Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Marbot Masjid

Pengantar

Pada Jumat malam, 23 Oktober 2026, di pelataran Masjid Agung Ats-Tsauroh, Kota Serang, NU Kota Serang menggelar orasi dalam rangka Hari Santri Nasional. Momentum ini mengundang kita merenungkan arah pembangunan Kota Serang Madani: apakah hendak meneguhkan diri sebagai kota pendidikan, bandar dagang, atau destinasi hiburan? Menurut saya, pendidikan harus menjadi penggerak utama pembangunan, dengan masjid sebagai jantung peradabannya. Kota tidak cukup hanya membangun pusat perdagangan, kawasan wisata, dan ruang hiburan; kota harus membangun manusia yang beriman, berilmu, berkarakter, kreatif, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, kualitas manusia menentukan produktivitas ekonomi, daya hidup kebudayaan, dan kemampuan masyarakat mengembangkan pariwisata yang bermartabat. Kota Serang Madani harus bertumbuh dari masjid, menguat melalui pendidikan, dan memajukan ekonomi serta kebudayaan.

Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat peradaban yang menghidupkan ekosistem pendidikan melalui sekolah, pondok pesantren, majelis taklim, keluarga, perguruan tinggi, dan ruang belajar masyarakat. Dalam ekosistem ini, iman menuntun ilmu, ilmu membentuk kecakapan, dan kecakapan melahirkan karya serta pengabdian. Pendidikan yang berakar pada masjid tidak berhenti pada pembentukan kesalehan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berinovasi, berwirausaha, merawat warisan sejarah, dan mengembangkan kebudayaan. Dengan bekal itulah perdagangan dapat menciptakan kemakmuran, sementara pariwisata dapat menghidupkan sejarah Kesultanan Banten, tradisi pesantren, seni Al-Qur’an, kuliner, serta peradaban sungai dan muara. Masjid menghidupkan ekosistem pendidikan; pendidikan menggerakkan kemajuan ekonomi dan kebudayaan; keduanya menjadi kekuatan untuk mewujudkan Kota Serang Madani.

Meneguhkan Identitas dan Arah Peradaban Kota

Kota Serang memiliki modal sejarah dan kebudayaan yang kuat. Warisan Kesultanan Banten, kawasan Banten Lama, Masjid Agung Banten, tradisi pesantren, serta kehidupan masyarakat religius merupakan sumber identitas yang tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan masa lalu. Warisan itu perlu dihidupkan melalui pendidikan, penelitian, pelestarian lingkungan, pengembangan kebudayaan, dan kegiatan ekonomi produktif. Masjid dapat menjadi simpul yang menghubungkan ibadah, pembelajaran, pelayanan sosial, dan pembinaan generasi. Dengan demikian, identitas madani bukan sekadar label, melainkan watak peradaban yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Ekosistem masjid perlu diperkuat dari tingkat kelurahan hingga kota. Masjid jami’ di kelurahan dapat menjadi pusat pembinaan masyarakat, terkonsolidasi melalui masjid besar di kecamatan, dan terhubung dengan majelis taklim serta pondok pesantren. Jaringan ini dapat menggerakkan pendidikan Al-Qur’an, literasi, pembinaan keluarga, kepedulian sosial, kewirausahaan, hingga penguatan karakter generasi muda. Pemerintah kota perlu memandang masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan mitra strategis pembangunan manusia. Ketika ilmu, iman, dan pengabdian bertemu, masjid menjadi jantung yang menghidupkan lingkungan sekaligus menguatkan peradaban kota.

Identitas madani juga menuntut kesanggupan menghadapi tantangan zaman. Tradisi salat, silat, dan silaturahim dapat menjadi tiga simpul pembentukan manusia yang utuh: salat meneguhkan spiritualitas dan disiplin, silat melatih ketangguhan dan pengendalian diri, sedangkan silaturahim merawat persaudaraan dan solidaritas. Ketiganya perlu berjalan bersama penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesalehan tidak boleh dipisahkan dari kecakapan, dan kecanggihan tidak boleh kehilangan arah moral. Kota Serang Madani harus melahirkan manusia yang beriman, berilmu, tangguh, terbuka, dan sanggup menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Mengintegrasikan Pendidikan, Perdagangan, dan Wisata

Hari Santri mengingatkan kita pada Resolusi Jihad yang dikobarkan pada 22 Oktober 1945, ketika ulama dan santri menyerukan pembelaan terhadap kemerdekaan Indonesia. Semangat itu menjadi bagian penting dari rangkaian perjuangan yang berpuncak pada pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Jika dahulu kedaulatan dipertahankan melalui keberanian, pengorbanan, dan persatuan, kini pembelaan terhadap bangsa juga menuntut penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri strategis. Kesiapan bangsa tidak dapat selamanya bertumpu pada jurus, pedang, dan pasukan berkuda. Kita membutuhkan kemampuan membangun industri baja, kendaraan lapis baja, pesawat tempur, radar, serta teknologi strategis lain yang menopang pertahanan dan kemandirian nasional. Penguasaan teknologi nuklir pun perlu dipahami melalui pendidikan sains yang kuat, tata kelola keselamatan yang ketat, dan pemanfaatan damai untuk kepentingan masyarakat.

Pendidikan berbasis laboratorium sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) menjadi salah satu jalan untuk membangun kemampuan tersebut. Pembelajaran tidak cukup berhenti pada hafalan; anak-anak perlu belajar mengamati, merancang, menguji, memperbaiki, dan menghasilkan karya. Kemampuan teknologi yang berkembang untuk pertahanan juga dapat melahirkan manfaat sipil, mulai dari mesin pertanian, sistem irigasi, pengolahan pangan, penyimpanan hasil panen, hingga distribusi yang lebih efisien. Kedaulatan pangan, misalnya, memerlukan benih bermutu, air, lahan yang terjaga, energi, pengetahuan, teknologi pascapanen, dan tata niaga yang adil. Karena itu, pendidikan, riset, industri, dan pertanian harus dipandang sebagai mata rantai pembangunan yang saling menguatkan. Kota Serang dapat berkontribusi melalui sekolah dan pesantren yang menghidupkan sains, kemitraan dengan perguruan tinggi, serta ruang praktik dan inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Perdagangan merupakan penggerak kemakmuran apabila ditopang oleh manusia terampil, produk berkualitas, dan akses pasar yang luas. Pasar tradisional, usaha mikro, kecil, dan menengah, serta pelaku ekonomi kreatif perlu mendapat dukungan berupa literasi keuangan dan digital, pendampingan usaha, akses pembiayaan, peningkatan mutu produk, serta jejaring pemasaran. Pendidikan kewirausahaan hendaknya tidak hanya mengajarkan cara menjual, tetapi juga membangun etos kerja, kejujuran, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar. Dengan cara itu, perdagangan tidak sekadar memperbesar transaksi, tetapi memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga. Masjid, pesantren, sekolah, dan komunitas dapat menjadi ruang penguatan nilai sekaligus pengembangan keterampilan ekonomi. Kemakmuran yang madani ialah kemakmuran yang memberi manfaat luas, bukan hanya menumpuk keuntungan pada segelintir orang.

Pariwisata pun perlu dikembangkan dengan menjadikan pendidikan dan warisan peradaban sebagai daya tarik utama. Banten Lama, sejarah Kesultanan Banten, tradisi pesantren, seni Al-Qur’an, kuliner lokal, serta kawasan pesisir Karangantu dapat dirangkai menjadi pengalaman wisata sejarah, religi, budaya, dan edukasi. Sungai Cibanten dan kawasan muaranya juga menyimpan peluang untuk pendidikan maritim, penelitian lingkungan, pemahaman sejarah perdagangan, serta wisata berbasis masyarakat. Gagasan peradaban muara penting dikembangkan: muara bukan sekadar tempat bertemunya aliran air, melainkan ruang pertemuan manusia, pengetahuan, kebudayaan, perdagangan, dan sejarah. Potensi tersebut harus dikelola dengan menjaga kebersihan sungai, kualitas lingkungan, kelestarian situs, dan kehidupan masyarakat setempat. Pariwisata yang berhasil bukan hanya mendatangkan pengunjung, melainkan menumbuhkan pengetahuan, membuka usaha warga, dan menjaga warisan untuk generasi berikutnya.

Penutip

Arah pembangunan perlu diterjemahkan ke dalam sasaran yang terukur. Kemajuan Kota Serang tidak cukup dinilai dari banyaknya bangunan, ramainya pusat hiburan, atau meningkatnya kunjungan wisata. Ukurannya harus mencakup mutu pendidikan, kecakapan lulusan, pertumbuhan inovasi, produktivitas UMKM, penciptaan lapangan kerja, kualitas lingkungan, serta keberlanjutan tradisi keagamaan dan kebudayaan. Pemerintah kota perlu menyusun program lintas sektor dengan target, anggaran, jadwal, penanggung jawab, dan evaluasi yang jelas. Perguruan tinggi, pesantren, sekolah, masjid, dunia usaha, komunitas budaya, dan masyarakat harus dilibatkan sebagai mitra yang saling melengkapi. Konsistensi kebijakan juga penting agar pembangunan tidak berganti arah setiap kali kepemimpinan berganti.

Kota Serang Madani tidak perlu mempertentangkan kota pendidikan, bandar dagang, dan destinasi wisata. Ketiganya dapat tumbuh bersama dengan pendidikan sebagai penggerak utama: pendidikan membangun manusia, perdagangan menggerakkan kemakmuran, dan pariwisata menghidupkan warisan peradaban. Resolusi Jihad mengajarkan keberanian membela kemerdekaan; tantangan masa kini menuntut keberanian yang sama untuk menguasai ilmu dan teknologi. Masjid beserta ekosistem pendidikannya harus menjadi jantung peradaban yang menggerakkan kemajuan, memperkuat kedaulatan, dan memuliakan kehidupan warganya. Kota Serang Madani adalah kota yang makmur ekonominya, hidup masjidnya, tumbuh tradisi ilmunya, berkembang seni Al-Qur’annya, dan terawat peradaban muaranya. Pendidikan bukan sekadar salah satu urusan kota, melainkan kekuatan utama untuk menggerakkan kemajuan, memperkuat kedaulatan, dan memuliakan kehidupan seluruh warganya.

Wallahul musta’an

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *