NASKAH KHUTBAH JUMAT

(Muhasabah di Tengah Tragedi Alam dan Kefanaan Dunia)

Oleh:

Endang Yusro

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi kesadaran bahwa di mana pun kita berada, Allah mengetahui kita; apa pun yang kita kerjakan, Allah melihatnya; dan ke mana pun kita pergi, pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

Allah SWT. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS Ali ‘Imran: 102)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pada kesempatan Jumat ini, marilah kita merenungkan satu pertanyaan sederhana, tetapi sangat dalam: pertama, apa yang akan kita lakukan jika suatu hari apa yang kita miliki harus pergi? Kedua, bagaimana jika harta yang selama ini kita kumpulkan tiba-tiba berkurang?

Pertanyaan ketiga, bagaimana jika jabatan yang selama ini kita banggakan harus kita tinggalkan? Keempat, bagaimana jika popularitas yang selama ini kita kejar perlahan menghilang?

Kelima, bagaimana jika kekuasaan yang kita miliki berpindah kepada orang lain? Dan terakhir, keenam, bagaimana jika suatu hari, bukan hanya harta dan jabatan yang pergi, tetapi kita sendiri yang harus pergi meninggalkan semuanya?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pertanyaan itu bukan sekadar renungan. Itulah kenyataan kehidupan. Allah SWT telah mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS Ali ‘Imran: 185)

Tidak ada pengecualian. Yang kaya akan mati. Yang miskin akan mati. Yang berpangkat akan mati. Yang tidak memiliki jabatan juga akan mati. Yang terkenal akan mati. Yang tidak dikenal manusia pun akan mati. Kita semua sedang berjalan menuju satu pintu yang sama, yaitu: kematian.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Belakangan ini kita kembali menyaksikan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Alam yang selama ini tampak tenang dapat berubah. Gunung yang terlihat diam dapat bergolak. Langit dapat dipenuhi abu. Laut yang tampak luas dan tenang dapat menyimpan kekuatan yang tidak mampu dikendalikan manusia.

Bagi seorang mukmin, fenomena alam bukan sekadar peristiwa geografis. Ia adalah ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah yang seharusnya menggerakkan hati untuk merenung. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali ‘Imran: 190)

Peristiwa alam hendaknya tidak membuat kita terjebak pada ketakutan yang tidak terkendali. Tetapi juga jangan membuat kita kehilangan kepekaan spiritual. Lihatlah alam dengan ilmu. Bacalah alam dengan iman. Hadapilah bencana dengan ikhtiar. Dan jadikan setiap peristiwa sebagai bahan muhasabah. Inilah sikap seorang Muslim.

Kita tidak menyandarkan segala sesuatu kepada mitos, menghubungkan erupsi dengan ramalan-ramalan yang tidak berdasar. Kita tidak membuat berita palsu yang menakut-nakuti masyarakat,  tidak mengambil keuntungan dari kepanikan.

Sebaliknya, kita mengikuti informasi dari lembaga yang berwenang, menjaga keselamatan, membantu mereka yang terdampak, dan mengambil pelajaran dari kebesaran Allah. Sebab iman tidak bertentangan dengan ilmu. Iman justru mengarahkan ilmu agar membawa kemaslahatan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu penyakit manusia adalah merasa memiliki sesuatu secara mutlak. Kita berkata, “Ini rumahku.”; “Ini hartaku.”; “Ini jabatanku.”; “Ini kekuasaanku.”; dan “Ini ilmuku.” Padahal semuanya hanyalah titipan Allah. Allah SWT berfirman:

وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ

“Berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia karuniakan kepadamu.” (QS An-Nur: 33)

Perhatikan ungkapan Al-Qur’an: مَالِ اللَّهِ (harta Allah). Apa yang berada di tangan kita sesungguhnya bukan kepemilikan mutlak. Kita hanya diberi amanah untuk mengelolanya. Karena itu, ketika Allah memberi kita harta, jangan sampai harta membuat kita lupa kepada-Nya.

Ketika Allah memberi kita ilmu, jangan sampai ilmu membuat kita sombong. Ketika Allah memberi kita jabatan, jangan sampai jabatan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dan, ketika Allah memberi kita kekuasaan, jangan sampai kekuasaan membuat kita berlaku zalim.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Islam tidak mengajarkan kita membenci harta. Harta bukan dosa. Menjadi kaya bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika harta menguasai hati manusia. Allah SWT. berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS At-Takatsur: 1–2)

Berapa banyak manusia bekerja siang dan malam mencari harta, tetapi tidak memiliki waktu untuk Allah? Berapa banyak manusia sibuk memperbesar rumah, tetapi lupa memperbesar amal? Berapa banyak manusia sibuk menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung dosa? Dan berapa banyak manusia takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan kejujuran?

Padahal Rasulullah Saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Maka kekayaan sejati bukanlah ketika kita mempunyai banyak. Kekayaan sejati adalah ketika hati kita tidak diperbudak oleh apa yang kita punya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikian pula jabatan. Jabatan bukan mahkota, jabatan adalah amanah, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat pertanggungjawabannya. Rasulullah Saw. bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Maka seorang pemimpin jangan bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?” Tetapi bertanyalah, “Apa yang dapat saya pertanggungjawabkan kepada Allah dari jabatan ini?”

Guru adalah pemimpin, kepala sekolah adalah pemimpin, orang tua adalah pemimpin, pengurus organisasi adalah pemimpin, pejabat negara adalah pemimpin, dan setiap kita adalah pemimpin atas diri sendiri. Suatu saat semua jabatan itu akan berakhir. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tidak pernah berakhir.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Ilmu juga merupakan titipan. Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Tetapi ilmu yang benar seharusnya membuat manusia semakin tawaduk, bukan semakin sombong.

Semakin banyak ilmu, seharusnya semakin terasa betapa luas ketidaktahuan kita. Orang berilmu tidak merasa dirinya paling tau. Ia justru semakin takut kepada Allah. Sebagaimana Firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS Fatir: 28)

Karena itu, ilmu yang tidak melahirkan ketundukan perlu kita evaluasi. Ilmu yang melahirkan kesombongan harus kita waspadai. Ilmu yang membuat kita mudah menghina orang lain harus kita renungkan kembali. Sebab bisa jadi kita sedang memiliki ilmu, tetapi kehilangan hikmah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kekuasaan pun demikian. Kekuasaan dapat menjadi jalan kemaslahatan. Tetapi kekuasaan juga dapat menjadi sumber kezaliman ketika manusia lupa bahwa dirinya hanyalah hamba. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS An-Nisa: 58)

Keadilan tidak boleh bergantung pada siapa yang kita sukai. Kebenaran tidak boleh berubah hanya karena kepentingan. Amanah tidak boleh dikorbankan demi keuntungan pribadi.

Sebab ketika manusia menggunakan kekuasaan untuk dirinya sendiri, sesungguhnya ia sedang menyiapkan pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah SWT.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Karena itu marilah kita belajar satu hal: 1) Jangan takut kehilangan dunia, takutlah kehilangan keberkahan; 2) Jangan takut kehilangan harta, takutlah jika harta membuat kita kehilangan iman; 3) Jangan takut kehilangan jabatan, takutlah jika jabatan membuat kita kehilangan amanah; 4) Jangan takut kehilangan popularitas, takutlah jika popularitas membuat kita kehilangan keikhlasan; 5) Jangan takut kehilangan kekuasaan, takutlah jika kekuasaan membuat kita kehilangan keadilan; Dan 6) jangan terlalu takut ketika sesuatu yang kita cintai harus pergi, sebab semuanya memang akan pergi. Allah SWT. berfirman:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS An-Nahl: 96)

Inilah hakikat kehidupan. Yang kita punya akan habis, yang kita simpan akan berpindah, yang kita cintai akan berpisah. Tetapi amal yang ikhlas akan menemani kita.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita belajar menjadi manusia yang memiliki dunia tanpa dimiliki dunia. Kita boleh kaya, tetapi jangan diperbudak kekayaan. Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan diperbudak jabatan. Kita boleh memiliki ilmu, tetapi jangan diperbudak ego intelektual. Kita boleh memiliki kekuasaan, tetapi jangan diperbudak ambisi.

Letakkan dunia di tangan kita, tetapi jangan biarkan ia menetap di hati kita. Sebab hati manusia terlalu mulia jika hanya dipenuhi dunia. Hati diciptakan untuk mengenal Allah SWT.

Maka jika suatu hari harta harus pergi, biarlah ia pergi. Jika jabatan harus pergi, biarlah ia pergi. Jika kekuasaan harus pergi, biarlah ia pergi. Jika popularitas harus pergi, biarlah ia pergi. Asalkan satu hal yang jangan sampai pergi: iman kita kepada Allah SWT.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Jika hari ini Allah mengambil harta kita, apakah kita masih mampu bersyukur? Jika hari ini jabatan kita dicabut, apakah kita masih mampu rendah hati?

Jika hari ini nama kita tidak lagi disebut orang, apakah kita masih mampu berbuat baik? Jika hari ini tidak ada seorang pun yang memuji kita, apakah kita masih mau beramal? Jika hari ini kematian datang, apakah kita sudah siap bertemu Allah?

Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada: Berapa banyak harta yang telah kukumpulkan? Seberapa tinggi jabatan yang telah kuraih? Dan Seberapa terkenal namaku?

Pertanyaan terpenting adalah: “Seberapa dekat kita dengan Allah?” Sebab pada akhirnya kita tidak akan membawa jabatan ke dalam kubur. Kita tidak akan membawa rekening bank ke liang lahat. Kita tidak akan membawa popularitas ke hadapan Allah. Yang kita bawa adalah iman dan amal.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS Asy-Syu’ara: 88–89)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Maka marilah kita pulang dari masjid hari ini dengan satu tekad, memiliki dunia secukupnya, tetapi mencintai Allah sepenuhnya. Sebab jika suatu hari semua yang kita miliki harus pergi, semoga yang tetap tinggal hanyalah iman, kerendahan hati, amal yang ikhlas, dan cinta kepada Allah.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita bertakwa kepada Allah. Jangan sampai kehidupan dunia membuat kita lupa kepada kehidupan akhirat.

Jangan sampai nikmat membuat kita lalai. Jangan sampai kehilangan membuat kita berputus asa. Dan jangan sampai apa yang kita miliki menjadi hijab antara kita dengan Allah.

Marilah kita berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِينَا، وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا نُورًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا، وَأَمْوَالَنَا أَمَانَةً، وَمَنَاصِبَنَا خِدْمَةً، وَقُدْرَتَنَا عَدْلًا وَإِحْسَانًا

اللَّهُمَّ إِنْ أَعْطَيْتَنَا فَاجْعَلْ عَطَاءَكَ عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَإِنْ مَنَعْتَنَا فَاجْعَلْ مَنْعَكَ حِفْظًا لَنَا مِنَ الْفِتْنَةِ

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا نَفْقِدُكَ وَنَحْنُ نَمْلِكُ الدُّنْيَا، وَلَا تَحْرِمْنَا رِضْوَانَكَ وَنَحْنُ نَطْلُبُ رِضْوَانَ النَّاسِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِينَ، لَكَ شَاكِرِينَ، لَكَ رَاهِبِينَ، لَكَ مُطِيعِينَ، إِلَيْكَ مُخْبِتِينَ مُنِيبِينَ

اللَّهُمَّ احْفَظْنَا وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَمُجْتَمَعَنَا مِنَ الْبَلَاءِ وَالْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْكَوَارِثِ وَالْفِتَنِ، وَاحْفَظْ إِخْوَانَنَا 

اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَنْ أُصِيبُوا، وَاشْفِ مَنْ مَرِضُوا، وَآوِ مَنْ تَضَرَّرُوا، وَأَعِنْ مَنْ فَقَدُوا أَمْوَالَهُمْ وَمَتَاعَهُمْ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا مُتَرَاحِمِينَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْعَدْلَ وَالْأَمَانَةَ وَالْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِأَمْنِ النَّاسِ وَرَفَاهِيَتِهِمْ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِأَسَاتِذَتِنَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

عِبَادَ اللَّهِ،

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *