Ocit Abdurrosyid Siddiq
Mahasiswa Magister Prodi Studi Islam Interdisipliner UIN SMHB Serang
Ada satu kebiasaan yang sesekali membuat saya mengernyitkan dahi ketika mendengar orang berbicara tentang sebuah peristiwa yang belum diketahui sebabnya. Begitu terjadi sesuatu yang dianggap aneh, tidak biasa, atau sulit dijelaskan, segera muncul kalimat, “Ah, itu mah kuasa Tuhan.” Kalimat itu biasanya diucapkan dengan nada penuh keyakinan, seolah-olah setelah kalimat tersebut keluar, seluruh urusan penjelasan sudah selesai. Tidak perlu bertanya lagi, tidak perlu mencari informasi, tidak perlu melakukan penelitian. Cukup berhenti pada “kuasa Tuhan”. Bagi saya, justru di situlah persoalannya dimulai.
Saya tidak sedang mempersoalkan keyakinan bahwa Tuhan Mahakuasa. Dalam keyakinan Islam, tidak ada yang aneh dengan pernyataan bahwa segala sesuatu berada dalam pengetahuan, kehendak, dan kekuasaan Allah. Persoalannya bukan pada kalimat “ini kehendak Tuhan”, melainkan pada kecenderungan menjadikan kalimat itu sebagai titik akhir pencarian. Sebab ada perbedaan yang sangat besar antara mengatakan, “Saya percaya ini terjadi atas kehendak Tuhan, karena itu saya ingin mengetahui bagaimana peristiwa ini berlangsung,” dengan mengatakan, “Ini kehendak Tuhan, jadi tidak perlu dicari tahu lagi.” Yang pertama melahirkan ikhtiar. Yang kedua berpotensi melahirkan fatalisme.
Fatalisme, dalam pengertian yang saya maksud di sini, bukan sekadar keyakinan kepada takdir. Fatalisme adalah ketika keyakinan terhadap takdir membuat manusia kehilangan dorongan untuk bertanya, berusaha, meneliti, dan memperbaiki keadaan. Ia menjadikan “takdir” semacam palang pintu bagi rasa ingin tahu. Padahal, percaya kepada takdir semestinya tidak membuat akal berhenti bekerja. Kita boleh meyakini bahwa gempa bumi merupakan bagian dari kehendak Tuhan, tetapi keyakinan itu sama sekali tidak menghalangi kita untuk mempelajari lempeng tektonik, patahan bumi, gelombang seismik, struktur tanah, konstruksi bangunan, dan mitigasi bencana.
Bahkan saya cenderung melihat bahwa di situlah konsep sunnatullah menjadi menarik. Tuhan menciptakan alam dengan keteraturan. Ada pola, ada hukum, ada hubungan sebab dan akibat yang dapat diamati manusia. Alam tidak berjalan sebagai kekacauan tanpa aturan. Ketika manusia mengamati keteraturan itu, kemudian merumuskannya melalui penelitian, sesungguhnya manusia sedang berusaha membaca bagaimana ciptaan Tuhan bekerja. Karena itu, menemukan hukum alam bukan berarti mengurangi kekuasaan Tuhan. Justru sebaliknya, semakin luas manusia memahami keteraturan alam, semakin luas pula kemungkinan manusia menyaksikan betapa kompleks dan menakjubkannya ciptaan-Nya.
Bayangkan sebuah gempa bumi. Kita dapat berkata, “Allah menghendaki gempa itu terjadi.” Itu adalah wilayah keyakinan. Tetapi seorang ilmuwan belum selesai dengan kalimat tersebut. Ia akan bertanya: apa sumber gempanya, di mana episentrumnya, bagaimana energi dilepaskan, bagaimana gelombang seismik merambat, mengapa kerusakan di satu tempat lebih parah daripada tempat lain, dan bagaimana manusia dapat mengurangi risikonya pada masa mendatang. Dari pertanyaan-pertanyaan itu lahir ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan lahir teknologi. Dari teknologi lahir sistem mitigasi, konstruksi yang lebih aman, pemetaan risiko, dan kebijakan yang dapat menyelamatkan manusia.
Begitu pula ketika terdengar dentuman keras di suatu tempat, misalnya di Bandung. Respons pertama yang sehat menurut saya bukanlah langsung mencari penjelasan mistis. Kita justru perlu mengatakan, “Saya belum tahu.” Setelah itu baru bertanya: dari mana sumber suaranya, bagaimana karakter gelombangnya, kapan terjadi, apakah ada pola tertentu, apakah berkaitan dengan aktivitas geologi, atmosfer, teknologi, atau kemungkinan lainnya. Dugaan boleh muncul, tetapi dugaan harus ditempatkan sebagai dugaan. Ia perlu diuji dengan data. Sebab kalimat “saya belum tahu” jauh lebih sehat bagi perkembangan ilmu daripada kalimat “pasti karena kekuatan gaib” yang diucapkan tanpa penelitian.
Hal serupa berlaku pada banjir bandang. Banjir adalah fenomena yang dapat dipelajari. Curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, kemiringan lereng, perubahan tutupan lahan, sedimentasi, tata ruang, kapasitas drainase, kondisi tanah, dan berbagai faktor lainnya dapat memiliki hubungan kausal terhadap sebuah peristiwa banjir. Mengatakan bahwa bencana itu terjadi atas kehendak Tuhan tidak membatalkan semua hubungan sebab-akibat tersebut. Tuhan tidak berhenti menjadi Tuhan hanya karena manusia menemukan penyebab empiris sebuah bencana.
Saya juga teringat pada Gunung Anak Krakatau. Bagi orang yang pertama kali melihat gunung api di tengah laut, pertanyaannya sangat wajar: bagaimana mungkin api dan magma tetap membara di tengah air laut? Rasa takjub seperti itu adalah sesuatu yang manusiawi. Tetapi rasa takjub dapat membawa kita ke dua jalan. Jalan pertama adalah mengatakan, “Itu aneh, pasti ada kekuatan gaib,” lalu selesai. Jalan kedua adalah bertanya lebih jauh: bagaimana magma terbentuk, dari mana panasnya, bagaimana tekanan bekerja di bawah permukaan bumi, bagaimana magma bergerak melalui kerak bumi, dan apa yang terjadi ketika magma bertemu air laut. Jalan kedua membawa kita kepada geologi dan vulkanologi. Dari sana lahir pengetahuan tentang gunung api dan teknologi pemantauan yang pada akhirnya berguna bagi keselamatan manusia.
Karena itu, saya sering berpikir bahwa perbedaan antara takhayul dan ilmu pengetahuan kadang-kadang hanya dimulai dari satu sikap sederhana: apakah kita mau bertanya atau tidak. Keduanya dapat berangkat dari fenomena yang sama. Sebuah gerhana dapat membuat manusia takut dan melahirkan mitos, tetapi dapat pula membuat manusia mengamati langit, menghitung pergerakan benda langit, lalu melahirkan astronomi. Gunung meletus dapat dipandang sebagai pertanda gaib, tetapi dapat pula menjadi objek penelitian vulkanologi. Petir dapat dianggap sebagai pertanda tertentu, tetapi dapat pula dipelajari melalui fisika atmosfer. Fenomenanya sama. Yang berbeda adalah cara manusia memperlakukannya.
Dalam tradisi Islam, menurut saya, posisi akal justru sangat penting untuk dibicarakan dalam konteks ini. Al-Qur’an berkali-kali menggugah manusia agar menggunakan kemampuan berpikirnya. Kita menemukan ungkapan seperti afalā ta’qilūn, afalā tatafakkarūn, dan ajakan untuk melakukan tadabbur serta tadzakkur. Al-Qur’an bukan hanya menghadirkan jawaban, tetapi juga berkali-kali mengarahkan manusia untuk melihat, memperhatikan, merenungkan, membandingkan, dan mengambil pelajaran. Karena itu, manusia dalam Islam bukan sekadar makhluk yang diperintahkan untuk percaya, tetapi juga makhluk yang diberi kemampuan untuk memahami.
Di sinilah akal menjadi anugerah yang sangat strategis. Dalam analogi sederhana yang sering saya gunakan, malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, sedangkan manusia dari tanah. Tentu saja, pemaknaan bahwa cahaya selalu melambangkan kebenaran, api selalu melambangkan keingkaran, dan tanah merupakan perpaduan keduanya lebih tepat dipahami sebagai refleksi simbolik daripada doktrin akidah yang harus diterima secara literal. Bahkan Al-Qur’an menunjukkan bahwa jin tidak seluruhnya ingkar; ada di antara mereka yang saleh dan ada yang menyimpang. Tetapi manusia memang memiliki keunikan berupa akal, kehendak, dan kemampuan memilih. Ia dapat berpikir tentang dirinya sendiri, mempertanyakan lingkungannya, lalu menentukan sikap terhadap apa yang ditemukannya.
Dengan akal, manusia memilah mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang pantas dan tidak pantas. Dari proses berpikir lahir nilai. Dari nilai lahir norma. Dari norma terbentuk kehidupan bersama. Dari kehidupan bersama tumbuh institusi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pada akhirnya peradaban. Maka akal bukan sekadar alat untuk menjawab soal matematika atau memecahkan persoalan teknis. Akal adalah perangkat yang memungkinkan manusia membangun dunia yang lebih tertata sekaligus mempertanyakan apakah dunia yang dibangunnya sudah baik dan adil.
Namun akal juga tidak boleh dipuja seolah-olah ia adalah Tuhan. Akal manusia terbatas. Ia dapat keliru, bias, dipengaruhi kepentingan, bahkan diperalat oleh hawa nafsu. Orang cerdas dapat menggunakan kecerdasannya untuk mencari kebenaran, tetapi dapat pula menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan kebohongan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar memiliki akal, melainkan menggunakan akal secara jujur. Ilmu membutuhkan kerendahan hati untuk mengatakan, “Saya belum tahu,” keberanian untuk mengatakan, “Mungkin saya salah,” dan kesediaan untuk mengubah kesimpulan ketika bukti menunjukkan hal yang berbeda.
Sejarah peradaban Islam memberikan pelajaran penting dalam hal ini. Ada masa ketika dunia Islam menjadi salah satu pusat utama ilmu pengetahuan dunia. Matematika, astronomi, kedokteran, optika, filsafat, geografi, dan berbagai bidang ilmu berkembang melalui tradisi intelektual yang mempertemukan berbagai warisan pengetahuan. Tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi, Ibn al-Haytham, Al-Razi, dan Ibn Sina merupakan bagian dari sejarah panjang tersebut. Tetapi yang patut dikenang bukan hanya nama-nama besar itu. Yang jauh lebih penting adalah adanya ekosistem yang memungkinkan akal bekerja: tradisi membaca, penerjemahan, penelitian, perpustakaan, diskusi, perjalanan intelektual, dan penghargaan terhadap ilmu.
Karena itu, ketika berbicara tentang kejayaan umat Islam masa lalu, saya kurang tertarik pada nostalgia yang hanya mengatakan, “Dahulu umat Islam hebat.” Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang membuat mereka hebat? Dan lebih penting lagi: apakah kita hari ini memiliki keberanian dan ekosistem intelektual yang memungkinkan lahirnya kejayaan baru? Sebab peradaban tidak dibangun dengan terus-menerus mengutip pencapaian leluhur. Peradaban dibangun ketika sebuah generasi mampu menghasilkan sesuatu yang kelak dikutip oleh generasi sesudahnya.
Di sinilah kritik terhadap budaya fatalistik menjadi relevan. Jika setiap fenomena yang belum dipahami langsung dijawab dengan “itu kuasa Tuhan”, lalu pencarian dihentikan, kita kehilangan kesempatan untuk mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan. Dari fenomena seharusnya lahir pertanyaan. Dari pertanyaan lahir penelitian. Dari penelitian lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir teknologi. Dan teknologi yang dikelola dengan nilai kemanusiaan dapat menjadi bagian dari pembangunan peradaban. Sebaliknya, jika fenomena hanya melahirkan ketakutan, lalu ketakutan melahirkan spekulasi, dan spekulasi berubah menjadi takhayul, kita justru membangun ketergantungan pada sesuatu yang belum tentu benar.
Tentu saja, kita juga harus berhati-hati agar tidak jatuh ke ekstrem sebaliknya. Tidak semua persoalan manusia dapat diselesaikan dengan metode empiris. Ada wilayah metafisika, iman, makna, nilai, dan pengalaman spiritual yang memiliki karakter berbeda. Sains mempunyai wilayah dan metodenya sendiri. Agama memiliki wilayah yang lebih luas daripada sekadar penjelasan mekanistik tentang alam. Karena itu, yang saya tawarkan bukanlah mempertentangkan agama dan sains, apalagi menggantikan iman dengan rasionalisme. Saya justru ingin menempatkan keduanya secara proporsional: wahyu memberi orientasi, akal membaca realitas, dan manusia menggunakan keduanya untuk menjalani kehidupan dengan bertanggung jawab.
Maka saya kira tidak ada alasan untuk merasa iman kepada Tuhan akan berkurang hanya karena kita meneliti ciptaan-Nya. Meneliti gempa tidak berarti meneliti Tuhan. Meneliti gunung api tidak berarti menyaingi Tuhan. Meneliti hujan tidak berarti menyangkal Tuhan. Meneliti penyakit tidak berarti mengingkari takdir. Kita sedang mempelajari mekanisme ciptaan-Nya. Bahkan, boleh jadi, penelitian yang jujur terhadap alam merupakan salah satu bentuk syukur intelektual manusia kepada Sang Pencipta.
Saya tidak ingin menghapus kalimat “ini kuasa Tuhan” dari kehidupan manusia. Kalimat itu memiliki tempatnya sendiri. Yang saya persoalkan hanyalah ketika kalimat tersebut digunakan untuk menutup pintu pertanyaan. Kita boleh mengatakan gempa adalah kehendak Tuhan, tetapi setelah itu kita harus bertanya mengapa bumi berguncang. Kita boleh mengatakan gunung meletus atas kehendak Tuhan, tetapi setelah itu kita harus mempelajari magma dan aktivitas vulkaniknya. Kita boleh mengatakan hujan adalah kehendak Tuhan, tetapi setelah itu kita tetap harus mempelajari meteorologi dan hidrologi. Sebab percaya kepada Tuhan tidak mengharuskan manusia berhenti berpikir.
Mungkin justru sebaliknya. Karena Tuhan memberi manusia akal, maka manusia mempunyai tanggung jawab untuk menggunakannya. Alam adalah kitab yang terbentang di hadapan kita; wahyu adalah petunjuk yang menerangi perjalanan kita; dan akal adalah salah satu alat yang diberikan agar kita mampu membaca keduanya dengan jernih. Maka janganlah setiap ketidaktahuan buru-buru kita ubah menjadi misteri, jangan setiap keanehan segera kita selimuti takhayul, dan jangan setiap pertanyaan kita bunuh dengan kalimat “sudah, itu kuasa Tuhan”. Bisa jadi, di balik peristiwa yang kita anggap aneh itu, Tuhan justru sedang membuka sebuah pintu pengetahuan dan menunggu manusia mengetuknya dengan akal.
Tuhan tetap Mahakuasa meskipun manusia menemukan hukum alam. Dan manusia tetap beriman meskipun ia memilih untuk bertanya, meneliti, menemukan, lalu mengubah pengetahuannya menjadi kemaslahatan. Wallahualam.*



