Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung
Ada berita politik yang cukup membuat saya berhenti sejenak. Bukan karena nama yang disebut asing, melainkan justru karena nama itu terasa terlalu akrab dalam perjalanan intelektual generasi kami. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Rocky Gerung dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Berita itu tentu saja merupakan berita politik biasa jika dilihat dari kacamata pergantian atau pengisian jabatan. Tetapi bagi saya, berita tersebut memiliki lapisan makna lain: seorang yang selama bertahun-tahun dikenal berada di luar pagar kekuasaan, bahkan cukup lantang mengkritiknya, kini duduk di dalam pagar itu.
Saya mengenal Rocky bukan pertama-tama sebagai politisi, melainkan sebagai sesama pembelajar filsafat. Di titik ini saya merasa perlu menempatkan diri secara jujur. Saya tidak sedang menulis sebagai orang yang merasa lebih tahu tentang Rocky, apalagi sebagai hakim yang hendak menentukan apakah langkahnya benar atau salah. Saya hanya sedang melihat perjalanan seorang kawan seperjalanan dalam dunia filsafat, dari kejauhan sekaligus dari kedekatan pengalaman intelektual yang sama. Kami pernah berada dalam dunia yang sama: dunia yang mengajarkan manusia untuk tidak lekas percaya kepada kesimpulan, sebab setiap kesimpulan selalu mungkin diperiksa kembali.
Filsafat sendiri pernah menjadi sesuatu yang tidak terlalu menarik bagi banyak orang. Di sebagian lingkungan masyarakat, filsafat bahkan pernah ditempatkan di wilayah yang agak menyeramkan. Ia dicurigai karena terlalu banyak bertanya, terlalu mengandalkan rasio, dan dianggap bisa membawa manusia kepada keraguan. Dalam sejarah pemikiran Islam sendiri, hubungan antara filsafat, agama, akal, dan wahyu merupakan perdebatan panjang yang melibatkan nama-nama besar seperti Al-Ghazali, Ibn Rushd, Al-Farabi, dan Ibn Sina. Perdebatan itu sesungguhnya sangat kaya, tetapi di tingkat masyarakat awam sering kali menyusut menjadi kesan sederhana: filsafat itu berbahaya.
Ada persoalan lain yang jauh lebih membumi. Filsafat juga sering dianggap tidak prospektif. Ketika seseorang memilih kedokteran, orang bisa membayangkan ia menjadi dokter. Ketika memilih hukum, orang bisa membayangkan menjadi pengacara atau hakim. Ketika memilih teknik, orang bisa membayangkan menjadi insinyur. Ketika memilih pendidikan, orang bisa membayangkan menjadi guru. Tetapi ketika seorang anak mengatakan hendak kuliah filsafat, pertanyaan yang muncul kadang begitu sederhana sekaligus mematikan: “Nanti kamu mau jadi apa?” Pertanyaan itu sebenarnya bukan pertanyaan filosofis, tetapi cukup untuk membuat calon mahasiswa filsafat berpikir keras sebelum kuliah dimulai.
Saya sendiri sering membayangkan bahwa mahasiswa filsafat adalah makhluk yang sejak awal sudah diuji oleh pertanyaan eksistensial orang tua. Baru mau masuk kuliah sudah ditanya masa depan. Belum membaca Plato sudah ditanya lowongan pekerjaan. Belum mengenal Aristoteles sudah disuruh menghitung peluang karier. Bahkan sebelum belajar tentang makna hidup, ia sudah diminta menjelaskan masa depan hidupnya. Filsafat akhirnya seperti orang yang baru lahir tetapi langsung diminta menyerahkan surat keterangan kerja.
Dalam suasana seperti itulah, muncul figur-figur yang membuat filsafat terdengar lebih akrab di ruang publik. Salah satu nama yang paling menonjol tentu Rocky Gerung. Saya tidak hendak mengatakan bahwa meningkatnya perhatian terhadap filsafat semata-mata disebabkan oleh Rocky, sebab klaim seperti itu membutuhkan data penelitian yang lebih serius. Namun sulit pula mengingkari bahwa Rocky merupakan salah satu figur publik yang membuat istilah, cara berpikir, dan bahasa filsafat menjadi lebih familier bagi masyarakat luas.
Filsafat yang sebelumnya lebih sering terdengar di ruang kuliah kemudian muncul di televisi, diskusi politik, kanal digital, media sosial, podcast, dan percakapan sehari-hari. Istilah seperti logika, epistemologi, ontologi, dialektika, akal sehat, dan berbagai istilah filosofis lainnya menjadi bagian dari perbendaharaan percakapan publik. Filsafat tidak lagi selalu terdengar seperti suara dari ruang perpustakaan yang penuh debu. Ia bisa terdengar di tengah perdebatan politik, bahkan di warung kopi. Eh, ada juga istilah lain ya, dungu, hehe..
Saya kira di situlah salah satu kontribusi kultural Rocky patut dicatat. Ia membuat filsafat tidak selalu harus tampil dengan wajah yang kaku. Filsafat dapat berbicara tentang politik, kekuasaan, kebijakan, bahasa, dan kehidupan sehari-hari. Filsafat bisa diperdebatkan tanpa harus selalu menggunakan jas akademik dan suara yang dibuat pelan. Bahkan sesekali filsafat bisa disampaikan dengan gaya yang membuat orang tertawa sebelum akhirnya berpikir. Ini bukan perkara kecil. Sebab sesuatu yang sudah berhasil membuat orang bertanya telah melakukan langkah pertama menuju pendidikan intelektual.
Namun saya juga ingin berhati-hati. Rocky bukan filsafat. Rocky adalah salah satu orang yang menggunakan filsafat sebagai perangkat berpikir dan salah satu figur yang ikut memopulerkan percakapan filosofis di ruang publik. Perbedaan ini penting. Kalau kita menyamakan Rocky dengan filsafat, maka ketika Rocky berubah posisi, filsafat seolah-olah ikut berubah. Padahal filsafat tidak mempunyai kartu anggota Wantimpres. Filsafat juga tidak ikut dilantik di Istana.
Karena itu, saya justru melihat perjalanan Rocky sebagai pintu masuk yang menarik bagi generasi muda. Kalau ada mahasiswa yang mengenal filsafat melalui Rocky, itu bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Banyak orang memasuki dunia intelektual melalui seorang tokoh. Yang penting adalah jangan berhenti di pintu. Setelah mengenal Rocky, seorang mahasiswa seharusnya masuk lebih jauh: membaca Plato, Aristoteles, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rushd, Descartes, Kant, Hegel, Marx, Nietzsche, Heidegger, Sartre, Hannah Arendt, dan banyak pemikir lainnya. Rocky boleh menjadi pintu. Tetapi rumahnya tetap filsafat.
Justru karena itulah berita pelantikan Rocky menjadi Wantimpres terasa menarik bagi saya. Selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai pengkritik kekuasaan. Kritiknya sering kali tajam, dan dalam lanskap politik Indonesia ia membangun citra sebagai intelektual publik yang tidak sungkan berhadapan dengan pemerintah. Banyak orang menyukainya karena keberanian tersebut. Sebagian bahkan menjadikannya simbol perlawanan intelektual terhadap rezim yang sedang berkuasa.
Maka ketika orang yang selama ini berdiri di luar kemudian masuk ke dalam, wajar jika muncul pertanyaan. Rocky sendiri setelah dilantik mengatakan bahwa ia hanya “pindah dari luar ke dalam” dan menegaskan bahwa sikap serta pandangannya tetap sama, bahkan menyebutnya sebagai “radical break”. Ia juga menjelaskan bahwa Wantimpres menurutnya mempunyai kedudukan etis, bukan teknis, serta berfungsi memberikan pertimbangan kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Saya kira penjelasan itu patut dicatat dan tidak perlu buru-buru ditolak. Secara prinsip, seorang pengkritik memang tidak otomatis kehilangan daya kritis hanya karena masuk ke dalam institusi. Bahkan ada kemungkinan kritik dari dalam justru memiliki saluran yang berbeda. Rocky menjelaskan bahwa Wantimpres bukan sekadar tempat “mengkritik”, melainkan tempat untuk bersikap kritis terhadap kebijakan, melihat ekses kebijakan, membaca persoalan secara etis, kemudian memberikan pertimbangan kepada Presiden.
Tetapi di sinilah saya merasa masih ada satu pertanyaan yang belum sepenuhnya selesai. Rocky sudah menjelaskan apa yang akan ia lakukan sebagai Wantimpres. Ia sudah menjelaskan fungsi lembaganya dan mengapa ia menganggap posisi tersebut tidak bertentangan dengan sikap kritisnya. Namun pertanyaan publik yang lebih personal sebenarnya sederhana: mengapa ia menerima tawaran itu? Ketika ditanya alasan bersedia bergabung, Rocky menjawab dengan gaya khasnya, “Alasan gua menolak apa?” Lalu ia menjelaskan mengenai kedudukan etis Wantimpres dan fungsi kritisnya.
Jawaban itu logis dalam satu pengertian, tetapi belum sepenuhnya menjawab seluruh rasa ingin tahu saya. Sebab pertanyaan “apa alasan saya menolak?” berbeda dengan pertanyaan “apa alasan saya menerima?”. Yang pertama membicarakan tidak adanya alasan untuk menolak. Yang kedua meminta penjelasan mengenai pertimbangan yang membuat seseorang memilih menerima. Keduanya berdekatan, tetapi tidak identik. Dalam dunia filsafat, perbedaan kecil semacam ini justru bisa menjadi bahan diskusi panjang. Dalam dunia politik, satu kalimat saja kadang bisa membuat satu musim talk show penuh.
Saya tidak mengatakan Rocky wajib mempertanggungjawabkan pilihan pribadinya kepada setiap orang. Ia mempunyai hak untuk menerima jabatan tersebut. Saya juga tidak menganggap masuk ke pemerintahan sebagai sesuatu yang otomatis buruk. Seorang pengkritik bisa saja masuk ke institusi negara dengan maksud memberikan pengaruh dari dalam. Seorang intelektual bisa saja merasa lebih berguna ketika gagasannya disampaikan langsung kepada pengambil keputusan. Bahkan secara demokratis, pemerintahan membutuhkan orang yang bersedia memberikan pertimbangan berbeda, termasuk pertimbangan yang mungkin tidak selalu menyenangkan telinga kekuasaan.
Persoalannya justru terletak pada dimensi etis dari perubahan posisi tersebut. Legalitas adalah satu hal. Strategi politik adalah hal lain. Etika adalah perkara yang berbeda lagi. Seseorang bisa saja secara hukum berhak menerima jabatan. Ia bisa saja memiliki alasan politik yang masuk akal. Tetapi ketika identitas publiknya selama bertahun-tahun dibangun sebagai pengkritik kekuasaan, perubahan posisi itu tetap membuka pertanyaan etis mengenai konsistensi, transparansi, dan pertanggungjawaban intelektual.
Saya kira kita tidak perlu menyebut perubahan posisi itu sebagai pengkhianatan. Kata itu terlalu besar dan terlalu cepat. Kita juga tidak perlu mengatakan bahwa Rocky telah berubah menjadi orang yang berbeda. Itu pun kesimpulan yang belum memiliki dasar yang cukup. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa Rocky kini memasuki ruang yang berbeda. Dan ruang yang berbeda akan menghasilkan ujian yang berbeda pula.
Selama berada di luar, seorang pengkritik mempunyai jarak. Ia dapat melihat kekuasaan sebagai objek. Ia dapat menunjuk, menilai, mengkritik, dan mempertanyakan. Ketika ia masuk ke dalam, jarak itu berubah. Ia tidak lagi hanya melihat rumah kekuasaan dari halaman. Ia sudah duduk di ruang tamu. Bahkan mungkin sudah mendapat kopi. Di sinilah metafora “pindah dari luar ke dalam” menjadi menarik. Pindah tempat memang tidak otomatis berarti pindah prinsip, tetapi pindah tempat dapat mengubah kondisi ketika prinsip itu diuji.
Justru karena Rocky selama ini dikenal kritis, saya kira publik mempunyai alasan untuk menunggu. Bukan menunggu apakah ia akan berubah menjadi pembela pemerintah, melainkan menunggu apakah ia benar-benar mampu mempertahankan daya kritisnya di tempat yang baru. Pernyataan bahwa sikapnya tetap sama akan memperoleh makna yang lebih kuat jika kelak terlihat dalam tindakan. Sebab konsistensi seorang intelektual bukan hanya perkara apa yang ia katakan tentang dirinya, tetapi bagaimana ia bersikap ketika berada dalam situasi yang menguji dirinya.
Di sinilah saya merasa kasihan kepada sebagian pengagum Rocky—bukan dalam pengertian merendahkan mereka, melainkan dalam pengertian manusiawi. Mereka mungkin sedang mengalami kebingungan. Selama bertahun-tahun mereka mengagumi Rocky karena keberaniannya mengkritik kekuasaan. Bahkan mungkin ada yang menjadikan kritik Rocky sebagai semacam standar moral untuk membaca politik. Ketika Rocky sendiri masuk ke dalam pemerintahan, standar itu tiba-tiba harus diperiksa ulang. Bukan karena Rocky pasti salah, tetapi karena posisi baru itu tidak mudah ditempelkan begitu saja pada citra lama.
Di sinilah muncul metafora yang agak jenaka: sebagian pengagum Rocky mungkin harus menelan ludah yang pernah mereka lontarkan sendiri. Kemarin mereka mungkin dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa Rocky benar karena mengkritik rezim. Mereka mungkin juga mencibir orang-orang yang dianggap terlalu dekat dengan kekuasaan. Kini sosok yang mereka puja justru berada di dalam struktur kekuasaan. Mau tidak mau, arsip percakapan lama muncul kembali seperti tamu yang datang tanpa diundang.
Tetapi saya tidak ingin menertawakan mereka. Sebab kalau kita menertawakan para pengagum Rocky hari ini, kita mungkin sedang melakukan kesalahan yang sama dengan yang mereka lakukan kemarin. Kemarin mereka mungkin terlalu cepat menjadikan Rocky sebagai ukuran kebenaran. Jangan sampai hari ini kita terlalu cepat menjadikan Rocky sebagai ukuran kesalahan. Kemarin orang berkata, “Rocky benar, maka saya ikut.” Hari ini kita berkata, “Rocky salah, maka semua yang pernah ia katakan salah.” Dua-duanya sama-sama tidak filosofis.
Filsafat justru mengajarkan kita untuk memisahkan gagasan dari orang yang mengucapkannya. Sebuah argumen tidak menjadi benar hanya karena disampaikan oleh Rocky Gerung. Sebuah argumen juga tidak menjadi salah hanya karena Rocky Gerung yang menyampaikannya. Inilah kedewasaan intelektual yang seharusnya lahir dari pendidikan filsafat. Kita menghargai orangnya, tetapi tetap memeriksa argumennya. Kita bisa mengakui kontribusinya tanpa harus mengamini seluruh pandangannya.
Karena itu, jika ada mahasiswa yang kecewa kepada Rocky setelah ia masuk Wantimpres, saya justru ingin mengatakan: jangan kecewa kepada filsafat. Kalau Rocky adalah pintu yang membuatmu mengenal filsafat, jangan biarkan perubahan posisi Rocky membuatmu keluar dari rumah filsafat. Bacalah lebih banyak. Berdebatlah lebih serius. Kritiklah Rocky jika memang ada alasan untuk mengkritiknya. Bahkan, kalau perlu, gunakan perangkat berpikir yang dahulu ia populerkan untuk menguji Rocky sendiri.
Bukankah itu justru bentuk penghormatan yang paling tinggi kepada filsafat? Seorang guru yang mengajarkan kita bertanya seharusnya tidak keberatan ketika pada suatu hari dirinya sendiri menjadi pertanyaan. Seorang intelektual yang mengajarkan publik agar tidak mudah percaya seharusnya juga bersedia tidak dipercaya secara membabi buta. Dan seorang pembelajar filsafat tidak seharusnya menggantungkan kemampuan berpikirnya kepada seorang tokoh, betapapun hebat atau populernya tokoh tersebut.
Yang sedang diuji bukan hanya Rocky. Para pengagumnya juga sedang diuji. Dan mungkin kita semua sedang diuji. Apakah kita benar-benar menyukai filsafat, atau sebenarnya kita hanya menyukai seseorang yang berbicara tentang filsafat? Apakah kita mencintai proses berpikir, atau hanya menikmati keberanian seorang figur ketika keberaniannya sesuai dengan keyakinan kita? Pertanyaan itu jauh lebih dalam daripada sekadar perdebatan mengenai satu jabatan.
Rocky kini mempunyai ruang baru untuk membuktikan ucapannya. Ia mengatakan bahwa sikapnya tetap kritis, bahwa Wantimpres mempunyai fungsi etis, dan bahwa ia akan melihat ekses kebijakan serta memberikan pertimbangan kepada Presiden. Semua itu adalah pernyataan yang cukup jelas. Kini tinggal menunggu bagaimana gagasan tersebut bekerja dalam kenyataan.
Bagi saya, justru di sinilah menariknya perjalanan seorang pembelajar filsafat. Kita tidak harus mengikuti perjalanan orang lain secara keseluruhan hanya karena pernah berjalan pada jalan yang sama. Kita bisa menghormati seseorang sekaligus mempertanyakan pilihannya. Kita bisa mengakui jasanya dalam mempopulerkan filsafat sekaligus mengkritik keputusan politiknya. Kita bisa berbeda pendapat tanpa harus menghapus seluruh jasa seseorang dari sejarah intelektual kita.
Itulah cara paling sehat memandang Rocky hari ini. Jangan buru-buru menjadikannya pahlawan baru. Jangan pula buru-buru menjadikannya pengkhianat. Biarkan ia bekerja. Biarkan ia memberikan pertimbangan. Biarkan publik mengamati. Biarkan waktu menguji pernyataannya. Sebab seorang intelektual tidak selamanya diuji ketika ia berdiri di luar kekuasaan. Ada saat ketika ia justru diuji ketika pintu kekuasaan dibukakan dan kursi disediakan.
Saya teringat kembali kepada pertanyaan lama yang sering diarahkan kepada mahasiswa filsafat: “Nanti kalau lulus mau jadi apa?” Dahulu pertanyaan itu terasa menyebalkan. Kini saya merasa pertanyaan tersebut justru memiliki jawaban yang lebih luas. Seorang lulusan filsafat bisa menjadi apa saja, termasuk pengkritik pemerintah, penulis, guru, akademisi, intelektual publik, atau bahkan penasihat presiden. Tetapi yang paling penting bukan jabatan apa yang akhirnya diduduki. Yang lebih penting adalah apakah cara berpikir filosofis tetap ikut duduk bersamanya.
Filsafat bukan sekadar jurusan. Ia bukan pula profesi. Ia adalah keberanian untuk bertanya ketika semua orang merasa sudah memiliki jawaban. Ia adalah kesediaan memeriksa kembali keyakinan yang kita anggap paling kokoh. Ia adalah kemampuan mengatakan “mungkin saya keliru” ketika argumen menunjukkan demikian. Dan karena itu, filsafat tidak boleh menjadi milik rezim maupun oposisi, tidak boleh menjadi milik Rocky maupun para pengkritiknya, dan tidak boleh pula menjadi milik para pengagumnya.
Jika Rocky dahulu berhasil membawa filsafat keluar dari ruang kuliah dan masuk ke ruang publik, mungkin kini giliran kita menjaga agar filsafat tidak berhenti di pintu Istana. Biarlah Rocky berada di dalam dan menjalankan perannya. Biarlah publik berada di luar dan menjalankan fungsi pengawasannya. Di antara keduanya, filsafat tetap berdiri sebagai kebiasaan bertanya, memeriksa, dan meragukan dengan cara yang bertanggung jawab.
Kalau suatu hari Rocky memberikan kritik kepada pemerintah dari dalam, kita akan mendengarnya. Kalau ia memberikan pertimbangan yang berbeda, kita akan menilainya. Kalau ia ternyata berubah, kita juga berhak mempertanyakannya. Tetapi kalau ia mampu mempertahankan daya kritisnya, kita pun tidak perlu gengsi mengakui bahwa seorang pengkritik dapat masuk ke dalam sistem tanpa kehilangan seluruh daya kritisnya.
Mungkin bukan Rocky yang harus kita khawatirkan. Yang lebih perlu kita khawatirkan adalah diri kita sendiri: jangan sampai kita begitu mencintai seorang tokoh hingga kehilangan kemampuan untuk berpikir tanpa tokoh tersebut. Jangan sampai kekecewaan kepada seorang manusia membuat kita meninggalkan sebuah disiplin pemikiran. Dan jangan sampai filsafat yang dahulu kita bela dari tuduhan “sesat” dan “seram” justru kita sempitkan menjadi sekadar nama seorang manusia.
Kalau Rocky adalah pintu, biarlah ia tetap menjadi pintu. Kita sudah masuk. Jangan kembali keluar hanya karena pintunya sekarang menghadap ke Istana. Di dalam rumah filsafat masih terlalu banyak kamar yang belum kita masuki, terlalu banyak buku yang belum kita baca, terlalu banyak pertanyaan yang belum kita jawab. Dan mungkin, setelah semua hiruk-pikuk politik selesai, kita akan sampai pada kesimpulan sederhana: seorang tokoh boleh berubah tempat duduk, tetapi kemampuan berpikir kita jangan ikut berpindah kursi.
Ukuran kedewasaan seorang pembelajar filsafat bukanlah seberapa keras ia memuja gurunya, melainkan seberapa berani ia berpikir ketika gurunya sedang tidak berada di sampingnya. Dan mungkin, justru ketika sang idola masuk Istana, kita akhirnya memperoleh kesempatan paling berharga untuk belajar menjadi manusia yang berpikir tanpa idola. Wallahualam.*
Hotel Horison Ratu Serang
Sabtu, 3 Oktober 2026





