Oleh: Endang Yusro

Kalimat pada judul di atas merupakan gambaran ironis dan tragisnya kondisi yang dialami Nadiem Anwar Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia era Kabinet Indonesia Maju (untuk tidak menyebut Kabinet Joko Widodo Jilid II, 2019-2024).

Menyaksikan acara POV (Pasti Obrolan Viral) yang ditayangkan di Trans7 malam ini (Rabu, 13/5/2026) jam 19:30 ba’da salat Isya menayangkan berita yang pernah disebut Mas Menteri ini diperbolehkan menjadi tahanan rumah oleh Majelis Hakim Tindak Pidana dan Korupsi (Tipikor).

Dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kemendikbud Ristek tahun 2019-2022 membuat Nadiem didakwa melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara senilai Rp2,18 triliun.

Melihat seraut wajah penyesalan dan rasa tidak percaya, menduga akan terjadi hal senahas ini saat diwawancarai, menarik penulis membuat catatan tentangnya. Sorot matanya yang kosong seolah menyimpan ribuan kata yang tak sanggup terucap, hanya mata yang berbinar mengiringi setiap jeda. Di balik jawaban singkat yang ia berikan, terselip getar suara rasa tidak percaya.

Selain qadarullah yang menimpa Mas Nadiem, manusiawi penulis mengatakan karena masuk dalam jajaran Kabinet Indonesia Maju, entah itu niat yang tulus dari Mas Menteri demi Bangsa dan Negara, atau sebab lainnya.

Jika melihat rekam jejak Nadiem sebelum menjadi menteri yang kemudian menjeratnya dalam kasus korupsi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Lulusan Harvard Business School ini sukses mentransformasi transportasi digital di Indonesia. Ia merupakan pendiri Gojek, sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring yang beroperasi di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Kemudian Mas Nadiem juga sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company,  mendirikan Zalora Indonesia dan menjabat sebagai Managing Editor. Dan masih banyak sederet karir yang disandangnya, seperti juga Chief Innovation Officer Kartuku.

Sementara dalam kehidupan beragama, Nadiem Makarim adalah seorang Muslim yang taat yang berasal dari keluarga dengan latar belakang keturunan Arab-Minang (ayah) dan Arab-Jawa-Madura (ibu).

Meski demikian Nadiem toleran dalam beragama, menghormati perbedaan keyakinan dengan istrinya, Franka Franklin, yang Katolik. Mereka merayakan perayaan keagamaan masing-masing. Dan memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memeluk agama. 

Untuk yang terakhir ini penulis tidak setuju, entah karena pemahaman agama yang kurang dari penulis atau karena prinsip penulis.

Namun hal memberi kebebasan beragama kepada anak yang boleh jadi menurut Nadiem adalah toleransi, mengingatkan penulis juga pada ungkapan Gus Dur, “Puncaknya agama adalah toleransi.”

Dari rekam jejak dan sejarah kehidupan Mas Nadiem diatas, sepertinya kasus korupsi yang membawanya ke jeruji penjara, yang memisahkan dengan orang-orang terkasihnya kemungkinan tidak akan terjadi jika Mas Nadiem tidak masuk dalam jajaran kabinet. Wallahu a’lam.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *