis-penulis terkenal itu mereka merangkai kata, amati pemilihan diksi mereka, dan catat bagaimana mereka mengolah rasa. Akan lebih bagus lagi jika kita juga membaca berbagai genre tulisan para penulis terkenal itu, dan tak hanya satu jenis tulisan saja tentunya. Hal tersebut akan membuat otak kita semakin berisi. Ibarat perpustakaan, maka perbendaharaannya banyak. Mau apa saja, tinggal pilih untuk dikeluarkan. Di samping itu dengan banyak membaca akan terdapat beberapa manfaat bagi penulis yaitu : (1). Memperluas wawasan. (2). Memperoleh pengetahuan baru tentang hal-hal unik. (3). Memperkaya kosa kata. (4). Menjadi sumber ide dan inspirasi. (5). Sebagai tempat belajar teknik menulis. (6). Bisa mempelajari berbagai gaya menulis. (7). Belajar tata cara penulisan yang baku, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mau menjadi seorang penulis profesional, kebiasaan menulis setiap hari harus menjadi suatu kebiasaan utama. Hal itu harus menjadi rutinitas, keharusan, mutlak dan harus terus dilakukan, tida bisa tida. Hal itu amat sangat penting bagi seorang penulis untuk punya rutinitas menulis setiap hari. Maka, menulislah setiap hari, meski hanya berupa caption di Instagram atau status di Facebook. Tuliskan sesuatu yang membuat kira bahagia, atau sekadar untuk melepaskan beban. Syukur-syukur, tulisan kita itu bisa bikin orang terinspirasi. Maka menulis, menulis, dan terus menulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, lingkungan itu sangat berpengaruh terhadap diri kita. Maka, selektiflah dalam bergaul. Tak usah pedulikan kalau ada yang bilang kita pilih-pilih teman. Hal itu semua harus kita lakukan demi kesehatan, dan kelangsungan hidup kita sebagai penulis, dan itu sudah rahasia umum. Banyak penulis merasa tulisannya udah yang paling hebat sedunia, malah saya juga begitu ikut-ikutan latah, yskni seolah-olah sudah merasa hebat sendiri, terutama kalau sudah bisa menyelesaikan tulisan saya. Oleh karena itu, jeda waktu publish itu perlu, demi membuang pikiran nggak waras itu dari pikiran kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaiknya, ubah kebiasaan tersebut, yaitu jangan jatuh cinta pada tulisan kita sendiri. Artinya, selalulah berusaha untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Jangan pernah merasa tulisan kita adalah yang paling bagus di muka bumi. Dengan demikian, kita akan terbuka pada masukan dan saran dari orang lain. Dengan saran dan masukan tersebut, kita bisa belajar untuk memperbaiki tulisan kita agar lebih enak dibaca oleh orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">D. Karakteristik Dasar Bagi Penulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam buku berjudul &#8220;Sekolah Penulis&#8221;, lebih detailnya dijelaskan, memang ada empat karekter yang harus dimiliki oleh seorang penulis, diantaranya : (1). Menghayati (2). Mengingat. (3). Menganalisis. (4). Mempresentasikan (menulis).</p>



<p class="wp-block-paragraph">E. Catatan Penting Saat Menulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memulai menulis yang wajib kita ada ialah cerita yang ingindisampaikan/hal apa yang ingin diceritakan kepada orang lewat tulisan kita. Setelah tahu apa yang ingin diceritakan sekaligus menjadi catatan penting bagi kita adalah sumber ide. Dalam buku berjudul &#8220;Sekolah Penulis&#8221; dijelaskan, bahwa sumber data paling penting untuk menyumbang ide ada tiga hal. Pertama, pengalaman pribadi, hal yang kita mengalami sendiri. Kedua, pengalaman orang lain, hal yang dilewati orang lain namun kita mengutipnya dengan mencari, menggali, menanyakan, dan lain sebagainya. Ketiga, Imajinasi. Sementara imajinasi bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, atau pembawaan namun ia adalah berasaskan pengalaman yang kita lewati sekaligus sambil kita terus membaca atau mempelajari dari berbagai sumber. Hal itu bisa dibentuk dari lingkungan hidup. Beberapa hal tersebut diatas merupakan sumber yang paling terpercaya dan sangat tepat agar tulisan kita sampai ke hati para pembaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">III. Lima Rahasia Membangun Semangat Menulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Membangun semangat menulis memang tidak semudah kita membaca tulisan. Tidak mudah pula mempraktekan apa yang akan penulus akan tuangkan lewat artikel kali ini. Penulis pun yakin, mungkin artikel ini akan sekedar dibaca saja, setelah itu prakteknya tidak semua bisa melakukan. Hanya sebagian kecil saja yang akhirnya bisa mempraktekan. Lalu, apa saja sih cara membangun semangat untuk bisa menulis? Berikut ini tips semangat menulis untuk kita, terutama yang ingin memiliki buku sendiri. Semoga apa yang penulis ungkapkan di sub judul bagian ini, kuranya bisa membantu kita (yang mungkin sedang mengalami malas menulis).</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Menulis Karena Passion Bukan Karena Alasan Reaction</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Rahasia membangun semangat menulis yang pertama adalah, menulislah karena memang dorongan dari hati. Menulislah sesuai passion bukan karena alasan biar terkenal, biar dapat uang dan faktor lain. Memang tidak ada salahnya menjadikan uang dan ketenaran sebagai alasan. Karena dua hal tersebut hanya penyemangat yang sifatnya eksternal. Ketika realitanya tidak sesuai misalnya, tulisan kita tidak laku dipasaran, royalty atau honor sangat sedikit. Maka jatuhnya akan kecewa dan tidak mau menulis lagi. Sebaliknya, ketika menulis itu dilandasi oleh karena passion dan dorongan dari hati, maka sekalipun tidak terkenal dan mendapatkan uang sedikit, api tetap akan penuh semangat menulis. Karena memang landasan tujuannya yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, salah satu upaya agar kita arus tetap semangat menulis adalah, membenahi tujuan dasarnya. Pastikan tujuan dasarnya itu harus kuat, agar kita tidak mudah goyah. Karena bagaimanapun juga, semangat untuk menulis modal utamanya, yaitu mewujudkan menjadi seorang penulis yang handal. Tentunya, kita tidak ingin menjadi seorang penulis yang hanya isapan jempol. Bahkan, dalam konteks saat ini menjadi penulis itu persaingan, alias jika kita tidak mampu bersaing, maka kita akan tersingkir secara alamiah.</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li>Tulis Yang Dikuasai</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak alasan kenapa semangat menulis buku bisa luntur? Alasannya sangat beragam, yakni ada yang karena terlalu over tulisan yang harus diselesaikan, bisa juga karena faktor tuntutan menyelesaikan artikel dari klien dimana artikel atau tulisan tersebut ditentukan oleh klien, meski sadar tidak sesuai dengan passion dan karakter kita. Bahkan, ada juga yang karena binggung juga, yakni ingin menuangkan dan menuliskannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang berbeda ketika menulis karena pesanan dari klien, dengan ketika menulis karena keinginan dan tema yang sesuai kesenangan kita sendiri. Setidaknya, ketika menulis sesuai yang kita sukai, maka di situ ada rasa cinta dan rasa senang yang bagian dari emosi positif. Emosi positif inilah yang yang menjadi energi baru sekaligus media memudahkan untuk menemukan ide dan gagasan baru yang muncul tiba-tiba saat menuliskannya. Pertanyaannya adalah, kenapa kita tidak menjadikan tulisan dari klien yang membosankan dan sulit itu menjadi menyenangkan? Padahal jika mau, kita pun bisa mencintai tema tulisan dari klien, agar semangat menulis terjaga dan semakin cepat pula kita menuliskannya. Nah, salah satu caranya, yaitu dengan menemukan seni mencintai tema baru dan asing.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li>Seni Mencintai Tema Tulisan Yang Dikerjakan</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu kunci agar semagnat menulis tetap konsisten, apapun alasannya adalah rasa cinta. Seni mencintai tema asing dari klien salah satunya. Memang tidak mudah mencintai sesuatu yang tidak bisa kita sukai. Bisa dibayangkan bagiamana rasanya memaksakan rasa cinta? Setiap orang memang memiliki caranya sendiri-sendiri. Jika saya, selalu mencoba untuk memahami tema yang diberikan klien. Bagi saya, salah satu alasan kenapa kita tidak bisa mencintai tema tersebut karena tidak mengenal dengan baik terhadap tema. Hal itu pulalah alasan kenapa tulisan dari klien terasa sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya bukan karena tulisan atau temanya yang sulit, namun arena penguasaan terkait ilmu tersebut yang terbatas. Maka, solusi yang bisa kita coba adalah mempelajari terelbih dahulu. Memang memakan waktu lebih banyak. Alasan ini pulalah yang sering dijadikan alasan semangat menulis semakin turun. Lalu, bagaimana agar semangat menulis kita tidak turun dan bisa mencintai tema yang harus ditulis? Cukup ciptakan kebahagiaan. Berikan sugesti kepada diri sendiri dengan hal positif, agar terbangun emosi positif. Dan emosi positif inilah yang akan membantu dalam menemukan gagasan, ide spontan yang sangat membantu pekerjaan kita.</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li>Kurangi Ekspektasi Terlalu Tinggi</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu penyebab semangat menulis terus turun karena kecewa terhadap harapan yang sudah terbangun. Karens, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki hak untuk berharap. Tentu saja harapan yang selalu diinginkan adalah harapan baik. Sayangnya, banyak yang berharap baik dan terlalu tinggi, tetapi tidak menyiapkan mental untuk harapan tidak sesuai ekspektasi. Bukannya belajar dari kegagalan, justru mencari pembelaan agar ekspektasi yang dibangun menjadi sesuai harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal di dunia ini, ada banyak hal yang tidak sesuai kehendak kita, agar kita bisa belajar mengambil pelajaran tersebut. Alih-alih mengambil pelajaran, justru semangat menulis kuta malah semakin menurun, bahkan tanpa sadar, malah tidak tidak menulis apapun. Oleh karena itu, agar semangat menulis kita tetap stabil, salah satu caranya cukup berekspektasi sewajarnya. Jangan terlalu tinggi. Jika tidak sesuai ekspektasi, bisa mencoba lagi. Toh orang di luar sana tidak tahu apa yang kita kerjakan. Mereka juga tidak tahu jika kita gagal ataupun sukses. Jadi, cukup berjalan bersahaja, tanpa memamerkan. Jalani sepenuh hati dan ikhlas. Yang penting konsisten dan selalu menjaga semangat menulis serta menikmati proses. Biarkan hasil Tuhan yang menentukan, asal kita sudah bekerja maksimal.</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li>Jangan Merasa Puas</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Tips agar semangat menulis tetap terjaga adalah, jangan merasa puas dengan apa yang sudah dicapai. Banyak yang berpongah diri. Karena sudah menerbitkan satu buku, langsung lupa diri dan sombong diri. Buku pertama yang seharusnya sebagai branding dan mendapatkan pangsa pasar, justru pasar merasa ilfill dan pergi tidak jadi melirik hanya karena pulas sombong kita. Tentu saja hal-hal tersebut tidak kita inginkan. Tidak berpuas diri membantu kita untuk bersikap lebih berhati-hati dalam bersikap, bertindak dan berpikir. Tidak berpuas diri pun juga mendorong kita secara alami untuk terus belajar lagi dan lagi, sehingga selalu ada hal yang baru yang akan mendorong kita selangkah lebih maju lagi. Sebenarnya hal-hal kecil seperti inilah yang perlu diperhatikan. Tetapi banyak calon penulis pemula yang terkesan abai dengan hal-hal tersebut. Tentu saja tidak berpuas diri akan menjadikan kita menjadi pribadi yang rendah hati, yang bersedia belajar dari orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah beberapa tips membangun semangat menulis dari hal-hal yang sangat sederhana dan sering tidak diperhatikan. Semoga dengan tips di atas, kita pun bisa semakin semangat menulis dan lebih produktif lagi melahirkan karya-karya para penulus yang sudah populer. Tidak selalu dalam bentuk buku, kita pun bisa menulis opini di surat kabar atau di majalah, dan lain segainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">IV. Berbagai Langkah Yang Menginsfiratif Untuk Kita Semakin Semangat Menulis</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Hargrove dan Pottet, menulis adalah upaya menggambarkan pikiran, ide, dan perasaan dalam bentuk simbol. Proses ini membutuhkan konsentrasi dan ketekunan. Tak jarang, banyak orang yang memiliki hobi menulis dan bercita-cita menjadi penulis. Namun, sebagai penulis, kita seringkali mengalami kebosanan dan keinginan untuk berhenti menulis. Oleh karena itu, kita perlu semangat dan motivasi untuk terus berkarya. Berikut adalah 24 kutipan inspiratif untuk memacu semangat menulismu:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Pramoedya Ananta Toer).</li>



<li>“Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak&#8221;. (Ali bin Abi Thalib.</li>



<li>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis&#8221;. (Imam Al-Ghazali).</li>



<li>“Menulis itu soal mendengarkan suara hati. Kapan pun kau merasa dunia tidak mendengarkanmu, menulislah.” (Dewi Lestari (Dee).</li>



<li>“Menulis dengan tulus itu lebih penting ketimbang menulis dengan alasan-alasan lain.” (Tere Liye).</li>



<li>“Ilmu itu bagaikan hasil panen/buruan di dalam karung, menulis adalah ikatannya.” (Imam Syafi’i).</li>



<li>“Mulailah menulis, jangan pedulikan apa pun. Air tidak akan mengalir hingga keran dibukakan.” (Louis L’Amour).</li>



<li>“Tulislah ketika pikiranmu paling segar, ketika pikiranmu paling tajam, ketika kamu merasa paling kreatif.” (Ernest Hemingway).</li>



<li>“Jangan pernah menyerah dalam menulis dan dalam hal apa pun. Writer’s block hanya sementara tapi penyesalan akan menghantui sepanjang masa.” (A Wan Bong).</li>



<li>“Menulis adalah cara yang baik untuk mengenali diri kita sendiri dan mengungkapkan apa yang kita rasakan di dalam hati.” (Virginia Woolf).</li>



<li>“Tulislah apa yang kamu rasakan, apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu lihat. Biarkan kata-kata mengalir seperti sungai.” (Sapardi Djoko Damono).</li>



<li>“Menulis adalah sebuah kekuatan. Gunakan kekuatan itu untuk mengubah dunia.” (Goenawan Mohamad).</li>



<li>“Menulis adalah sebuah seni. Berlatihlah dengan tekun, dan kamu akan menemukan keindahannya.” (Ayu Utami).</li>



<li>“Menulis adalah sebuah hadiah. Berikan hadiah itu kepada dunia.” (Leila S. Chudori).</li>



<li>“Menulis adalah sebuah proses. Jangan terburu-buru, nikmati setiap langkahnya.” (Helvy Tiana Rosa).</li>



<li>“Tulislah dengan penuh keyakinan. Percaya pada dirimu sendiri, dan kamu akan mampu menciptakan karya yang luar biasa.” (Ernest Prakasa).</li>



<li>“Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktikkannya. Orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis, namun tidak pernah melakukannya, sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya.” (Stephen King).</li>



<li>“Jika kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia, menulislah.” (Armin Martajasa).</li>



<li>“Kita tidak menulis untuk dipahami; tetapi untuk memahami.” (C. Day Lewis).</li>



<li>“Satu-satunya cara belajar menulis adalah dengan memaksakan diri untuk menghasilkan sejumlah kata tertentu secara teratur.” (William Zinsser).</li>



<li>“Penulis tidak pernah dilahirkan, tetapi dia diciptakan. Bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir, tetapi tumbuh oleh satu motivasi dan gagasan.” (Bambang Trimansyah).</li>



<li>“Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa.” (Fiersa Besari).</li>



<li>“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis.” (Kuntowijoyo).</li>



<li>“Saat menulis, jangan biarkan dirimu terjebak dalam aturan. Tulislah secara bebas dan biarkan kata-kata mengalir dengan alamiahnya.” (Ralph Waldo Emerson).</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah kita membaca kutipan-kutipan di atas, bagaimana? Masih ada niat untuk berhenti menulis? Jangan ya! Tetaplah menulis dan tulislah yang bermanfaat. Mana kutipan favoritmu? Atau mungkin kamu sudah punya kutipan sendiri untuk menyemangati dirimu? Spill di kolom komentar ya! Semoga kutipan-kutipan di atas dapat membangkitkan semangatmu dalam menulis, menjadikanmu lebih konsisten, dan tidak takut untuk memulai tulisanmu.</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menulis-buku-sejarah/">Menulis Buku Sejarah</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menulis-buku-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gema Takbir Iduladha di Pelataran Perguruan Muhammadiyah Kota Serang</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/gema-takbir-iduladha-di-pelataran-perguruan-muhammadiyah-kota-serang/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/gema-takbir-iduladha-di-pelataran-perguruan-muhammadiyah-kota-serang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 14:27:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1314</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="448" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-448x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-448x450.jpeg 448w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-300x300.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-1019x1024.jpeg 1019w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-150x150.jpeg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-768x772.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-1528x1536.jpeg 1528w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35.jpeg 1592w" sizes="auto, (max-width: 448px) 100vw, 448px" /></p>
<p>Oleh: Endang Yusro (Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang) Mentari pagi Rabu, 27 Mei 2026, tersenyum...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/gema-takbir-iduladha-di-pelataran-perguruan-muhammadiyah-kota-serang/">Gema Takbir Iduladha di Pelataran Perguruan Muhammadiyah Kota Serang</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="448" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-448x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-448x450.jpeg 448w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-300x300.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-1019x1024.jpeg 1019w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-150x150.jpeg 150w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-768x772.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35-1528x1536.jpeg 1528w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-19.54.35.jpeg 1592w" sizes="auto, (max-width: 448px) 100vw, 448px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Oleh:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Endang Yusro</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">(Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mentari pagi Rabu, 27 Mei 2026, tersenyum malu-malu dari balik selimut awan tipis saat ia menyapa langit Kota Serang. Sinarnya yang keemasan menari perlahan di atas halaman Perguruan Muhammadiyah Kota Serang, membelai sajadah-sajadah yang berbaris rapi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angin pagi berbisik khusyuk di antara pepohonan, seolah ikut melantunkan takbir bersama para jamaah. Daun-daun bertepuk tangan perlahan, memberi hormat pada suasana Iduladha 1446 H. yang begitu hidmat. Seakan alam bertasbih untuk mengingat Allah SWT.:&nbsp;<em>“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan,”</em>&nbsp;<strong>(QS. Al-Baqarah: 203)</strong>. Ibnu Abbas menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah hari-hari tasyriq, saat takbir menggema.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelaksanaan salat Iduladha 1446 H. yang bertepatan dengan hari Rabu (27/5/2026) di lingkungan Perguruan Muhammadiya Kota Serang berlangsung begitu hidmat. Ketua Panitia Ferry Purnawirawan, M.Si. melaporkan kegiatan salat Ied yang dilanjutkan dengan prosesi pemotongan daging kurban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada pelaksanaan salat Iduladha bertindak sebagai imam Ustadz Khawasi, S.Ag., M.Pd. dan khatib Ustadz Manar MAS, begitu kata Ferry melanjutkan laporannya. Kemudian untuk kegiatan kurban, Ferry menyampaikan jumlah hewan kurban, yaitu terdiri dari 4 sapi dan 7 kambing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Daging kambing rencananya akan dibagikan kepada guru-guru dan karyawan yang mengabdi di perguruan Muhammadiyah Kota Serang dari tingkat kelompok belajar (Kober) hingga sekolah menengah atas dan madrasah aliyah, di samping juga para fakir miskin dan dhuafa di sekitar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Serang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah adab kurban yang diajarkan Rasulullah saw.:&nbsp;<em>“Makanlah oleh kalian, berikan untuk makan orang lain, dan simpanlah,”</em>&nbsp;<strong>(HR. Muslim)</strong>. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, sunnahnya dibagi tiga: sepertiga dimakan shahibul kurban, sepertiga disedekahkan, sepertiga dihadiahkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara Khotib, Ustadz Manar MAS menyampaikan tentang intisari Iduladha yaitu sebagai wujud ketaatan, keikhlasan, dan penyerahan diri mutlak kepada Allah SWT melalui pengorbanan. Lebih jauh khatib menyampaikan bahwa peringatan ini merujuk pada sejarah Nabi Ibrahim AS. yang bersedia menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bukti kepatuhan. Allah abadikan momen kepasrahan itu:&nbsp;<em>“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami panggil dia: Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu,”</em>&nbsp;<strong>(QS. As-Saffat: 103-105)</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu Allah ganti dengan sembelihan yang besar:&nbsp;<em>“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.l,”</em>&nbsp;<strong>(QS. As-Saffat: 107)</strong>. Dari sinilah Imam Syafi’i berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu, tidak sampai wajib, agar umat tetap bisa meneladani Ibrahim tanpa memberatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain yang disampaikan Ustadz Manar MAS di atas, intisari dari Ibadah Kurban adalah sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sosial. Ibadah penyembelihan hewan kurban dilanjutkan dengan pembagian daging kepada sesama, terutama bagi yang membutuhkan, hal ini mengajarkan penghapusan kesenjangan dan indahnya berbagi. Karena Allah menegaskan: &nbsp;<em>“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”</em>&nbsp;<strong>(QS. Al-Hajj: 37)</strong>. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Ibnu Katsir menafsirkan, ayat ini turun untuk meluruskan tradisi jahiliyah yang melumuri ka’bah dengan darah. Allah tidak butuh daging, yang Dia lihat adalah ketakwaan dan kepedulian kita pada sesama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka gema takbir yang membelah langit Muhammadiyah pagi itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah seruan untuk menghidupkan ruh pengorbanan Nabi Ibrahim AS. di setiap ruang kehidupan kita. Kurban mengajari bahwa ketaatan diuji bukan saat mudah, melainkan saat harus melepas yang paling dicinta, lalu Allah ganti dengan kebaikan yang lebih besar. Ia juga menegur kita bahwa takwa tidak berhenti di sajadah, tetapi mengalir lewat daging yang dibagi, lewat tangan yang peduli, lewat jarak sosial yang kita pangkas dengan ikhlas. Sebagaimana sabda Nabi saw.:&nbsp;<em>“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”</em>&nbsp;<strong>(HR. Bukhari dan Muslim)</strong>. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga dari pelataran Perguruan Muhammadiyah Kota Serang ini, nilai Iduladha terus tumbuh: melahirkan generasi yang tunduk kepada Allah, tangguh dalam berkorban, dan lembut dalam berbagi. Sebab yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan kita&nbsp;<strong>(QS. Al-Hajj: 37)</strong>.</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/gema-takbir-iduladha-di-pelataran-perguruan-muhammadiyah-kota-serang/">Gema Takbir Iduladha di Pelataran Perguruan Muhammadiyah Kota Serang</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/gema-takbir-iduladha-di-pelataran-perguruan-muhammadiyah-kota-serang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyembelih Berhala Aksara, Merawat Hakikat Kurban</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menyembelih-berhala-aksara-merawat-hakikat-kurban/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menyembelih-berhala-aksara-merawat-hakikat-kurban/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 14:25:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1311</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="289" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-289x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-289x450.jpeg 289w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-193x300.jpeg 193w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-658x1024.jpeg 658w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 289px) 100vw, 289px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqAlumnus Prodi Akidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung Sinar matahari pagi ini terasa...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menyembelih-berhala-aksara-merawat-hakikat-kurban/">Menyembelih Berhala Aksara, Merawat Hakikat Kurban</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="289" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-289x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-289x450.jpeg 289w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-193x300.jpeg 193w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23-658x1024.jpeg 658w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-27-at-10.38.23.jpeg 768w" sizes="auto, (max-width: 289px) 100vw, 289px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br>Alumnus Prodi Akidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sinar matahari pagi ini terasa begitu menyengat di pelataran masjid kampung, menyusup di antara sela-sela genting dan memantul di atas hamparan sajadah yang berjejer rapi. Gema takbir yang bersahut-sahutan sejak malam tadi kini telah berganti dengan keheningan khusyuk ribuan jemaah yang bersila, merayakan hari raya Iduladha dengan pakaian terbaik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sudut barisan tengah, kelopak mata saya terasa teramat berat, bergelut hebat dengan sisa-sisa kantuk yang menggelayut akibat prosesi takbiran di musala samping rumah yang baru menyentuh kata usai persis menjelang fajar menyingsing. Di atas mimbar kayu yang berukir rumit, sang khatib mulai menaikkan nada suaranya, membelah kesunyian pagi dengan narasi klasik tentang kepatuhan mutlak seorang ayah di atas altar batu purba.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suara khatib yang bertenaga itu perlahan menjelma menjadi semacam latar suara bagi pergulatan batin yang berkecamuk di dalam kepala saya sendiri. Beliau mulai menceritakan bagaimana Malaikat Jibril turun dari langit dengan kecepatan cahaya, menenteng seekor domba jantan yang besar untuk menggantikan posisi Ismail di ujung bilah pisau Ibrahim yang tajam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi itu disampaikan dengan begitu teatrikal, lengkap dengan bumbu-bumbu keajaiban yang dramatis, seolah-olah seluruh peristiwa tersebut terjadi dalam skenario bim salabim yang instan dan tanpa celah kemanusiaan. Di tengah kepungan kantuk yang merubung, nalar filsafat saya yang kerap mendaras teks-teks epistemologi seketika terjaga, memicu sebuah gugatan sunyi tentang bagaimana sejarah suci ini dikemas dan disajikan kepada umat manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyajian kisah kurban yang dikemas bak dongeng fabel di atas mimbar tadi membawa ingatan saya terbang pada lembaran-lembaran kitab kuning yang berjajar di ruang-ruang santri dan kiai. Ada sebuah fenomena unik di mana pendapat para ulama terdahulu yang tertuang dalam kitab-kitab gundul tersebut sering kali diposisikan pada derajat yang teramat sakral, bahkan seolah-olah berada di atas Al-Qur&#8217;an dan hadis itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umat hari ini kerap kali begitu silau oleh kebesaran masa lalu, sehingga apa pun yang dikutip dari lembaran usang dianggap sebagai kebenaran final yang haram untuk diperdebatkan atau diselisih. Kita seolah lupa bahwa para mufasir agung itu pun adalah manusia sejarah yang pengetahuannya tidak berdiri di ruang hampa, melainkan dibentuk oleh guru, buku, dan budaya tempat mereka bertumbuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sikap mental yang menelan mentah-mentah tanpa gairah untuk menguji kembali landasan berpikir inilah yang dalam tradisi ilmiah Islam kita kenal dengan istilah taklid. Fenomena ini menciptakan sebuah ironi epistemologis yang sangat telanjang di dalam kehidupan beragama masyarakat modern saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lembar Al-Qur&#8217;an masih bisa ditafsirkan melalui perangkat ilmu bahasa, dan untaian hadis masih bisa diperdebatkan tingkat kesahihannya melalui kritik sanad yang ketat. Namun, anehnya, ketika seorang penceramah sudah mengutip satu qaul dari kitab fikih klasik, seketika itu pula pintu dialog tertutup rapat dan nalar kritis umat dipaksa untuk bertekuk lutut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita berani melangkah lebih jauh ke hulu sejarah tanpa kepalsuan dogma, kita akan menyadari bahwa batas antara wahyu murni dan kultur lokal sesungguhnya sangat karib. Jangankan pendapat para ulama di dalam kitab kuno, bahkan lisan suci Nabi Muhammad SAW ketika menyampaikan fatwanya pun tidak pernah benar-benar terlepas dari lingkaran tradisi di sekitarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau adalah seorang manusia agung yang hidup dalam bentang sosiologis Arab abad ketujuh, yang bahasanya, metaforanya, dan beberapa keputusan hukumnya berdialog langsung dengan memori kolektif masyarakat komunal saat itu. Memahami dimensi historis kenabian ini sama sekali tidak menurunkan derajat kesucian tugas beliau, melainkan justru mendudukkan sosok para utusan sebagai reformis nyata yang membumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika para nabi Ulul &#8216;Azmi yang memiliki kecerdasan luar biasa itu bersentuhan langsung dengan dimensi metafisika melalui perantara Jibril, mereka sedang mengalirkan kebenaran langit ke dalam wadah bumi. Namun, ketika kisah-kisah agung tersebut turun kepada generasi setelahnya, terjadilah proses domestikasi dan dramatisasi yang berlebihan demi pemenuhan syiar emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dialog spiritual yang sejatinya berlangsung minimalis dan sarat dengan ketegangan eksistensial, bertransformasi menjadi panggung sandiwara yang penuh dengan bumbu mistisisme magis. Akibatnya, fokus perhatian umat hari ini sering kali terdistorsi; kita lebih asyik mengagumi keajaiban instan tentang domba yang melayang daripada merenungkan esensi radikal dari makna pengorbanan itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah letak benturan terdahsyat yang memicu kecemasan intelektual manakala teks suci tersebut dihadapkan secara frontal pada laboratorium sains modern. Jika ditinjau dari perspektif sains positivistik dan metodologi ilmu sejarah murni, kisah penggantian anak manusia dengan seekor domba secara mendadak jelas merupakan perkara yang absurd.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sains bekerja di atas altar materialisme yang menuntut adanya kausalitas yang dapat diukur, diamati secara indrawi, serta direplikasi di bawah kendali instrumen laboratorium. Keberadaan sosok Jibril sebagai agen transenden yang mengintervensi ruang dan waktu bumi tidak meninggalkan sidik jari biologis atau jejak karbon yang bisa diolah oleh para sejarawan empiris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ilmu sejarah modern akan langsung mengategorikan intervensi ilahi semacam itu ke dalam wilayah mitos atau folklor, karena ketiadaan bukti primer yang bersifat netral secara ideologis. Di hadapan kepakan sayap Jibril yang melintasi dimensi, pisau analisis para ilmuwan murni seketika mengalami kelumpuhan total dan kehilangan daya guna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fakta ini menunjukkan adanya sebuah dinding demarkasi ontologis yang sangat kokoh, yang memisahkan antara yang fisik-temporal dan yang metafisik-abadi. Memaksakan mukjizat untuk tunduk pada hukum alam yang partikular adalah sebuah kesalahan metodologis, sebagaimana menilai keindahan sebuah lukisan abstrak dengan menggunakan timbangan berat komoditas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sudut pandang yang lebih luas, kisah kurban Ibrahim sesungguhnya merupakan sebuah memori kolektif umat manusia yang telah lulus melewati ujian waktu yang teramat panjang. Jejak tradisinya tidak hanya diakui oleh tiga agama besar rumpun Abrahamik, melainkan juga terekam dalam berbagai transformasi kebudayaan dan tradisi lisan lintas bangsa di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara antropologis, narasi ini merupakan proklamasi kemanusiaan yang sangat revolusioner pada zamannya, yang menandai berakhirnya era barbar pengorbanan nyawa manusia kepada para dewa. Melalui simbolisme seekor domba jantan, peradaban digeser ke arah yang lebih luhur, di mana yang dituntut untuk disembelih bukan lagi raga manusia, melainkan sifat-sifat kebinatangan yang bersemayam di dalam dada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat merenungkan pergulatan ini di bawah bayang-bayang pesisir Binuangeun yang riuh oleh deburan ombak, sembari menyantap uli bakar dipadu semur daging buatan ibu, saya menyadari pentingnya kedewasaan dalam beragama. Sudah saatnya para khatib di atas mimbar mulai menyajikan sejarah keagamaan secara lebih proporsional, tanpa perlu melenakan umat dengan dongeng-dongeng yang menjauhkan mereka dari realitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan khotbah yang lebih rasional dan berfokus pada penggalian hikmah sosiologis akan jauh lebih bermakna dan menyelamatkan generasi muda dari penyakit skeptisisme akut. Umat harus diajak untuk memahami bahwa &#8220;domba&#8221; yang harus disembelih hari ini bisa berwujud ketamakan, egoisme pribadi, atau keserakahan kelompok yang sering kali merusak tatanan kedamaian sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin di sinilah iman, filsafat, ilmu pengetahuan, dan panca indera manusia menemukan titik temu yang adil sebagai instrumen untuk menakar ragam tingkat kebenaran. Panca indera memetakan yang lahiriah, sains mengurai keteraturan alam, dan filsafat menguliti kedalaman makna serta memberikan kritik yang tajam terhadap kebekuan berpikir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ketika semua instrumen bumi itu telah tiba di batas terjauh dari kemampuan jangkauannya, iman datang sebagai lentera transendensi yang menyempurnakan seluruh perjalanan pencarian. Iman tidak hadir untuk menghancurkan akal sehat, melainkan sebagai sebuah lompatan sadar menuju pelukan Yang Maha Mutlak yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah agung kurban Nabi Ibrahim tidak akan pernah bisa diringkas ke dalam rumus matematika atau diverifikasi secara tuntas di atas lembaran dokumen sejarah positif. Peristiwa baheula tersebut hanya akan mendapatkan kebenarannya yang paling benderang dan murni manakala didekati dengan menggunakan kacamata keimanan yang tulus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjadi manusia yang beragama berarti memiliki keberanian untuk menggunakan akal secara maksimal sekaligus memiliki kerendahan hati untuk bersujud ketika berhadapan dengan misteri Ilahi. Di bawah langit pagi yang semakin meninggi, kantuk saya perlahan menguap, meninggalkan sebuah keyakinan yang panceg di dalam dada bahwa berilmu membuat kita bijak, dan beriman membuat kita ikhlas. Wallahualam.*</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menyembelih-berhala-aksara-merawat-hakikat-kurban/">Menyembelih Berhala Aksara, Merawat Hakikat Kurban</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/menyembelih-berhala-aksara-merawat-hakikat-kurban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengembalikan Nyawa Kurban dalam Deru Anggaran dan Patungan</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/https-icmibanten-or-id-2026-05-28-mengembalikan-nyawa-kurban-dalam-deru-anggaran-dan-patungan/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/https-icmibanten-or-id-2026-05-28-mengembalikan-nyawa-kurban-dalam-deru-anggaran-dan-patungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2026 14:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1306</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="750" height="418" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-750x418.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-750x418.jpeg 750w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-300x167.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-1024x571.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-768x428.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17.jpeg 1377w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid SiddiqPengurus ICMI Orwil Banten Fajar Idul Adha selalu datang membawa gemuruh takbir yang...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/https-icmibanten-or-id-2026-05-28-mengembalikan-nyawa-kurban-dalam-deru-anggaran-dan-patungan/">Mengembalikan Nyawa Kurban dalam Deru Anggaran dan Patungan</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="750" height="418" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-750x418.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-750x418.jpeg 750w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-300x167.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-1024x571.jpeg 1024w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17-768x428.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-26-at-20.47.17.jpeg 1377w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq<br>Pengurus ICMI Orwil Banten</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Fajar Idul Adha selalu datang membawa gemuruh takbir yang menggetarkan sekat-sekat batin manusia. Di balik riuh gema syiar yang mengangkasa, tersimpan sebuah ritus agung yang menuntut kesunyian niat dan ketundukan eksistensial yang total. Kurban, yang secara etimologis berakar dari kata qaruba, sejatinya adalah sebuah laku spiritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Namun, ketika ritual yang sarat akan dimensi transendental ini berkelindan dengan modernitas tata kelola negara serta kepraktisan institusi pendidikan, sebuah pergeseran makna yang halus mulai merayap ke dalam ruang kesadaran kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena pengadaan hewan kurban berskala masif melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta tradisi patungan masal di sekolah atau pesantren kini seolah berdiri di persimpangan jalan antara formalitas sosial dan kesucian syariat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita kerap terkesima oleh angka-angka statistik yang mentereng di atas lembar akuntansi birokrasi. Kehadiran ribuan ekor sapi yang didistribusikan hingga ke pelosok negeri, atau puluhan kambing yang berjejer di halaman madrasah hasil iuran para santri, seringkali langsung dinilai sebagai keberhasilan sebuah syiar. Namun, lamun urang tonton kalayan daria (jika kita renungkan dengan mata batin yang jernih), ada sebuah tanya yang menggelitik relung kefilsafatan kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah kemegahan eksternal tersebut secara otomatis linier dengan bobot spiritual yang dikehendaki oleh syariat? Di sinilah kita dituntut untuk mengambil jarak sejenak dari rutinitas tahunan ini, melakukan kontemplasi mendalam, dan berpikir ulang agar ritus publik ini tidak kehilangan nyawa sejatinya sebagai ibadah kurban yang sah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seringkali kita melupakan bahwa Islam menempatkan ibadah kurban (udhhiyyah) sebagai beban hukum yang bersifat personal dan individual, bukan komunal tanpa batas. Syariat telah mengunci kuantitas kepemilikan hewan kurban dengan aturan yang sangat rigid dan ta&#8217;abbudi. Satu ekor kambing atau domba hanya berlaku untuk satu jiwa pequrban, sedangkan satu ekor sapi, kerbau, atau unta maksimal dapat menampung tujuh orang pequrban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aturan ini bukanlah batasan matematis yang kaku tanpa makna, melainkan sebuah penegasan bahwa kurban membutuhkan pengorbanan harta yang secara kepemilikan bersifat penuh dan legal (milkun tam). Ketika batas-batas kuantitas ini diterjang atas nama kebersamaan, struktur hukum fikih formal mulai goyah dan beralih rupa menjadi bentuk ibadah yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks patungan di lembaga pendidikan, fenomena satu ekor kambing yang dikeroyok oleh puluhan santri atau satu kelas patungan untuk membeli satu ekor sapi adalah potret indahnya gotong royong. Secara sosiologis, ini adalah sebuah kabubungah (kegembiraan) komunal yang luar biasa karena mampu meruntuhkan ego individu demi sebuah kebersamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, jika ditinjau dari kacamata fikih mazhab yang muktabar, praktik kolektif yang melebihi batas kuota tersebut secara otomatis menggugurkan statusnya sebagai ibadah kurban. Sembelihan tersebut tidak lagi dicatat di papan skor langit sebagai udhhiyyah, melainkan bergeser derajatnya menjadi sedekah biasa (shadaqah tathawwu&#8217;) atau sekadar penyembelihan daging untuk konsumsi bersama. Tentu saja, pahala bersedekah tidaklah kecil, namun sungguh disayangkan jika momentum emas tahunan ini harus kehilangan mahkota ritualnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam An-Nawawi dalam kitab monumental Al-Majmu&#8217; Syarh Al-Muhadzdzab menegaskan prinsip dasar ini dengan sangat eksplisit. Beliau menyatakan bahwa seekor kambing tidak sah digunakan untuk berkurban oleh lebih dari satu orang. Jika sekelompok orang nekat patungan membeli seekor kambing untuk dikurbankan bersama, maka hewan tersebut tidak sah sebagai kurban bagi seorang pun di antara mereka, melainkan statusnya hanyalah daging sembelihan biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat ini mengakar kuat pada hadis sahih riwayat Jabir bin Abdullah RA yang mengisahkan bahwa para sahabat berserikat untuk seekor unta atau sapi hanya terbatas untuk tujuh orang saja. Aturan pembatasan ini menunjukkan bahwa esensi kurban menuntut adanya porsi pengorbanan finansial yang nyata dan bermakna dari setiap individu yang terlibat di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini menjadi semakin kompleks dan paradoks ketika kita menyoroti pengadaan hewan kurban yang dibiayai oleh negara melalui pos anggaran APBN. Secara administratif-politik, pengalokasian dana miliaran rupiah untuk mendistribusikan hewan kurban adalah wujud kehadiran negara dalam menjaga ketahanan pangan dan menyemarakkan hari besar keagamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dari sudut pandang metafisika hukum, dana APBN sejatinya adalah representasi dari kas negara (Baitul Mal) yang kepemilikannya berada di tangan seluruh rakyat secara kolektif. Dana tersebut bukan milik pribadi Presiden, Menteri, ataupun para pejabat yang menandatangani berkas pencairannya. Ketika uang kolektif rakyat digunakan untuk membeli kurban tanpa adanya kejelasan status kepemilikan yang sah secara syar&#8217;i, esensi personalitas kurban menjadi bias dalam belantara birokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menyiasati kebuntuan hukum ini, sistem birokrasi kita seringkali mengambil jalan pintas yang legalistik namun terasa mengusik rasa keadilan etis. Sering kita saksikan di media massa, hewan-hewan kurban yang dibeli dengan uang negara tersebut kemudian disembelih dengan menumpangkan nama pribadi pejabat tertentu sebagai pequrbannya. Praktik &#8220;menumpang nama&#8221; ini, meskipun secara prosedural fikih diusahakan agar sah melalui mekanisme hibah darurat, memercikkan rasa ketidakelokan yang nyata di ruang publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungguh sebuah ironi yang getir ketika anggaran milik rakyat digunakan untuk membeli hewan kurban, namun investasi pahala spiritual dan panggung legitimasinya justru diklaim secara eksklusif oleh segelintir elit kekuasaan atas nama kesalehan pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu merenungkan kembali firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang berbunyi: &#8220;Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridaan) Allah, tetapi yang mencapai-Nya adalah ketakwaan kamu.&#8221; Ayat ini laksana sebuah tamparan keras bagi setiap praktik ibadah yang hanya mengejar formalitas lahiriah dan mengabaikan substansi batiniah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuhan tidak pernah melihat seberapa besar bobot tonase sapi yang dibeli dengan dana negara, tidak pula menghitung seberapa banyak jumlah koin yang dikumpulkan oleh para santri. Yang melesat menembus aras langit adalah ketakwaan, yaitu kesucian niat yang bersih dari motif pencitraan politik pada tingkat negara, serta pemahaman hukum yang benar pada tingkat institusi pendidikan bawah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, diperlukan sebuah rekonstruksi pemikiran yang radikal untuk menjembatani jurang pemisah antara dimensi sosial yang inklusif dan dimensi kurban yang eksklusif-syar&#8217;i. Kita tidak boleh membiarkan pengadaan berskala besar lewat APBN atau iuran masal di pesantren berhenti hanya sebagai proyek sosial yang kehilangan berkah udhhiyyah. Di ranah pendidikan pesantren dan sekolah, para pendidik harus mulai menerapkan hilah atau siasat syar&#8217;i yang diajarkan oleh para ulama terdahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Caranya adalah dengan mengubah akad iuran kolektif tersebut menjadi akad hibah bersama. Hewan yang dibeli dari uang patungan satu kelas diputuskan secara mufakat untuk dihadiahkan kepada satu orang santri yang paling tidak mampu atau kepada guru mengaji mereka, sehingga kurbannya sah atas nama individu tersebut tanpa mengurangi pahala sedekah santri lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, pada level tata kelola negara, praktik kurban APBN harus dibersihkan dari egoisme sektoral dan politisasi nama pejabat. Para pemimpin negara harus memiliki keluhuran budi untuk meneladani sifat luhur Rasulullah SAW yang agung. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW pernah menyembelih dua ekor kibas yang gemuk, seraya berdoa: &#8220;Ya Allah, ini adalah kurban dari Muhammad dan umatnya yang bersaksi atas keesaan-Mu dan bersaksi atas kerasulanku.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola kurban representatif inilah yang seharusnya diadopsi oleh negara, di mana Presiden bertindak sebagai wali resmi rakyat yang mengikrarkan bahwa seluruh hewan kurban APBN dihadiahkan dan diatasnamakan seluruh dhuafa dan rakyat miskin yang tidak mampu berkurban di negeri ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika jalan tengah ini diambil, maka akan tercipta sebuah harmoni yang luar biasa antara hukum fikih dan etika publik. Negara tidak lagi terjebak dalam praktik akal-akalan hukum yang menumpangnamakan pejabat, dan sekolah-sekolah tidak lagi melahirkan generasi yang salah memahami syariat kurban. Ibadah kurban yang dibiayai secara kolektif tersebut akan naik kelas, bertransformasi dari sekadar program bagi-bagi daging sosial menjadi sebuah ritus udhhiyyah yang paripurna di hadapan Allah SWT.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimensi sosialnya yang berupa pemenuhan gizi dan keadilan distributif akan berjalan beriringan dengan dimensi spiritualnya yang berupa pengikisan ego kebinatangan dan pemurnian tauhid hamba.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berpikir ulang tentang fenomena kurban APBN dan patungan ini adalah sebuah panggilan moral bagi kita semua untuk kembali ke hulu syariat. Kita harus berani melangkah keluar dari kenyamanan rutinitas yang dangkal menuju kedalaman pemahaman yang substantif. Jangan biarkan pisau-pisau kurban memutus urat nadi hewan ternak dengan sia-sia hanya untuk memuaskan laporan pertanggungjawaban administratif atau pajangan dokumentasi media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita kembalikan takhta keikhlasan di atas sajadah kepemimpinan dan pendidikan kita, agar setiap tetesan darah hewan kurban yang mengalir ke bumi benar-benar menjadi saksi atas tegaknya keadilan sosial dan kesucian iman yang sejati.<br>*</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/28/https-icmibanten-or-id-2026-05-28-mengembalikan-nyawa-kurban-dalam-deru-anggaran-dan-patungan/">Mengembalikan Nyawa Kurban dalam Deru Anggaran dan Patungan</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/28/https-icmibanten-or-id-2026-05-28-mengembalikan-nyawa-kurban-dalam-deru-anggaran-dan-patungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menatap Ka&#8217;bah dari Balik Layar Gawai</title>
		<link>https://icmibanten.or.id/2026/05/25/menatap-kabah-dari-balik-layar-gawai/</link>
					<comments>https://icmibanten.or.id/2026/05/25/menatap-kabah-dari-balik-layar-gawai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 16:05:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://icmibanten.or.id/?p=1303</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="601" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-601x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-601x450.jpeg 601w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-300x225.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-768x575.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM.jpeg 789w" sizes="auto, (max-width: 601px) 100vw, 601px" /></p>
<p>Ocit Abdurrosyid Siddiq Pengurus ICMI Orwil Banten Mari kita ngariung&#160;sejenak di beranda, menyeduh kopi hitam,...</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/25/menatap-kabah-dari-balik-layar-gawai/">Menatap Ka&#8217;bah dari Balik Layar Gawai</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img width="601" height="450" src="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-601x450.jpeg" class="attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-601x450.jpeg 601w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-300x225.jpeg 300w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM-768x575.jpeg 768w, https://icmibanten.or.id/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-10-at-7.47.05-PM.jpeg 789w" sizes="auto, (max-width: 601px) 100vw, 601px" /></p>
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><strong>Ocit Abdurrosyid Siddiq</strong></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Pengurus ICMI Orwil Banten</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita <em>ngariung</em>&nbsp;sejenak di beranda, menyeduh kopi hitam, kopi dengan merk Hijau Hitam, produk kader KAHMI Kabupaten Tangerang, sembari memandang ombak Binuangeun yang bergulung konstan. Siang ini, isi kepala saya mendadak penuh setelah membongkar celengan ironi tentang rukun Islam kelima: ibadah haji. Sebagai orang yang pernah menyesap manis-getirnya dialektika di bangku Akidah dan Filsafat, saya merasa ada yang perlu kita gergaji dari cara manusia modern beribadah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tahu, haji itu puncak spiritualitas, sebuah lompatan eksistensial yang luar biasa. Namun, coba perhatikan dengan jernih, mengapa hari ini rukun yang paling menguras air mata dan dompet ini perlahan terasa bergeser menjadi mirip festival tamasya komunal? Hehe… Jangan tersinggung dulu, ini justru sebuah gugatan teologis yang renyah untuk kita obrolkan santai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coba kita bandingkan secara <em>titi resik</em>&nbsp;dengan empat rukun Islam sebelumnya. Syahadat, salat, zakat, dan puasa itu dari zaman Kanjeng Nabi, para sahabat, tabi&#8217;in, sampai era kita sekarang nyaris tidak bergeser satu sentimeter pun. Formatnya <em>ajeg</em>, kaku, dan <em>ta’abbudi</em>&nbsp;murni. Sejak dulu sampai sekarang, yang namanya salat ya gerakannya begitu, tidak ada inovasi salat menggunakan kecerdasan buatan atau robot asisten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keajegan inilah yang merawat sakralitas organiknya tetap utuh. Siapapun yang bersujud hari ini, kaya atau miskin, masuk ke dalam dimensi waktu yang sama dengan masa silam. Tapi begitu kita menengok haji, waduh, jalurnya beralih rupa menjadi sirkuit peradaban yang dipaksa berkompromi dengan deru modernitas dan teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu, ketika para sepuh kita di Banten hendak berangkat haji, suasananya mencekam laksana melepas orang yang mau pindah ke alam barzakh. Rumah-rumah panggung di pesisir dilepaskan dengan isak tangis yang pecah, karena bertaruh nyawa menembus ombak samudra berbulan-bulan di atas kapal laut adalah sebuah kepastian <em>riyadhah</em>&nbsp;batin. Jarak yang jauh dikompensasi oleh waktu yang luas untuk menata hati. Begitu kaki menginjak tanah suci, ego keduniawian mereka sudah luruh, sudah selesai dengan dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, sekarang? Teknologi melipat jarak belasan ribu kilometer menjadi sekadar penerbangan sembilan jam saja. Begitu instan! Saking cepatnya, kadang batin kita belum siap secara spiritual ketika tubuh mendadak sudah berdiri di depan Ka&#8217;bah. Kemarin masih sibuk mikirin panen padi atau rapat di sekolah, tahu-tahu hari ini sudah harus pakai kain ihram di bawah terik Makkah. Tidakkah akselerasi mekanis ini sering kali melahirkan kegagapan jiwa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang mari kita masuk ke teater Arafah, tempat yang secara ontologis merupakan miniatur Padang Mahsyar. Di zaman nabi dan sahabat, wukuf di sana adalah ruang isolasi total yang menggetarkan. Bayangkan padang pasir gersang, manusia berdiri telanjang dari segala atribut duniawi, meratapi dosa di bawah sengatan matahari yang membakar. Sakralitasnya lahir dari ketelanjangan eksistensial itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi kalau kita menengok Arafah hari ini, suasananya persis seperti kegiatan kemping akbar pramuka atau piknik keluarga usai lebaran, hehe… Tenda-tenda raksasa berdiri megah, lengkap dengan embusan AC yang dingin, kasur busa yang empuk, dan prasmanan <em>all-you-can-eat</em>&nbsp;menu Nusantara yang melimpah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian muncul dalam benak kita yang paling dalam: Apakah tiupan AC yang sejuk di dalam tenda itu tidak sedang membekukan kehangatan air mata taubat kita? Ketika rasa lapar dan lelah dieliminasi oleh manajemen kenyamanan, di manakah kita meletakkan rasa <em>fana</em>&nbsp;dan remuknya jiwa sebagai hamba yang papa? Suasana berkumpul dengan sesama orang Sunda Banten dalam satu tenda besar malah sering kali memancing memori kolektif untuk <em>ngariung</em>&nbsp;kasual, mengobrolkan urusan domestik tanah air, atau sibuk mencari stopkontak demi mengisi daya baterai gawai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungguh sebuah ujian baru bagi manusia modern: jika dulu para sahabat diuji oleh keganasan alam untuk menemukan kekhusyukan, kita hari ini justru diuji oleh kenyamanan yang melenakan untuk bisa tetap ingat pada kematian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setali tiga uang dengan suasana mabit di Mina. Lembah yang seharusnya menjadi medan pertempuran batin tempat Ibrahim AS menyembelih egonya, kini menjelma menjadi ruang istirahat yang kasual. Di sela riuh rendah obrolan profan di dalam tenda, sering kali esensi bermalam itu luruh menjadi sekadar malam rekreasi religius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mestinya ada momen di mana seorang jemaah <em>ngajedog</em>&nbsp;(berdiam diri) dalam kesunyian batinnya sendiri, menyadari bahwa ia sedang merebahkan tubuh di atas tanah suci yang sama tempat para nabi menangis menuntut ketauhidan. Jika kesadaran itu tidak dibangun secara mandiri, maka Mina hanya akan diingat sebagai tempat menginap massal yang sedikit berdesakan, namun dengan fasilitas katering yang lumayan enak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, bagaimana dengan ritual melempar jumrah? Wah, ini yang paling unik sekaligus miris. Secara hakekat, melempar batu di Jamarat adalah deklarasi perang radikal melawan berhala-berhala internal di dalam dada kita. Tapi kalau kita lihat di lapangan sekarang, jembatan jumrah yang megah, ber-AC, dan memiliki jalur searah yang super aman itu sering kali membuat jemaah kehilangan orientasi makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ritus suci ini persis seperti arena &#8220;perang subuh&#8221; anak-anak muda di kampung setelah makan sahur, hehe… Ada yang melempar sambil berteriak histeris seolah memaki musuh bebuyutan, ada yang melempar pakai sandal, atau bahkan batu sebesar kepalan tangan seolah sedang tawuran antar-sekolah. Beberapa melakukannya dengan cara<em>&nbsp;guyon</em>&nbsp;dan konyol, kehilangan arah berkah lantaran menganggap pilar beton itu sebagai setan fisik yang nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum lagi intervensi narsisme digital yang merusak fokus batin. Tangan kanan mengayunkan batu kecil, sementara tangan kiri sibuk memegang tongkat swafoto (<em>selfie stick</em>) demi merekam video konten untuk diunggah ke media sosial. Bayangkan, ibadah yang begitu sakral diturunkan kastanya menjadi sekadar bahan pameran digital demi meraup tombol suka dan pengakuan dari pengikut di dunia maya!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah setan yang asli tidak sedang tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kelakuan konyol kita yang merasa sedang memusnahkannya, padahal batin kita sendiri sedang didekte oleh ego kepalsuan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita bergeser ke ritual thawaf, putaran kosmis yang mengitari Baitullah sebanyak tujuh kali. Secara filosofis, tawaf adalah penyelarasan detak jantung kita dengan rotasi makrokosmos yang bertasbih dalam sunyi. Dulu, sakralitas thawaf dirajut dari keintiman gesekan kulit, peluh yang mengalir, dan kaki telanjang yang melepuh menyentuh marmer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada rasa setara sebagai debu di hadapan Sang Pencipta. Namun sekarang, atas nama penyesuaian zaman dan manajemen massa, lantai atas Masjidil Haram disulap menjadi sirkuit mekanis untuk skuter listrik dan barisan kursi roda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu kita sepakat secara fikih bahwa teknologi ini adalah <em>rukhshah</em>&nbsp;(keringanan) yang luar biasa bagi para lansia atau jemaah yang fisiknya tidak lagi <em>jagjag</em>&nbsp;(sehat dan kuat). Islam tidak pernah menghendaki kesulitan. Tapi yang terasa menggelikan adalah ketika fasilitas skuter elektrik ini disewa oleh mereka yang sehat walafiat hanya karena malas berjalan dan ingin merasakan sensasi pragmatisme modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungguh paradoks yang nyata: di lantai bawah orang-orang bersimbah air mata merayap mendekati Ka&#8217;bah, sementara di lantai atas, manusia modern berputar-putar sembari duduk santai di atas jok empuk kendaraan listrik, sesekali memeriksa notifikasi pesan masuk, seolah sedang menikmati wahana bermain bertema religi. Bunyi dengung dinamo mesin skuter elektrik perlahan membubarkan keheningan mistis yang seharusnya kita pelihara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemandangan serupa juga kita dapati di jalur sa&#8217;i. Koridor sejarah tempat Siti Hajar berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah demi menyambung nyawa bayinya, kini telah dikurung dalam benteng marmer putih yang sejuk dan terang benderang. Efeknya? Ritme kepedihan dan keputusasaan seorang ibu yang mengetuk pintu arsy Tuhan itu perlahan menguap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berlari kecil di antara lampu hijau sekarang terasa mekanis, serupa dengan aktivitas olahraga kebugaran jasmani atau <em>jogging</em>&nbsp;tamasya di hari Minggu pagi ketika <em>car free day</em>. Jika tidak dibarengi dengan kemampuan <em>tajrid</em>&nbsp;(menolak larut dalam sekitar), jemaah hanya akan merasakan kesegaran fisik setelah sa&#8217;i, bukan kesegaran ruhani yang bersumber dari mata air zamzam metafisik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan ketika ritual ini hampir selesai pada prosesi <em>tahallul</em>, getaran sakralitas itu kembali ditantang oleh modernitas. Dulu jemaah saling mencukur rambut dengan penuh takzim di sudut Marwah menggunakan gunting kecil bersahaja, memaknai jatuhnya helai rambut sebagai rontoknya kesombongan pangkat dan status duniawi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang, tugas itu beralih ke gerai <em>barbershop</em>&nbsp;modern yang cepat dan efisien. Desau mesin cukur listrik (<em>clipper</em>) bergetar cepat memotong rambut demi estetika penampilan luar dan perputaran riyal yang instan. Tanpa penghayatan batin yang kuat, kursi barbershop di Makkah tidak akan ada bedanya dengan tempat potong rambut biasa di pojokan pasar Kota Serang; kering, hambar, dan kehilangan dimensi transisinya sebagai ritus kelahiran kembali jiwa yang fitrah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika seluruh ritual haji selesai, sisa waktu berhari-hari menjelang jadwal pesawat pulang kampung digunakan untuk apa? Ya itu dia, selebihnya adalah wisata sejarah sambil belanja oleh-oleh besar-besaran, hehe… Toko-toko suvenir dan pusat perbelanjaan emas yang mengepung tanah suci mendadak menjadi kiblat baru yang tidak kalah ramai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk iktikaf perpisahan atau merenungi bekal spiritual yang didapat, habis terjual dalam urusan tawar-menawar harga kurma atau kalkulasi muatan bagasi pesawat agar tidak terkena denda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, setelah merenungkan rentetan fenomena di atas, apakah kita harus menolak teknologi dan kembali ke era unta? Tentu saja tidak. Itu pemikiran primitif namanya. Yang esensial bagi kita sekarang—sebagai komunitas yang dididik untuk selalu <em>rumawat</em>&nbsp;terhadap kemurnian niat—adalah membangun rekonstruksi kesadaran subjektif yang radikal di dalam dada masing-masing jemaah. Fasilitas boleh modern, tenda boleh ber-AC, dan perjalanan boleh menggunakan pesawat terbang cepat, tetapi jiwa kita harus tetap mampu menyendiri di tengah keramaian, menolak dijinakkan oleh nyamannya fasilitas duniawi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Haji yang mabrur bukanlah haji yang bebas dari teknologi, melainkan haji di mana hamba mampu menggunakan teknologi tanpa membiarkan teknologi itu mengikis ketajaman air mata taubatnya di hadapan Sang Maha Kuasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah Anda membaca tulisan bernada celoteh dan agak nakal ini, apakah kopi kita siang ini sudah cukup pahit untuk melunturkan kemunafikan cara beragama kita? Silakan seruput dulu kopinya. Wallahualam.***</p>
<p>The post <a href="https://icmibanten.or.id/2026/05/25/menatap-kabah-dari-balik-layar-gawai/">Menatap Ka&#8217;bah dari Balik Layar Gawai</a> appeared first on <a href="https://icmibanten.or.id">ICMI BANTEN</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://icmibanten.or.id/2026/05/25/menatap-kabah-dari-balik-layar-gawai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
