Oleh : Adung Haris
I. Prolog
Puasa, khususnya puasa Ramadhan maupun puasa sunnah, tidak hanya sekadar ritual ibadah semata, yakni hanya bisa menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan mekanisme holistik yang berdampak sangat signifikan pada peningkatan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ), serta pembentukan karakter disiplin yang krusial dalam strategi perang atau manajemen krisis. Berikut ini adalah kaitan antara puasa, kecerdasan intelektual, dan kemahiran dalam strategi perang :
A. Puasa Dan Peningkatan Kecerdasan Intelektual (IQ)
(1). Ketajaman Mental. Puasa mendorong peningkatan fungsi otak dan kekuatan mental. Karena, dalam kondisi tidak makan, maka tubuh memasuki fase detoksifikasi dan metabolisme yang lebih efisien, yang akhirnya memicu neuroplastisitas kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru meningkatkan fokus, kejernihan berpikir, dan ketajaman intelektual. (2). Penguatan Kontrol Diri. Puasa melatih individu untuk menahan keinginan berlebih, yang merupakan bentuk latihan kontrol diri (self-control) dan kedisiplinan mental yang tinggi. (3). Pendidikan Jiwa. Puasa berfungsi sebagai pendidikan jiwa (tazkiyatun nafs) yang membentuk manusia paripurna, cerdas secara spiritual, emosional, dan intelektual.
B. Puasa Dan Kemahiran Dalam Strategi Perang (Manajemen Krisis)
Karakter yang dibentuk melalui puasa memiliki relevansi langsung dengan keahlian strategis dalam situasi sulit (seperti perang). Hal itu disebabkan oleh : (1). Kesabaran Dan Ketahanan Mental (Stamina). Karena, puasa mengajarkan kesabaran tingkat tinggi. Dalam strategi, kesabaran adalah kemampuan menunda kepuasan instan demi tujuan jangka panjang (strategi bertahan atau serangan balik yang tepat waktu). (2). Disiplin Dan Kepatuhan. Puasa melatih kepatuhan pada aturan (waktu sahur dan buka) secara disiplin. Ini krusial dalam rantai komando militer dan eksekusi rencana strategi. (3). Kemampuan Pengendalian Diri/Emosi. Para pemimpin atau para prajurit yang berpuasa terlatih untuk tidak impulsif, menjaga emosi, dan berpikir jernih meskipun dalam tekanan atau kekurangan fisik. (3). Empati Dan Solidaritas. Puasa meningkatkan empati, yang penting untuk memahami psikologi lawan maupun memotivasi pasukan. (4). Manajemen Energi. Puasa mengajarkan efisiensi penggunaan energi baik fisik maupun mental yang merupakan inti dari strategi manajemen logistik perang.
C. Integrasi : Manusia Paripurna Dalam Strategi
Dalam sejarah Islam, puasa dipandang sebagai sarana untuk membentuk karakter unggul yang mampu mengelola kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual sekaligus. Karena, Jenderal Salahuddin Al-Ayyubi (Panglima Perang Muslim), yakni sebagaimana ia tercatat di dalam sejarah umat Islam, yang nota bene sering dikaitkan Salahuddin Al-Ayyubi, yang menggunakan puasa untuk melatih kedisiplinan dan mentalitas pasukannya, menjadikan mereka lebih fokus, tangguh, dan visioner, yang berkontribusi pada keunggulan strategis dalam berbagai pertempuran. Bahkan secara keseluruhan, puasa membangun keunggulan manusia muslim dengan menyatukan kebersihan jiwa (spiritual), ketajaman akal (intelektual), dan kekuatan karakter (emosional) untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk strategi perang.
II. Puasa : Meningkatkan Kecerdasan Spiritual, Emosional, Dan Intelektual
Ramadan adalah bulan suci yang penuh rahmat dan ampunan. Banyak hikmah dan manfaat yang diperoleh ketika menjalani Ramadan dengan sepenuh hati. Melaksanakan puasa sebulan penuh untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Banyak manfaat yang diperoleh ketika kita sebagai seorang muslim menjalankan puasa, di antaranya puasa akan melatih dan mengembangkan kecerdasan spiritual, emosional bahkan intelektual.
Pertama, puasa dapat mengembangkan kecerdasan spiritual. Apabila seorang muslim sejak dini dilatih berpuasa, maka keimanannya kepada Allah akan semakin bertambah. Ketaatannya menjalankan perintah agama akan semakin meningkat. Dalam menyambut bulan yang penuh berkah ini, selain melakukan ibadah puasa kita juga dapat mengerjakan ibadah lain yang hanya ada di bulan Ramadan, seperti salat tarawih bersama. Dengan melakukan puasa, tarawih, dan berbagai kegiatan keagamaan di bulan Ramadan maka kecerdasan spiritual kita akan semakin meningkat. Peneliti di “Americans College of Cardiology” menyatakan “Melalui puasa atau menyucikan jiwa maka stres atau niat-niat melanggar norma yang ada dalam diri, dapat teratasi”. Ia menambahkan saat puasa orang menyadari tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Maka dari itu, semangat spiritualnya akan meningkat dan dapat merasa lebih tenang. Psikolog Universitas Indonesia (UI), Arief Witjaksono, mengatakan sejatinya pemikiran umat Islam harus menjadi positif setiap saat, tidak hanya pada Ramadan, tetapi juga harus konsisten di bulan-bulan selanjutnya. Bila manusia terbiasa berbuat baik dan menjalankannya secara tepat, maka dapat terbawa sehingga memberikan aura positif ke setiap orang.
Dengan semangat spiritualnya, seseorang berpuasa sebulan penuh akan terus menjaga motivasinya agar senantiasa stabil hingga garisfinish, terutama mendekati terakhir di Ramadan, kita akan terus mengejar satu malam yang setara atau bahkan lebih baik dari seribu bulan, lailatul qadar. Pada malam itu orang yang berpuasa akan mengerahkan segala daya upaya agar bisa mendapatkan kebaikan yang belum tentu setara dengan jatah umurnya di dunia yang fana ini. Singkatnya, kecerdasan seseorang secara spiritual akan senantiasa terus meningkat.
Kedua, puasa dapat mengembangkan kecerdasan emosional. Puasa identik dengan menahan hawa nafsu. Menahan lapar, dahaga, marah, dan berbagai aspek negatif lainnya dari terbit hingga tenggelamnya matahari. Dengan berpuasa kita berlatih mengendalikan emosi, menahan keinginan, maupun memadamkan nafsunya. Pengendalian diri terjadi secara perlahan namun pasti. Pengendalian diri akan berkembang seiring kemampuan anak menjalankan ibadah puasa. Memicu kecerdasan interpersonal. Kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan yang memungkinkan seseorang untuk memahami perasaan, suasana hati, keinginan, dan temperamen orang lain. Saat kita terbiasa sarapan pukul 07.00, maka rasa lapar itu akan datang saat tiba waktu makan siang. Begitu juga ketika berpuasa, saat jam makan siang datang, rasa lapar pun akan mengetuk perutnya. Pada saat seperti ini kita bisa mengambil hikmah dari kisah seorang miskin yang terkadang sampai berhari-hari perutnya tidak pernah diisi makanan.
Selain itu, kita juga bisa berkunjung ke panti asuhan atau kawasan kumuh yang kehidupannya pas-pasan. Dengan merasakan penderitaan orang lain, maka akan muncul rasa empati, rasa peduli, dan rasa kasihan kepada sesama. Bertambahnya kualitas ibadah di bulan Ramadan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan keluarga, saudara, tetangga, maupun teman.
Puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Orang yang berpuasa juga harus mampu menahan emosi dan seluruh anggota badannya dari perbuatan dosa yang bisa merusak nilai puasa. Maka dari itu, tak salah bila Ramadan disebut ajang melatih diri dan mencerdaskan emosi. Kecerdasan emosional ini mampu mengendalikan nafsu dan bukan membunuh nafsu.
Menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab, emosi dan nafsu diperlukan setiap manusia untuk membangun dunia sesuai tuntunan Allah. Melalui kecerdasan itu, manusia dapat mengarahkan emosi atau nafsu ke arah positif sekaligus mengendalikannya agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan negatif. Arief Witjaksono berpendapat bahwapuasamampu mengendalikan emosi seseorang. Baginya, perintah agama memang bertujuan agar pemeluknya dapat mengekang hawa nafsu. Oleh karena itu, bila itu dijalankan, maka mampu mengontrol berbagai penyakit hati dan emosinya menjadi stabil.
Ketiga, puasa dapat mengembangkan kecerdasan intelektual. Selain spiritual dan emosional, puasa juga dapat memicu perkembangan kecerdasan intelektual seseorang. Menurut hasil penelitian, puasa meningkatkan hormon pertumbuhan yang mengatur proses metabolisme dan meningkatkan fungsi otak. Puasa meningkatkan protein yang di produksi otak. Protein ini membantu peremajaan dan regenerasi sel induk otak. Protein ini juga dapat meningkatkan fungsi memori dan motor. Dengan terjadinya peremajaan dan regenasi sel-sel otak ketika berpuasa, maka kemampuan otak untuk berpikir, bernalar, dan berkreasi akan meningkat. Pertumbuhanpun akan menjadi lebih cepat.
Berdasar pada hasil penelitian yang dilakukan “Americans College of Cardiology di New Orleans” menunjukkan bahwasannya puasa dapat memicu kenaikan hormon pertumbuhan. Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar pituitary, tepat di bagian lobus anterior. Hormon pertumbuhan berfungsi mengatur pertumbuhan tinggi badan, membantu pembentukan otot dan tulang. Tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat Pada puasa, anak mempunyai pola makan yang sangat teratur. Sahur di kala fajar dan berbuka ketika magrib. Hal ini akan menyebabkan proses metabolisme menjadi lebih lancar. Lambung juga dapat beristirahat dan tidak bekerja terus-menerus sepanjang hari.
Dengan kecerdasan intelektual inilah sejatinya seorang muslim bisa berpikir, merasa, berbuat dengan baik sesuai dengan ajaran Islam karena prilaku seseorang berasal dari pikirannya.
Seorang atheis tidak bertuhan karena ia berpikir bahwa Tuhan ini tidak ada di dunia. Begitu pula dengan orientalis, ia mengatakan jangan membawa nama Tuhan dalam kehidupan sosial, Tuhan hanya ada di tempat ibadah. Tindakan ini juga berasal dari pemikiran yang memisahkan atau mensekulerkan antara tuhan, agama, dan sosial. Inilah yang dimaksud dengan kecacatan intelektual. Seorang muslim sejatinya terhindar dari pemikiran yang sekuler karena “world-view-nya” dijaga oleh puasa yang bisa mencerdaskan kecerdasan intelektual.
III. Merenungkan Pengakuan Trump Yang Memuji Iran di Tengah Gemuruh Perang
Hingga saat ini kita semua tidak ada yang tau, kapan perang yang terjadi di Timur Tengah akhan berakhir? Bahkan, di tengah riuh rendah suara tembakan dan deklarasi perang yang silih berganti hingga saa ini. Tapi, tiba-tiba sebuah suara dari pucuk pimpinan Amerika Serikat justru membuat dunia mengernyitkan dahi. Bukan ancaman, bukan makian, tapi sebuah “pujian” yang tak lazim. Donald Trump angkat bicara, dan apa yang ia katakan tentang seterunya itu, yakni negara Iran?
Dalam pidato resminya, tepatnya di menit ke-38, Presiden Amerika Serikat itu mengeluarkan pernyataan yang langka. Dia tidak Pemimpin Tertinggi Iran dengan sebutan “gila” atau “teroris” seperti biasanya. Sebaliknya, ia mengakui kapasitas intelektual lawan-lawannya di Teheran. Berikut ini kutipan pernyataannya : “Ini adalah permainan catur tingkat tinggi. Anda tahu dengan siapa Anda berurusan? Mereka adalah orang-orang dengan IQ sangat tinggi. Mereka tidak akan sampai di posisi itu jika tidak pintar. Mereka adalah pemain-pemain yang sangat cerdas.”
Trump juga menegaskan bahwa berurusan dengan Iran membutuhkan strategi ekstra karena ia berhadapan dengan “pemain-pemain yang sangat cerdas” (very smart players). Pengakuan tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa AS harus menggunakan kekuatan militer paling canggih seperti pengebom siluman B-2 untuk mengimbangi strategi lawan.
Bayangkan, seorang Presiden AS dengan segala kecanggihan satelit mata-mata, armada kapal induk yang tak tertandingi dan bom penghancur bunker tercanggih di dunia, tapi terpaksa mengakui bahwa di Teheran (Iran), dia sedang berhadapan dengan para grandmaster catur! Dia mengakui bahwa lawannya bukanlah preman atau gerombolan tak beradab, melainkan para intelektual kelas wahid. Dan itu bukan soal pujian semata. Tapi terkesan pengakuan pahit bahwa Amerika harus mengerahkan kekuatan maksimalnya karena lawannya setara bahkan mungkin unggul dalam hal kecerdasan.
Meski mengakui kecerdasan mereka, namun Trump tetap pada pendiriannya bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk mencegah “pemain cerdas”, karena ia (Tump) terus mengindikasikan bahwa Iran memiliki senjata dan lain sebagainya. Sebuah ironi, mengakui kecerdasan, tapi tetap ingin melucuti. Mari sejenak kita hentikan gemuruh perang ini dan kita coba tarik ke permukaan yang lebih dalam. Yakni, sebuah pengakuan Trump ini, karena secara tidak langsung, membuka tabir tentang sebuah realitas fundamental. Bahwa kekuatan tidak hanya diukur dari banyaknya bom dan rudal, tapi juga dari kekuatan akal dan sebuah sistem yang mengorganisirnya.
Di sinilah kita perlu merenungkan pandangan seorang ulama dan pemikir besar abad ini diantaranya seperti sosok seorang Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Beliau, dalam kitab-kitab monumentalnya telah lama menjelaskan tentang hakikat kekuatan yang mampu menggetarkan dunia. Beliau tidak hanya berbicara tentang kecerdasan individu seperti yang disebut Trump, tapi tentang kekuatan sistem. Karena, kebangkitan umat tidak akan terjadi hanya dengan individu-individu cerdas yang tersebar di sana-sini. Kecerdasan mereka akan sia-sia, bahkan bisa menjadi berbahaya, jika tidak disatukan dalam satu wadah gagasan yang demikian kuat dan satu kepemimpinan yang menyatukan.
Lihatlah Iran saat ini, mereka diakui cerdas oleh Presiden adidaya sekalipun. Tapi coba bayangkan, bagaimana jika kecerdasan itu digabungkan dengan institusi yang lebih besar? Bagaimana jika kecerdasan para ilmuwan nuklir Iran, kejeniusan para pakar strategi militer, dan kearifan para diplomat itu, semuanya dipayungi oleh satu bendera yang lebih agung yaitu sistim kepemimpinan yang mempuni dan cerdas. Karena, kekuatan fisik harus digabung pula dengan strategi yang apik, dan harus dipaduakan secara sempurna, antara kekuatan material dan spiritual, antara kecerdasan manusia dan keberkahan langit.
Setidaknya ada tiga pilar utama yang membuat Iran hingga saat ini jauh melampaui sekadar “negara-bangsa” biasa : Pertama, akidah (keyakinan) sebagai penggerak utamanya, yakni bukan hanya sekedar IQ tinggi yang dibutuhkan untuk membangun peradaban, tapi keyakinan yang membumi atau lebih tepat, keyakinan yang menghubungkan bumi dengan langit. Realitanya hingga saat ini, seorang prajurit Iran kecenderungannya maju ke medan perang bukan karena gaji bulanan, bukan karena takut pada komandan, dan bukan pula karena ambisi teritorial semata. Tapi, mereka maju karena keyakinan bahwa surga berada di bawah naungan pedang. Oleh karena itu, akidah (keyakinan) Islam bukan sekadar ritual personal, melainkan aqidah ‘aqliyyah, keyakinan yang lahir dari nalar dan menjadi fondasi bagi seluruh aktivitas hidup. Ketika seorang pemimpin cerdas diikat oleh akidah dan keyakinan yang kuat, maka kecerdasannya tidak akan digunakan untuk menipu rakyatnya atau menjajah bangsa lain. Kecerdasannya akan diarahkan untuk meraih ridha Ilahi.
Kedua, penyatuan seluruh potensi umat. Inilah poin paling krusial yang luput dari pengamatan Presiden Trump. Sejenius apa pun para pemimpin di Iran saat ini, mereka tetaplah terfragmentasi dalam sistem negara-bangsa yang sempit. Bayangkan potensi luar biasa jika : (1). Ilmuwan nuklir Iran. (2). Teknisi pesawat Turki. (3). Pakar strategi militer Pakistan. (4). Ahli ekonomi negara-negara Teluk. (5). Dan jutaan cendekiawan Muslim dari Maroko hingga Indonesia manakala bersatu dalam satu kepemimpinan inhern (tunggal) di bawah naungan kepemimpinan umat Islam secara global, dan itu bukan lagi sekadar “permainan catur” antara dua negara adidaya. Itu adalah penguasa papan catur itu sendiri!
Oleh karena itu menurut pandangan penulis, bahwa persatuan umat dalam satu wadah kebersamaan dan sinergitas global adalah suatu keniscayaan yang harus diinisiasi saat ini. Hal itu demi keniscayaan strategis bagi umat Islam di seantero jagat raya ini. Tanpa persatuan, umat Islam akan terus menjadi pecahan-pecahan kecil yang mudah dimakan satu per satu oleh serigala-serigala global.
Ketiga, penerapan sistim yang berbobot nilai-nilai Islami secara menyeluruh dan kontekstual. Nampaknya, hal itulah dimensi yang sama sekali tidak dipahami oleh para pemikir Barat seperti Trump atau para Jenderal Pentagon mana pun. Ketika nilai-nilai ilahiyah (ketentuan Allah) ditegakkan secara menyeluruh bukan hanya dalam ritual, tapi juga dalam ekonomi, politik, hukum, dan hubungan internasional, maka Allah menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Ini adalah kekuatan metafisik yang tidak masuk dalam kalkulasi Pentagon. Ini adalah kekuatan yang membuat pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan besar, yang membuat strategi sederhana bisa menggagalkan konspirasi rumit. Inilah quwwatullah (kekuatan Allah) yang menyertai hamba-hamba-Nya yang menegakkan ketentuannya. Bayangkan sejenak dengan mata hati. Jika kepemimpinan umat Islam sudah mempuni secara global, dan telah kembali berdiri tegak. Maka pernyataan Donald Trump seperti yang kita dengar saat-saat ini, tidak akan terjadi di ruang pers Oval Office yang mewah. Ia tidak akan terjadi di hadapan para wartawan Gedung Putih dengan gaya khasnya yang arogan. Sebaliknya, pernyataan itu akan terjadi di balik tembok-tembok Istana para diplomat, di ruang-ruang tertutup para pengambil kebijakan. Mereka tidak hanya akan berkata, “Kami sedang berhadapan dengan pemain catur yang cerdas.” Mereka akan menggigiti kuku, berkeringat dingin, menggigil ketakutan, sambil berbisik satu sama lain, “Kami sedang berhadapan dengan sebuah kekuatan yang mendapatkan s
“Spirit Ilahiyah”.
Trump saat ini nampaknya ia mengakui bahwa untuk melawan pemain cerdas di negara Iran, dia butuh bom paling canggih B-2 Spirit, penghancur bunker dan seluruh persenjataan modern. Tapi ketika keyakinan dan spirit ilahiyah berdiri, maka. bom canggih itu terkesan tereliminir.
Karena yang mereka hadapi bukan hanya negara-bangsa biasa dengan penduduk Muslim. Yang mereka hadapi adalah entitas supranasional yang membawa risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dijanjikan kemenangan oleh Dzat Yang Tidak Pernah Mengingkari Janji.
Strategi persatuan umat zaman dulu (dimasa superioritas Islam/di zaman pertengahan Islam maupun di zaman Turki Usmani) realitanya mengajarkan kita bahwa kepemimpinan umat Islam bukan sekadar nostalgia sejarah yang indah untuk dikenang. Ia bukan pula utopia yang mustahil diwujudkan.
Superioritas umat Islam zaman klasik dulu, adalah kebutuhan pragmatis untuk mengatur urusan dunia dengan Islam. Ia adalah solusi nyata untuk mengakhiri dominasi negara-negara adidaya yang saling menjajah dan menindas. Ia adalah alternatif satu-satunya bagi sistem kapitalisme yang telah terbukti gagal membawa keadilan dan perdamaian.
Dan ketika kepemimpinan umat Islam yang mempuni hadir saat ini, maka tidak menutupkemungkinan, kayaknya tidak ada lagi yang namanya “kekuatan adidaya” selain kemaha-besaran Allah dan kekuatan kaum Muslimin yang bersatu padu. Permainan catur internasional yang rumit itu akan berhenti karena hanya akan ada satu benteng besar yang kokoh.
Dari pernyataan Trump yang terpaksa mengakui kecerdasan lawannya di Iran, kita jadi sadar akan sebuah realitas pahit sekaligus harapan besar. Bahwa, realitas pahitnya adalah dunia saat ini diatur memang oleh sistem yang mengakui kecerdasan, tapi tidak memberikan ruang bagi kecerdasan itu untuk berkhidmat pada kebenaran. Bahkan, kecerdasan para pemimpin Iran hari ini, setinggi apa pun masih terbelenggu dalam sistem nation-state yang sempit, dan masih harus terus berdiplomasi dengan perjanjian-perjanjian yang mengekang, masih harus bertahan di tengah blokade ekonomi yang mencekik. Tapi di balik realitas pahit itu, faktanya saat ini memang sudah terbuka harapan besar bahwa Dunia ini sebenarnya lapar akan pemimpin yang cerdas dan amanah. Dunia ini mengakui bahwa peradaban tidak bisa dibangun oleh orang-orang bodoh. Dan umat Islam dengan sejarah panjang zaman keemasan dulu (zaman klasik) yang membentang selama 13 abad telah membuktikan bahwa mereka mampu melahirkan pemimpin-pemimpin jenius yang tak tertandingi.
Oleh karena itu, saat ini kita harus terus umtuk sama-sama saling mengingatkan, bahwa kecerdasan tanpa wadah yang benar hanya akan melahirkan tiran baru. Kecerdasan tanpa sistem yang dibungkus dengan nilai-nilai ilahiyah, ia hanya akan menciptakan Firaun-Firaun modern yang lebih canggih cara menindasnya. Kita tidak butuh sekadar pemimpin cerdas, namun kita butuh sistem cerdas yang melahirkan pemimpin amanah. Kita umat Islam (terutama dalam konteks Indonesia) saat ini butuh sistem yang mampu menampung seluruh kecerdasan umat ini dari Sabang sampai Merauke untuk kemudian seluruhnya dibaktikan pada nilai-nilai kebenaran keagamaan dan kenegaraan serta demi mewujud di semesta alam jagat raya ini.
Perang di Timur Tengah mungkin akan segera reda atau mungkin akan terus meluas membakar kawasan yang lebih luas. Rudal-rudal mungkin akan berhenti diluncurkan atau mungkin akan semakin banyak berterbangan. Tapi satu hal yang pasti dan tidak boleh kita lupakan, umat Islam saat ini, bahwa kita (umat Islam) harus bangkit. Bukan hanya untuk menjadi “pemain catur jenius” yang dipuji-puji oleh presiden Amerika. Bukan pula untuk sekadar diperhitungkan dalam percaturan politik global. Tapi, umat Islam saat ini harus bangkit untuk menjadi pemilik papan catur itu sendiri.
Umat Islam saat ini harus bangkit untuk melakukan tatanan sistem baru, yang nota bene agar mampu mengelola kecerdasan anak-anaknya dengan benar, sistem yang menjadikan nilai nilai Ilahiyah (Al-Qur’an) sebagai insfirasi, dan Rasulullah Saw sebagai teladan. Mengingat, kepemimpinan umat Islam di zaman klasik dulu, telah meletakkan fondasi pemikiran yang begitu kokoh tentang bagaimana insfirasi keilmuan dan penguasaan teknologi saat itu bisa mewujud, sehingga umat Islam saat itu menjadi superioritas di dunia ini.
Dan kini, tugas kitalah untuk melanjutkan perjuangan itu dengan kecerdasan yang kita miliki, dengan keyakinan yang tak tergoyahkan dan dengan pengorbanan yang tulus. Jangan biarkan kecerdasan yang diakui Trump baru-baru ini, hanya menjadi komoditas politik yang diperdagangkan di pasar internasional. Jadikan ia sebagai amanah untuk mengembalikan kejayaan Islam.
Oleh karena itu, dari pengakuan Trump saat-saat ini, kita (umat Islam) harus terus melangkah menuju kesadaran baru. Dari kekaguman pada kecerdasan Iran, kita bergerak menuju cita-cita yang lebih besar, yaitu kebersamaan dan persatuan seluruh umat dalam naungan kepemimpinan umat yang mempuni, insfiratif dan kholistik.


