Oleh : Adung Abdul Haris
I. Prolog
Hingga saat ini kita (umat Islam di seluruh dinia) sudah memasuki pase 10 besar ketiga, yakni dari mulai tanggal 21 – 30 Ramadhan. Bahkan, saat ini kita umat Islam sudah memasuki pase yang disebut “Itfum Minannar” atau pembebasan dari api neraka. Namun, pelaksanaan puasa Ramadhan di tahun 2026 saat ini, terutama yang terjadi di kawasan Timur Tengah, realitanya terjadi komplik dan menimbulkan berbagai kehatiran, karena faktanya diwarnai dengan situasi konflik geopolitik global yang terus memanas, terutama munculnya (eskalasi ketegangan) antara Amerika Serikat/Israel dengan Iran serta dampak lanjutan bagi keamanan masyarakat dan negara-negara yang berada di kawasan Teluk pada khususnya dan intersinisme yang akang terjadi bagi warga masyaraka dunia pada umumnya. Berikut ini adalah poin-poin penting kondisi Ramadhan 2026 di tengah konflik :
A. Situasi di Jalur Gaza.
Umat Islam terutama warga masyarakat di jalur Gaza, serta bagi umat Islam di kawasan Timur Tengah pada umumnya, akhirnya menyambut bulan suci Ramadhan 2026 dengan kondisi memprihatinkan, karena harus berpuasa di tengah derunya misil-misil, dan kecenderungan krisis kemanusiaan yang akut dan tidak terelakan. Bahkan hingga saat ini komplik di Timur Tengah sudah berlangsung kurang lebib sepekan, dan tetap masih diselimuti ketakutan akan serangan mendadak dan berbagai arah dan berbagai kepentingan bagi pihak-pihak yang sedang berkonmflik.
(1). Ketegangan di Al-Aqsa.
Saat ini kecenderungannya di sekitar kawasan Masjid Al-Aqsa juga semakin menegang, karena dari berbagai informasi dari media pemberiraan, kecenderungannya pihak (“Israel”) memperketat kontrol atas Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, membatasi akses jamaah Palestina, terutama setelah pecahnya konflik langsung dengan Iran. (2). Dampak Konflik Regional (Iran-AS-Israel). Serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 yang lalu, akhirnya memicu eskalasi regional. Hal itu mengakibatkan gangguan pada rantai pasok global, kenaikan harga BBM dan bahan pokok, akibat penutupan selat Hormus, serta ketidakstabilan situasi keamanan di wilayah Teluk (Oman, Qatar, UEA, Bahrain). Secara ringkas, Ramadhan di tahun 2026 saat ini, realitanya di Timur Tengah memang berlangsung dalam bayang-bayang komflik (perang-fisik), menjadikannya salah satu periode puasa di tahun ini memang penuh duka dan tantangan keamanan yang serius bagi warga umat Muslim (khusuanya di kawasan Timur Tengah).
II. Puasa Ditinjau Dari Aspek Antropologis
Padahal sejatinya, bahwa puasa secara antropologis bukan sekadar ritual teosentris, melainkan praktik budaya dan sosial (antroposentris) yang membentuk empati, solidaritas, dan identitas komunitas. Ia menjadi mekanisme kontrol diri atas hasrat manusia, memperkuat ikatan sosial melalui tradisi bersama, serta mentransformasi kesadaran spiritual menjadi aksi nyata kepedulian sosial, seperti berbagi makanan, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah poin-poin penting puasa ditinjau dari aspek antropologis :
A. Pembentukan Solidaritas dan Ikatan Sosial
Puasa, terutama di bulan suci Ramadan, menciptakan rasa persatuan di antara komunitas melalui ritual bersama seperti berbuka puasa bersama. Ini memperkuat ikatan sosial dan rasa memiliki seperti : (1). Empati dan Kesadaran Sosial. Yakni, puasa menanamkan rasa empati dan kedermawanan dengan merasakan lapar yang dialami oleh kaum yang kurang beruntung, meningkatkan jiwa altruisme. (2). Identitas Budaya Dan Komunitas. Puasa menjadi penanda identitas umat Muslim dalam konteks interaksi sosial yang lebih luas, meneguhkan komitmen keimanan dan membentuk karakter sosial. (3). Pengendalian Diri (Kontrol Sosial). Karena secara antropologis, puasa adalah bentuk manajemen diri untuk menundukkan hawa nafsu (unsur hewani), seperti makan dan minum, sehingga manusia lebih berfokus pada sisi ruhani dan perilaku yang lebih beretika. (4). Ritual Waktu dan Tubuh. Karena, puasa mengubah ritme sosial dan biologis (sahur, buka, tarawih), memberikan pengalaman waktu yang unik dan melatih kedisiplinan serta profesionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Antropologi melihat puasa sebagai tradisi yang merawat nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian di tengah perubahan sosial.
Dalam perspektif Syari’at Islam, puasa Ramadhan merupakan salah satu ritus keagamaan yang diwajibkan bagi umat Islam. Kewajiban tersebut sebagaimana telah ditegaskan dalam sebuah teks Al Quran (Surat al-Baqarah ayat 183). Namun, dalam praktiknya, ibadah puasa mengalami eksplorasi dan apropriasi penghayatan yang beragam. Bahkan, antara satu tempat dan tempat lain memiliki cara dan pendekatan berbeda-beda dalam mengekspresikan hal ihwal tentang ibadah puasa Ramadhab yang dijalankannya. Baik pada tataran penyambutan ibadah puasa maupun pelaksanaannya. Namun secara antropologis, puasa Ramadhan menjalin tiga dimensi yang saling berkaitan. Pertama, “faith” (kepercayaan spiritual). Ruang ini ditandai oleh kegiatan peribadatan yang dilakukan dalam bentuk ibadah “mahdlah”, seperti Tarawih, tadarus, iktikaf, pembagian zakat, dan aneka rupa peribadatan lain ataupun ibadah “mghair-mahdlah”, seperti yang tampak dalam berbagai kegiatan penyambutan ibadah puasa, misalnya acara buka bersama, kultum ramadhan, kajian ramadhan dan lain sebagainya.
III. Puasa, Durkheim Dan Solidaritas Sosial
Puasa di bulan suci Ramadhan merupakan ritual ibadah yang penting dan dipraktekkan oleh jutaan muslim di seluruh dunia. Bulan puasa dipandang sebagai bulan refleksi spiritual, disiplin diri, dan solidaritas komunal. Dari perspektif antropologis, puasa dapat dimaknai sebagai praktik keagamaan yang menghubungkan individu dengan komunitasnya, tradisi keagamaan, dan nilai-nilai budaya bersama.
Emile Durkheim, salah satu tokoh ilmuwan Prancis paling berpengaruh di bidang antropologi dan sosiologi, ia pernah mengatakan bahwa solidaritas sosial adalah perekat yang menyatukan masyarakat. Ia mengidentifikasi dua jenis solidaritas sosial: solidaritas mekanis dan solidaritas organik. Sedangkan solidaritas mekanis didasarkan pada kepercayaan, nilai, dan tradisi bersama. Sementara sedangkan solidaritas organik, ia didasarkan pada rasa saling ketergantungan dalam masyarakat modern.
Dalam konteks puasa Ramadhan, mungkin kita bisa melihat praktik tersebut sebagai ekspresi solidaritas mekanis umat Islam. Kaum Muslimin di seluruh dunia sama-sama memiliki keyakinan akan pentingnya puasa selama Ramadhan, dan keyakinan bersama ini menciptakan rasa solidaritas dan tujuan bersama. Dengan berpartisipasi dalam ibadah puasa, umat Islam menegaskan identitas kolektifnya dan rasa memiliki sesama anggota komunitas Muslim. Bukan hanya itu, sang sosiolog dan antropolog Emil Durkheim juga menjelaskan bahwa ritual itu penting sekali. Karena, ibadah atau ritual memainkan peran penting dalam upaya menciptakan dan memperkuat solidaritas sosial tadi. Ritual dilihat sebagai tindakan simbolis yang mencerminkan dan memperkuat nilai dan kepercayaan bersama. Apalagi praktik ibadah yang dilakukan bersama-sama, hal itu dapat menghadirkan rasa identitas kolektif dan memberi individu rasa memiliki.
Dalam konteks puasa umat Islam Indonesia misalnya, kita kerapkali melihat praktik berbuka puasa sebagai ritual yang mempererat solidaritas sosial itu. Dengan berbuka puasa bersama, umat Islam menegaskan identitas kolektif mereka dan rasa memiliki sebagai sesama bagian dari komunitas Muslim. Lebih dari itu, buka puasa bersama juga menciptakan rasa hubungan emosional dan memberi individu rasa senang dan hormat kepada sesuatu yang sakral.
Menurut Emil Durkheim, ritual dapat menghadirkan perasaan emosional yang mendalam pada individu. Dengan berpartisipasi dalam ritual, seorang individu mengalami rasa kagum terhadap yang suci. Pengalaman emosional seperti itu pada gilirannya akan memperkuat komitmen mereka terhadap nilai dan keyakinan bersama, menciptakan rasa kewajiban dan kewajiban moral. Bahkan, ketika dilihat dari berbagai aspeknya, maka ibadah puasa selama Ramadhan merupakan praktik yang tidak mudah, dan itu membutuhkan disiplin diri dan komitmen yang signifikan.
Dengan berpartisipasi dalam praktik ini, setiap individu kemudian terdorong untuk memperkuat komitmen mereka terhadap nilai dan kepercayaan yang dianut bersama. Puasa Ramadhan selama sebulan melibatkan pantang makan, minum, dan kebutuhan fisik lainnya di siang hari. Hal itu menumbuhkan rasa solidaritas komunal di antara umat Islam, karena mereka semua terlibat dalam kewajiban agama bersama ini. Itulah sebabnya mengapa secara antropologis pengalaman bersama seperti itu, kerapkali menciptakan rasa komunitas, yang merupakan aspek mendasar dari organisasi sosial manusia. Apalagi, tradisi berbuka puasa yang dilakukan bersama sama merupakan momen krusial bagi banyak keluarga dan komunitas Muslim ini selama Ramadhan. Mengikuti Sunnah Nabi, umat Islam biasanya berbuka puasa dengan segera seraya memanjatkan doa, makan kudapan manis seperti kurma, air, dan makanan lain.
Dengan kata lain, andaikan Emile Durkheim sang antropolog itu masih ada di antara kita, dan turut menyaksikan kegiatan buka puasa bersama, mungkin ia akan menafsirkan ritual ini (ibadah puasa ramadhan) sebagai salah satu cara untuk membawa individu kembali ke komunitas setelah seharian berpuasa, karena tindakan berbagi makanan dan minuman turut menciptakan rasa persatuan dan kebersamaan di antara sesama.
Tentu saja, makna sosial ibadah puasa dan berbuka puasa tidak terbatas pada komunitas Muslim saja. Karena, puasa dalam berbagai bentuknya banyak dilakukan juga oleh umat beragama lain. Para ilmuwan mengatakan bahwa puasa dan praktik keagamaan lainnya seringkali juga memiliki makna sosial dan budaya yang lebih dalam dan luas. Puasa dapat dilihat sebagai cara untuk mengkomunikasikan identitas dan nilai-nilai agama kepada orang lain, sehingga memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas tertentu. Namun bagi seorang Muslim, puasa Ramadhan dapat dimaknai sebagai wahana untuk meneguhkan identitas Muslim dalam konteks berhubungan dengan anggota komunitas Muslim lainnya. Akhirnya, perspektif sosiologis dan antropologis dari sang sosiolog dan antropolog Emile Durkheim, sebagaimanayang telah dikemukakan diatas, hal itu penting sebagai pengingat bagi kita semua (umat Islam) akan arti penting puasa, berbuka puasa, dan makna sosialnya di dalam komunitas Muslim di seluruh dunia.



