[Pertanyaan]: Kenapa di New Zealand ( salah satu negara sekuler) indeks korupsinya rendah. Skorsnya negara ke-4 terbersih korupsinya. Why ?
[Gene]: Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuh Satu kata: PENDIDIKAN!! Dari Sekolah Dasar, kami diajarkan untuk mengutamakan kejujuran, keadilan, membela kebenaran, melihat orang di bawah, bantu orang lemah, melawan yang dzhalim, menjadi sukarelawan, dan sebagainya. BUKAN dari sisi agama, tapi dari sisi kemanusiaan saja. Kami diajarkan untuk menjadi siap protes dan melawan yang tidak benar. Diajarkan untuk memperhatikan hal yang kurang baik, lalu bertindak.
Langsung dipraktekkan di sekolah. Misalnya, di kantin tidak ada hotdog. Kami diajarkan caranya membuat petisi, menjelaskan perkaranya, berikan penjelasan tentang solusi yang kami harapkan, berikan tanda tangan, lalu petisi itu dikasih kepada kepala sekolah. Kami bersatu untuk mohon suatu perubahan. Kalau ditolak, masih ada kesempatan untuk protes lagi. Diajarkan semua bentuk protes yang boleh dilakukan di dalam sebuah negara demokrasi, yang tidak melanggar hukum, tanpa perlu menyerang polisi atau menjadi anarkis.
Kami disuruh mencari solusi, hal yang bisa diperbaiki. Misalnya, ada taman kota yang butuh bangku duduk. Kami menulis surat, menjelaskan perkaranya, berikan saran atau solusi, dan kirim ke kantor walikota dan koran. Kami diajarkan untuk bahas negara lain, kejadian dari berita, yang terjadi di saat ini, atau di dalam sejarah, dan selalu bertanya, “Apa kejadian itu baik, benar, dan adil?”
Di usia 11 tahun, saya sudah tahu tentang Nelson Mandela yang saat itu menjadi tahanan politik (dipenjarakan 27 tahun), disebabkan sistem apartheid di Afrika Selatan. Saya baca buku tentang seorang anak di negara itu, yang tinggal dengan 15 saudara, dalam satu kamar, tanpa air, tanpa listrik, tanpa toilet, dan kapan saja polisi bisa dobrak pintu dan tangkap saudaranya, dan sering dilakukan di tengah malam, agar lebih menakutkan. Orang yang ditangkap itu mungkin akan kembali lagi setelah beberapa bulan, atau bisa mati. Mau protes kepada siapa? Jadi, pada usia 11 tahun, saya terbiasa berdebat dengan orang dewasa, dan jelaskan kami punya tanggung jawab moral untuk membela orang kulit hitam di sana.
Saat saya mengajar di Jakarta, saya berkomentar tentang Nelson Mandela. Murid-murid saya bingung. Saya bertanya, apa mereka kenal? Dijawab, “Pernah menjadi presiden Afrika Selatan?” Saya jawab, “Iya. Dan bagaimana dengan hukuman penjara selama 27 tahun yang dia alami?” Mereka bingung. Tidak tahu. Dan (ternyata) juga tidak peduli. Tidak masuk ujian sekolah, jadi buat apa peduli? Pola pikirnya banyak orang di Indonesia sangat sempit, dan hanya peduli pada hal yang terkait dengan kehidupan mereka. Apartheid di Afrika Selatan? Cuek saja! Buat apa harus paham? Di Selandia Baru, sebaliknya. Semua ilmu dari seluruh dunia, dalam sejarah manusia, ada nilainya, dan penting untuk dipelajari. Supaya kita tambah cerdas.
Itu sistem pendidikan untuk anak sekolah di Selandia Baru, dan banyak negara maju. Anak berdebat dengan orang dewasa sangat umum. Di Indonesia, banyak orang tua dan guru kesal kalau ada anak yang berani berpikir sendiri, berbeda pendapat, dan berdebat! Sistem yang berlaku adalah semua anak wajib belajar “DIAM DAN TAAT” kepada pihak yang berkuasa. Karena orang tuanya dan gurunya juga begitu. Sangat takut kepada siapapun yang punya “kekuasaan”.
Di Selandia Baru, sebaliknya. Banyak orang berani hadapi polisi, pejabat, pemimpin, politikus, dan marahi mereka. Intinya: “Gaji anda dari pajak saya, berarti anda adalah PELAYAN SAYA!! Jadi saya menuntut pelayanan yang benar sekarang!!” Kalau pejabat tidak senang dianggap pelayan, salah sendiri menjadi pejabat. Jadi di sana, pejabat malah “takut” dilawan oleh rakyat di depan umum.
Di Indonesia, rakyat ketemu pejabat, senyum lebar, manggut-manggut, minta selfie, dan bahagia kalau dikasih kaos. Atap sekolah anak mau ambruk, cuek saja. Yang penting sudah selfie sama Bapak dan dikasih kaos!! Di negara maju, rakyat akan marah, protes, dan melawan. Cuek saja kalau pejabat datang. Tidak ada yang mau selfie. Malah antrean untuk bertanya (menuntut), KAPAN akan dapat bantuan yang seharusnya?
Jadi itulah hasil dari sistem pendidikan di Indonesia, yang masih bersifat “semi-militer”. Pemimpin (pejabat, polisi, guru, orang tua) berkuasa mutlak. Awas kalau melawan!! Guru, dan orang tua, dan para pejabat lestarikan sistem itu. Rakyat yang dirugikan. Dan rakyat malas belajar, malas mencari wawasan, jadi menderita terus. Hanya berani komplain ke teman dan bilang ingin kabur ke negara maju.
Kalau pusing tinggal di Indonesia, lebih baik menjadi aktif dan mengubah sistem pendidikannya. Mulai dengan anak sendiri. Ajarkan anak untuk berpikir sendiri, gunakan logika, berdebat, membela pendapatnya, dan bernegosiasi. Baru mereka akan siap melawan guru dan pejabat di masa depan. Kalau anda sendiri tidak izinkan anak berdebat di rumah, mana mungkin guru dan pejabat akan izinkan mereka berdebat dengannya nanti? Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia bisa berubah. Tetapi Kita yang harus mengubahnya. Jangan menunggu “orang lain” menciptakan negara sempurna. Anda yang harus ciptakan. Mulai dengan anak anda sekarang. Jadikan mereka calon pemimpin yang benar.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.

Wallohu muafiq illaatwamitthoriq
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuh
Gene Netto

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *