Mathla’ul Anwar, Al-Khairiyah, dan Jejak Kebangkitan Pendidikan Islam
Ocit Abdurrosyid Siddiq
Ketua Bidang Humas dan Media Pengurus Besar Mathla’ul Anwar
Ada perasaan yang agak berbeda ketika saya mendengar kabar bahwa Muktamar Ke-11 Al-Khairiyah akan diselenggarakan di Kota Cilegon pada Oktober 2026. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah agenda organisasi. Bagi saya, kabar itu terasa seperti mengetuk pintu ingatan yang cukup dalam. Sebab saya bukan sekadar orang yang mengenal Mathla’ul Anwar dari buku sejarah. Saya tumbuh di dalamnya. Saya pernah duduk sebagai murid di MI Mathla’ul Anwar, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Mathla’ul Anwar. Kini, perjalanan itu membawa saya menjadi bagian dari Pengurus Besar Mathla’ul Anwar sebagai Ketua Bidang Humas dan Media. Karena itu, ketika Al-Khairiyah hendak menyelenggarakan muktamarnya, saya merasa ikut berbahagia. Ada kegembiraan sebagai sesama warga Banten, tetapi lebih dari itu, ada perasaan seperti menyaksikan kembali dua aliran sejarah yang sejak awal abad ke-20 sama-sama mengalir dari tanah yang sama.
Saya membayangkan Menes dan Citangkil pada awal abad yang lalu. Tidak ada jalan tol yang menghubungkan keduanya. Tidak ada telepon genggam yang memungkinkan orang bertukar kabar dalam hitungan detik. Tidak ada media sosial tempat gagasan bisa disebarkan hanya dengan sekali sentuh. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada semua teknologi itu: jaringan ulama, pesantren, santri, keluarga, guru, dan murid. Dari ruang-ruang sederhana itulah gagasan tentang pendidikan Islam tumbuh. Di Menes, para ulama mendirikan Mathla’ul Anwar pada 1916. Di Citangkil, Kiai Syam’un membangun pesantren pada tahun yang sama, yang kemudian mengalami pelembagaan dan modernisasi menjadi Perguruan Al-Khairiyah pada 1925. Kajian tentang sejarah pendidikan Islam Banten bahkan menempatkan keduanya sebagai dua lembaga penting yang lahir dalam atmosfer kebangkitan pendidikan Islam pada masa kolonial.
Ada sesuatu yang menarik dari kesamaan waktu tersebut. Tahun 1916 ternyata bukan sekadar angka dalam kalender sejarah Banten. Ia seperti sebuah tanda bahwa pada masa itu sejumlah ulama mulai menyadari bahwa perjuangan umat tidak cukup dilakukan hanya melalui pengajian dan pesantren dengan pola lama. Pendidikan harus ditata, dikembangkan, dan diperluas agar mampu menjawab tantangan zaman. Di Menes, gagasan itu memperoleh bentuk melalui Mathla’ul Anwar. Di Citangkil, pesantren Kiai Syam’un berkembang menjadi lembaga pendidikan yang kemudian menggunakan sistem klasikal. Dengan kata lain, keduanya tidak sedang berlomba mendirikan sekolah. Mereka sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang sama: bagaimana umat Islam Banten dapat bangkit melalui ilmu?
Saya sendiri merasakan makna pertanyaan itu secara personal. Sebab ketika saya mengenang MI dan MTs Mathla’ul Anwar, yang terbayang bukan hanya ruang kelas, guru, papan tulis, buku pelajaran, dan seragam sekolah. Ada sesuatu yang lebih dalam: sebuah tradisi yang membuat pendidikan terasa sebagai jalan pengabdian. Saya mungkin tidak sedang memikirkan sejarah ketika duduk sebagai murid dahulu. Tetapi hari ini, setelah melewati perjalanan yang lebih panjang, saya baru memahami bahwa sekolah tempat saya belajar merupakan bagian dari mata rantai panjang yang dimulai oleh para ulama Banten lebih dari satu abad silam. Saya hanyalah satu mata rantai kecil dari perjalanan yang jauh lebih besar.
Karena itu, ketika berbicara mengenai Al-Khairiyah, saya tidak merasa sedang berbicara tentang “ormas lain”. Saya justru merasa sedang melihat saudara sejarah dari sisi lain Banten. Mathla’ul Anwar tumbuh di Menes dengan tokoh-tokoh seperti KH Mas Abdurrahman, KH Entol Muhammad Yasin, KH Tb. Muhammad Sholeh dan para ulama lainnya. Al-Khairiyah tumbuh dari Citangkil melalui sosok KH Syam’un. Penelitian mengenai keduanya memperlihatkan kesamaan penting: tradisi pesantren menjadi fondasi, kemudian pendidikan dikembangkan dengan sistem yang lebih terstruktur, dan lembaga-lembaga tersebut berkembang menjadi jaringan pendidikan yang lebih luas.
Di titik inilah saya menemukan sebuah ungkapan yang menurut saya sederhana tetapi penting: berbeda rumah tidak berarti berbeda akar. Mathla’ul Anwar mempunyai sejarah dan identitas kelembagaannya sendiri. Al-Khairiyah pun demikian. Kita tidak perlu mengaburkan perbedaan tersebut. Justru perbedaan itulah yang membuat sejarah menjadi kaya. Yang menarik adalah ketika kita melihat akar yang berada di bawah tanah: tradisi pesantren, kecintaan kepada ilmu, jaringan ulama, pengalaman belajar di Timur Tengah, kegelisahan terhadap pendidikan kolonial, dan keyakinan bahwa umat harus dibangun melalui pendidikan.
Kita juga menemukan bahwa jaringan para ulama pada masa itu ternyata jauh lebih cair daripada batas-batas organisasi yang kita kenal sekarang. KH Mas Abdurrahman mempunyai hubungan keilmuan dengan Makkah dan jaringan ulama yang kemudian beririsan dengan Nahdlatul Ulama. Dalam sejarah NU di Banten, tokoh-tokoh yang terkait dengan Mathla’ul Anwar juga muncul dalam perkembangan awal NU. Sementara KH Syam’un sendiri juga tercatat mempunyai hubungan dengan jaringan NU. Kenyataan ini mengingatkan saya bahwa para ulama pada masa itu tidak hidup dalam kotak-kotak organisasi yang kaku. Mereka dapat menjadi guru, kiai, pengelola madrasah, tokoh masyarakat, pengurus organisasi, sekaligus pejuang bangsa.
Ada pula dimensi internasional yang tidak boleh kita lupakan. Sebelum menjadi pusat pendidikan di Menes dan Citangkil, para tokohnya bersentuhan dengan dunia keilmuan Islam yang lebih luas. Makkah menjadi salah satu simpul penting jaringan ulama Nusantara. Kiai Syam’un bahkan mempunyai pengalaman belajar di Makkah dan Mesir. Karena itu, pembaruan pendidikan Islam di Banten sebenarnya tidak lahir dari ruang yang tertutup. Ia merupakan hasil perjumpaan antara tradisi lokal Banten dan arus intelektual Islam yang berkembang di pusat-pusat ilmu pada masa itu.
Dari sini saya semakin memahami bahwa Mathla’ul Anwar dan Al-Khairiyah tidak tepat dibaca semata-mata sebagai dua organisasi pendidikan. Keduanya merupakan bagian dari sejarah kebangkitan masyarakat Banten. Pada zaman kolonial, mendirikan madrasah bukan sekadar mendirikan gedung sekolah. Mengajarkan anak-anak pribumi untuk membaca, memahami agama, mengenal ilmu pengetahuan, dan memiliki kesadaran tentang martabat dirinya merupakan sebuah pekerjaan besar. Pendidikan perlahan-lahan mengubah cara manusia memandang dirinya sendiri. Dan manusia yang mengenal martabat dirinya akan lebih sulit menerima penindasan sebagai sesuatu yang wajar.
Di sinilah sosok Kiai Syam’un menjadi sangat menarik. Ia bukan hanya seorang pendidik. Ia juga seorang pejuang. Al-Khairiyah bukan hanya menghasilkan murid yang belajar agama, tetapi kemudian melahirkan jaringan kader yang bergerak dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Hal serupa juga dapat kita lihat dalam perjalanan Mathla’ul Anwar. Madrasah-madrasahnya berkembang ke berbagai wilayah, mengirimkan kader dan alumni keluar dari Menes. Pada 1936, jaringan Mathla’ul Anwar telah mencapai puluhan madrasah di berbagai daerah. Pendidikan ternyata mempunyai daya jelajah yang jauh lebih panjang daripada usia pendirinya.
Saya kemudian berpikir: mungkin inilah salah satu alasan mengapa kita perlu kembali membaca sejarah kedua lembaga tersebut hari ini. Bukan untuk mencari siapa yang lebih dahulu, siapa yang lebih besar, atau siapa yang lebih berjasa. Sejarah tidak selalu harus diperlakukan sebagai perlombaan. Ada sejarah yang lebih baik dibaca sebagai warisan bersama. Mathla’ul Anwar mempunyai warisannya. Al-Khairiyah mempunyai warisannya. Tetapi Banten juga mempunyai warisan yang lebih besar daripada keduanya: tradisi ulama yang percaya bahwa ilmu adalah jalan membangun manusia.
Karena itu, saya menyambut Muktamar Ke-11 Al-Khairiyah dengan rasa bahagia. Dari perspektif saya sebagai warga Mathla’ul Anwar, muktamar itu bukan hanya agenda internal keluarga besar Al-Khairiyah. Ia juga merupakan peristiwa penting bagi sejarah pendidikan Islam Banten. Ketika sebuah organisasi yang mempunyai akar sejarah panjang berkumpul untuk bermusyawarah, sesungguhnya yang sedang dipertemukan bukan hanya para pengurus hari ini. Di belakang mereka ada para pendiri, guru, kiai, santri, alumni, dan generasi yang telah memberikan pengabdian dalam perjalanan panjang organisasi tersebut.
Saya membayangkan bahwa jika Kiai Syam’un masih dapat melihat Banten hari ini, mungkin beliau akan tersenyum melihat Citangkil kembali menjadi tempat berkumpulnya para penerus perjuangan. Tetapi mungkin beliau juga akan bertanya: untuk apa semua kemajuan itu? Gedung boleh semakin megah. Teknologi boleh semakin canggih. Organisasi boleh semakin besar. Tetapi apabila pendidikan kehilangan ruh pengabdian, maka kemajuan itu bisa menjadi sekadar ukuran administratif. Para pendiri Al-Khairiyah dan Mathla’ul Anwar dahulu tidak membangun lembaga untuk mengejar kebesaran organisasi. Mereka membangun pendidikan karena melihat kebutuhan umat.
Pertanyaan yang sama sebenarnya juga berlaku bagi Mathla’ul Anwar. Setelah lebih dari satu abad, apakah kita cukup hanya bangga mengatakan bahwa Mathla’ul Anwar berdiri sejak 1916? Tentu tidak. Tahun berdirinya adalah sejarah, tetapi bukan tujuan. Demikian pula Al-Khairiyah tidak cukup hanya merayakan panjangnya usia. Usia panjang akan bermakna apabila menghasilkan kemampuan untuk menjawab persoalan baru. Anak-anak Banten hari ini menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia yang dihadapi para santri Citangkil dan Menes satu abad lalu. Karena itu, warisan pendiri harus diterjemahkan kembali dalam bahasa zaman.
Di sinilah saya melihat kemungkinan besar bagi Mathla’ul Anwar dan Al-Khairiyah untuk menemukan kembali titik temu historisnya. Bukan meleburkan identitas. Bukan pula membangun persaingan baru. Tetapi bersinergi dalam perkara yang sejak awal menjadi napas keduanya: pendidikan, dakwah, sosial, kaderisasi, dan penguatan masyarakat. Gagasan sinergi semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pada 2021, silaturahmi antara pimpinan PB Mathla’ul Anwar dan PB Al-Khairiyah juga memunculkan harapan kerja sama dalam bidang keumatan, pendidikan dan sosial. Bahkan pihak Al-Khairiyah menyebut Mathla’ul Anwar dan Al-Khairiyah sama-sama lahir di Banten dan mempunyai ruang untuk bekerja sama.
Maka bagi saya, Muktamar Ke-11 Al-Khairiyah di Cilegon dapat menjadi lebih daripada sebuah forum organisasi. Ia bisa menjadi momentum untuk menengok kembali peta besar pendidikan Islam Banten. Dari Menes kita belajar tentang cahaya yang dinyalakan Mathla’ul Anwar. Dari Citangkil kita belajar tentang kebaikan dan perjuangan yang diwariskan Al-Khairiyah. Keduanya mempunyai bahasa sejarah masing-masing, tetapi berbicara tentang sesuatu yang hampir sama: ilmu sebagai jalan kebangkitan.
Saya menulis ini bukan sebagai orang yang berdiri di luar pagar Al-Khairiyah. Saya menulis sebagai warga Mathla’ul Anwar yang merasa mempunyai alasan untuk ikut bergembira. Saya pernah menjadi murid di MI dan MTs Mathla’ul Anwar. Hari ini saya dipercaya berada di bidang Humas dan Media Pengurus Besar Mathla’ul Anwar. Perjalanan itu membuat saya semakin menyadari bahwa organisasi bukan sekadar nama yang tercetak di kop surat. Organisasi adalah ingatan tentang orang-orang yang telah mengabdikan hidupnya. Ia adalah amanah yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ketika keluarga besar Al-Khairiyah berkumpul di Cilegon pada Oktober nanti, saya ingin memandangnya dengan perasaan sebagai saudara seperjalanan. Dari Menes, saya mengucapkan selamat datang kepada sebuah momentum sejarah di Citangkil dan Cilegon. Semoga Muktamar Ke-11 Al-Khairiyah tidak hanya menghasilkan kepengurusan dan program kerja, tetapi juga menghasilkan keberanian untuk membaca kembali zaman. Sebab tantangan pendidikan hari ini bukan lagi hanya kebodohan dalam pengertian klasik. Kita berhadapan dengan disrupsi teknologi, banjir informasi, krisis keteladanan, kesenjangan pendidikan, perubahan karakter generasi muda, dan pertanyaan besar tentang bagaimana pendidikan agama tetap relevan tanpa kehilangan kedalaman nilai.
Justru di sinilah pesan para pendiri kedua lembaga itu bertemu kembali. Mereka hidup pada zaman yang berbeda dari kita, tetapi pertanyaannya tetap sama: bagaimana ilmu dapat membuat manusia menjadi lebih baik? Jika pertanyaan itu masih kita pegang, maka sejarah belum selesai. Mathla’ul Anwar belum selesai. Al-Khairiyah belum selesai. Dan perjuangan pendidikan Islam Banten juga belum selesai.
Dari Menes menuju Cilegon, dari Mathla’ul Anwar menuju Al-Khairiyah, saya melihat bukan dua cahaya yang saling meniadakan. Saya melihat dua cahaya yang berasal dari tanah yang sama dan pernah menerangi jalan generasi sebelumnya. Kini tugas kita bukan sekadar menjaga agar cahaya itu tidak padam. Tugas kita adalah membuatnya cukup terang untuk menerangi generasi yang belum lahir.
Selamat bermuktamar untuk keluarga besar Al-Khairiyah. Dari seorang warga Mathla’ul Anwar, dengan rasa hormat, persaudaraan, dan kegembiraan. Mungkin begitulah cara paling sederhana kita menghormati sejarah: bukan dengan mempertentangkan cahaya yang satu dengan cahaya yang lain, tetapi dengan memastikan keduanya tetap menerangi jalan umat dan bangsa. Wallahualam.*
Binuangeun Banten Selatan
Sabtu, 12 September 2026



