Narasumber: Ustadz Manar Ahmad Syaefuddin Hasan (MAS), Ketua Bidang Tarjih dan Tajdid PDM Kota Serang

Editor: Endang Yusro

Pengajian Kamisan (5/2/2026) mengambil tema “Deep Meaning of Ramadan” yang berarti makna mendalam (inti) Ramadan, yang karena keterbatasan waktu dan kesempatan penulis baru bisa merampungkannya.

Semoga tidak mengurangi maksud pada catatan hasil pengkajian majelis ilmu yang kami menyebutnya dengan Majelis Kamisan Masjid Bilal Perguruan Muhammadiyah Kota Serang yang diasuh oleh Ustadz Manar Ahmad Syaefuddin Hasan (MAS).

Pada awal kajiannya sang Ustadz mengatakan, di setiap tahun ketika bulan Ramadhan tiba, kita sering mendengar ungkapan wyang sudah tak asing lagi: “Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah.” 

Namun tahukah, bahwa sebenarnya makna dalam keberkahan itu ada pada dua hal yang saling melengkapi, seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan?

Ramadhan adalah waktu yang terbaik untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Quran. Hal ini berarti kita belajar untuk menjadi pihak yang mendengar.

Ramadan juga adalah waktu yang terbaik untuk kita mempertinggi doa, yang berarti kita menjadi pihak yang memohon kepada Yang Maha Mendengar. Itulah maksud dari “Deep Meaning of Ramadan”.

Kemudian makna deep (mendalam) dari Ramadan adalah introspeksi, spiritualitas, dan peningkatan iman, karena Ramadan bukan hanya puasa, tapi juga tentang: pertama, meningkatkan taqwa dan kesadaran akan Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Kedua, mengasah kesabaran dan pengendalian diri, sebagaimana Rasulullah Saw, bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَ  يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, janganlah berbuat keji, dan janganlah berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau memaksanya berkelahi, maka katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, puasa meningkatkan empati dan kepedulian sosial sebagaimana Allah SWT. Berfirman:

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 184)

Dalam kaitan ini Rasulullah Saw. bersabda:


مَنْ اَفْطَرَ صَائِمًا فَلَهُ اَجْرُ صَائِمٍ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Siapa yang memberi makanan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut.” (HR at-Tirmidzi).

Dan kelima puasa meningkatkan kualitas ibadah, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama inti berpuasa, yaitu meningkatkan ketaqwaan (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Kemudian QS. Maryam: 26 yang menceritakan tentang puasa Sayyidah Maryam, yang tidak hanya menahan makan/minum, tetapi juga puasa dari berbicara hal yang tidak berguna, yang merupakan bentuk peningkatan kualitas ibadah dengan menjaga lisan.

Poin penting puasa dapat meningkatan kualitas ibadah, diantaranya: pertama, meningkatkan muraqabah, yaitu puasa menanamkan perasaan diawasi oleh Allah, karena ibadah ini bersifat rahasia.

Kedua, dengan berpuasa dapat mengendalikan hawa nafsu, yaitu menahan diri dari hal yang membatalkan puasa meningkatkan disiplin diri.

Dan ketiga, dengan berpuasa dapat menumbuhkan rasa empati & kepekaan sosial. Rasa lapar mendorong peningkatan ibadah sosial, seperti memberi makan orang lain (buka puasa).

Lalu bagaimana dengan maksud ketika kita menjadi yang mendengar, hubungan dengan Al-Quran?

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup umat manusia. Namun di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern kita – dari deretan rapat kantor hingga kesibukan mengurus keluarga dan urusan sehari-hari – seringkali kita hanya menyentuhnya sebagai sekadar buku yang dibaca tanpa pemahaman, atau hanya diulang dengan lantunan suara tanpa meresapi maknanya.

Ramadhan datang sebagai panggilan untuk mengubah itu semua; bukan hanya membaca, tapi benar-benar mendengar. Bayangkanlah ketika kita duduk di depan mushaf pada malam hari setelah menyelesaikan ibadah tarawih.

Ketika mata kita membaca ayat-ayat Al-Quran, hati kita sedang dalam proses mendengar pesan yang Allah SWT. sampaikan kepada kita. Setiap kata yang kita baca adalah suara Tuhan yang berbicara kepada jiwa kita – tentang cinta, tentang takwa, tentang kesalahan dan pengampunan, tentang kehidupan dan akhirat.

Pada bulan Ramadhan, pintu hati kita seolah lebih mudah terbuka untuk menerima pesan-pesan itu. Kita tidak lagi hanya sebagai pembaca yang pasif, melainkan sebagai pendengar yang aktif yang mau merenungkan setiap ayat dan menerapkannya dalam hidup.

Di beberapa tempat di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan yang lainnya banyak tempat yang menjadi saksi bagaimana hubungan manusia dengan Al-Quran semakin dalam di bulan Ramadhan.

Dari majelis taklim yang penuh sesak di setiap masjid dan surau, hingga kelompok kecil yang berkumpul di rumah untuk belajar tafsir bersama.

Semua itu adalah bentuk dari usaha kita untuk menjadi pendengar yang baik – mendengar firman Allah, mendengar penjelasan dari para ulama, bahkan mendengar suara hati kita sendiri yang mulai berbicara ketika kita berhenti sejenak dari kesibukan duniawi.

Mendengar juga berarti kita mau menerima apa yang disampaikan Al-Quran tanpa pembenaran atau alasan. Ketika ayat-ayat tentang kesalehan, tentang cinta sesama, tentang keadilan menghampiri hati kita, kita tidak lagi membantah atau mengatakan bahwa “hidup sekarang sudah berbeda”.

Kita mendengar dengan lapang dada, lalu berusaha memperbaiki diri sesuai dengan apa yang kita dengar. Itulah makna memperbaiki hubungan dengan Al-Quran di bulan Ramadhan – menjadi pihak yang mendengar dengan sungguh-sungguh.

Kemudian bagaimana ketika kita menjadi yang berbicara sebagai Kekuatan Doa di Bulan Ramadhan?

Jika hubungan dengan Al-Quran adalah saat kita menjadi pendengar, maka doa adalah saat kita beralih menjadi pihak yang berbicara – berbicara kepada Yang Maha Mendengar.

Ramadhan adalah bulan di mana pintu langit dibuka lebar dan doa-doa lebih mudah dikabulkan, tapi keistimewaannya bukan hanya terletak pada kemudahan kabulnya, melainkan pada kualitas komunikasi kita dengan Sang Pencipta.

Doa bukan hanya sekedar mengucapkan kata-kata dengan harapan mendapatkan apa yang kita inginkan. Di bulan Ramadhan, doa menjadi bentuk percakapan yang dalam antara hamba dan Tuhannya.

Kita berbicara dengan hati yang penuh kerendahan hati, dengan keyakinan bahwa setiap kata yang kita ucapkan akan sampai kepada-Nya. Kita berbicara tentang harapan kita, tentang kesusahan kita, tentang orang-orang yang kita cintai, bahkan tentang kesalahan kita yang ingin kita tobatkan.

Bayangkanlah di malam Lailatul Qadar – malam yang lebih baik dari seribu bulan – ketika kita berdiri di depan Allah dengan hati yang suci setelah seharian berpuasa.

Ketika kita mengangkat tangan dan membuka hati untuk berdoa, kita sedang melakukan bentuk komunikasi yang paling sakral dalam hidup kita.

Kita tidak lagi merasa sendiri dalam menghadapi masalah hidup, karena kita tahu bahwa ada Yang Maha Kuasa yang sedang mendengarkan setiap kata yang kita ucapkan.

Di tengah kesibukan bulan Ramadhan yang penuh dengan ibadah dan kegiatan keagamaan, kita jangan sampai melupakan makna sebenarnya dari doa.

Kita bukan hanya berbicara untuk meminta sesuatu, tapi juga untuk mengucapkan terima kasih, untuk memohon ampun, dan untuk mempererat tali hubungan dengan-Nya.

Setiap doa yang kita panjatkan di bulan Ramadhan adalah bukti bahwa kita menyadari bahwa kita adalah hamba yang lemah yang membutuhkan pertolongan dan karunia dari Tuhan Yang Maha Pemurah.

Menutup kajian ini, bagaimana Ramadan kemudian sebagai sesuatu yang menarik saat mendengar dan berbicara bersatu.

Dan inilah bagian yang paling menarik dari seluruh penjelasan tentang Deep Meaning of Ramadan ini.

Pada akhirnya, ketika kita benar-benar mampu menjadi pendengar yang baik terhadap firman Allah, dan mampu menjadi pembicara yang tulus dalam doa, kita akan merasakan sesuatu yang luar biasa dalam hidup kita.

Kedua aktivitas yang awalnya terlihat sederhana ini akan menyatu dan menciptakan transformasi yang mendalam dalam diri kita. Ketika kita mendengar firman Allah tentang cinta sesama, kita akan secara alami berdoa untuk diberikan kekuatan untuk mencintai sesama manusia dengan tulus.

Ketika kita mendengar tentang pentingnya kebaikan dan keadilan, kita akan berdoa agar kita bisa menjadi orang yang selalu berusaha melakukan kebaikan dan memperjuangkan keadilan.

Dan ketika kita mendengar tentang kesalahan dan pengampunan, kita akan dengan ikhlas berdoa untuk mendapatkan ampunan dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Di akhir bulan Ramadhan, ketika kita menyambut hari raya Idul Fitri, kita tidak hanya merayakan akhir dari ibadah puasa. Kita merayakan hasil dari proses mendengar dan berbicara dengan Allah selama sebulan penuh.

Kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang lebih memahami tujuan hidup, yang lebih cinta kepada sesama, dan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta. Dan yang paling menarik adalah, hal ini tidak berhenti ketika Ramadhan usai.

Saat kita berhasil membangun hubungan yang baik dengan Al-Quran dan mempertinggi kualitas doa kita di bulan Ramadhan, kebiasaan mendengar dan berbicara dengan Allah akan terus hidup dalam diri kita sepanjang tahun.

Kita tidak lagi hanya mendengar dan berbicara pada saat tertentu saja, tapi menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi, ketika Ramadhan datang kembali setiap tahunnya, ingatlah bahwa ia bukan hanya tentang berpuasa dari makanan dan minuman.

Ia adalah tentang berpuasa dari kesalahan dan kebodohan, tentang belajar menjadi pendengar yang baik bagi firman Allah, dan menjadi pembicara yang tulus dalam doa kepada-Nya.

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204)

Itulah makna sebenarnya dari bulan suci yang indah ini – sebuah kesempatan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta dengan cara yang paling dalam dan paling bermakna. Demikian, Wallahu a’lam bish-shawab.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *