Oleh:
Endang Yusro
Hidup ini bagaikan roda berputar, kadang diatas – terkadang di bawah. Ada yang dari bawah lambat sampai ke atas, dan setelah sampai atas begitu cepat turun ke bawah, dan begitu sebaliknya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hadid: 22, yaitu:
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa naik turunnya nasib manusia adalah ketetapan Allah yang memiliki hikmah tersendiri, dan setiap perubahan kondisi hidup sudah diatur dengan sebaik-baiknya.
Semua peristiwa itu bergantung lancar tidaknya kondisi jalan, jika jalanan lurus tak berbatu maka mempengaruhi putaran roda.
Kondisi jalan dalam kiasan ini dapat dimaknai sebagai lingkungan, keadaan, atau sarana pendukung kehidupan yang kita jalani. Hal ini selaras dengan makna QS. Al-Mulk: 15, yang berbunyi:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
Di samping kondisi jalan, yang paling penting adalah pengendara (sopir). Seburuk apapun kondisi jalan, jika pengendara menghendaki kendaraan melaju cepat maka hal bisa dilakukan.
Hal ini menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan ada pada diri manusia sendiri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 11, yaitu:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ
“… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…”
Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan ayat ini bahwa peran manusia sangatlah besar dalam menentukan arah hidupnya.
Meskipun faktor luar mempengaruhi, keputusan, kemampuan, dan niat diri sendirilah yang paling menentukan apakah ia akan maju, diam, atau mundur.
Namun kondisi tersebut pastinya beresiko, terlebih dilakukan oleh sopir yang belum mahir. Hal ini bisa berakibat celaka, malah yang awalnya menghendaki cepat sampai tujuan malah menjadi lambat bahkan bisa jadi tidak sampai tujuan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam hal ini mengatakan: “Setiap urusan yang dikerjakan tergesa-gesa sebelum waktunya atau melampaui batas kemampuan, maka kesalahan pasti menyertainya. Sebaliknya, urusan yang dikerjakan dengan kemampuan yang pas, teratur, dan penuh kehati-hatian, maka keberhasilan akan menyertainya.”
Keserakahan akan kecepatan tanpa kemampuan memadai hanya akan mendatangkan kegagalan. Maka dengan hal tersebut, mengingatkan penulis pada pepatah yang mengatakan “Biar lambat asal selamat”.
Tidak mesti tergesa-gesa, namun tetap fokus dengan apa yang kita kerjakan. Rasulullah S.a.w juga bersabda dalam HR. al-Baihaqi:
“Janganlah kamu berbuat sesuatu dengan tergesa-gesa, karena sesungguhnya yang tergesa-gesa itu berasal dari setan.”
Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, prinsip ini sangat relevan sepanjang masa, karena keselamatan dalam agama dan dunia lebih utama daripada sekadar kecepatan yang mengorbankan kebenaran dan keselamatan jiwa maupun tujuan akhir.
Di zaman AI (Artificial Intelligence) ini tuntutan bukan hanya benar dalam berbuat tetapi juga harus cepat (walau kadang tidak akurat).
Jika berbicara benar, banyak orang atau pihak melakukan sesuatu yang benar namun kalah cepat dengan yang lainnya sehingga menjadi pecundang.
Hal ini mengingatkan pada QS. Al-Isra: 11, yang berbunyi:
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
“Dan manusia (sering kali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Manusia itu (sifatnya) tergesa-gesa.”
Dr. Ahmad Syafii Maarif mengemukakan pendapatnya: “Di era teknologi modern, kecepatan memang menjadi nilai tambah dan kebutuhan zaman. Namun, kecepatan tidak boleh melepaskan diri dari nilai kebenaran dan akurasi. Teknologi hanyalah alat, manusia tetaplah pengendali yang wajib memastikan kecepatan itu membawa pada tujuan yang benar dan selamat.”
Nah, jika pepatah lama mengatakan biar lambat asal selamat, maka prinsip AI adalah biar cepat asal selamat. Prinsip ini sejalan dengan tujuan syariat Islam yaitu mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan.
Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Islam tidak menolak kemajuan atau kecepatan, namun Islam mewajibkan agar segala kemajuan dan kecepatan itu tetap terjaga, terarah, dan tidak merusak nilai kebenaran serta keselamatan hidup manusia, baik di dunia maupun akhirat.
Demikianlah renungan tentang kehidupan yang senantiasa berputar, di mana kita berperan sebagai pengendara yang menentukan arah dan kecepatan perjalanan.
Baik dalam prinsip lama “biar lambat asal selamat” maupun prinsip zaman kini “biar cepat asal selamat”, inti yang paling hakiki tetaplah satu: keberhasilan sejati bukan hanya soal sampai di tujuan, melainkan sampai dengan cara yang benar, selamat, dan membawa manfaat.
Semoga kita senantiasa diberi kebijaksanaan oleh Allah SWT untuk mengatur langkah, menyeimbangkan kecepatan dan ketelitian, sehingga setiap usaha yang kita lakukan menjadi berkah, bermanfaat, dan selamat dunia maupun akhirat.





