Ketika Keberhasilan Orang Lain Menjadi Kebanggaan Bersama
Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penggiat Budaya Sunda Banten
Ada satu kebiasaan manusia yang sering kali kita lakukan tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang aneh. Ketika seseorang yang berasal dari daerah kita berhasil mencapai posisi tinggi, kita ikut merasa senang. Ketika seseorang yang pernah berada di organisasi yang sama memperoleh prestasi, kita buru-buru merasa bangga. Ketika seorang tokoh yang seiman dengan kita tampil di panggung besar, kita merasa seolah ada bagian kecil dari diri kita yang ikut berdiri di sana. Bahkan, ketika bertemu seorang pejabat, artis, politisi, atau pesohor, kita sering ingin berfoto bersama. Setelah itu fotonya disebarkan ke mana-mana. Kita tersenyum puas. Padahal, kalau direnungkan dengan sedikit kejujuran dan sedikit humor, orang yang menjadi hebat dalam foto itu tetap saja orang yang berada di sebelah kita.
Hari ini, kabar tentang Komjen Pol. Suyudi Ario Seto menjadi salah satu contoh yang menarik untuk melihat perilaku manusia tersebut. Suyudi bukan sekadar seorang perwira tinggi kepolisian yang sedang memperoleh perhatian nasional. Ia juga lahir di Pandeglang, Banten. Pada 1 Oktober 2026, namanya menjadi calon Kapolri setelah Komisi III DPR menyepakati pengangkatannya menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo. Fakta kelahirannya di Pandeglang kemudian menjadi sesuatu yang terasa dekat bagi masyarakat Banten, khususnya Pandeglang.
Saya bisa membayangkan bagaimana suasana batin sebagian orang Pandeglang ketika mendengar kabar itu. Mungkin ada yang berkata, “Wah, urang Pandeglang.” Ada pula yang berkata, “Putra Banten.” Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana, bahkan mungkin sepele. Tetapi di baliknya ada sesuatu yang sangat manusiawi. Kita sedang mencari hubungan antara keberhasilan orang lain dengan ruang tempat kita berpijak. Kita sedang mengatakan kepada diri sendiri bahwa tanah yang kita kenal, tanah yang mungkin selama ini dianggap biasa-biasa saja, ternyata pernah melahirkan seseorang yang namanya sampai ke tingkat nasional.
Saya sendiri melihatnya dari kacamata kebudayaan. Sebagai orang yang tumbuh dalam lingkungan Sunda Banten, saya memahami bahwa tempat asal bukan sekadar titik koordinat di peta. Lembur, kampung, tanah kelahiran, bahasa, nama daerah, dan ingatan masa kecil mempunyai daya ikat yang kadang sulit dijelaskan dengan rumus. Orang yang lahir dari tanah yang sama dengan kita, meskipun tidak pernah kita kenal, terasa sedikit lebih dekat. Ia mungkin bukan dulur dalam pengertian darah, tetapi secara simbolik ia seperti “dulur jauh” yang tiba-tiba muncul di panggung kehidupan.
Di sinilah saya kira kebudayaan bekerja secara halus. Kita tidak selalu membutuhkan hubungan biologis untuk menciptakan rasa persaudaraan. Kesamaan asal dapat melahirkan persaudaraan simbolik. Kesamaan bahasa dapat melahirkan rasa akrab. Kesamaan organisasi dapat melahirkan rasa memiliki. Kesamaan iman dapat melahirkan rasa kedekatan. Bahkan kesamaan almamater kadang cukup untuk membuat dua orang yang baru bertemu saling memanggil “kawan lama”, padahal sesungguhnya mereka sama-sama baru mengetahui nama masing-masing lima menit sebelumnya.
Manusia memang makhluk yang senang membuat jembatan. Kalau ada orang berhasil, kita mencari jembatan menuju dirinya. “Dia orang kampung saya.” Kalau bukan, “Dia alumni kampus saya.” Kalau bukan juga, “Dia pernah aktif di organisasi saya.” Kalau masih belum ketemu, “Dia satu profesi dengan saya.” Kalau ternyata profesinya berbeda, kita cari lagi. “Dia seagama dengan saya.” Kalau itu pun tidak cukup, mungkin akhirnya kita akan berkata, “Ya setidaknya dia orang Indonesia.” Di situlah saya sering tersenyum sendiri. Betapa kreatifnya manusia mencari alasan untuk merasa dekat dengan keberhasilan orang lain.
Tetapi saya kira kita tidak perlu menertawakan kecenderungan itu secara sinis. Justru sebaliknya, kita perlu memahaminya dengan penuh empati. Sebab di balik perilaku tersebut ada kebutuhan manusia yang sangat mendasar: kebutuhan untuk merasa terhubung. Manusia tidak suka hidup sebagai pulau yang sepenuhnya terpisah. Kita membutuhkan cerita bersama. Kita membutuhkan identitas bersama. Kita membutuhkan sesuatu yang dapat membuat kita berkata, “Saya bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri saya sendiri.”
Karena itu, ketika seorang putra daerah mencapai prestasi besar, kebahagiaan yang muncul tidak selalu merupakan kebahagiaan atas pribadi orang tersebut semata. Ada kebahagiaan karena daerah asal kita ikut disebut. Nama Pandeglang, misalnya, tiba-tiba ikut masuk ke dalam percakapan nasional. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya nama geografis. Tetapi bagi orang yang lahir dan tumbuh di sana, Pandeglang adalah ingatan. Ia adalah jalan, sekolah, pasar, masjid, sawah, gunung, pantai, rumah tetangga, suara azan, percakapan di warung kopi, dan mungkin wajah seorang ibu yang dulu mengantar anaknya ke sekolah.
Maka ketika nama seseorang yang lahir dari tanah itu muncul di tingkat nasional, ada perasaan seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah kita miliki tetapi tidak pernah benar-benar kita sadari nilainya. Kita seperti sedang diberi tahu oleh kehidupan bahwa tanah tempat kita berasal ternyata tidak sekecil yang sering kita bayangkan. Anak kampung pun bisa sampai ke pusat kekuasaan. Orang dari daerah pun bisa berdiri di panggung nasional. Dari perspektif kebudayaan, perasaan semacam itu bukan sekadar fanatisme daerah. Ia dapat menjadi energi psikologis yang sehat apabila diterjemahkan menjadi keyakinan bahwa anak-anak dari daerah kita pun mempunyai kemungkinan.
Namun di sinilah kita perlu berhati-hati. Ada perbedaan antara merasa bangga dan merasa memiliki. Kita boleh berkata, “Saya bangga karena dia lahir di Pandeglang.” Tetapi jangan buru-buru berubah menjadi, “Karena dia orang Pandeglang, maka dia adalah milik Pandeglang.” Bangga adalah perasaan. Klaim adalah tindakan sosial. Keduanya tidak selalu sama. Seseorang bisa menjadi kebanggaan sebuah daerah tanpa harus menjadi properti simbolik daerah tersebut.
Fenomena serupa dapat kita lihat dalam kehidupan organisasi. Contoh yang cukup lucu adalah kisah Komeng. Setelah ia berhasil terpilih sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Jawa Barat pada Pemilu 2024, publik kemudian menelusuri lebih jauh siapa dirinya. Salah satu hal yang kembali muncul adalah pengalaman Komeng ketika pernah bergabung dengan HMI saat masih mahasiswa. Komeng sendiri pernah menceritakan pengalaman tersebut dalam wawancara. Maka, sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak menjadi perhatian publik mendadak menjadi bahan pembicaraan di kalangan organisasi.
Di sinilah manusia kembali menunjukkan kelucuannya. Ketika seseorang belum terkenal, riwayatnya kadang hanya dianggap riwayat biasa. Tetapi ketika orang tersebut tiba-tiba berhasil, setiap serpihan masa lalunya dicari. Pernah kuliah di mana? Pernah tinggal di mana? Pernah ikut organisasi apa? Pernah berfoto dengan siapa? Pernah memakai jaket organisasi apa? Bahkan mungkin pernah duduk di kursi mana? Semua mendadak menjadi menarik. Setelah ditemukan satu titik persinggungan, muncullah kalimat yang sangat manusiawi: “Oh, ternyata dia orang kita.”
Kalimat “orang kita” ini sebenarnya menarik untuk dibedah. Ia bisa berarti banyak hal. Bisa berarti satu organisasi. Bisa berarti satu almamater. Bisa berarti satu daerah. Bisa berarti satu komunitas. Bisa berarti satu keyakinan. Tetapi kadang-kadang “orang kita” juga berarti sesuatu yang jauh lebih sederhana: “Saya merasa senang kalau dia berhasil.” Jadi, boleh jadi yang kita cari bukan benar-benar kepemilikan terhadap dirinya, melainkan kesempatan untuk ikut merasakan kegembiraan yang ditimbulkan oleh keberhasilannya.
Dalam konteks budaya Sunda Banten, rasa seperti itu bukan sesuatu yang asing. Kita mengenal kuatnya hubungan antara manusia dengan lembur dan lingkungan sosialnya. Ada rasa “urang dieu”, rasa menjadi bagian dari suatu tempat. Ketika seseorang dari tempat itu pergi jauh lalu berhasil, keberhasilannya seperti membawa nama lembur ikut berjalan. Karena itu kita dapat memahami mengapa masyarakat bisa merasa bangga kepada seseorang yang bahkan tidak pernah mereka kenal secara pribadi. Yang mereka kenal bukan orangnya, melainkan tanah yang sama di belakang orang itu.
Saya teringat pula pada kebiasaan lain yang lebih sederhana, tetapi mungkin justru lebih lucu: foto bersama pesohor. Kita bertemu pejabat, kita foto. Bertemu politisi, kita foto. Bertemu artis, kita foto. Bertemu pengusaha terkenal, kita foto. Bertemu tokoh agama, kita foto. Bertemu orang yang terkenal karena sering muncul di televisi, kita foto. Setelah itu, foto tersebut masuk media sosial. Caption-nya kadang sederhana, “Alhamdulillah, hari ini bisa bersilaturahmi dengan…” Lalu beberapa orang memberikan tanda suka. Kita tersenyum. Dalam hati ada rasa puas.
Saya tidak mengatakan itu salah. Sama sekali tidak. Saya sendiri memahami kesenangan itu. Bertemu seseorang yang selama ini hanya kita lihat melalui layar tentu mempunyai pengalaman tersendiri. Foto menjadi semacam bukti bahwa pertemuan tersebut benar-benar terjadi. Tetapi kalau kita mau sedikit jenaka kepada diri sendiri, ada satu kenyataan yang tidak berubah: kita yang berdiri di sebelahnya tidak otomatis menjadi terkenal hanya karena berdiri dalam satu bingkai dengan orang terkenal.
Kalau seorang artis mempunyai jutaan pengikut, lalu kita berdiri di sampingnya selama lima detik, jumlah pengikut kita tidak serta-merta berubah menjadi jutaan. Kalau seorang pejabat memiliki jabatan tinggi, lalu kita berjabat tangan dengannya, jabatan kita tetap sama. Kalau seorang tokoh mempunyai prestasi luar biasa, lalu kita berfoto bersama, prestasinya tidak berpindah melalui kabel USB ke dalam diri kita. Foto memang satu bingkai, tetapi kebesaran tidak otomatis satu paket.
Di situlah letak kelucuan manusia. Kita kadang ingin meminjam sedikit cahaya dari orang yang sedang bercahaya. Foto menjadi semacam tiket psikologis untuk mengatakan kepada dunia, “Saya pernah dekat dengan orang penting.” Padahal kedekatan secara fisik tidak selalu berarti kedekatan secara kualitas. Kita bisa berdiri sangat dekat dengan seseorang secara geografis, tetapi sangat jauh secara pengalaman hidup. Sebaliknya, kita bisa tidak pernah berjumpa dengan seseorang, tetapi sangat dekat dengan gagasannya melalui buku, tulisan, atau karya yang ia tinggalkan.
Mungkin karena itu, foto bersama sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai kenangan, bukan transfer kehebatan. Kita berfoto bukan karena kita menjadi hebat setelahnya, melainkan karena kita ingin menyimpan momen bahwa pernah bertemu seseorang yang bagi kita mempunyai arti. Kalau kemudian foto itu kita unggah, itu pun manusiawi. Kita sedang berbagi kebahagiaan. Yang perlu dijaga hanya satu: jangan sampai kenangan berubah menjadi klaim prestasi. Jangan sampai karena berdiri di samping seorang tokoh, kita merasa ikut menjadi tokoh.
Fenomena ini sebenarnya berlaku dalam hampir semua bidang kehidupan. Ketika seorang anak sekolah memenangkan lomba tingkat nasional, sekolahnya ikut bangga. Ketika seorang alumni menjadi profesor, almamaternya memasang foto besar. Ketika seorang kader organisasi menjadi pejabat, organisasi memasang ucapan selamat. Ketika seorang warga daerah menjadi tokoh nasional, pemerintah daerah ikut menyampaikan apresiasi. Semua itu manusiawi. Manusia memang suka merayakan keberhasilan yang memiliki sedikit saja irisan dengan dirinya.
Ada sisi positif yang tidak boleh kita abaikan. Rasa bangga kolektif dapat menjadi energi kebudayaan. Anak-anak muda yang melihat seseorang dari daerahnya berhasil dapat memperoleh pesan sederhana: “Ternyata mungkin.” Ini penting. Daerah tidak hanya membutuhkan pembangunan jalan, gedung, dan infrastruktur fisik. Daerah juga membutuhkan infrastruktur imajinasi. Anak-anaknya perlu memiliki bayangan bahwa mereka dapat menjadi apa saja melalui kerja keras, pendidikan, kesempatan, dan perjalanan hidup yang panjang.
Dalam konteks itu, seorang tokoh yang berasal dari daerah dapat berfungsi sebagai semacam “penanda kemungkinan”. Ia tidak harus menjadi pahlawan yang sempurna. Ia tidak harus menjadi manusia tanpa kekurangan. Ia cukup menjadi bukti bahwa manusia yang berasal dari tempat tertentu ternyata dapat menempuh perjalanan yang jauh. Kita tidak perlu mengubahnya menjadi legenda untuk mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya.
Sebab, kalau kita terlalu jauh mengklaim seseorang hanya karena ia berasal dari kelompok kita, kita bisa kehilangan kemampuan untuk melihatnya sebagai manusia. Kita mengubah manusia menjadi simbol. Begitu menjadi simbol, setiap tindakan yang dilakukannya mudah kita tafsirkan sebagai kemenangan kelompok kita. Padahal seorang manusia tetap mempunyai kehidupan, pilihan, tanggung jawab, dan kekurangan sendiri. Ia tidak bisa terus-menerus dipaksa menjadi representasi dari seluruh daerah, organisasi, agama, atau komunitas yang kebetulan mempunyai hubungan tertentu dengannya.
Karena itu, menurut saya, ada bentuk kebanggaan yang lebih dewasa. Kita dapat berkata, “Saya turut bahagia karena dia lahir dari tanah yang sama.” Kita dapat mengatakan, “Saya ikut bangga karena dia pernah berada dalam lingkungan yang juga saya kenal.” Tetapi setelah kalimat itu selesai, kita membiarkan dia tetap menjadi dirinya sendiri. Kita tidak perlu menariknya terlalu dekat sampai-sampai seluruh prestasinya ingin kita masukkan ke dalam rekening sosial kita.
Dalam kebudayaan, mungkin inilah yang disebut rasa memiliki yang sehat: merasa terhubung tanpa merasa berhak memiliki. Kita boleh menganggap seseorang sebagai bagian dari cerita daerah kita, tetapi tidak perlu menganggap seluruh hidupnya sebagai milik daerah kita. Kita boleh mengucapkan selamat kepada seorang tokoh, tetapi tidak perlu mengklaim semua keberhasilannya sebagai keberhasilan kita. Kita boleh berfoto bersama seorang pesohor, tetapi tidak perlu merasa bahwa cahaya kamera telah mengubah kita menjadi pesohor.
Mungkin manusia memang seperti itu. Kita suka menemukan diri sendiri di dalam keberhasilan orang lain. Kita suka berkata “dia orang kita”, karena dengan kalimat itu dunia terasa sedikit lebih dekat. Kita suka menyimpan foto bersama orang terkenal, karena foto itu memberi kita kenangan bahwa pernah berdiri di dekat sesuatu yang kita anggap istimewa. Kita suka menemukan hubungan organisasi, daerah, almamater, agama, bahasa, dan berbagai identitas lain karena semua itu membuat kehidupan terasa tidak berjalan sendirian.
Dan saya kira tidak ada yang perlu dipermasalahkan selama kita tahu batasnya. Sebab rasa bahagia tidak harus selalu rasional. Rasa bangga tidak selalu membutuhkan hubungan personal. Bahkan rasa haru pun kadang muncul dari sesuatu yang secara logika sederhana. Kita bisa menangis menonton keberhasilan seorang atlet yang tidak pernah kita kenal. Kita bisa bangga melihat seorang anak dari daerah kita berdiri di panggung nasional. Kita bisa tersenyum melihat seorang anak kampung yang dulu mungkin hanya dikenal tetangganya kini dikenal banyak orang. Semua itu menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk memperluas lingkaran kebahagiaannya.
Bagi saya sebagai orang Sunda Banten, kebahagiaan semacam itu layak dirawat, tetapi juga layak diberi kesadaran. Ketika nama Pandeglang disebut, saya boleh tersenyum. Ketika orang Banten memperoleh tempat terhormat di panggung nasional, saya boleh merasa bahagia. Ketika seorang yang pernah berada dalam lingkungan yang saya kenal berhasil, saya boleh mengucapkan selamat. Tetapi setelah itu saya ingin kembali kepada satu kesadaran sederhana: keberhasilan itu tetap hasil perjalanan orang tersebut. Kita boleh menjadi penonton yang bahagia, tetapi jangan mengaku sebagai pemeran utama.
Di situlah letak kebijaksanaan yang sederhana. Kita dapat ikut menikmati cahaya tanpa harus mengaku sebagai sumber cahaya. Kita dapat berdiri di samping orang hebat tanpa menganggap diri kita ikut menjadi hebat. Kita dapat mengucapkan “dia orang kita” tanpa mengubahnya menjadi “dia milik kita”. Dan kita dapat berfoto dengan siapa saja tanpa lupa bahwa yang membuat seseorang bernilai bukan siapa yang berdiri di sampingnya dalam foto, melainkan siapa dirinya ketika kamera sudah dimatikan.
Kamera hanya menangkap satu detik. Foto hanya menyimpan satu bingkai. Caption hanya menyusun beberapa kata. Media sosial hanya menyebarkan beberapa piksel. Tetapi kehidupan seseorang dibangun oleh perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sebuah foto. Di situlah prestasi sebenarnya berada. Bukan pada siapa yang kebetulan masuk ke dalam bingkai, tetapi pada siapa yang telah berjalan jauh sebelum kamera datang menyalakan lampunya.
Maka ketika suatu hari kita bertemu seorang pesohor, pejabat, artis, politisi, akademisi, ulama, atau siapa pun yang kita kagumi, silakan saja tersenyum dan meminta foto. Tidak ada salahnya. Foto itu mungkin akan menjadi kenangan yang menyenangkan. Sebarkan kalau mau. Nikmati komentar teman-teman. Biarkan beberapa orang berkata, “Wah, hebat bisa foto bareng.” Tetapi dalam hati kita sebaiknya tetap tahu: kita sedang menyimpan kenangan, bukan sedang meminjam kebesaran.
Begitu pula ketika seseorang dari Pandeglang, Banten, organisasi kita, almamater kita, atau lingkungan sosial kita mencapai prestasi. Mari kita ikut bahagia. Mari kita ucapkan selamat. Mari kita doakan agar amanah. Tetapi setelah itu, mungkin lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang bisa saya lakukan agar anak-anak di sekitar saya juga mempunyai kesempatan untuk berhasil?” Sebab kebanggaan yang paling produktif bukanlah sibuk mengatakan bahwa orang sukses itu “orang kita”, melainkan membuat semakin banyak orang mempunyai kesempatan untuk menjadi “orang sukses berikutnya”.
Dengan begitu, kebanggaan tidak berhenti sebagai perasaan. Ia berubah menjadi inspirasi. Rasa memiliki tidak berhenti sebagai klaim. Ia berubah menjadi tanggung jawab. Dan keberhasilan seseorang tidak berhenti sebagai bahan unggahan media sosial. Ia berubah menjadi cermin yang membuat kita bertanya tentang perjalanan kita sendiri.
Itulah alasan saya ikut tersenyum ketika mendengar seorang putra Pandeglang sedang berdiri di ambang panggung nasional. Bukan karena saya merasa ikut memiliki keberhasilannya. Bukan pula karena saya menganggap prestasinya otomatis menjadi prestasi saya. Saya tersenyum karena ada satu kemungkinan yang terasa semakin nyata: bahwa tanah yang saya kenal, tanah yang selama ini saya cintai dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ternyata masih mampu mengirim anak-anaknya berjalan sangat jauh.
Dan kalau kelak ada orang bertanya, “Kenapa ikut bangga? Memangnya kenal?” Saya mungkin hanya akan menjawab sambil tertawa kecil, “Nya henteu kudu wawuh heula pikeun bisa bungah. Urang mah saukur jalma lembur anu resep ningali anak lemburna maju.”
Mungkin sesederhana itu manusia. Kita ingin melihat keberhasilan tumbuh dari tanah yang kita cintai. Kita ingin merasa bahwa sedikit bagian dari dunia yang kita kenal ternyata mampu menyentuh dunia yang lebih luas. Kita ingin percaya bahwa keberhasilan seseorang dapat menjadi kabar baik bagi banyak orang tanpa harus menjadi milik mereka.
Mungkin kita memang tidak benar-benar mengenal mereka. Tetapi ketika seseorang dari tanah yang sama mencapai sesuatu yang besar, kita merasa sedikit lebih tinggi berdiri. Bukan karena keberhasilannya menjadi milik kita, melainkan karena keberhasilannya mengingatkan kita bahwa tanah tempat kita berpijak ternyata juga mampu melahirkan kemungkinan-kemungkinan besar. Dan mungkin, itulah cara paling manusiawi untuk merasa bangga: ikut bahagia tanpa mengambil alih cerita orang lain. Wallahualam.*
Banjarsari, Kamis, 1 Oktober 2026




