Oleh : Adung Abdul Haris
I. Prolog
Dalam dunia sufistik (tasawuf), puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga semata (dimensi jasmani), melainkan latihan spiritual (mujahadah) untuk menyucikan jiwa kita (tazkiyatun nafs), mengendalikan hawa nafsu kita, dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT (taqorrub ilallah). Bahkan, hakikat puasa itu sendiri secara sufistik-spiritualistik adalah “puasa batin”, yakni dari segala hal yang memalingkan hati selain Allah. Hal itu bertujuan untuk mencapai derajat takwa (muttaqin), keheningan hati (sublimasi diri), serta makrifatullah (takhali, takholi, hingga tajall). Berikut ini adalah poin-poin penting puasa dalam perspektif sufistik :
A. Tiga Tingkatan Puasa (Imam Al-Ghazali)
(1). Puasa Awam (Umum). Yaitu menahan perut dan kemaluan dari syahwat. (2). Puasa Khusus (Istimewa). Yaitu menahan pandangan, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa/maksiat. (3). Puasa Khususul Khusus (Sangat Istimewa), yaitu pusa hati dari keinginan rendah dan pikiran duniawi, serta fokus dan totalitas hanya kepada Allah.
B. Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs)
Puasa dianggap sebagai metode efektif untuk menundukkan hawa nafsu yang menjadi penghalang utama antara hubungan manusia dengan Tuhan, yaitu : (1). Sarana Makrifat (Mengenal Allah). Karena, dengan rasa lapar, maka jiwa kita menjadi tenang dan lembut, sehingga cahaya ketuhanan lebih mudah masuk ke dalam hati kita. (2). Pembangkit Empati Dan Solideritas Sosial. Puasa mengajarkan rasa lapar untuk memahami penderitaan orang lain, menumbuhkan kepedulian atau solideritas sosial, dan melawan sifat egoistik yang ada di internal kita.
C. Peleburan Diri (Fana’)
Puasa membantu seorang sufi (salik) untuk meleburkan kehendak pribadi ke dalam kehendak Allah. Secara ringkas, puasa dalam perspektif tasawuf adalah transformasi diri dari kecenderungan yang bersifat materialistis menuju kualitas ruhani yang lebih tinggi (Insan Kamil).
Sementara salah satu hadis tentang dua kebahagiaan orang yang sedang beribadah puasa, sementara hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda : “Bagi orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya”.
Berikut detail dua kebahagiaan tersebut, yakni berdasarkan hadis sebagaimana diatas : (1). Kegembiraan Saat Berbuka (Dunia). Yaitu kebahagiaan saat menikmati rezeki (makanan/minuman) setelah menahan lapar dan haus seharian, serta kemenangan dalam menjalankan perintah Allah. (2).Kegembiraan Saat Bertemu Tuhan (Akhirat). Yaitu kegembiraan ketika melihat ganjaran pahala puasa yang melimpah, mendapatkan keridhaan-Nya, dan perjumpaan hakiki dengan sang Khalik.
II. Dimensi Sufistik Puasa
Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa, dan sesungguhnya merugilah bagi orang yang mengotorinya. (QS Ash Shams : 9-10). Sedangkan tasawuf (sufistik) adalah cabang ilmu dalam Islam yang berkaitan dengan aspek spiritual, yaitu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pembersihan jiwa dan pengendalian diri. Tasawuf sering disebut juga sebagai “sufisme” dalam bahasa Barat. Sedangkan konsep utamanya adalah untuk mencapai kedekatan dengan Allah melalui pengendalian hawa nafsu, meningkatkan kualitas ibadah, dan memahami makna yang hakiki dari hidup beragama.
Tasawuf mengajarkan kepada kita betapa pentingnya untuk penyucian jiwa (tazkiyah) dari segala kotoran batin, seperti iri hati, dengki, kebencian, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan. Bahkan, tujuan utama dari tasawuf adalah untuk mencapai hati yang bersih dan suci, yang akan memungkinkan seseorang untuk lebih dekat dengan Allah.
Tasawuf juga berfokus pada pengendalian hawa nafsu (jiwa), yang sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih spiritual. Melalui latihan spiritual yang intens, seperti puasa, dzikir (ingat kepada Allah), dan tafakur (merenung), maka seorang saling (praktisi tasawuf), ia terus berusaha menundukkan nafsunya agar tidak terjerumus ke dalam godaan duniawi dan hedonistik yang masif.
Zikir (mengingat Allah) merupakan salah satu praktik utama dalam tasawuf. Praktisi tasawuf memperbanyak zikir untuk mencapai kedekatan dengan Allah dan mendapatkan pengetahuan spiritual yang mendalam, yang disebut ma’rifah, yaitu pengetahuan atau pemahaman yang langsung tentang Allah. Dalam tasawuf, maka pengalaman batin yang mendalam yang membawa seseorang pada kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam segala aspek kehidupannya.
Lebih dari itu, dalam tasawuf terdapat konsep maqamat (stasiun spiritual) yang menggambarkan berbagai tingkatan spiritual yang dapat dicapai seorang sufi atau seorang salik. Setiap maqam mewakili tahap dalam perjalanan spiritual menuju kesempurnaan jiwa dan kedekatan dengan Allah. Sementara itu, ahwal adalah kondisi atau keadaan batin yang dialami oleh seorang sufi (salik), seperti rasa takut, rindu, atau cinta kepada Allah.
Tasawuf bertujuan untuk mencapai ihsan, yang berarti beribadah dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi. Dalam hadis terkenal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, ihsan dijelaskan sebagai “beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika tidak mampu, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” Hal itu menekankan betapa pentingnya kesadaran spiritual yang tinggi dalam segala aspek kehidupan.
Meskipun tasawuf berfokus pada dimensi spiritual, namun ajaran ini (tasawuf) tidak menuntut untuk meninggalkan dunia. Justru, para sufi diajarkan untuk menjalani kehidupan duniawi dengan penuh kesadaran akan Allah. Mereka berusaha untuk menjadikan segala aktivitas, baik itu bekerja, berkeluarga, atau bersosialisasi, sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Sedangkan ibadah ramadhan dalam perspektif tasawuf memiliki makna yang sangat dalam, karena tidak hanya sebagai bulan untuk menunaikan kewajiban puasa, tetapi juga sebagai sarana untuk mengendalikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam tasawuf, puasa dan amalan lainnya selama Ramadhan dilihat sebagai proses spiritual yang sangat penting dalam upaya membersihkan hati, memperbaiki jiwa, dan mencapai kesempurnaan batin.
Dalam tasawuf, pengendalian diri dimulai dengan pengendalian nafsu (keinginan atau dorongan batin) yang sering kali menjadi penghalang utama dalam pencapaian kesucian jiwa. Puasa di bulan Ramadhan adalah cara untuk menahan nafsu makan, minum, dan berhubungan seksual. Namun, tasawuf mengajarkan bahwa puasa yang sesungguhnya adalah puasa dari segala hal yang merusak hati dan jiwa, seperti sifat iri hati, dengki, sombong, dan egoisme sentris.
Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar dalam ajaran tasawufnya, menyebutkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk membersihkan diri dari “nafsu ammarah” (nafsu yang cenderung kepada kejahatan) dan mengarahkannya menuju “nafsu mutmainnah” (jiwa yang tenang dan tunduk kepada Allah). Dalam hal ini, puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu dari hal-hal yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah.
Tasawuf menekankan betapa pentingnya ketundukan totalitas kepada Allah. Puasa di bulan Ramadhan merupakan sarana untuk melatih diri dalam hal ketaatan dan kesabaran. Dalam tasawuf, semakin tinggi derajat kesalehan seseorang, maka ia semakin mampu menundukkan dirinya kepada kehendak Allah, tanpa ada perasaan riya atau kesombongan.
Puasa di bulan Ramadhan menjadi kesempatan untuk melatih diri agar senantiasa ingat kepada Allah (dzikir) dan menjaga hati dari segala bentuk godaan duniawi. Ketundukan ini adalah bentuk penyerahan diri yang tulus kepada Allah, yang akan membawa seseorang lebih dekat kepada-Nya. Di bulan Ramadhan, dengan mengurangi segala bentuk kesibukan duniawi, seorang sufi berusaha memfokuskan diri untuk lebih banyak bermuhasabah dan beribadah.
Bahkan, salah satu tujuan utama dalam tasawuf adalah tazkiyah, yaitu penyucian jiwa dari segala kotoran spiritual. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan kesempatan besar untuk melakukan tazkiyah, di mana seorang sufi berusaha mengosongkan hatinya dari segala sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat mulia seperti sabar, syukur, ikhlas, dan tawakal kepada Allah.
Dengan berpuasa, seseorang dilatih untuk bersabar dalam menahan diri dari godaan-godaan duniawi, yang pada akhirnya dapat membersihkan hati dari keinginan-keinginan yang tidak bermanfaat. Puasa di bulan Ramadhan menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperbaharui niat agar segala amal yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridha-Nya.
Dalam tasawuf, ibadah yang dilakukan harus dilandasi dengan keikhlasan dan ketulusan. Ramadhan menjadi bulan untuk meningkatkan kualitas ibadah seseorang, baik dalam salat, membaca Al-Qur’an, maupun dzikir. Seorang sufi berusaha untuk melakukan ibadah dengan penuh perhatian, rasa khusyu, dan tanpa ada unsur riya (ingin dilihat orang lain).
Meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan juga berarti berusaha untuk mencapai maqam (tingkat) yang lebih tinggi dalam hubungan dengan Allah. Puasa dan ibadah lainnya dilakukan dengan tujuan untuk mencapai “ma’rifah” (pengetahuan yang mendalam tentang Allah) dan “ihsan” (berbuat baik dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah).
Bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Dalam tasawuf, seseorang diajarkan untuk selalu merenung tentang segala amal perbuatan dan kesalahan yang telah dilakukan. Di bulan ini, umat Islam diajak untuk mengoreksi diri, memperbaiki kekurangan, dan bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Puasa Ramadhan memberikan kesempatan untuk mengosongkan diri dari segala bentuk kesibukan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah, seperti berzikir, berdoa, dan bermeditasi. Melalui muhasabah yang mendalam, seseorang dapat menyadari kelemahan-kelemahan dirinya dan berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik di hadapan Allah.
Dalam perspektif tasawuf, Ramadhan bukan sekadar bulan untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi lebih dari itu sebagai kesempatan untuk melakukan pengendalian diri yang lebih mendalam dalam aspek spiritual. Melalui puasa, seseorang dilatih untuk mengendalikan nafsu, meningkatkan ketaatan kepada Allah, melakukan tazkiyah, dan memperbaiki kualitas ibadah. Dengan demikian, Ramadhan menjadi sarana penting dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, terutama dalam mencapai kedekatan yang lebih dalam dengan Allah dan penyucian jiwa.
III. Puasa Sufistik : Meninggalkan Tradisi Menuju Ibadah yang Hakiki
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi puasanya hanya mendapatkan rasa haus dan lapar saja”. Kutipan tersebut merupakan salah satu pernyataan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam “Jalaul al-Khaṭir” dalam bab haqiqat al-Saum. Pernyataan itu muncul dari kritik Syaikh Abdul Qadir terhadap distorsi makna puasa sebagai amaliyah tradisi semata, bukan puasa sebagai ibadah. Dalam hal ini, puasa hanya dipahami sebatas pada dimensi eksoterik belaka yaitu dengan menahan diri dari lapar dan minum sehingga meninggalkan makna esoteris yang merupakan tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa. Oleh karena itu, di sub judul bagian ini penulis akan mengajak kita untuk memahami hakikat puasa menurut kalangan sufi yang direpresentasikan oleh syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam “Jalaul al-Khaṭir” dan Syaikh Abdul Halim Mahmud dalam “Shahru al-Ramaḍan”. Sedangkan signifikansi puasa bagi kaum muslim adalah meraih atau untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Hal itu didasari atas firman Allah SWT:
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ
“wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183). Menurut Abdul Halim Mahmud, nilai-nlai spiritual puasa al-Ruḥaniyyat al-Sawm terdapat pada akhir ayat tersebut yaitu pada kalimat: la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Dalam mengartikan takwa, Syaikh Abdul Halim menjelaskan bahwa takwa terdiri dari dua unsur penting : Pertama, bersifat positif, yaitu melaksanakan segala perintah Allah dalam ucapan maupun perbuatan seperti mengajak kepada kebaikan dan melaksanakan perbuatan baik. Unsur kedua, mencegah setiap keburukan yang telah Allah larang dalam ucapan maupun tindakan seperti menggunjing dan menipu orang. (Abdul Halim Mahmud, 2000).
Dalam kalangan sufi, mereka memiliki interpretasi menarik dalam memaknai bulan Ramadan. Syaikh Abdul Qadir mengartikan Ramadan sebagai abreviasi dari sejumlah kata yang memiliki makna yang berhubungan dengan kalbu dan pahala. Bagi Syaikh Abdul Qadir, kata Ramadan itu sendiri terdiri dari lima huruf, yaitu : Ra’, Mim, Ḍal, Alif, dan Nun. Ra’ berasal dari raḥmah dan ra’fah yang berarti rahmat dan belas kasih. Sedangkan Mim berasal dari kata majazah, maḥabbah, dan minnah yang berarti balasan, cinta dan anugerah. Sementara Dal berasal dari kata diman li al-tsawab yang berarti jaminan pahala. Sedangkan Alif berasal dari ulfah yang berarti pertemanan dan keharmonisan. Sedangkan Nun berasal dari nur dan nawal yang bermakna cahaya dan pemberian. Sehingga, menurut Syaikh Abdul Qadir, jika seorang hamba dapat melaksanakan esensi bulan Ramadan, maka dia akan mendapat segala hal yang terdapat dari definisi Ramadan di atas. Karena, ketika di dunia, ia akan mendapatkan kekuatan dan cahaya hati, nikmat dan pemberian secara dhahir dan batin. Sementara di akhirat nanti, ia sebagai hamba tentunya akan mendapatkan sesuatu yang belum dipandang oleh mata, terdengar oleh telinga atau pun terbersit oleh hati manusia. Bahkan, untuk mencapai esensi puasa, kalangan sufi kerapkali menekankan untuk berpuasa secara ikhlas kepada Allah dan menjauhi hal-hal haram baik dalam perbuatan, ucapan lisan dan hati. Pada esensinya, puasa adalah upaya menahan telinga, mata, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh lainnya serta hati dari perbuatan yang dapat menghilangkan esensi puasa itu sendiri.
Selain itu, penting dicatat, Syaikh Abdul Qadir juga menekankan dimensi sosial untuk menolong sesama manusia dengan cara memberikan makanan kepada fakir miskin. Dalam arti, jangan jadikan puasa sebagai cermin ketimpangan sosial seperti membiarkan orang lain terus kelaparan, sementara sebagian besar orang-orang yang puasa mereka kenyang dengan hidangan buka puasa. Dengan kata lain, melalui ajaran-ajaran sufi terkait esensi puasa sebagaimana telah dipaparkan atas, semoga menjadi refleksi dan titik balik ibadah puasa kita semua khususnya di tahun 1447 H/2026 M saat ini. Lebih dari itu, semoga kita semua dijauhkan dari apa yang dideskripsikan oleh Nabi SAW : “Betapa banyak orang berpuasa, tapi hanya sekedar merasakan haus dan lapar, dan betapa banyak yang mendirikan salat, tapi hanya mendapatkan lelah” (Sunan Ibnu Majah).





