Catatan tentang Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dentuman Langit Bandung, Banjir Bandang Nepal, dan Etika Berbagi Informasi di Zaman Tanpa Filter

Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pengamat Media dan Kebijakan Publik

Pagi itu, ponsel seperti mendadak menjadi pusat komando bencana. Notifikasi masuk bertubi-tubi. Grup WhatsApp yang biasanya berisi ucapan selamat pagi, foto sarapan, iklan obat kuat, dan sesekali ceramah tujuh menit, tiba-tiba berubah menjadi ruang informasi kebencanaan. Gunung Anak Krakatau dikabarkan meletus. Abu bertebaran. Video erupsi muncul dari berbagai penjuru. Di Bandung, kabar tentang dentuman dari arah langit ikut membuat warga bertanya-tanya. Sebelumnya, musibah banjir bandang di Nepal datang saling menyusul. Dalam hitungan menit, kecemasan berpindah dari satu layar ke layar lain, dari satu tangan ke tangan berikutnya.

Saya membayangkan, kalau ponsel mempunyai perasaan, mungkin pagi itu ia juga ingin mematikan dirinya sendiri. Belum selesai membaca satu pesan, sudah muncul pesan berikutnya. Belum sempat memahami video pertama, datang video kedua. Belum selesai bertanya apakah ini benar, muncul seseorang yang menulis dengan huruf kapital: “MOHON WASPADA!!!” Huruf kapital memang punya bakat khusus untuk membuat sesuatu terlihat lebih genting daripada keadaan sebenarnya. Kadang isinya biasa saja, tetapi karena ditulis dengan huruf besar semua, jantung ikut membesar.

Di tengah situasi seperti itu, sebenarnya kita dapat memahami mengapa orang-orang begitu cepat berbagi. Sebagian besar tentu tidak mempunyai niat buruk. Justru sebaliknya. Mereka ingin mengingatkan keluarga, tetangga, sahabat, dan orang-orang yang dianggap perlu waspada. Ketika melihat tayangan erupsi, dorongan pertama mungkin sederhana: “Bagikan, supaya yang lain tahu.” Secara moral, niat itu baik. Ada kepedulian di sana. Ada keinginan untuk menyelamatkan. Ada naluri manusia untuk saling memberi tahu ketika sesuatu yang dianggap membahayakan sedang terjadi.

Persoalannya muncul ketika niat baik bertemu dengan informasi yang belum diperiksa. Di sinilah kita berhadapan dengan paradoks zaman digital: kita hidup dalam masa ketika informasi begitu mudah diperoleh, tetapi kebenaran justru semakin membutuhkan kesabaran untuk menemukannya. Dulu orang mengeluh karena sulit mendapatkan informasi. Sekarang informasi datang sendiri tanpa diundang. Ia masuk ke kamar, meja makan, warung kopi, kendaraan, bahkan ke dalam percakapan keluarga. Masalahnya, tidak semua yang datang itu membawa kebenaran.

Sebuah video lama dapat muncul kembali seolah-olah baru direkam beberapa menit lalu. Foto dari peristiwa bertahun-tahun sebelumnya bisa diberi keterangan baru. Tayangan dari lokasi lain dapat dipindahkan ke konteks berbeda. Bahkan rekayasa visual yang dibuat untuk kepentingan tertentu dapat beredar dengan wajah yang begitu meyakinkan. Kita akhirnya berada dalam situasi yang agak lucu sekaligus mengkhawatirkan: teknologi semakin canggih, tetapi kadang kemampuan kita membedakan mana yang baru, mana yang lama, mana yang benar, dan mana yang dibuat-buat justru tertinggal beberapa langkah.

Pun demikian dengan tragedi Nepal yang belakangan juga memenuhi ruang digital kita. Tragedi itu faktual, bencana sungguh terjadi, dan korban jiwa yang jatuh tidak sedikit. Banyak foto dan video yang beredar memang benar-benar merekam peristiwa tersebut, sehingga layak menjadi informasi dan pengingat agar kita tidak kehilangan empati. Namun, di antara tayangan yang faktual itu, beredar pula sejumlah video atau gambar hasil rekayasa kecerdasan buatan yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak seperti dokumentasi asli. Di sinilah persoalannya menjadi semakin rumit: mata kita melihat gambar, tetapi belum tentu gambar itu menyaksikan kenyataan. Kita akhirnya hidup pada zaman ketika sebuah video bisa tampak sangat nyata, sementara kenyataannya tidak pernah terjadi. Dulu kita bertanya, “Ini foto asli atau editan?” Sekarang pertanyaannya naik kelas menjadi, “Ini benar-benar pernah terjadi atau hanya pernah dibuat oleh mesin?”

Di sinilah saya teringat pada satu pelajaran lama dari dunia filsafat: manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan cara untuk mengetahui apakah sesuatu itu benar. Dalam bahasa sederhana, kita tidak cukup bertanya, “Apa informasinya?” Kita juga perlu bertanya, “Dari mana informasi itu berasal?” “Kapan kejadian itu berlangsung?” “Siapa yang menyampaikan?” “Apakah ada sumber yang dapat dipercaya?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu sesungguhnya merupakan bentuk kecil dari filsafat yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab filsafat, bagi saya, tidak selalu harus duduk di ruang kuliah sambil mengernyitkan dahi membicarakan ontologi, epistemologi, atau metafisika. Filsafat juga bisa hadir ketika seseorang menerima video di WhatsApp lalu berkata dalam hati, “Sebentar, ieu video ayeuna lain?” Artinya, ini video sekarang atau bukan? Kalimat sederhana itu sebenarnya sudah merupakan praktik epistemologi. Kita sedang memeriksa hubungan antara informasi dan kenyataan. Bedanya, kalau di kampus namanya epistemologi, di grup WhatsApp mungkin cukup disebut “ulah buru-buru share.” Share ya. Bukan saré. Hehe..

Masalahnya menjadi lebih serius karena informasi tidak hanya membawa fakta. Informasi juga membawa emosi. Sebuah gambar yang dramatis dapat membuat kita takut sebelum kita sempat berpikir. Suara dentuman yang belum diketahui sumbernya dapat segera diberi tafsir. Video abu vulkanik yang pekat dapat membuat orang membayangkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada kondisi sebenarnya. Ketika emosi sudah lebih dahulu bekerja, akal sehat sering datang belakangan. Padahal dalam keadaan genting, justru akal sehat itulah yang seharusnya mendapat kursi paling depan.

Kita perlu membedakan antara kewaspadaan dan kepanikan. Kewaspadaan membuat seseorang mencari informasi resmi, mengetahui kondisi lingkungan, mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan, dan mengikuti petunjuk pihak berwenang. Kepanikan bekerja dengan cara berbeda. Ia membuat orang menyebarkan apa saja yang dianggap menguatkan rasa takut. Kewaspadaan membutuhkan informasi yang benar. Kepanikan cukup membutuhkan informasi yang terdengar meyakinkan. Di situlah bahayanya.

Ada ironi yang menarik. Dahulu manusia bisa panik karena tidak mendapatkan informasi. Sekarang manusia dapat panik justru karena mendapatkan terlalu banyak informasi. Banjir informasi ternyata tidak otomatis menghasilkan kejernihan. Kadang yang terjadi justru sebaliknya: semakin banyak suara terdengar, semakin sulit kita mendengar suara yang benar. Seperti berada di pasar yang semua pedagang berteriak menawarkan dagangannya. Bukan yang paling benar yang terdengar, melainkan yang paling keras.

Media sosial mempercepat keadaan tersebut. Satu orang membagikan informasi kepada sepuluh orang. Sepuluh orang membagikannya kepada seratus orang. Seratus orang membagikannya lagi kepada ribuan orang. Dalam perjalanan itu, informasi dapat mengalami mutasi. Judul berubah, konteks hilang, keterangan ditambah, emosi meningkat. Informasi yang awalnya berbunyi “diduga” dapat berubah menjadi “dipastikan”. Yang semula “video lama” berubah menjadi “video terbaru”. Yang tadinya “belum diketahui” tiba-tiba menjadi “sudah jelas”. Begitulah informasi bisa tumbuh seperti cerita di warung kopi: semakin banyak yang mengulang, semakin yakin semua orang bahwa cerita itu benar.

Karena itu, barangkali literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi. Kita juga perlu belajar kapan harus menggunakan teknologi dengan bijaksana. Kemampuan membuat video, mengunggah foto, menggunakan kecerdasan buatan, dan menyebarkan informasi memang penting. Tetapi kemampuan menahan jempol juga sama pentingnya. Sebab tidak semua yang bisa kita bagikan harus kita bagikan. Tidak semua yang menarik untuk ditonton layak dipertontonkan kembali kepada orang lain.

Saya kira inilah bagian etis yang sering luput dari pembicaraan tentang media sosial. Ketika kita menekan tombol “bagikan”, kita sebenarnya sedang melakukan tindakan sosial. Kita bukan hanya memindahkan data dari satu layar ke layar lain. Kita sedang memindahkan kemungkinan dampak kepada manusia lain. Kalau informasi itu benar dan bermanfaat, ia dapat menjadi pertolongan. Tetapi kalau informasi itu salah, menyesatkan, atau sengaja didramatisasi, ia dapat menjadi sumber kecemasan baru.

Maka pertanyaan sebelum membagikan informasi seharusnya tidak berhenti pada “Apakah ini menarik?” atau “Apakah ini viral?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah ini benar?” Setelah itu, “Apakah ini relevan?” Kemudian, “Apakah ini bermanfaat?” Dan terakhir, “Apakah cara saya membagikannya justru membuat orang lebih panik?” Empat pertanyaan sederhana itu mungkin cukup untuk membuat jempol kita sedikit lebih bijaksana.

Tentu saja, kita tidak sedang diminta menjadi ahli vulkanologi, ahli meteorologi, atau detektif digital setiap kali menerima pesan. Tidak semua orang memiliki kemampuan memverifikasi segala sesuatu secara teknis. Tetapi setidaknya kita dapat membangun kebiasaan sederhana: membaca dengan tenang, melihat sumber, memeriksa tanggal, memperhatikan lokasi, membandingkan dengan informasi resmi, dan tidak langsung meneruskan sesuatu hanya karena judulnya membuat bulu kuduk berdiri.

Kita juga perlu belajar menerima satu kenyataan yang agak tidak menyenangkan: tidak mengetahui sesuatu untuk sementara waktu bukanlah dosa. Ada kalanya kita memang belum tahu. Dan mengatakan “saya belum tahu” jauh lebih sehat daripada mengarang kepastian. Dalam dunia digital, ketidaktahuan sering dianggap memalukan sehingga orang tergoda segera memberikan pendapat. Padahal, secara intelektual, mengakui belum tahu adalah tanda kejujuran. Socrates barangkali akan tersenyum melihat manusia modern: setelah ribuan tahun, ternyata pengakuan “saya tidak tahu” masih menjadi salah satu bentuk kebijaksanaan.

Dalam konteks bencana, prinsip itu menjadi semakin penting. Orang yang sedang panik membutuhkan informasi yang menenangkan tanpa menipu, bukan ketenangan palsu dan bukan pula dramatisasi. Mereka membutuhkan petunjuk yang jelas, bukan tumpukan video yang membuat keadaan terasa semakin mengerikan. Mereka membutuhkan sumber yang dapat dipercaya, bukan suara paling keras di media sosial. Karena itu, berbagi informasi seharusnya bukan perlombaan siapa yang paling cepat, melainkan upaya siapa yang paling bertanggung jawab.

Saya membayangkan kembali layar ponsel yang penuh dengan video, foto, dan pesan pagi itu. Di antara semuanya, mungkin ada satu pesan yang paling sederhana tetapi justru paling berguna: “Tunggu dulu. Kita cek sumber resminya.” Kalimat itu mungkin tidak viral. Tidak dramatis. Tidak membuat orang menekan tombol forward berkali-kali. Tetapi justru di situlah letak kedewasaan informasi. Tidak semua kebaikan harus terdengar keras.

Bencana alam mengajarkan manusia tentang keterbatasannya di hadapan alam. Tetapi banjir informasi mengajarkan hal lain: keterbatasan manusia di hadapan dirinya sendiri. Kita memiliki teknologi yang mampu mengirim gambar dalam hitungan detik, tetapi masih harus belajar mengendalikan rasa takut. Kita memiliki kemampuan menyebarkan informasi kepada ribuan orang, tetapi masih harus belajar memastikan bahwa informasi itu tidak menjadi sumber mudarat. Teknologi memberi kita kecepatan; kebijaksanaanlah yang menentukan ke mana kecepatan itu diarahkan.

Maka ketika Gunung Anak Krakatau mengirimkan tanda dari perut bumi, ketika dentuman dari langit membuat sebagian orang bertanya-tanya, dan ketika banjar bandang Nepal melanda, barangkali pelajaran yang perlu kita ambil bukan hanya tentang gunung, abu, suara yang mengguncang, atau gemuruh bandang yang menuai traumatik. Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: dalam keadaan genting, informasi adalah bagian dari keselamatan. Karena itu, menyebarkan informasi bukan sekadar aktivitas digital. Ia adalah tindakan moral.

Dan mungkin, sebelum jempol kita kembali menekan tombol “bagikan”, ada baiknya kita berhenti sebentar. Tarik napas. Baca sekali lagi. Periksa sumbernya. Lihat tanggalnya. Tanyakan konteksnya. Kalau benar dan bermanfaat, silakan bagikan. Kalau belum jelas, simpan dahulu. Sebab kadang-kadang bentuk kepedulian yang paling sederhana bukanlah mengatakan sesuatu kepada semua orang, melainkan memastikan bahwa apa yang kita katakan tidak membuat mereka semakin takut.

Di zaman ketika semua orang bisa menjadi pewarta, barangkali kebijaksanaan bukan lagi sekadar kemampuan berbicara. Kebijaksanaan juga merupakan kemampuan menahan diri. Karena tidak semua yang kita ketahui harus segera kita sebarkan, dan tidak semua yang kita lihat harus kita percaya. Jempol yang mampu berhenti sejenak mungkin jauh lebih berguna daripada jempol yang selalu paling cepat. Wallahualam.*

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *