Ocit Abdurrosyid Siddiq

Di penghujung tahun 2025 ini, kita dihadapkan pada sebuah fenomena manusiawi yang tak terelakkan. Ada satu generasi yang kini berdiri di depan cermin kehidupan, menatap pantulan diri dengan tatapan yang berbeda.

Mereka adalah individu-individu yang telah melampaui usia setengah abad; sosok-sosok yang bukan lagi anak-anak, bukan remaja yang meledak-ledak, dan masa kedewasaan fisik yang gagah pun perlahan mulai memudar. Guratan lelah di wajah mereka bukan sekadar tanda penuaan biologis, melainkan sebuah peta sejarah panjang tentang perjuangan, ambisi, dan kini, sebuah perenungan.

Jika kita mencermati perjalanan hidup kelompok usia ini, kita akan menemukan pola yang seragam. Puluhan tahun silam, mereka adalah mesin-mesin penggerak ekonomi yang begitu ambisius. Napas mereka berhembus untuk mengejar angka, mengejar pengakuan, dan membangun imperium materi.

Mereka memeras keringat dan membanting tulang, seringkali hingga lupa bahwa raga memiliki batas dan jiwa membutuhkan jeda. Ambisi masa muda seringkali membuat manusia lupa diri, seolah dunia ini bisa digenggam selamanya. Namun, saat fisik tak lagi sekuat batu karang, ada pergeseran paradigma yang menarik untuk direnungkan: pencarian kedamaian kini menjadi mata uang yang jauh lebih bernilai daripada tumpukan harta.

Dalam fase “menata senja” ini, terjadi sebuah audit spiritual yang masif. Ketika seseorang menoleh ke belakang melihat jejak langkahnya, seringkali ditemukan fakta pahit bahwa porsi khilaf jauh lebih mendominasi daripada ibadah. Dalam kerasnya kompetisi hidup, tanpa disadari banyak hati yang mungkin pernah “terpatahkan” atau tersakiti—entah oleh lisan yang tajam, keputusan yang egois, atau ketidakpedulian.

Kesadaran ini adalah titik balik krusial. Ini bukan lagi waktunya untuk mengejar dunia yang ibarat air laut—semakin diminum semakin haus—melainkan waktu untuk membasuh hati sebelum penyesalan datang terlambat.

Fenomena sosial yang patut disoroti adalah bagaimana seharusnya manusia mengisi fase ini. Idealnya, usia di atas 50 tahun adalah masa “panen”. Bukan lagi sibuk menanam benih ambisi atau mengeluh tentang beratnya pekerjaan, melainkan menikmati buah dari peluh masa lalu.

Ini adalah momentum untuk bersujud lebih lama, mendekat pada Sang Pencipta, dan menambal lubang-lubang dosa masa lalu dengan kebermanfaatan. Menjadi “cahaya” bagi lingkungan sekitar dan keluarga adalah puncak dari aktualisasi diri di usia senja.

Namun, refleksi ini juga menyentuh sisi gelap interaksi sosial kita. Salah satu penyakit masyarakat yang paling kronis, yang justru sering menjangkiti usia dewasa, adalah kebiasaan mencampuri urusan orang lain. Ada kecenderungan paradoks di mana seseorang semakin tua justru semakin sibuk menghakimi cerita hidup orang yang bahkan tidak mereka jaga.

Mengurusi hidup orang lain, memantau drama tetangga, atau sibuk berkomentar miring, sejatinya hanya mengeruhkan pikiran. Hal ini membuat hati menjadi sempit dan secara psikologis mempercepat penuaan karena beban stres yang tidak perlu. Rumitnya hidup pribadi janganlah ditambah dengan prasangka terhadap orang lain.

Maka, narasi yang perlu dibangun adalah narasi “fokus”. Fokus mendekap erat keluarga yang tersisa jauh lebih mulia daripada memantau kehidupan kawan lama yang sudah berbeda jalan hanya untuk membandingkan nasib. Seringkali kita melihat fenomena orang yang terjebak nostalgia semu; merasa kecewa karena tidak lagi bersama orang-orang yang dulu dekat, padahal setiap orang memiliki garis takdirnya sendiri.

Daripada menakar rezeki orang lain yang hanya melahirkan rasa iri, energi tersebut jauh lebih baik dialihkan untuk mensyukuri nikmat yang masih melekat pada diri sendiri. Menjaga lisan, hati, dan pandangan adalah kunci agar sisa umur dipenuhi keberkahan, bukan kegelisahan.

Sangat disayangkan, di tengah fase yang seharusnya dipenuhi dengan kebijaksanaan, kita justru menyaksikan fenomena paradoks yang kian marak. Banyak individu di usia senja yang bukannya membasahi bibir dengan doa atau petuah bijak, malah menyibukkan diri mengumbar sumpah serapah.

Mereka bereaksi secara meledak-ledak terhadap beragam peristiwa di sekitar, terutama meluapkan amarah kepada kebijakan pemerintah atau rezim yang dianggap tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Caci maki menjadi santapan harian, seolah-olah ketenangan masa tua bukanlah prioritas dibandingkan kepuasan melampiaskan emosi sesaat di ruang publik maupun media sosial.

Seringkali, sikap reaktif dan penuh amarah ini lahir bukan dari pemahaman yang utuh, melainkan dari keterbatasan wawasan dalam melihat persoalan. Kompleksitas mengurus negara dan dinamika global seringkali disederhanakan hanya melalui kacamata pengalaman pribadi yang sempit. Akibatnya, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan logika sederhana mereka langsung divonis salah, sesat, atau dzalim.

Ketidakmampuan membedakan antara informasi valid dan provokasi, ditambah dengan penurunan fleksibilitas kognitif, membuat mereka terjebak dalam ilusi kebenaran tunggal, di mana hanya pendapat merekalah yang paling benar sementara yang lain harus dicaci.

Lebih tragis lagi, kebencian akut yang mereka pelihara seringkali hanyalah residu politik masa lalu yang gagal didaur ulang. Luka akibat kontestasi Pemilu di mana “jagoan” atau tokoh idola mereka kalah, ternyata belum sembuh dan terus bernanah dalam hati. Kekecewaan politik ini bermetamorfosis menjadi dendam tak berkesudahan, menutup mata hati dari melihat sisi baik apapun yang dilakukan oleh pihak lawan.

Hati yang seharusnya disiapkan untuk menghadap Ilahi, malah dikotori oleh fanatisme buta urusan duniawi yang sudah lewat. Sungguh sebuah kerugian besar jika sisa umur yang berharga ini hangus terbakar oleh api kebencian politik, padahal malaikat maut tidak akan menanyakan siapa presiden pilihan kita di liang lahat nanti.

Pada akhirnya, esensi dari “menata senja” adalah persiapan menghadapi kepastian mutlak: kematian. Matahari pasti akan tenggelam, dan gelap akan menggantikan siang. Ini adalah hukum alam yang berlaku bagi siapa saja, tanpa terkecuali.

Dunia hanyalah panggung sandiwara sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan pasti. Pertanyaan reflektif bagi setiap individu di fase ini adalah: “Sudahkah siap bekal untuk perjalanan panjang itu?”

Tahun 2025 semestinya menjadi cerminan besar bagi peradaban sosial kita. Perilaku-perilaku luhur yang membawa manfaat harus dipertahankan sekuat tenaga. Sebaliknya, tabiat buruk, sifat culas, dan kegemaran mengawasi kehidupan orang lain harus segera dienyahkan.

Menata senja bukan sekadar menunggu waktu habis, melainkan proses aktif membersihkan hati agar kelak ketika panggilan pulang itu datang, kita bisa menyambutnya dengan hati yang lapang, tenang, dan penuh iman. Inilah seni kehidupan yang sesungguhnya: menua dengan bijaksana, bukan sekadar menjadi tua.
*

Tangerang, Rabu, 31 Desember 2025
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Ketua Bidang Kaderisasi PB. Mathlaul Anwar, Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (Fordiska Libas)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *